Ternyata tinggal bersama ibu mertua tak seindah bayangan Gita. Miranti terus saja menyiksa batin serta fisiknya.
Gita mengalami baby blues pasca melahirkan hingga hampir mencekik bayinya sendiri.
Miranti dengan rencana yang telah tersusun rapi di dalam otaknya, semakin kejam dalam menyiksa batin Gita. Melayangkan berbagai fitnah, hingga sang putra, Pramudya membenci, Gita dan memasukkannya ke rumah sakit jiwa.
Apa langkah yang harus Gita ambil dalam rumah tangganya. Ketika sang ibu mertua menyimpan dendam padanya dari kehidupan masa lalu.
Apakah Gita tetap bertahan dengan rumah tangga yang bagaikan neraka itu?
Atau pergi dan membuat Pram menyesal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chibichibi@, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 35. Gita, Mulai Melawan.
Wanita penuh baya itu menatap tajam ke arah Meta yang membawa balon dan juga boneka.
"Saya hanya ingin mengunjungi baby Asha, lalu apa masalahnya?" tantang Meta yang sudah sangat muak melihat kelakuan Miranti. Wajahnya wanita itu yang cantik dan lembut sangat bertolak belakang dengan sifat dan juga hatinya.
Roy, yang berada di belakang Meta berusaha mendinginkan hati tunangannya itu.
"Masalahnya adalah, orang asing di larang masuk!" ketus Miranti lagi. Hal itu membuat Meta mengepalkan tangannya.
"Baby Asha adalah anak dari sahabat saya. Juga teman satu kantor, Pram. Anda pasti tidak lupa kan? Jadi, apakah saya ini termasuk orang asing!" tekan Meta, berusaha memaksa masuk ke dalam kamar perawatan baby Asha.
Roy, menahan bahu Meta. Agar gadisnya itu tetap bisa menahan emosinya. Akan tetapi Meta yang sudah terbakar emosi justru menepis tangan Roy.
"Haih, ni cewek. Keras banget sih adatnya." Roy membatin. Pria berkumis tipis ini hanya bisa menghela napasnya.
Padahal dirinya yang notabene kuasa hukum saja masih bisa menahan diri tidak mengeluarkan pasal untuk menekan Miranti. Roy, ingin membaca karakter wanita ini secara langsung. Sebab, selama ini ia hanya mendengar dari cerita Meta saja.
"Tentu saja. Kau itu, hanya teman kantor. Bukan keluarga!" tegas Miranti menohok sudut hati Meta. Lalu wanita paruh baya itu berlalu begitu saja meninggalkan Meta di depan ruang perawatan.
Meta menghentakkan kedua kakinya menahan kesal. Dia juga terlihat beberapa kali meninju udara.
Roy, menangkap salah satu kepalan tangan Meta. "Kelakuanmu ini tidak cerdas. Bagaimana pun kita akan kalah, karena memang ucapannya benar," ucap Roy di depan wajah cantik Meta yang ubun-ubunnya sudah mengeluarkan asap itu.
Meta menarik tangannya kesal. Ia membawa Roy bermaksud agar ada yang membantunya. Akan tetapi kenyatannya pria itu tak berguna sama sekali. "Kenapa kamu tidak membantuku. Kenapa hanya diam saja?" protes Meta akhirnya keluar juga dari mulutnya.
"Hei, sayang. Memangnya aku ini punya wewenang apa? Kau harus membawa orang yang berpengaruh terhadap Pram maupun Mak lampir itu, untuk bisa masuk ke dalam ruangan Asha di rawat. Kau mengerti maksudku kan?" ucap Roy membuka pikiran Meta seketika.
"Kau cerdas, Beib! Aku tau siapa orang itu," jawab Meta dengan senyum yang tertarik hingga ke atas.
"Sebaiknya kita pulang. Besok kau datanglah lagi bersamanya. Atau mau ku antar juga?"
"Tidak perlu, Beib. Kau sudah meninggalkan pekerjaanmu demi membantu sahabatku. Itu sudah lebih dari cukup. Sebaiknya, kau siapkan saja benda yang ku pinta tadi," tolak Meta. Ia pun mengerti jika Roy memiliki kesibukan sendiri.
"Tidak masalah. Gita juga termasuk sahabatku. Aku ... akan memberikan bantuan hukum padanya. Kau tau kan, aku bahkan sering mendapat kasus seperti ini," jelas Roy dengan senyum yang membuat Meta si hati baja jatuh cinta padanya.
"Terbaik!" Meta mengangkat dua jempol tangannya. Mereka berdua pun melenggang pergi.
"Pram cepatlah, nikahi Malena. Agar teman istrimu yang gila itu tidak ada alasan lagi untuk menjenguk Asha. Mama takut, jika dia dendam. Lalu berniat menculik Asha dan menjualnya," pinta Miranti dengan wajah sendu memelas seperti biasa.
"Mana mungkin, Meta seperti itu, Ma. Mungkin, dia benar-benar khawatir pada putriku. Lagipula, Meta adalah salah satu karyawan terbaik. Bahkan, peringkatnya selalu berada di atasku," terang Pram membantah kecurigaan Miranti terhadap Meta.
Miranti tentu tidak diam saja. Baginya sahabat Meta juga merupakan musuhnya. Ia tak mau, jika gadis pembangkang itu menjadi batu penghalang dari rencananya yang tinggal sedikit lagi. Apalagi, Miranti mendapat kabar dari orang suruhannya di RSJ, jika Meta sering menemui Gita.
"Lain kali. Jangan beri kesempatan maupun ini pada gadis itu untuk menemuinya!" titah Miranti pada wanita di balik telepon.
"Baik, Nyonya." Wanita itu pun menyeringai.
"Hei wanita gila! Cepat, habiskan makananmu!" wanita suruhan miranti menyodorkan nasi basi kepada Gita. Bahkan baunya sudah sangat busuk.
"Kenapa ... tidak kau saja yang menghabiskannya!" pekik Gita seraya menjejalkan nasi basi yang telah di campur obat pencahar itu ke mulut wanita suruhan miranti.
"Hoekk!"
"Perempuan gila sialan!"
...Bersambung ...
walaupun singkat tapi mantap..terus berkarya dan sehat selalu 😘😘