"Selamanya masa lalu adalah pemenang, siapapun pengisi hati hari ini, akan kalah dengan masa lalu yang datang kembali."
Untuk Sheila, itu tidak berlaku, karna masa lalu yang dicintai suaminya setengah mati itu sudah tiada hampir sepuluh tahun yang lalu karna jatuh ke jurang.
Karna itu, suaminya hanya bisa mencintai dirinya yang masih hidup di dunia ini.
Lantas, bagaimana jika masa lalu yang dikatakan telah meninggal dunia, datang kembali seperti keajaiban dengan anak perempuan berusia sepuluh tahun?
Lantas, apakah benar masa lalu akan tetap menjadi pemenang setelah kembali?
Apakah Sheila hanya menjadi istri pengganti?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rini IR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Targetnya itu Arthur
Di tempat lain, di halaman belakang rumah Shei. Mikhail dan Lozan masih ada disana, mungkin untuk malam ini mereka akan menginap disana.
Mikhail menghembuskan asap rokok dari mulutnya, dia menatap langit-langit gelap bercahaya kan bulan saja.
"Siapa ya kira-kira? Yang tega jadiin anak enam tahun target?" Tanya Lozan, dia juga kesal, sebagai dokter dia tidak bisa menerima racun mematikan itu ada dalam tubuh anak sekecil itu.
Lozan dan Mikhail sama-sama tau kalau racun itu bukan sembarangan, itu pasti di pesan, dan yang memesan jelas seseorang yang cukup berpengaruh di dunia bawah.
"Masih gua cari tau, gua udah kirim Juan sih buat acak-acak perdagangan gelap, sampai bisa tau siapa yang jual-beli racun itu akhir-akhir ini." Khal menghembuskan kembali asal rokoknya.
Tapi dia mendadak memadamkan api rokoknya, ia padamkan ketika melihat Shei, sahabatnya berjalan mendekat.
"Dah tidur anak lu?" Tanya Lozan, mempersilahkan sebuah kursi untuk Shei.
"Dia udah tidur kok, makasih ya dokter, maaf sebelumya aku bersikap enggak sopan, padahal kamu yang paling berperan untuk nyelametin Arthur.", Shei tertunduk sopan dengan rasa hormat yang tinggi terhadap orang ini.
Tampaknya Shei yang sekarang sudah lebih baik, walau matanya agak sembab sekarang, tapi ia tidak terlihat sesedih sebelumnya, dia sudah bisa bernapas seperti biasa tanpa kendala.
"Minum dulu guys." Avi datang, membawa nampan berisikan teh dan kopi, juga beberapa cemilan ringan, ia sajikan di meja kecil di depan mereka. Avi langsung mengambil posisi duduk di sebelah Shei.
"Gimana Daniel? Udah tidur?" Khal melirik ke arah Avi, Avi hanya menjawab iya dan mengangguk.
"Makasih."
"Sama-sama, lagian anak lu juga baik, seru, suka gue kok." Tambah Avi, dia jujur, dia tidak suka anak-anak, tapi berbeda jika itu Arthur dan Daniel.
Khal mengangguk saja.
"Btw, gua terima rasa terima kasih lu, tapi jangan cuma ke gua, ke Mikhail juga, soalnya dia yang hubungin gua suruh buruan kesini, dia yang pertama tau itu jenis racun sxc." Jawab Lozan santai, jari telunjuknya terarah pada Khal yang sedang duduk di sebelahnya.
"Oh iya! Yang pertama kali tau kan kamu Khal? Kamu kok bisa tau? Itu pasti waktu di sekolah kan? Waktu kamu cek ruam merah di badan Arthur?" Shei tampak sedikit mengerti, tapi dia tidak mengerti kenapa Khal tidak langsung bilang kalau itu bukan cuma ruam alergi, tapi juga efek racun.
"Aku pernah kena soalnya, tiga tahun lalu, jadi tau deh ciri-cirinya." Khal menjawab sekenanya saja, tampaknya dia tidak ingin mengungkit masa lalu itu.
"Kenapa kamu diam aja? Kenapa kamu setuju itu cuma ruam alergi? Kenapa dari awal kamu ngga bilang sama aku?!" Shei menatap kasar ke arah Khal, dia juga kesal karna sahabatnya ini terlalu menyembunyikan banyak hal dari Shei.
"Karna dia masih di Jepang." Khal menunjuk ke arah Lozan. "Butuh delapan jam setidaknya sampai dia tiba disini. Kalau sebelum itu kamu tau, kamu bakal nangis, dan Arthur juga curiga, dia bisaa takut, dan itu berefek sama perkembangan racunnya, Shei. Kamu tau? Aku sayang banget sama kamu, sama Arthur juga, karna itu aku ngga mau kamu sedih, ataupun Arthur sakit." Khal menggenggam erat tangan Shei yang ada di sebelahnya.
Shei terdiam. Dugaan Khal benar, Mungkin dia bisa menahan tangisnya ketika Haren dan Kayna bermesraan di depannya, tapi Shei tidak akan bisa menahan tangis jika tau sang anak kesayangan sedang dalam bahaya hidupnya karna racun.
"Maaf, dan makasih. Jadi itu alasan kamu ngga izinin Arthur tidur hari ini."
"Maaf ya, tapi sekarang udah ngga apa-apa, Arthur bakal baik-baik aja kok." Khal mengusap kepala Shei lembut.
"Tapi darimana racun itu? Makanan kah?" Avi mengernyitkan dahinya, sejak awal ini juga yang menjadi titik masalahnya. Avi sejak tadi memikirkan dimana bisa Arthur mengkonsumsi racun itu.
"Jelas bukan karna makanan, atau jajanan, di pasti di targetkan. Soalnya itu racun pastinya mahal, dan didapatkannya juga susah." Tambah Lozan.
"Siapa Shei? Yang kamu curigai?" Khal melirik ke arah Shei yang sudah diem membeku. Shei tampak pucat, ekspresinya tidak bisa bohong, sepertinya dia mengetahui sesuatu.
Entah karna sering menangis, atau ada Khal yang dia percaya, Shei tanpa sengaja selalu memperlihatkan ekspresi aslinya, padahal sebelumnya dia bisa menyembunyikan ekspresi sedihnya, kala Haren memilih Kayna dulu, tapi sekarang?
"Arthur bilang, kalau kemarin dia makan kue kacang buatan Kayna. Tapi beberapa hari sebelumnya aku udah bilang kalau Arthur itu alergi kacang, tapi Kayna malah buatin dia kue kacang, dan sengaja kasih ke Arthur? Haren juga tau Arthur alergi kacang." Jelas Shei, tangannya gemetar, pikirannya kacau, mulai timbul kesimpulan-kesimpulan yang tidak ingin Shei percaya.
"Sebagai seorang ayah aku percaya Haren tidak akan bisa melakukan hal seperti itu pada anaknya sendiri, kepada darah dagingnya." Ujar Khal, sorot matanya berubah tajam, dia sudah menargetkan satu orang sebagai tersangka utama.
"Bisa aja dia, bucin buat bodoh emang, mungkin dia ngga mau ada jejak pernikahan dengan Shei mantan istrinya, yang membayangi keluarga barunya. Dia kan mau nikah, mungkin karna takut Kayna terluka karena Arthur, dia mau bunuh Arthur? Yang mungkin dia anggap sebagai aib pernikahan sebe--"
"Avi!" Teriakan Shei memotong ucapan Avi seketika, membuat Avi diam terpaku, tampaknya dia baru sadar omongannya itu sudah berlebihan dan menyakiti hati Shei. Tentu saja, jiwa ibu mana yang tidak terguncang ketika anaknya dikatakan aib, walau itu jauh sekali dari maksud Avi.
"Tenang aja, aku bakal jagain dia, aku bakal cari tau siapa pelakunya oke? Aku bakal jagain kalian, aku janji. Untuk ku, Arthur dan Daniel itu sama." Khal mengulurkan kelingkingnya.
Shei dengan air mata yang hampir jatuh, langsung memeluk Khal erat. Sangat erat.
Sementara Lozan di kursinya hanya diam dan terus memandangi dua insan itu. Lozan mengangguk mengerti, tampaknya dia sudah sangat paham apa alasan Bos Mikhailnya bersikap begitu lembut dan hangat pada satu wanita ini. Padahal Mikhail yang Lozan kenal selama ini jauh berbanding terbalik dari apa yang Mikhail perlihatkan pada Shei.
...*********...
Kayna dengan senyuman manisnya menatap sebuah undangan dengan nama tujuan Sheila dan partnernya.
Itu adalah undangan pernikahannya!
Dua hari sudah berlalu, dan tiga hari dia akan menikah dengan Haren.
Kayna menatap Haren yang tertidur dengan nyenyak disebelahnya, dia menyunggingkan senyum yang sangat menyeramkan.
Kamu, harus menerima akibat dari perbuatan mu dulu. Kamu yang menghancurkan kehidupan aku dan dia. Sekarang saatnya kehidupan kamu harus hancur, dan semuanya baru saja dimulai, tunggu Haren, tunggu saat-saat menyedihkan dalam hidup kamu.
Penyesalan itu ada, dan orang yang akan paling menyesal di dunia ini, itu ... kamu.
Kayna menatap Haren dengan sorot mata yang tajam, penuh kebencian dan amarah yang membara.
"Pagi sayang."
*Cup
Kayna mengecup kening Haren, menghujani wajah pria itu dengan banyak kecupan, membuat Haren terbangun seketika dengan perasaan bahagia yang tak terkira.
Bagaimana tidak? Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu tiba. Hari yang selalu dia bayangkan dulu, hari dimana saat ia pertama kali membuka mata, yang dia lihat adalah gadis yang dia cintai.
Bahkan dia bangun karna kecupan perempuan itu? Haren sungguh sangat bahagia!
*cup
Haren membalas kecupan Kayna, seperti yang mereka lakukan setiap pagi.
"Pagi juga sayang."
ada kami yg mendukungmu
dia bilang shei murahan tpi dia gak ngaca gitu saat dia ciuman & pelukan didepan istri sahnya dengn wanita lain... meski orang itu org zg prnah dicintainya tpi kn dia dah punya istri jdi dia hrusnya bs tahan kan nafsunya itu.... bahkan dia ceraikan shei krna jalang itu pula, skrg mlah berlagak sok benar dan sok suci ,cuiiihh... jijik liatnya 😤😤😤