Aini dan Brandon saling mencintai. Cinta mereka bersemi di pesantren tempat mereka menuntut ilmu. Akan tetapi, perbedaan kasta di antara keduanya membuat hubungan mereka menjadi rumit. Bapak Aini yang matre, sengaja menjodohkan Aini yang statusnya merupakan kembang desa, dengan anak juragan tanah setempat. Padahal, sebenarnya Brandon anak orang kaya. Orang tua Brandon yang memiliki pesantren Brandon dan Aini menuntut ilmu.
Hingga setelah sederet kesalahpahaman yang terjadi, dan delapan tahun telah berlalu, takdir kembali menemukan mereka dalam status berbeda. Aini yang hijrah ke Jakarta menjadi ART, justru bekerja di rumah orang tua Brandon. Selain mengetahui fakta bahwa ternyata Brandon merupakan anak dari orang kaya raya, Aini juga mengetahui bahwa pemuda yang statusnya masih menjadi kekasihnya itu akan menikah dengan wanita lain.
Sementara yang Brandon tahu, Aini sudah menikah, hingga akhirnya Brandon juga menyerah dan mau-mau saja dijodohkan dengan seorang perempuan cantik dari kerabat orang tuanya. Namun kini, di hadapannya, Aini justru mendadak hadir sebagai pembantu baru di rumahnya.
Kisah mereka memang belum usai. Namun masalahnya, selain bibit, bebet, sekaligus bobot mereka sangat berbeda, Tuan Muda yang dulu dianggap miskin juga sedang menjalani persiapan pernikahan di tahap akhir.
Lantas, bagaimana akhir dari kisah mereka? Akankah Brandon mengambil keputusan sulit yaitu meninggalkan persiapan pernikahannya untuk Aini yang masih sangat ia cintai? Atau, justru Aini yang akan diam-diam pergi mengakhiri kisah mereka yang terhalang kasta?
💗Merupakan bagian dari novel : Mempelai Pengganti Ketua Mafia Buta yang 💗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rositi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35 : Kehilangan Dan Memulai Lembaran Baru
“Ya memang harus begini. Memang harus menjalani. Namanya kehidupan tak luput dari kesalahan yang bikin kita makin belajar. Malahan dari dulu, aku belajar dari kamu.” Pak Helios yang baru pulang, sudah langsung meyakinkan sang istri.
Ibu Chole jatuh sakit, meringkuk layaknya anak kucing dan melilit tubuhnya menggunakan selimut. Alasannya masih sama, wanita itu merasa sangat bersalah. Merasa sangat menyesal terlebih Brandon sulit dihubungi. Mereka kehilangan jejak Brandon yang sudah sampai tak lagi tinggal di kontrakan. Mafia yang ditinggal untuk mengawasi, kehilangan jejak Brandon dengan alasan yang hanya membuat ibu Chole makin nelangsa.
“Berhenti menyalahkan dirimu. Anak-anak mulai menemukan jati diri sekaligus kebahagiaan mereka dengan cara mereka. Enggak usah takut, mereka pasti bahagia. Urusan mencari mereka, kita lakukan setelah pernikahan Boy dan Tera beres.” Pak Helios menggenggam kedua tangan istrinya. Tangan yang biasanya selalu hangat itu kini dingin dan basah oleh keringat.
Kedua mata lebar milik ibu Chole yang awalnya selalu berbinar, kini sayu menatapnya penuh kepedihan.
“Terbiasa bareng-bareng, tapi mendadak harus cerai berai begini. Sementara alasan ini ada karena aku. Rasanya sedih banget. Sakit ...,” lirih ibu Chole yang berakhir menangis tersedu-sedu.
Menyaksikan itu, hati pak Helios menjadi rapuh. Ia segera merengkuh kemudian memangku tubuh sang istri yang ia dekap hangat. “Aku percaya anak-anak jauh lebih bahagia dengan keputusan mereka. Karena sesempurna-sempurnanya kehidupan yang kita berikan, mereka pasti ingin merasakan suasana berbeda. Apalagi jika itu dengan orang yang mereka cintai. Jangan lupa, dari awal pun, kita benar-benar berbeda. Bukan hanya lingkungan kita, tapi juga pola pikir dan memang semuanya.”
“Jadi, karena memang sudah telanjur begini ... satu-satunya cara yang kita bisa hanyalah lewat doa. Katakanlah aku kecolongan, tapi bukan berarti tanpa aku termasuk kamu, anak-anak tidak bisa bahagia.”
“Jangan pernah meragukan hasil didik kita. Andai kini mereka merasa terluka, akan ada masa di mana mereka menyadari bahwa apa pun dan bagaimanapun kita, kita sebagai orang tua mereka tetap menyayangi mereka. Kita orang tua yang ibaratnya rumah mereka. Ditambah lagi, anak-anak memilih pasangan tepat yang biasanya akan membuat mereka saling melengkapi. Mereka akan membangun sempurna, kemudian pelan-pelan menjadi orang tua.”
“Dan cara pikir mereka pasti akan pelan-pelan berubah. Mereka akan bisa jauh lebih memahami cara pikir kita, lalu pelan-pelan menyusun waktu bagaimana caranya membuat kita kembali sama-sama.”
“Beneran enggak harus ada yang perlu kita pusingkan. Khawatir wajar, tapi bukan berarti kamu malah sakit-sakitan. Besok pagi cucu sampai, ayo kita bahagia. Jangan ditangisi. Jangan disedihi takutnya berdampak juga ke anak-anak. Sama-sama menenangkan diri, sama-sama belajar dari sini.” Pak Helios masih memeluk erat ibu Chole.
Ibu Chole mengangguk-angguk. “Tapi sekadar suara enggak bisa dengar lagi, Pah.”
“Tunggu beres pernikahan Boy, kita susul mereka!” sergah pak Helios masih meyakinkan.
Ibu Chole yang kali ini tak sampai memakai kerudung apalagi cadar, sengaja menggunakan kedua tangannya untuk membingkai wajah. Ia mengecu*p penuh sayang pipi kiri suaminya.
“Ingat, emosi kita juga berdampak ke anak.” Pak Helios tidak akan pernah lelah meyakinkan istrinya.
“Sekarang kita fokus doa saja.” Meski berusaha tegar, air mata pak Helios tetap menorehkan kerapuhan hatinya.
Sampai kapan pun memang tidak ada yang siap apalagi mau merasakan apa itu kehilangan. Terlebih bagi orang tua yang harus kehilangan anaknya, meski itu hanya berlangsung sementara. Sebab selain kehilangan itu sendiri, memulai lembaran baru tanpa mereka yang membuat kita merasakan kehilangan juga tak kalah menyakitkan.
“Mas Brand ... Mamah enggak akan lelah buat mengatakan ini. Maaf karena Mamah sudah melukai Mas. Maaf karena Mamah sudah bikin Mas kecewa. Namun Mas harus percaya, apa pun keputusan Mas asal Mas bahagia, Mamah dan semuanya juga bahagia. Ya sudah Mamah kuat-kuatin, semoga secepatnya kita bisa kembali sama-sama. Semoga kamu sekeluarga juga sehat dan selalu bahagia. Semoga kalian secepatnya sukses,” batin ibu Chole yang sekadar mengatakannya dalam hati saja, tidak sanggup. Malahan karena itu, yang ada ia malah tersedu-sedu parah.
Memulai lembaran baru yang tetap terasa menyakitkan, mereka jalani demi kebahagiaan di masa depan. Meski hati tak kuasa berbohong menahan kerinduan yang membuat hati mereka rapuh hingga air mata menjadi wujudnya, pada akhirnya mereka sampai juga di hari pernikahan Brandon dan Lentera.
Semuanya berjalan dengan semestinya, yang mana Boy masih dengan misinya mendapatkan cinta Lentera. Pihak yang mengetahui itu baik orang tua Boy maupun Hyera juga sepakat diam. Mereka menyerahkan semuanya kepada Boy yang menjalani, selain mereka yakin, Lentera akan jauh lebih bahagia bersama Boy yang sangat mencintai. Meski jika dipikir-pikir, apa yang mereka lakukan memang tidak adil untuk Lentera sekeluarga.
Boy terpaks*a menikahi Lentera sebagai Brandon, tapi semuanya bahagia termasuk Boy sendiri. Ijab kabul yang sakral juga pesta pernikahan yang mewah sekaligus romantis, Lentera dapatkan sesuai impiannya tanpa tahu, jika yang menjalani bersamanya justru bukan orang yang semestinya.
“Kok gini, ya? Ini definisi wujud Brandon kalau sudah bucin apa bagaimana? Terasa aneh ya ... jadi mirip Boy!” komentar Rain selaku salah satu saudara laki-laki dari keluarga pak Helios. Lebih tepatnya, Rain merupakan anak dari pasangan fenomenal Rere dan Ojan.
Mendengar itu, Hyera yang ada di sana bersama anak-anak dari kerabat orang tuanya, langsung gelisah. Terlebih dari semuanya, Hyera menjadi satu-satunya yang tahu misi Boy.
“Bener sih, jadi mirip banget. Apalagi kalau lagi senyum. Ketawanya pun bisa semirip itu, ya?” komentar Kim selaku kakak tertua Brandon dan Boy.
Satu persatu dari mereka yang ada di sana kompak membenarkan anggapan Rain maupun Kim. Semuanya sepakat merasa bahwa Brandon yang malam ini dan sedang berdansa di depan pelaminan sana bersama Lentera, memang sangat mirip dengan Boy. Namun dari semuanya, Hyera menjadi satu-satunya yang tak berkomentar. Hyera memilih menyibukkan diri sambil sesekali memijat dahi.
“Kamu sakit?” tanya Calista selaku kakak Hyera, anak kedua dari pak Helios dan ibu Chole. Kebetulan, ia duduk tepat berhadapan dengan Hyera. Sementara sedari acara ijab kabul, bungsu dalam keluarganya itu tampak gelisah mirip sakit atau karena ada yang fatal dan sengaja Hyera sembunyikan.
Hyera berangsur tersenyum masam sambil menggeleng. Ia tetap dengan keputusannya yaitu mendukung misi Boy. Meski tidak bisa ia pungkiri, misi yang turut ia dukung itu akan sangat menyakitkan untuk Lentara.
Lalu, bagaimana kabar Aini dan Brandon? Juga, kabar Boy dan Lentera setelah pernikahan mereka?
bahasanya juga mudah dicerna ada kesalahan dikit² dalam menyebut kan tokoh sih dimaklumi karena aku sendiri kalau suruh ngarang tulisan bahasanya juga masih nggak bisa berurutan