Di dunia yang berjalan di atas kebenaran semu, kepalsuan adalah satu-satunya hal yang terasa nyata.
Kutukan, penyihir, benda terlarang, serta makhluk yang seperti mitos dan khayalan, hidup berdampingan dengan manusia biasa, tersembunyi di balik kehidupan sehari-hari yang tampak normal. Di tengah dunia yang penuh rahasia itu, Arya terlempar ke dalam pusaran takdir yang tidak pernah ia pilih, sebuah dunia dimana kebohongan bukan hanya alat bertahan hidup, tetapi juga satu-satunya cara untuk melindungi orang yang dicintai.
Keluarga, kekasih, sahabat, dan musuh berjalan di garis tipis antara kejujuran dan kepalsuan. Setiap senyum bisa menjadi topeng. Setiap janji bisa menyimpan niat lain. Bahkan perasaan paling tulus pun tak luput dari bayang-bayang dusta.
ini adalah cerita tentang seorang anak laki-laki yang mencari jawaban atas keberadaannya sendiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yersya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31
Pukul empat dini hari.
Di sebuah ruangan rumah sakit di lantai empat, keheningan menggantung tebal. Lampu ruangan sengaja dimatikan. Hanya cahaya bulan yang menembus jendela besar, jatuh miring ke lantai, memantul lembut di dinding putih dan wajah-wajah yang terlelap.
Adelia tertidur pulas di atas ranjang pasien. Selimut menutupi tubuhnya hingga dada, nafasnya teratur, tenang. Di sisi lain ruangan, Kelvin dan Luna tertidur di sofa kecil, tubuh mereka saling bersandar, kelelahan yang akhirnya menang.
Aku duduk di kursi kecil dekat jendela.
Kursi itu dingin. Sandarannya keras. Tapi aku tidak peduli. Pandanganku tertuju pada rembulan yang menggantung utuh di langit malam. Cahaya pucatnya terasa sunyi, seperti ikut menyimpan semua yang telah terjadi malam ini.
Selama Adelia dirawat, Luna mencari tahu tentang Ari.
Ariyani Kusumawardani. Ari.
Sebelas tahun yang lalu, saat masih duduk di bangku SMA, dia adalah sosok yang selalu menarik perhatian. Cantik, pintar, dan tenang. Para siswi mengaguminya sekaligus membencinya. Para siswa jatuh cinta padanya.
Banyak yang menyatakan perasaan. Tidak satu pun diterima.
Bagi Ari, itu hal biasa. Baginya, penolakan hanyalah kejujuran.
Bagi sebagian siswi, itu kesombongan.
Puncaknya terjadi saat Julian menyatakan cinta… dan ditolak.
Sejak hari itu, semuanya runtuh.
Awalnya hanya pengucilan. Bisikan. Tatapan tajam.
Lalu berubah menjadi hinaan. Air kotor. Pukulan.
Pakaiannya dirobek. Tubuhnya direkam saat tak berdaya.
Ketika video itu sampai ke tangan para siswa—termasuk Julian—Ari diseret ke tempat kosong. Dipaksa. Diperkosa bergiliran. Direkam lagi. Dijadikan tontonan.
Ia melapor.
Namun kekuasaan dan uang Julian menutup segalanya.
Sekolah diam. Polisi menutup mata. Hukum tak bergerak.
Ari hancur.
Dan akhirnya… memilih mengakhiri hidupnya sendiri.
Kasus itu disembunyikan.
Di hadapan kekuasaan dan kekayaan, segalanya bisa dihapus. Fakta ini hanya bisa diketahui karena Luna berasal dari salah satu dari empat keluarga besar.
“Umm…”
Aku refleks menoleh saat suara erangan pelan itu terdengar.
Adelia perlahan membuka matanya. Kelopak matanya bergerak ragu, seolah masih terombang-ambing di antara tidur dan sadar. Cahaya bulan yang masuk dari jendela lantai empat menyapu wajahnya dengan lembut, menyoroti garis-garis pucat di pipinya dan membuat matanya terlihat sayu, namun tetap jernih.
Ia mengedipkan mata beberapa kali, lalu menarik napas kecil. Tubuhnya bergerak pelan, berhati-hati, sebelum akhirnya ia bangkit sedikit dan bersandar pada sandaran ranjang. Selimut di dadanya bergeser, memperlihatkan bahu yang masih tampak lemah.
Pandangan matanya perlahan fokus, lalu berhenti padaku.
“Arya?” gumamnya lirih. “Kau tidak tidur?”
“Aku tidak ngantuk,” jawabku pelan, lalu kembali menatap keluar jendela.
Hening kembali turun.
Hanya suara napas Adelia.
Hanya sinar bulan yang bergerak pelan seiring waktu.
Aku tetap menatap rembulan. Adelia diam, jelas tenggelam dalam pikirannya sendiri. Tentang Ari. Tentang Julian. Tentang apa yang baru saja kami lalui.
“Arya,” panggilnya akhirnya.
Aku menoleh sedikit.
“Kenapa kau membantu Ari sampai sejauh itu?” tanyanya pelan, tanpa nada menghakimi.
Aku tidak langsung menjawab. Pandanganku masih tertuju ke luar.
Lalu aku bertanya balik,
“Kau pasti juga akan melakukan hal yang sama, kan?”
Adelia tertegun.
“Ta-tapi…” suaranya melemah. “Kau hanyalah manusia biasa. Terlibat dengan kutukan, apalagi dengan cara senekat itu… kau bisa mati kapan saja.”
Aku menoleh sepenuhnya, menatapnya dalam cahaya bulan yang lembut.
“Kalau begitu,” kataku tenang, “kenapa kau masih ingin menyelamatkanku… meskipun kau tahu lawanmu adalah kutukan tingkat empat yang jauh di atasmu?”
Adelia terdiam.
Bibirnya sedikit terbuka, tapi tak ada kata yang keluar.
Aku mendengus kecil.
“Kau aneh,” ucapku sambil tertawa pelan.
“A-apa?” tanyanya bingung.
“Alih-alih marah karena aku melibatkanmu,” lanjutku, “kau justru marah karena aku membahayakan diriku sendiri.”
Aku tersenyum tipis.
“Kau gadis yang sangat baik hati, Adelia.”
Ia membeku.
Rona merah itu muncul perlahan, merayap di pipinya, samar namun jelas tertangkap oleh cahaya bulan yang masuk dari jendela. Adelia menunduk, lalu menarik kedua kakinya ke dada, memeluknya erat seolah mencari perlindungan dari kata-kataku sendiri. Bahunya sedikit mengeras, nafasnya menjadi lebih pendek.
“Pfft… kenapa kau malah tersipu?” tanyaku, setengah menahan tawa.
Ia menggeliat kecil, wajahnya semakin tertunduk.
“Be-berisik,” gumamnya lirih, nyaris tenggelam oleh sunyi ruangan. Setelah jeda singkat, suaranya kembali terdengar, lebih pelan, lebih jujur. “Entah kenapa… ketika kau bilang aku baik hati, rasanya seperti… seperti saat ayah memujiku.”
Kalimat itu jatuh lembut, tanpa beban, tapi meninggalkan getaran halus di udara.
Aku terdiam sesaat.
Lalu tersenyum lebar.
“Kalau begitu,” ujarku ringan, “kau anakku.”
Adelia langsung menegakkan kepalanya, menatapku dengan wajah datar.
“Itu tidak mungkin.”
“Hehe… benar juga.”
Aku tertawa kecil.
Adelia menatapku beberapa detik… lalu ikut tertawa pelan.
Tawa yang singkat. Pelan. Hangat.
Di ruangan yang hanya diterangi cahaya bulan itu, aku merasa sangat menikmati momen ini.
Obrolan sederhana. Keheningan yang nyaman.
Jika harus diibaratkan—
seperti sebuah keinginan kecil yang akhirnya terkabul, tanpa perlu diminta.
Dan untuk sesaat…
dunia terasa tenang.