Eiren Azura merupakan gadis periang denga wajah cantik dan penuh keberanian. Dia merupakan gadis yang tidak memiliki prestasi apa pun dalam bidang kuliahnya. Sebuah kesalahan membuatnya harus berurusan dengan Adelio Cetta, seorang dosen tampan, tetapi juga galak. Semua bermula dari kesalahannya hingga dia mengetahui begitu banyak tentang dosen populer yang digandrungi begitu banyak wanita.
Adelio Cetta, merupakan pria yang selalu bertanggung jawab dan terpaku pada masa lalu. Keberadaan Eiren perlahan melunturkan pandangannya tentang seorang wanita. Perlahan, gadis tersebut mampu mengikis benteng yang selalu dibangunnya hingga menjulang tinggi.
》》》》》
Aku berusaha menjauh darimu, menghindari luka yang masih begitu baru menampilkan goresannya. Namun, takdir begitu kejam menarikku hingga kembali padamu.
Eiren Azura
》》》》》
Aku tidak akan pernah membiarkanmu pergi. Apa pun yang kamu pikirkan saat ini. Aku hanya akan membawamu dalam genggamanku.
Adelio Cetta
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kim Meili, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 35_Rahasia Elio
Alex menggeliat dalam tidurnya dan merasakan dekapan tangan di pinggangnya. Membua Alex segera menbuka mata. Hal pertama yang dilihatnya dalah Dora yang tertidur dengan pulas dan tanpa sehelai benang sama sekali. Seperti hantaman keras, Alex perlahan mengingat semua kejadian sekilas yang dilakukannya semalam.
Bodoh, runtuk Alex sembari memukul pelan kepalanya.
Jujur, Alex menyesali keodohan yang baru saja diperbuat. Dia bukannya membenahi masalah dan malah menambah masalah. Dia bahkan tanpa sadar telah memperkosa wanita tdiak berdosa yang saat ini tengah meringkuk di tubuhnya.
Alex segera melepas tangan Dora dan membuat siempunya terbangun. Alex baru bagkit dan hendak keluar kamar, tetapi baru beberapa langkah, cicitan kecil menghentikan langkahnya.
“Alex,” panggil Dora pelan, “semalam kamu memaksaku melakukannya. Aku bahkan sudah menolak dan ...” Dora menghentikan ucapannya dan mulai menitikan air mata. Menunjukan wajah terluka yang kian membuatnya merasa tersiska.
Alex yang mendengar isak tangis di belakangnya langsung menghela napas keras dan memejamkan mata. Meyakinkan hatinya untuk semua pilihan yang diambil. “Katakan kepada orang tuamu kalau kita akan menikah. Aku menerima pertunangan ini dan akan menjadikanmu istriku. Aku akan bertanggung jawab,” putus Alex dengan berat hati. Namun, dia tidak mau dicap pengecut untuk kedua kalinya. Dia sudah mengambil saat pertama dari Dora dan akan mempertanggung jawabkannya.
“Benarkah? Kamu akan menikahiku?” tanya Dora memastikan.
Alex menghembuskan napas pelan dan mengangguk. “Iya,” jawab Alex dan langsung keluar setelah mengenakan pakaiannya. Dia butuh menyegarkan pikiran yang terasa semakin buram.
Dora yang mendengar langsung tersenyum dan menghapus air matanya pelan. Rasanya dia benar-benar merasakan bahagia karena pada akirnya, Alex ada dalam genggaman tangannya. “Aku mencintaimu, Alex,” ujar Dora dan langsung bangkit.
Dora langsung bangkit dan segera mencari pakaiannya. Setelah itu dia segera keluar dan berusaha tetap terlihat seperti wanita paling menderita menuju ke mobil. Setelah sampai mobil, Dora menekan nomor seseorang dan tersenyum.
“Tante, kita berhasil,” ucapnya ketika panggilannya sudah tersambung.
Dora tersenyum mengingat rencananya bersama dengan Chyntia, Mama Alex. Awalnya dia ragu ketika disuruh masuk ketika jelas-jelas Alex dalam kondisi mabuk. Tetapi, dorongan dari mama Alex membuatnya yakin dan memutuskan masuk dan ternyata semua prediksi mama Alex benar. Pria tersebut akan kehilangan kendali dan melampiaskan kekesalannya kepada siapa saja yang ada di dekatnya.
“Dia akan menikahiku, Tante. Aku akan mengatakan hal ini kepada orang tuaku,” jelas Dora dengan suara yang begitu bahagia.
_____
Eiren bosan dengan suasana kamar yang begitu-begitu saja. Hari ini dia memutuskan untuk tidak datang ke kampus karena Eiren yakin, kabar mengenai hubungannya dengan Elio masih terasa hangat di telinga semua kalangan kampus. Apalagi tatapan dari para pemuja Elio, dia pastia kan menerima ganjaran nantinya.
Eiren memutuskan keluar kamar dan mulai berkeliling rumah Elio yang menurutnya terlalu besar. “Apa dia tinggal sendiri di sini?” gumam Eiren sembari menuruni tangga.
Eiren ingin melihat taman yang semalam dilihatnya. Namun, langkahnya terhenti ketika ada beberapa orang dengan pakiaan putih masuk ke lorong tidak jauh dari tempanya berdiri saat ini. Eiren yang merasa penasraan mengurungkan niatnya dan memilih untuk mengikuti wanita dengan snelli yang melekat di tubuhnya.
“Siapa mereka?” tanya Eiren mulai penasaran. Dia berharap akan menemukan titik lemah yang dapat membalikan Elio agar tidak mengancamnya terus-menerus.
Eiren melangkah semakin cepat dan sampai di depan pintu tersebut, tetapi belum juga dia sempat membuka, pintu tersebut sudah terbuka dan menampilkan seorang gadis cantik di hadapannya. Matanya membelalak ketika dia jelas-jelas terlihat seperti pencuri ketimbang penghuni. Namun, matanya menatap sebuah tabung besar yang ada di ruangan tersebut.
“Kamu ngapain di sini, Eiren?” tanya Rega dengan suara tajam.
Eiren yang tidak tahu siapa gadis di hadapannya segera mengalihkan pandangan dan menatap bingung. “Kamu mengenal saya?” Eiren malah balik bertanya dan dengan wajah heran.
Rega menutup pintu dan menatap Eiren dengan sinis. “Kamu berada di rumah Elio dan siapa yang tidak tahu kamu? Kamu adalah calon Nyonya di rumah ini. Jadi, seisi rumah jelas mengenalmu,” celetuk Rega dengan nada tidak suka.
Ah, Eiren sampai melupakan fakta tersebut. Eiren hanya mengabaikan ucapan Rega dan kembali menatap bingung. Dia tidak tahu harus melakukan apa karena tatapan gadis di depannya jelas menunjukan ketidaksukaannya.
“Dan untuk apa kamu datang kemari? Aku bahkan sudah memberikan peringatan di ujung lorong sebelum masuk agar tidak ada yang masuk tanpa seizinku,” tegur Rega dengan wajah mengeras.
Eiren menatap dengan pandangan tegas. “Aku hanya ingin mengetahui apa yang ada di rumah calon suamiku.” Eiren benar-benar merasa mual ketika mengataknya.
“Kamu memiliki batas untuk berkliaran, Eiren.” Rega benar-benar tidak suka dengan sikap Eiren yang begitu membangkang dan tidak menurut.
“Kalian ngapain?”
Suara Elio membuyarkan pertengkaran kecil diantara keduanya. Eiren menatap ke arah Elio yang tengah melangkah. Sedangkan Rega hanya menatap datar dan menyembunyikan kekesalannya.
“Eiren, kamu ngapain di sini?” tanya Elio dengan wajah bingung.
Belum sempat Eiren menjawab, Rega jauh lebih dulu menyela dan menjawab pertanyaan Elio.
“Aku rasa dia memang selalu bertingkah liar seperti itu, Elio. Melanggar apa yang sudah jelas diperingatkan. Dari mana kamu memungutnya?” celetuk Rega membuat Eiren menatap dengan bibir terkatup rapat.
Eiren baru akan memprotes ketika Rega sudah lebih dulu menyela kembali.
“Elio, aku butuh berbicara denganmu,” ucap Rega tegas.
Eiren yang mendengar langsung menghela napas keras dan segera menjauh. Elio hanya diam tidak mengatakan apa pun. Matanya masih sibuk memperhatikan Rega yang menurutnya sudah keterlaluan.
Seperginya Eiren, Rega langsung menatap Elio dengan pandangan penuh permusuhan.
“Apa yang sebenarnya kamu rencakan, Elio? Kenapa kamu melibatkan gadis itu dalam rencanamu?” tegur Rega dengan wajah tidak suka. Elio seperti memanfaatkan Eiren yang terlihat begitu lemah di matanya.
“Aku tidak merencanakan apa pun, Rega. Lagi pula, kenapa juga aku harus merencankaan hal tidak baik dan menggunkaan Eiren sebagai pionnya? Itu tidak akan menguntunkan sama sekali. Jadi, hilangkan saja pikiran burukmu tentangku,” jawab Elio dengan pandangan tajam.
Rega tersenyum kecut dan menatap Elio dengan pandangan mengejek. “Apa aku tidak salah dengar? Ah, mungkin kamu memang sudah berubah. Tetapi, aku juga ingin bertanya, kenapa kamu menikahinya?” tanya Rega dengan tatapan yang masih tajam.
“Karena aku menginginkannya,” desis Eio dengan senyum sinis.
“Kalau begitu, kenapa kamu masih merawat orang yang bahkan sudah hampir mati selama bertahun-tahun!” bentak Rega dengan emosi menggebu. Matanya bahkan menatap dengan pandangan menggelap.
Elio yang mendengar langsung menggepalkan tangan. “Jangan campuri urusanku, Rega.”
“Aku hanya tidak mau kalau nanti akhirnya kamu yang akan terluka. Aku tidak mau kalau kamu akan menyesal,” tegas Rega.
Elio menghela napas perlahan dan mulai melunakan raut wajahnya. Dia menatap Rega dengan pandangan penuh mengharap pengertian. “Aku hanya membutuhkan penjelasannya saja, Rega. Aku ingin tahu apa yang membuatnya menghinatiku. Padahal aku sudah begitu mencintainya. Setelah dia bangun dan mengatakan semuanya, aku sudah tidak peduli lagi dengan hidupnya,” jelas Elio dengan wajah sendu.
____