Arianna Safi mengalami penganiayaan yang membuatnya meninggal. Tidak disangka dia justru masuk ke dalam tubuh figuran antagonis di novel yang dia baca sebelum meninggal.
Figuran antagonis itu bernama Arianna Serafine Wezen yang merupakan kembaran dari antagonis cerita yaitu Catalina Hermione Wezen.
Arianna yang diberi kesempatan untuk hidup pun bertekad untuk merubah takdir agar tidak sesuai dengan alur cerita dimana dia, Catalina dan keluarganya mengalami kehancuran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pipit_vie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 35: Adelaide, Wanita Misterius
...-<{ SELAMAT MEMBACA }>-...
Arianna menatap kepergian Ezekiel bersama para ksatria dan bangsawan yang ikut berperang dengan tatapan khawatir. Perasaan Arianna tidak tenang saat mengucapkan kalimat selamat tinggal.
Sejujurnya Arianna merasa tidak terima dan senang dalam satu sisi, itu karena ayahnya tidak perlu ikut berperang yang membuat ayahnya bisa saja dalam bahaya. Satu sisi, dia tidak senang karena Gavriel yang seharusnya ikut berperang justru diberikan kesempatan oleh Yang Mulia Kaisar untuk menikmati bulan madu.
'Padahal gue sama Ezekiel kan juga pengantin baru, bukan si Gavriel doang!'
"Nona, ayo kita kembali." Lunar dengan hati-hati mengajak Arianna yang masih setia berdiri memandangi kepergian Ezekiel yang bayangannya sudah tak lagi nampak.
"Berapa lama perang ini akan berlangsung, Lunar? Apa yang menyebabkan bangsa Elf ikut bergabung dengan Kerajaan Helio?"
"Astaga! Anda tidak tahu?" Seseorang tiba-tiba saja berceletuk di sebelah Arianna.
Arianna dan Lunar pun menoleh bersamaan untuk melihat siapa yang baru saja berbicara. Arianna menatap wanita berambut pirang di depannya dengan kernyitan di dahinya.
"Maaf, Anda siapa?" Dengan nada sopan Arianna bertanya.
Arianna merasa ada yang aneh saat bertemu pandang dengan wanita ini. Dari cara memandangnya, wanita ini sedikit mirip dengan Isabelle.
"Saya Adelaide, Nona." Wanita bermata hijau lumut ini tanpa sungkan mengajak Arianna bersalaman.
"Anda sungguh tidak sopan!" Lunar menyingkirkan tangan Adelaide dari tangan Arianna, "Apa Anda tahu siapa orang yang Anda ajak bersalaman?" Lunar bahkan berdiri di depan Arianna untuk melindunginya.
Adelaide nampak tidak tersinggung, dia justru tertawa lebar, "Ahahaha~ Oh maafkan saya yang lancang ini, tapi sepertinya Nona Arianna tidak keberatan." ucapnya seraya menekan nama Arianna.
Lunar masih memandang marah Adelaide, namun sentuhan di pundaknya membuatnya menoleh.
"Tidak apa-apa, Lunar." Arianna lantas maju dari belakang tubuh Lunar, "Anda tahu kenapa bangsa Elf bergabung dengan Kerajaan Helio?"
Adelaide mengangguk antusias, "Seseorang telah lancang merubah takdir yang tak bisa dirubah dan inilah hasilnya, Nona!"
Arianna menatap penampilan wanita ini yang gaunnya tampak lusuh tapi berbeda dengan rambutnya yang berkilauan tertimpa cahaya matahari.
"Maukah Anda minum teh bersama saya?" Arianna merasa ada sesuatu dari wanita ini. Dia cukup yakin dengan hatinya yang mengatakan bahwa wanita ini bukanlah wanita biasa. Maka dari itu Arianna mengajaknya minum teh agar bisa mengobrol lebih banyak lagi.
"Tentu saja saya mau! Sudah cukup lama saya tidak menikmati suasana ibukota Kekaisaran yang menyesakkan ini." Adelaide merentangkan kedua tangannya seraya mendongak menatap sekelilingnya dengan senyum lebar.
Lunar menyenggol lengan Arianna, "Nona! Anda yakin ingin minum teh bersama wanita ini? Tampaknya dia agak kurang waras." bisik Lunar dengan matanya yang terus melirik sosok Adelaide.
"Justru yang terlihat seperti dia biasanya adalah orang yang penuh kejutan, Lunar. Percaya saja padaku." balas Arianna berbisik.
Arianna dan Lunar sontak saling menjauh saat Adelaide menatapnya dengan senyuman lebar. Arianna memutuskan untuk ikut tersenyum saja.
"Tapi saya tidak sendirian, Nona. Saya datang kemari bersama adik saya. Selama minum teh dengan Nona Arianna, bisakah Anda menjaga adik saya?" Pandangan Adelaide tertuju pada Lunar.
Jika disimpulkan, wanita ini hanya ingin bicara berdua dengan Arianna tanpa adanya orang lain termasuk Lunar yang merupakan pelayan pribadinya Arianna.
"T-tapi saya harus menjaga Nona, bagaimana jika terjadi sesuatu dengan Nona saat saya tidak ada di sampingnya?" Lunar nampaknya tidak bisa langsung mengabulkan permintaan Adelaide.
Adelaide tersenyum misterius, "Tenang saja, Anda tidak perlu khawatir. Saya dan Nona hanya sebentar saja."
"Itu benar, Lunar. Aku hanya akan sebentar saja kok, kau tak perlu khawatir. Mumpung berada di luar istana, belilah sesuatu."
"Oh, itu adik saya!" tunjuk Adelaide antusias pada seorang anak laki-laki yang berjalan menuju kemari sembari memakan buah apel.
"GE!"
Arianna agak terkejut saat Adelaide berteriak memanggil anak laki-laki itu.
Anak itu lantas berlari kecil menuju arah mereka. Setelah sampai anak itu memberikan sebuah apel untuk Adelaide, "Untuk Kakak."
"Terima kasih, Ge!" Adelaide menerima apel itu kemudian menggigitnya, "Owh iwya, Gwe. Akhu akwan pwergi sebwentar." (Oh iya, Ge. Aku akan pergi sebentar.)
Lunar menahan diri agar mulutnya tidak menegur Adelaide yang berbicara dengan mulut yang penuh makanan.
"Hanya sebentar kan?"
Arianna heran karena anak ini tidak bertanya Adelaide akan pergi kemana dan justru bertanya demikian.
Reaksi Adelaide hanya mengangguk saja sebagai balasan, wanita itu memandang Arianna antusias seraya menarik tangan Arianna dan mengajaknya berlari tiba-tiba.
"TOLONG JAGA ADIKKU SEBENTAR YA, NONA!" Teriak Adelaide dengan penuh semangat.
...🤍🖤🤍...
"Uwaah~ Teh camomille memang yang terbaik!" seru Adelaide.
Arianna dan Adelaide berada di dalam salah satu kedai yang berada di jalan utama ibukota Kekaisaran yang bernama Jalan Fredmil. Umumnya kedai maupun butik yang ada di jalan Fredmil dikategorikan yang terbaik di Kekaisaran. Lalu yang mengajaknya kemari dan memesan semua menu adalah Adelaide.
Di atas meja kini tersaji berbagai macam dessert yang bentuknya indah dan sayang untuk dimakan. Karena hal ini membuat Arianna merasa curiga.
"Apakah Anda seorang bangsawan?" tanya Arianna.
"Sekarang tidak lagi." jawab Adelaide santai.
Arianna menyesap teh camomille yang sama dengan milik Adelaide. Tidak bisa dipungkiri, Arianna juga suka dengan teh camomille yang katanya bisa menenangkan pikiran.
Tak
Adelaide meletakkan cangkir miliknya yang sudah kosong di atas meja. Dia pun baru meluruskan pandangannya pada Arianna kemudian tersenyum misterius.
"Jadi ... Apa Anda sudah melakukan malam pertama dengan Penyihir Ezekiel?"
"Uhuk-uhuk!" Arianna tersedak tehnya sendiri setelah mendengar pertanyaan Adelaide.
Adelaide tampak tidak peduli saat melihat Arianna yang tersedak hingga Arianna merasa baikan dengan sendirinya.
Arianna mendengus kesal, "Kenapa Anda ingin tahu sekali urusan pribadi saya?"
"Saya bukannya ingin tahu, saya hanya ingin memastikan saja." jawab Adelaide santai. Wanita itu kembali menuang teh ke dalam cangkirnya dan meminumnya.
"Apa yang ingin Anda pastikan?"
Cangkir teh yang diminum Adelaide kembali kosong. Adelaide kemudian menatap Arianna lagi, "Sesuatu yang buruk akan terjadi pada Penyihir Ezekiel. Tapi sepertinya ... Apa kalian benar-benar belum melakukannya?!"
Wajah Arianna merah padam saat tebakan Adelaide benar adanya.
'Cih! Dasar penyihir bodoh! Sejujurnya aku tidak ingin peduli lagi dengan semua ini, tapi aku tidak ingin melihat orang itu bahagia begitu saja.' Adelaide menatap Arianna dengan wajah serius.
"Bagaimana Anda bisa tahu kalau suami saya akan mengalami hal yang kurang baik?"
"Meskipun dunia berada diambang kehancuran, keajaiban pasti akan muncul. Apa Anda percaya dengan kalimat itu, Nona?"
'Dia mengalihkan pembicaraan rupanya.' batin Arianna dalam hati.
"Orang-orang yang serakah selalu seperti itu. Padahal perbuatan mereka akan berubah seperti boomerang yang bisa berbalik arah menyerang mereka sendiri." gumam Adelaide yang tentunya didengar oleh Arianna.
"Kiranya kapan hal itu benar-benar terjadi? Apakah sudah dekat?"
Arianna semakin tidak mengerti dengan sosok Adelaide. Gumaman-gumaman orang ini terdengar cukup mengerikan di telinganya.
Arianna terperanjat saat sorot mata hijau lumut itu menatapnya penuh harap, "Beruntung saya tidak terlambat. Setidaknya saya sudah merasa tenang karena melihat Anda baik-baik saja disini."
"Apa maksud ucapan Anda? Sebelumnya kita pernah bertemu?"
"Pelangi yang indah akan datang setelah badai besar terjadi." Adelaide menggenggam tangan Arianna, "Nona cukup peka, saya harap Anda bisa menjaga diri Anda sampai kita bertemu lagi."
Adelaide tiba-tiba berdiri, "Saya minta maaf karena sudah menyita waktu Anda. Saya harus pergi sekarang juga."
"Tunggu!" Arianna benar-benar sulit mengerti dengan semua ucapan Adelaide yang mengandung kalimat tersirat.
"Jaga diri Anda baik-baik, Nona Arianna ... Safi." Adelaide tersenyum misterius lalu berjalan pergi meninggalkan Arianna yang terdiam membatu.
'Tadi ... Gue nggak salah denger kan?' Arianna mencoba meyakinkan diri bahwa yang didengarnya tadi adalah benar adanya. Adelaide menyebut nama aslinya!
BRUGH
Kursi yang diduduki Arianna terjungkal karena dia yang berdiri secara tiba-tiba. Semua orang yang ada di kedai menatap aneh pada Arianna, tapi dia tak peduli karena dia harus mengejar Adelaide.
Arianna berlari hingga keluar kedai, matanya menelisik mencari sosok Adelaide yang sudah tidak ada. Arianna lantas berlari untuk mencarinya hingga dia bertemu dengan Lunar yang juga tampak kebingungan.
"Lunar! Apa kau melihat Adelaide?"
"Saya tidak melihatnya, Nona!" wajah Lunar tampak bingung, "Saya tadi sedang mencari adiknya wanita itu yang tiba-tiba saja hilang hingga akhirnya saya bertemu Nona."
Arianna merasa frustasi sekarang. Dia kehilangan jejak Adelaide. Wanita itu ... Arianna harus bertemu wanita itu lagi!
"Lunar," Arianna mencoba menenangkan dirinya sendiri, "Kita pulang saja sekarang. Aku merasa pusing."
"Baik, Nona!" Lunar pun membantu memapah Arianna yang sedang memegangi kepalanya.
'Gue yakin! Adelaide pasti tahu sesuatu! Dan ... Apakah dia wanita yang dimaksud. Ezekiel?'
Arianna benar-benar pusing. Semua orang yang ditemuinya di dunia ini selalu saja orang yang misterius. Bukan hanya Isabelle dan Ezekiel, sekarang ada lagi yaitu Adelaide.
Tidak di dunia ini maupun di dunianya, Arianna tidak pernah diberi kesempatan untuk menjalani hidup tenang.
Bersambung...
Haloo semuaaa😊
Sebelumnya aku minta maaf kalau performa ceritaku makin nyeleneh. Pikiranku lagi kacau karena kepikiran tempat kerjaku yang lagi dilanda musibah lagi.
Aku minta doa kalian boleh? Semoga bencana banjir yang ada di Demak bisa lekas surut dan semua orang bisa aktivitas lagi.
Bulan Mei nanti aku mau jadi istri orang😁 makanya aku pusing karena hari udah dekat, justru musibah banjirnya datang lagi dan aku ga bisa kerja karena diliburkan☹️ Aku sedih banget huhu😭
duh jadi curhat😣 ... Tapi aku berterima kasih banyak untuk kalian yang udah like dan komen semangat untuk aku! Percayalah, dukungan kalian adalah obat untuk aku😊🤍
See u next chapter guys 😊🤍🖤