Sebuah kerajaan terbesar punya misi menangkap semua petarung liar untuk kedamaian. Namun semua perguruan seni bertarung pedang menolaknya. Karena mereka tahu kalau kerajaan ingin mengatur masyarakat dengan menguasai sumber daya.
Sepasang pendekar pedang ini menjadi penyelamat untuk melawan sebuah kerajaan besar. Mereka melakukan perjalanan bersama untuk mengumpulkan rahasia teknik pedang tersembunyi dan dua pedang Sakti.
Pedang Zen Xi di Desa Win, lalu pedang Zoi Chu di Desa Hon. Namun mereka harus melewati rintangan dan tempat untuk bisa sampai di tujuan. Lalu mereka kembali untuk mengalahkan Kerajaan Sinpor.
Setelah masalah Kerajaan Sinpor selesai, kisah cinta mereka berdua sempat mendapatkan penolakan dari orang tua perempuan, karena perbedaan kelas sosial. Namun mereka berdua punya cara agar mereka berdua bisa menikah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Firdaus Rangkuti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesalahpahaman
"Jinsin kok jadi cemburu begitu ya?" bisik Rio.
"Sekarang bersihkan lantai ini, cepat!" teriak Jinsin marah.
Jinsin melepas tarikan rambut pelayan makan. Lalu dia duduk kembali di kursi dan pelayan makan mengambil sapu dan sekop untuk menyapu bekas makanan yang tumpah di dekat Rio. Jinsin hanya melihat dengan mata melotot. Rio hanya diam menahan malu karena sikap Jinsin menjadi perhatian utama orang makan.
"Mas, nona. Saya sudah selesai membersihkan yang tumpah. Mohon maaf atas kelalaiannya saya ya.?" ucap pelayan wanita memohon sambil menunduk kepala.
"Iya tidak apa-apa kok." ucap Rio senyum.
"Pergi sana!" ucap Jinsin kesal.
Beberapa saat kemudian, Jinsin ingin pulang. Rio mengambil bon pembayaran makan lalu hendak membawa Jinsin pulang ke rumah dengan jalan kaki. Rio melihat Jinsin masih kesal karena kejadian tidak penting di dua tempat. Namun Rio tetap diam dan menemaninya jalan.
"Kita sudah sampai Jinsin, kau mau duduk di kursi untuk bercerita?" tanya Rio.
"Kau pikir aku anak kecil malam-malam kau suruh aku bercerita denganmu." ucap Jinsin hendak masuk ke kamar dan menutup pintu dengan keras. Rio diam melihat jawaban Jinsin dan kaget saat suara pintu keras terdengar. Rio ke dapur dan meminum air putih di ceret. Setelah itu Rio duduk di ruang depan melihat ke jendela yang sudah ditutup rapat di malam hari yang cukup terang.
"Jinsin kenapa ya?" tanya Rio memegang kaca jendela. Rio bangkit dari kursi menuju kamar untuk tidur.
Pagi telah tiba, Rio bangun lalu mencari Jinsin di setiap sudut ruangan rumah. Rio melihat Jinsin sedang menjemur pakaiannya. Lalu Rio tersenyum kepadanya dan kembali ke kamar untuk mandi. Setelah itu, Rio mendatangi Jinsin sedang mencabut rumput halaman rumah yang sudah mulai panjang. Jinsin memotongnya, namun Rio duduk di sampingnya dengan jongkok melihat Jinsin.
"Biar aku bantu ya." ucap Rio cabut rumput di dekat Jinsin.
Jinsin memotong rumput dan tidak mendengar ucapan Rio. Lalu mereka berdua memotong rumput halaman rumah bersama di hari cerah. Setelah mereka melakukan aktivitas bersama sepanjang hari. Jinsin tidak bicara satu kata pun. Namun Rio tetap berada di dekatnya. Menjelang sore, Rio berkata kepada Jinsin kalau dia tidak perlu memikirkan soal di tempat makan kemarin. Jinsin menghela napas dan dia melihat wajah Rio dengan tatapan cemburu.
"Jinsin." ucap Rio pegang pipinya wajah sedih.
"Sudahlah, aku memaafkanmu lalu aku melupakan masalah itu." ucap Jinsin memegang balik tangan di pegang Rio di pipinya. Saat Rio hendak duduk bersama dengan cerita dan saling mengobrol bareng dengan malam yang sunyi dengan canda dan mesra di kursi panjang. Jendela terbuka dengan angin dingin. Rio dan Jinsin pertama kali kedatangan tamu.
"Tok. Tok. Tok." suara ketukan pintu terdengar. Rio membuka pintu lalu dia melihat ada Geri berdiri di hadapan dia. Rio menyuruh untuk masuk dan duduk di kursi yang satunya.
"Ada apa malam kemarin?" tanya Rio duduk di depannya.
"Aku Geri datang ke sini untuk memberi kabar agar kau dapat bergabung dengan kami menjadi kelompok yang besar." ucap Geri.
"Maksud kamu kami bergabung dengan kelompok kamu gitu. Lalu untuk tujuan apa?" tanya Jinsin.
"Mozi, aku dan Somo sudah membentuk aliansi untuk menjadi kelompok besar mengacak desa." ucap Geri. Jinsin menarik baju Geri dengan wajah marah. Geri diam melihat kemarahan Jinsin.
"Kau pikir kami Sudi dengan tujuan konyolmu itu!" teriak Jinsin mendorong Geri sampai terjatuh ke belakang.
"Aduh, bukan begitu" ucap Geri di potong Jinsin menyudahi pembicaraan. Lalu Geri bangkit dari kursi dan dia menyampaikan tujuan agar mereka bergabung karena adalah banyak kelompok petarung di desa ini sudah lebih dulu mengacak desa.
Rio diam mendengar perkataan Geri dan berpikir kalau Desa Swon harus di cari tahu informasinya. Setelah Geri pulang menceritakan tentang tujuan Geri. Rio berpikir tentang kondisi desa saat ini. Walaupun sebagian desa terasa damai. Namun memang belum di cari tahu tentang daerah lain di desa ini.
"Rio, sebaiknya kita tidak perlu gabung dengan kelompok mereka." ucap Jinsin berdiri.
"Ya aku tahu tentang tujuan kita menetap di sini." ucap Rio. Lalu Rio dan Jinsin punya tujuan untuk menetap di Desa Swon untuk menyembunyikan identitas sebagai pendekar pedang dan telah mencuri salah satu pedang terkuat termasuk menghindari pengejaran prajurit asal pedang itu di ambil.
Lalu mereka menetap untuk menambah kemampuan latihan bertarung dengan mempelajari lagi dari gulungan yang mereka ambil. Selain itu mereka menetap di sini agar mereka berdua dapat melanjutkan perjalanan lagi ke tempat pedang sakti yang kuat itu di sembunyikan.
Namun Jinsin tetap bersih keras untuk melarang Rio untuk mencari tahu tentang Desa Swon serta kelompok yang di ceritakan oleh Geri. Namun Jinsin menyampaikan bahwa mereka berdua punya tujuan agar pedang sakti setelah di ambil akan di bawa pulang kembali untuk kepentingan desa atas perintah guru mereka di desa masing-masing.
"Jinsin sebaiknya kita harus mencari tahu tentang Desa Swon ini." ucap Rio berdiri melihat Jinsin tatapan serius.
"Ya, ampun kau ini punya hasrat bertarung lagi." ucap Jinsin memegang kepala sambil menggeleng.
"Kenapa kau, Jinsin?" tanya Rio bingung.
"Kau ini, kalau kita bertarung, artinya kita menggunakan pedang sakti atau pedang biasa. Walaupun begitu mereka akan tahu siapa kita. Desa luar akan datang mencari kita. Ingat itu Rio!" teriak Jinsin memberitahu Rio sambil menunjuk wajah di kalimat terakhir. Rio diam mendengar perkataan Jinsin dan duduk ke kursi untuk mempertimbangkan tindakan serta ucapan Jinsin sambil melipat kedua tangan sambil berpikir.
"Jinsin, kau tahu ucapan Geri, mereka sudah tahu kemampuan kita di kedai kemarin. Kalau mereka di kalahkan oleh kelompok lain. Otomatis mereka akan beritahu tentang kita terhadap kelompok yang tidak kita kenal." ucap Rio.
"Karena sebuah gang kecil itu ya. Repotnya." ucap Jinsin mengeluh.
"Jadi, apakah kamu akan bersembunyi?" tanya Rio.
"Tapi Rio, kalau kita mengatasi keadaan Desa Swon dari kelompok tidak kita kenal dan tidak tahu. Kita akan menghadapi kekacauan besar di desa ini dan ini akan membuka peluang besar kepada kita untuk melawan prajurit di masa depan." ucap Jinsin memberi saran dan pemikiran kepada Rio.
Mereka berdua sepakat terhadap diskusinya terkait masalah Desa Swon dan menunda tujuan mereka untuk mengambil pedang sakti yang satu lagi dan kembali ke desa masing-masing. Mereka berdua saling bersalaman sebagai tanda kompak semangat untuk bertarung. Pagi yang cerah Rio dan Jinsin mencari tahu keberadaan Kelompok petarung di Desa Swon dengan berlari dari atap desa penduduk melihat situasi desa yang cukup luas.
"Di sini tenang ya." ucap Jinsin melihat situasi desa yang damai dan indah di pagi hari.