Aziya Yunita Wijaya dia terpaksa masuk pesantren karena sikap Aziya yang nakal karena pergaulan dengan teman temannya, apa lagi saat itu Aziya merasa sakit hati karena di tinggal pacarnya menikah.
karena sikap Aziya semakin tak terkendali orang tua nya pun memutuskan memasukan Aziya ke pesantren.
namun apa Aziya bisa berubah saat sudah masuk pesantren? apa lagi banyak hinaan dan cacian pada Aziya?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon leni nurleni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 35
Pelajaran di mulai lagi karena bel sudah berbunyi, dan Zia masuk lagi ke kelas 3 Sma namun sekarang kelas itu di gurui oleh Husna.
Zia merasa sedikit kecewa karena, Zia belum selesai mendengarkan penjelasan Fauzi tadi.
"Yah padahal aku sangat penasaran" gumam Zia.
Husna sudah menjelaskan pelajaran yang akan dia bahas di depan kelas, yang Zia tau Husna itu mengajar baca tulis Al quran, karena Husna terkesan sangat baru di pesantren itu.
Zia menanggapi penjelasan Husna, namun sejak tadi husna hanya membaca surat yang dia tulis di papan tulis.
Kemudian tersirat di pikiran Husna untuk menjahili Zia.
"Baiklah Zia coba jelaskan apa yang aku jelas kan tadi" tanya Husna.
Zia heran mau menjelaskan apa.
"Ning Husna, sejak tadi kau tak menjelaskan apa apa, kau hanya menulis dan membaca surat itu saja" ucap Zia.
"Kau tak mendengarkan aku" ucap Husna.
"Apa" pekik Zia.
"Tak mendengarkan bagaimana sejak tadi aku menyimak" ucap Zia.
"Tetapi kau tak menjawab" ucap Husna.
"Kau" geram Zia.
Zia bangkit dari duduknya dan membereskan buku dan balpoin yang menjadi alat satu satunya dia belajar.
Brakk.
Zia memukul meja belajar dan langsung berjalan keluar melewati Husna yang masih berdiri di depan kelas.
Para santri berbisik bisik, bahkan sebagian orang membela Zia karena memang benar kata Zia kalau Husna tak menjelaskan apa apa, jadi wajar saja jika Zia tak paham.
Zia duduk di bangku halaman pesantren.
Abah memandang Zia dengan tatapan heran dari arah berjauhan.
"Zia" teriak Abah.
"Ya Abah" ucap Zia yang langsung mendekat pada Abah yang sekarang sedang berdiri di depan kelas.
"Kenapa ada di sana? Kenapa tak belajar? " tanya Abah.
"Abah aku keluar dari kelas, kau tau Ning Husna sangat menyebalkan dia bertanya tapi tak menjelaskan apa apa" ucap Zia sambil melipat kedua tangannya di dadanya.
"Baiklah terserah kau saja" ucap Abah.
"Tapi setelah Ning Husna keluar aku akan masuk lagi Abah, anggap saja aku bolos" ucap Zia.
"Baiklah terserah kau saja" ucap Abah yang langsung pergi dari sana.
Setelah lama Zia menunggu akhirnya ganti pelajaran juga, bahkan sekarang guru dan para senior ada yang bertukar posisi mengajarnya.
Zia langsung masuk lagi kedalam dan bergabung dengan para santri yang sekarang rata rata berusia 18 tahun sedangkan Zia sekarang berusia 24 tahun.
Masuklah bu Isma yang terkenal guru paling galak dan mengisi pelajaran Fiqih, para santri hanya menunduk dan berbisik bisik karena di jadwal tak ada Bu Isma.
"Baiklah kita akan belajar tentang, Najis yang pernah kita bahas tempo lalu" ucap Bu Isma.
Tokk
Tokk
Para santri kelas 3 Sma menatap pada seorang laki laki tampan yang sudah di pastikan kalau itu Adam,
"Bu Is, sekarang saya mengajar di sini, Ibu di kelas sebelah" ucap Adam.
"Benarkah Gus, upp maaf Ibu salah masuk" ucap Bu Isma.
"Tak apa Bu, saya juga tadi salah masuk" ucap Adam.
Bu Isma keluar dan Adam masuk kedalam kelas untuk mengajar, banyak para santri yang senang karena tak jadi di gurui Bu Isma.
"Kalian tegang" tanya Adam pada santri.
"Ya Gus" serempak.
"Baiklah kita akan belajar" ucap Adam duduk di meja guru dan membuka buka bukunya.
"Bagaimana kalau sekarang kita akan lakukan ulangan lisan" ucap Adam menatap setiap wajah kaget para santri.
"Ulangan Lisan, mendadak" tanya santri.
"Ya aku hanya ingin mengetes berapa tajam ingatan kalian" ucap Adam.
Banyak santri yang ingin menolak namun Adam tak pernah marah pada santri yang salah menjawab, dia hanya akan memberi tau jawabannya, namun bukan itu yang santri takutkan tapi kadang mereka suka malu kalau menjawab salah karena akan di buli satu kelas.
"Oh ya Zia ikut belajar" tanya Adam.
"Ya Gus" jawab Zia.
"Baiklah aku akan memasukan kamu ke daftar hadir" ucap Adam.
"Baiklah ayo kita mulai dari sebelah sana dulu" ucap Adam.
"Muzhab dalam bahasa artinya adalah" tanya Adam pada santri yang paling pojok.
"Tempat berjalan" jawabnya.
"Bagus, selanjutnya, Hablumminannas istilah hubungan manusia dengan?" tanya Adam.
"Dengan manusia Gus" jawabnya.
"Selajutnya, sebutkan syarat syarat Sholat satu orang sebutkan satu" tanya Adam.
"Islam".
"Berakal".
" niat".
"Tamyiz".
" menghadap kiblat".
"Menutup aurat".
"Sesudah Adzan".
"Menghilangkan Najis".
"Menghilangkan hadast"
"Bagus, kalian masih ingat, selanjutnya, sebutkan apa saja rukun islam" tanya Adam dan pas sekali orang selanjutnya adalah Zia.
"Sampai mana tadi" tanya Adam menatap pada para santri.
Para santri menunjuk pada Zia.
"Zia kau tau" tanya Adam.
Zia menggelengkan kepalanya karena tak tau.
"Kau tak tau rukum islam" tanya Adam.
Dan tetap saja Zia hanya menggeleng karena tak tau.
"Baiklah kau anggap saja tak menjawab, lanjut saja, jangan khawatir Zia aku akan memberi tau kan mu nanti" ucap Adam.
"Terima kasih Gus" ucap Zia.
"Ya, lanjut" ucap Adam.
"Rukun Islam yang pertama, Syahadat".
"Sholat"
"Zakat"
"Puasa"
"Naik haji".
Adam melontarkan kembali pertanyaan dan kembali di jawab oleh santri, hingga sudah waktunya selesai belajar, para santri dari setiap kelas bubar dan hendak istirahat sejenak karena sebentar lagi mereka akan Sholat Dzuhur.
"Zia ada yang ingin menemui mu" ucap Rosa saat Zia baru saja keluar dari kelas.
"Siapa" tanya Zia.
"Gak tau, dia laki laki" ucap Rosa.
"Terima kasih" ucap Zia.
"Ya".
Zia berjalan pada gerbang karena hendak menemui siapa yang menanyakannya, namun Zia begitu terkejut saat melihat siapa yang akan menemuinya itu.
"Akash" gumam Zia.
Hati Zia merasa sakit lagi jika mengingat Akash sang pujaan hati Zia yang memilih menikah dengan wanita yang cukup tua, dan meninggalkan Zia karena saat itu Zia tak bisa menikah karena kakaknya belum menikah.
"Mau apa" tanya Zia ketus.
"Zia aku mau kita balikan" ucap Akash.
"Balikan? Apa aku tak salah dengar? Apa istri tua mu itu mencampakkan mu?" tanya Zia secara beruntut.
"Ayolah aku tau kau masih sayang padaku" ucap Akash dengan percaya diri.
"Sayang, maaf aku lupa pada mu" ucap Zia.
"Jangan muna fik Zia bukan kah dulu kau sangat menginginkan aku" ucap Akash.
"Ya tapi dulu, sekarang tidak" ucap Zia.
"Mentang mentang kau berada di sini kau seolah bertindak so alim padahal kau sama saja dengan ku" ucap Akash.
"Ck bukannya bagus jika menjadi bekas orang jahat dari pada mejadi bekas orang baik" ucap Zia tersenyum tipis.
"Kau sangat so alim Zia, jangan lupa kalau dulu kau pernah aku pegang" ucap Akash.
"Hanya memegang saja tak lebih tuan Akash" ucap Zia.
"Kau kacang lupa kuliatnya Zia, dulu aku yang membiayai semua kebutuhan mu dan sekarang kau lupa pada ku" ucap Akash.
"Sombong, mungkin kau lupa Akash aku memberi mu uang, emas, pakaian, makanan, bahkan aku sampai memberi kan kamu uang setengah M dan saat itu aku sampai rela mencuri dari perusahaan kakakku, dan apa balasan mu padaku kau menggunakan uang itu untuk menikahi ibu ibu yang kaya itu, dasar buaya" ucap Zia.
"Kau sangat sombong dan perhitungan Zia" ucap Akash.
"Memang begitu kan kenyataanya, kalau tak ada aku kau bisa apa Akash" ucap Zia menatap pada Akash dengan tatapan tajam.
"Bukan kah sombong pada orang sombong itu adalah shodaqoh ya" ucap Zia lagi.
"Kau terlalu cerewet Zia" ucap Akash memegang pergelangan tangan Zia dengan erat.
"Lepas Akash, kau sangat kasar" ucap Zia.
"Ikut dengan ku, ayo kita menikah" ucap Akash.
Bughh
apaan tuh?
Bersambung...
ngeriah kalo ngidam gitu
mudan cepat terbongkar si rosa itu geregetan aku loh thor
aku juga jurusan bhs inggris
dan aku sekarang mengikuti pengajian tasaup jadi aku rasa thor juga sama dengan ku
kalo gk salah tebak 🥰
aku juga pernah mengalami itu jika dengan tidak ada cobaan kita tidak tau seberapa kuatnya kita menghadapi masalah
tuhan tidak tidur saro