Sayangi aku.. Dua kata yang tidak bisa Aurora ucapkan selama ini.. Ia hanya memilih diam saat mendapatkan perlakuan tidak adil dari orang- orang di sekitarnya bahkan keluarganya. Jika dulu dia selalu berfikir bahwa kedua orang tuanya itu sangat menyayangi dirinya karena mereka yang tidak pernah memarahi bahkan menuntut dirinya untuk melakukan apapun dan sangat berbanding terbalik dengan perlakuan ke dua orang tuanya pada kakak dan adiknya.. Tapi semakin dewasa Aurora menyadari bahwa selama ini ia salah.. Justru keluarganya itu sedang mengabaikan dirinya.. Keluarganya tidak peduli dengan apapun yang ia lakukan ...
INGAT !!! Ini hanya cerita fiksi dimana yang mungkin menjadi tidak mungkin dan yang tidak mungkin menjadi mungkin..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunFlower, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#35
Happy Reading...
.
.
.
Bara membuka matanya lalu mengedipkannya berulang- ulang. Ia langsung sedikit menundukkan wajahnya saat menyadari sedang memeluk seseorang. Sedikit merenggangkan pelukkannya lalu mengangkat tangannya meraba kening sang istri.
"Masih sedikit hangat." Ucapnya lalu kembali mengeratkan pelukkannya. Entah sadar atau tidak apa yang di lakukannya itu membuat wajah Rora memerah. "Istirahat lagi saja.."
"Tapi..."
"Ck.. Nurut kenapa sih.. Jangan membuat aku semakin repot.." Ucap Bara lalu memejamkan kedua matanya kembali.
Mendengar ucapan sang suami hati Rora semakin sakit. Hingga tidak terasa air matanya menetes melewati sudut matanya. Ia menggigit bibirnya untuk menahan isakkannya.
Jadi apa selama ini Bara hanya menganggapnya sebagai beban? Apa Bara selama ini selalu merasa bahwa dirinya ini merepotkan.
"Ck.. kamu benar- benar membuatku kesal." Ucap Bara lalu menjauhkan Rora dari tubuhnya. Ia mendudukkan dirinya lalu memijit pelipisnya.
"Maafkan aku." Ucap Rora lirih.
"Tidak bisakah kamu berhenti untuk meminta maaf." Tegur Bara semakin kesal. Ia segera bangkit dari duduknya lalu berjalan menuju kamar mandi. Sedangkan Rora hanya bisa meneteskan air matanya.
"Setiap hubungan pernikahan pasti akan sampai pada titik dimana kesetiaan itu di uji, dan masih ada banyak hal lainnya yang harus kalian berdua lewati nantinya. Seperti Kesabaran, pengorbanan dan cinta. Cobaan setiap orang itu berbeda- beda sayang. Bahkan meskipun sama, tapi cara untuk mengatasinya itu tetap berbeda- beda tidak akan pernah sama. Pertengkaran itu pasti ada. Tapi dari setiap pertengkaran itu akan membuat kalian semakin saling mengerti dan menumbuhkan rasa sayang yang tulus. Bagaimanapun kelanjutan pernikahan kamu nanti tergantung dari apa keputusan yang akan kamu ambil. Apa kamu akan memilih berusaha untuk memahami satu sama lain dan menyelesaikan permasalahan itu bersama. Atau kamu akan lebih memilih untuk menyerah dan mengakhiri semuanya, kalah dari ego masing- masing dan hilang kepercayaan kamu pada pasangan kamu. ." Ucap Citra beberapa hari lalu.
Apakah dirinya harus benar- benar menyerah pada hubungannya. Apakah benar ucapan Aluna bahwa mereka berdua sama- sama tidak akan bisa untuk bahagia? Atau apa memang seharusnya pernikahan ini tidak pernah terjadi?
Di dalam kamar mandi, Bara berdiri di bawah shower lalu mengguyur tubuhnya dengan air dingin. Ia hanya ingin mendinginkan kepalanya saat teringat kembali saat semalam sang istri kembali menyebut nama Dika dalam igauannya.
.
.
.
"Bagaimana keadaan kamu sayang?" Tanya Elina dengan raut khawatirnya.
"Rora baik- baik saja ma.. Maaf sudah membuat kalian semua khawatir. " Ucap Rora dengan wajah sendunya.
Elina berjalan menghampiri Rora lalu mendudukkan dirinya di sisi sang menantu. ia mengulurkan tangannya, merapikan beberapa anak rambut yang mengganggu di wajah Rora. "Mama akan memaafkan kamu, tapi kamu harus berjanji untuk jangan sakit lagi. Mama tidak suka melihat kamu seperti semalam." Ucap Elina menatap dengan wajah khawatirnya.
Rora balas menatap Elina dengan kedua mata yang berkaca- kaca. Karena ini untuk pertama kalinya Rora merasa di khawatirkan oleh seorang ibu.
Elina menghapus air mata yang menetes di kedua pipi menantu kesayangannya itu. Ia meraih tubuh Rora lalu membawanya masuk kedalam pelukkannya yang membuat tangis Rora semakin pecah. Elina mengusap punggung Rora dengan penuh kasih sayang. Ia membiarkan menantunya menangis.
Melihat Elina dan Rora, Devano pun memberikan kode untuk Bara agar keluar bersama dirinya.
Setelah merasa Rora sedikit tenang Elina memberikan jarak lalu menatap menantunya. "Jangan menangis lagi.. Nanti mata kamu bengkak sayang." Ucap Elina sambil kembali menghapus air mata Rora. "Apa masih sakit sekali?" Rora menggelengkan kepalanya. "Apa kamu sudah makan?" Rora menganggukkan kepalanya. "Sudah minum obat." Lagi- lagi Rora menganggukkan kepalanya.
"Ya sudah kamu istirahat." Ucap Elina sambil membantu Rora menata bantalnya supaya nyaman saat berbaring. "Apa kamu ingin mama temani?" Tawar Elina saat melihat tatapan Rora yang sepertinya enggan untuk di tinggal.
"Apa mama tidak keberatan?" Rora balik bertanya.
Elina tersenyum senang. "Tentu saja tidak." Jawab Elina lalu menyikap selimut Rora dan ikut berbaring di sisi menantunya. Elina membaringkan dirinya menghadap Rora lalu mengulurkan tangannya untuk mengusap lengan sang menantu.
Sedangkan Devano membawa Bara untuk duduk di kursi yang berada di balkon apartemen. Cukup lama mereka berdua terdiam.
"Apa rencana kamu kedepannya?" Tanya Devano tanpa mengalihkan pandangannya.
Sedangkan Bara menoleh menatap wajah papanya. "Rencana." Ulang Bara tidak mengerti.
"Rencana kamu untuk pernikahan kamu."
Bara mengerutkan keningnya. "Bar.. Papa sudah pernah berkata kepada kamu bukan. Pernikahan itu suatu hal yang sakral. Untuk memulai suatu pernikahan itu hal yang mudah, tapi untuk mempertahankan perikahan itu adalah bagian yang sangat sulit." Ucap Devano. "Kamu sudah dewasa, kamu pasti tahu bahwa pernikahan itu bukan hanya tentang memberi nafkah dan tempat tinggal. Tapi menikah itu tentang hidup bersama dan bukan sekedar untuk tinggal bersama. Pernikahan itu tentang bagaimana kita bisa menjadi pelengkap untuk menutupi kekurangan pasangan kita."
Bara terdiam.
"Kamu yang menerima pernikahan ini. Kamu yang mau menikahi Rora, tapi apa ini? Kamu malah mengabaikannya." Ucap Devano. Sungguh ia merasa kecewa dengan anak laki- laki yang selalu ia bangga- banggakan. "Jika kamu bersikap seperti ini terus lalu kapan kalian bisa saling mengerti? Kapan kalian berdua bisa saling memahami?"
Bara masih memilih untuk diam.
"Papa mengatakan ini semua bukan bermaksud menggurui kamu. Karena tidak ada satu orangpun di dunia ini yang benar- benar bisa menjadi pembimbing tentang rumah tangga, bahkan papa sekalipun."
.
.
.
Setelah kepulangan Elina dan Devano, Rora memutuskan untuk membersihkan dirinya. Hampir tiga puluh menit ia berendan dan membuat Bara merasa khawatir. Tanpa Rora ketahui bara sudah mondar- mandir di depan kamar mandi hampir lima belas menit.
Tok.. Tok.. Tok...
Bara mengetuk pintu kamar mandi setelah bergelut dengan pikirannya.
"Ra.. Apa kamu masih lama." Tanya Bara.
Ketukan dari Bara membuat Rora tersadar dari lamunannya. Sebenarnya sebelum memutuskan untuk mandi, Rora tidak sengaja mendengar percakapan Bara dengan seseorang di ponselnya. Suaminya itu mengatakan masih belum bisa kembali dalam waktu dekat ini.
"Maafkan aku.. Sebentar lagi aku selesai." Saut Rora lalu bergegas untuk bangun dari berendamnyua.
Bara menarik nafasnya lega saat mendengar suara sang istri.
Rora membuka pintu kamar mandi. Ia sedikit terkejut saat melihat Bara yang ternyata sedang menunggunya di depan pintu kamar mandi.
"Apa saja yang kamu lakukan didalam sana? Apa kamu ingin sakit lagi? Ingat, kamu baru saja sembuh." Ucap Bara tanpa memberikan waktu untuk Rora menjawab. "
"Maaf." Ucap Rora sambil menundukkan kepalanya.
Bara menghela nafasnya saat melihat wajah Rora yang tertunduk. "Aku tunggu di meja makan.' Ucapnya lalu beranjak pergi meninggalkan Rora.
.
.
.
beautiful story
karena ini kan bukan yg pertama kali di kecewakan
dan si Aluna Aluna itu juga belum kelar.
masa ga dibikin bahagia dikit 😭
apa dulu naksir Ama bapaknya ga kesampaian 🤣🤣.jadinya benci Ama Mak nya
trus ke rora😔
ada yg bisa dimaki maki🤣🤣
seru kali yaaa
beresin dulu lah si Aluna Aluna itu
kalau ga
sampai kapanpun rora ga bakalan mau balik sama lu
apapun alesan nya
gw juga ogah
atau emang asal nya dr kota batu,malang kah?
lu nya aja plin plan
heran aku mah
karena bukan dia yg di pelaminan 🥹🥹
wah rame lagi ini ntar
perasaan ku udah ga enak 😭😭
Dika kah yg meninggal 😭😭
ga, bukan Dika yg JD pendonor nya
karena ga bisa diselamatkan 🥹