NovelToon NovelToon
Aku Menyelamatkannya, Lalu Menjadi Tawanannya

Aku Menyelamatkannya, Lalu Menjadi Tawanannya

Status: sedang berlangsung
Genre:Dark Romance
Popularitas:10.6k
Nilai: 5
Nama Author: linda huang

Dijual oleh keluarganya sendiri sejak kecil, Viona Lin tumbuh sebagai pembantu keluarga Jiang. Hidupnya berubah ketika ia dipaksa mendonorkan ginjalnya untuk menyelamatkan Dylan Jiang, pewaris keluarga yang berkuasa.

Mengetahui pengorbanan itu, Dylan membawa Viona pergi dari keluarga Jiang. Namun alih-alih mendapatkan kebebasan, Viona justru terjebak dalam perhatian dan obsesi Dylan yang semakin sulit ia hindari.

Ketika seorang pria bertekad menjadikan dirinya miliknya selamanya, masih bisakah Viona menemukan jalan untuk bebas?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33

Delvin terduduk lesu di tepi jalan sambil menatap koper-koper yang berserakan di depan gerbang mansion.

Wajahnya dipenuhi keputusasaan.

"Semuanya... sudah berakhir," gumam Delvin. "Anakku sendiri yang menghancurkanku."

Moly ikut terduduk di sampingnya.

"Delvin, bagaimana kau bisa begitu lalai? Kenapa sampai Dylan berhasil membeli seluruh saham utama perusahaan kita?" tanyanya dengan nada menyalahkan.

Delvin menggeleng pelan.

"Perusahaan sudah berada di ambang kehancuran. Para investor panik dan berlomba-lomba menjual saham mereka. Aku sama sekali tidak tahu kalau orang yang membeli semuanya adalah Dylan."

Moly menutup wajahnya.

"Lalu bagaimana sekarang? Kita sudah kehilangan perusahaan, rumah juga sudah diambil kembali. Uang yang kita miliki tidak seberapa."

Air matanya kembali mengalir.

"Aku tidak peduli apa pun yang terjadi. Kau harus menyelamatkan putri kita dulu. Sanny sedang menunggu donor hati."

Delvin tertawa pahit.

"Ke mana lagi aku harus mencari pendonor? Semua orang takut kepada Dylan. Dulu, saat aku masih memimpin Jiang Group, mungkin masih ada yang bersedia membantuku. Tapi sekarang..."

Delvin menatap kedua tangannya.

"Aku bukan siapa-siapa lagi."

Moly menggenggam lengan Delvin.

"Kalau begitu kita harus bagaimana?"

Delvin memejamkan mata.

"Aku... benar-benar sudah tidak tahu."

Moly terduduk lemas di atas koper.

Air matanya terus mengalir.

"Bagaimana dengan nasib putriku? Tidak ada pendonor, uang kita juga hampir habis, bahkan tempat tinggal pun sudah tidak ada. Kenapa di usiaku yang sudah tua ini aku harus mengalami semua ini?" ucap Moly sambil menutup wajahnya.

Delvin hanya menundukkan kepala.

Ia tidak sanggup menjawab.

Beberapa saat kemudian, tatapan Moly berubah tajam.

"Semua ini karena Viona. Kalau saja dia tidak mendekati Dylan saat itu, Dylan tidak akan pernah mengetahui semua kebenaran."

Ia menggenggam lengan Delvin erat.

"Delvin, bagaimana kalau kita menculik Viona?"

Delvin langsung membelalakkan mata.

"Menculik?"

"Iya. Kita bawa dia ke klinik yang kita kenal. Di sana kita paksa dia menjalani transplantasi hati untuk Sanny."

Delvin langsung berdiri.

"Moly, kau sudah gila! Itu melanggar hukum!"

"Melanggar hukum? Apa bagimu nyawa Sanny tidak penting? Selama Sanny bisa selamat, aku rela melakukan apa pun."

"Moly!"

"Setelah operasi selesai, kita tinggalkan kota ini. Tidak akan ada yang bisa menemukan kita."

Delvin menggeleng kuat.

"Itu kejahatan. Aku sudah melakukan terlalu banyak kesalahan. Kalau aku mengulanginya lagi maka hidup kita akan segera berakhir."

Moly menatapnya penuh amarah.

"Kalau begitu, kau ingin melihat putri kita mati?"

Delvin memejamkan mata.

"Tentu tidak."

"Lalu apa lagi yang bisa kita lakukan?"

Delvin terdiam lama.

"Aku tidak tahu..."

Moly mengepalkan kedua tangannya.

"Kalau kau tidak berani, biar aku yang mencari cara."

Delvin langsung menatap istrinya.

"Jangan bertindak gegabah. Dylan melindungi Viona seperti harta karunnya. Jangankan menculiknya, untuk mendekati Viona saja bukan perkara mudah. Ke mana pun dia pergi, Dylan selalu mengetahui keberadaannya."

Moly menggigit bibirnya.

"Aku tidak percaya tidak ada celah."

Tatapannya berubah penuh tekad.

"Selama Viona masih hidup, berarti masih ada harapan untuk menyelamatkan Sanny."

***

Malam itu.

Mansion Dylan.

Pintu utama terbuka perlahan.

Dylan melangkah masuk sambil melepaskan jas hitam yang tersampir di bahunya. Aroma alkohol samar tercium dari tubuhnya.

"Tuan Muda!" seru Viona yang segera menghampirinya.

Ia memperhatikan wajah Dylan yang tampak lebih lelah dari biasanya.

"Anda minum alkohol?"

Dylan tidak menjawab.

Tatapannya hanya tertuju pada Viona.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia melangkah mendekat lalu langsung memeluk Viona erat.

"T-Tuan Muda..." ucap Viona terkejut.

"Jangan bergerak," ujar Dylan dengan suara rendah.

Pelukannya semakin erat, seolah ia tidak ingin melepaskan gadis itu.

Viona dapat merasakan napas hangat Dylan di bahunya.

Ia sempat mengangkat tangan, tetapi akhirnya mengurungkannya.

"Sepertinya suasana hati Tuan Muda sedang buruk," batin Viona. "Apa ini ada hubungannya dengan keluarga Jiang?"

Beberapa menit berlalu.

Dylan masih belum melepaskan pelukannya.

"Tuan Muda..." panggil Viona pelan.

"Hm?"

"Apakah terjadi sesuatu?"

Dylan tersenyum tipis, tetapi senyum itu dipenuhi rasa lelah. "Tidak ada."

Beberapa saat kemudian.

Dylan akhirnya duduk menyandarkan diri di sofa.

"Tuan Muda, tunggu sebentar. Aku akan membuatkan air madu hangat."

Viona segera menuju dapur. Beberapa menit kemudian, ia kembali membawa segelas air madu hangat.

"Minumlah. Mungkin rasanya akan sedikit lebih nyaman."

Dylan menatap gadis itu sejenak, lalu mengambil gelas dari tangan Viona.

Ia meneguk air madu hangat itu hingga habis tanpa menyisakan setetes pun.

Viona menerima kembali gelas kosong tersebut, kemudian meletakkannya di atas meja.

"Tuan Muda, apa Anda lapar? Aku bisa menyiapkan makanan," tanya Viona pelan.

Dylan tidak menjawab.

Ia mengangkat tangannya dan menyentuh lembut pipi Viona.

Viona refleks ingin mundur, tetapi Dylan menahan bahunya agar tetap di tempat.

"Viona Lin..." ucap Dylan dengan suara rendah.

"Iya, Tuan Muda."

"Hari ini aku berhasil mengusir mereka semua."

Viona terdiam.

"Mereka kehilangan perusahaan, kehilangan jabatan, bahkan kehilangan rumah. Mulai sekarang, mereka tidak lagi memiliki apa pun."

Dylan tersenyum tipis, tetapi senyum itu sama sekali tidak menunjukkan kebahagiaan.

"Seharusnya aku merasa puas."

Tatapannya perlahan meredup.

"Tapi anehnya... suasana hatiku tetap tidak bahagia."

Viona menatap wajah Dylan yang dipenuhi kelelahan.

"Padahal selama bertahun-tahun aku menunggu hari ini. Aku ingin melihat mereka menderita seperti yang pernah dialami ibuku."

Dylan mengusap pelan pipi Viona.

"Delvin memang ayah kandungku, tetapi pengkhianatannya tidak akan pernah bisa kumaafkan," ujar Dylan. "Viona, apa kau akan tetap setia berada di sisiku?"

Viona mengangguk pelan.

"Tuan Muda sudah banyak membantuku. Tidak ada alasan bagiku untuk mengkhianati Anda."

Dylan menatapnya lekat.

"Hanya karena itu?"

Viona tampak bingung.

"Maksud Anda?"

Dylan mengangkat tangannya, lalu menahan tengkuk Viona dengan lembut hingga jarak di antara mereka semakin dekat.

"Jadi, kau tetap berada di sisiku hanya karena ingin membalas budi?"

Viona menundukkan pandangan.

"Kebaikan Anda tidak akan pernah kulupakan."

Dylan tersenyum tipis.

"Kalau begitu, ingatlah semua kebaikanku. Tetaplah berada di sisiku. Jangan pernah meninggalkanku. Kalau kau mengkhianatiku...aku akan menyiksamu selama hidupmu."

Ia mengusap pelan pipi Viona dengan ibu jarinya, lalu mendekat dan mengecup bibir gadis itu dengan lembut.

Viona membelalakkan mata karena terkejut. Tubuhnya menegang sesaat, ia berusaha mendorong Dylan menjauh. Namun Dylan memeluk pinggangnya dengan erat. Sehingga ciuman mereka semakin dalam.

1
Nifatul Masruro Hikari Masaru
rasain
erviana erastus
sudah di warning dylon nih dua orang tolol masih nekat aza ckckck.... say good bye dunia ucapan ini buat kalian bertiga
erviana erastus
habisi aza mereka Dylan drpd buat susah 🤭
Maria Mariati
pasti dia siapa lagi, cari mati itu orang
erviana erastus
kelar hidupmu moly
erviana erastus
ais moly moly udah bosan hidup rupanya, 😏😏😏
Dini Anggraini
Q suka kak karakter Dylan ini teruskan usahamu ambil yang menjadi hakmu pelakor, putrinya dan delvin gak berhak dapatkan harta ibumu kalau perlu jual saja gara2 di rumah itu penderitaan ibumu di mulai sampai ibumu meninggal. 🥰🥰
🌸🍾⃝ sᴀͩᴋᷞᴜͧʀᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ⍣⃝🦉
iyalah mamanya meninggal gara gara kalian, anak mana yang tidak marah
🌸🍾⃝ sᴀͩᴋᷞᴜͧʀᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ⍣⃝🦉
setimpal sih dengan kelakuan mereka
erviana erastus
puas banget..... 😍😍😍
🌸🍾⃝ sᴀͩᴋᷞᴜͧʀᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ⍣⃝🦉
pengen banget berkata kasar, hey moly dan suaminya, pelayan itu manusia juga, bukan boneka, enak saja mau ambil organ organ orang
erviana erastus
pak tua ini 🤣 percaya diri kali
Maria Mariati
waduh belum sadar juga ini orang yakkk, pusing dahhhh 😁😁😁😁
Maria Mariati
tenang vioo bukan kamu pendonor nya pasti Dylan sudah persiapkan semua
🌸🍾⃝ sᴀͩᴋᷞᴜͧʀᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ⍣⃝🦉
makanya jangan pernah berbuat semena mena sama orang lain
erviana erastus
langsung kirim ke alam baka aza mereka bertiga 🤭 biar dunia aman
erviana erastus
sujud syukur aku....selamat atas kehancuran kalian, 👏🏻👏🏻👏🏻
merry
kejam nuga dilan wkkkk adik se ayah pun gk peduli krn perbuatan orgtua yg jdi penghianat dan pelakor,, mntp dil
merry
bnr tu Jay 😆😆klo bls budi cukup ksh uang yg bnykk beres knn ksh saham juga bisa,,, in dr segala bju pun di atur in mah menlebhin seorg suami yg syg bgtt sm istrinya,, pdhl tau sndri bis mu dan vio bukn pasutri pcr juga buknn
erviana erastus
senangnya aku lihat 3 orang ini hancur lebur 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!