NovelToon NovelToon
Gadis yang Terbuang

Gadis yang Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ayu Kirana

Delapan belas tahun yang lalu, seorang gadis kecil bernama Taotao hilang di tengah keramaian festival lampion. Keluarga Wijaya — salah satu dinasti paling berkuasa di Jakarta — tidak pernah berhenti mencari.

Seline tidak ingat apa-apa tentang malam itu. Yang dia tahu: orang tua angkatnya sudah meninggal, adiknya butuh sekolah yang layak, dan satu-satunya pilihan adalah menumpang di rumah besar keluarga Hartono — bibi jauhnya yang ternyata punya agenda tersembunyi.

Di rumah itu, Seline belajar bertahan. Dari tatapan merendahkan sepupu-sepupu, dari jebakan bibinya yang ingin menjodohkannya dengan anak tiri, dari rivalnya yang cantik dan licik. Tapi juga — dari tatapan Kevin Hartono yang tidak pernah bisa dia baca.

Kevin adalah pewaris utama. Dingin. Tidak tersentuh. Semua orang takut padanya.

Tapi dia yang pertama menyadari surat palsu di kamar Seline. Dia yang berlari menembus api saat festival meledak. Dan dia yang diam-diam menyimpan lukisan karya "Tao" — tanpa tahu pelukisnya tidur di sayap rumahnya sendiri.

Ketika kebenaran akhirnya terungkap — siapa Seline sebenarnya, siapa yang mencurinya dulu, dan mengapa Kevin bersikeras mempertahankannya — seluruh Jakarta akan tahu:

Gadis yang mereka buang... adalah pewaris yang sebenarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 14

Bab 014

Setelah Badai

"Aku bukan musuhmu."

Wilson meninggalkan kalimat itu di lorong seperti kartu nama tanpa alamat. Seline tidak mengejarnya, tidak juga langsung mempercayainya. Di rumah Hartono, bahkan bantuan bisa memiliki syarat yang belum disebutkan.

Namun sejak hari itu, sikap Tante Chen berubah.

Tidak ada teguran terbuka. Tidak ada kemarahan. Tante Chen tetap tersenyum saat berpapasan, tetap menanyakan kabar Darren di depan Oma, tetap memakai suara lembut yang membuat orang luar akan mengira ia bibi paling perhatian di dunia.

Tetapi pintu kecil mulai tertutup.

Saat Seline meminta daftar seragam tambahan Darren, Tante Chen menyuruhnya bertanya pada Bi Zheng. Saat Seline menawarkan membantu menata ruang untuk acara Michelle, Tante Chen berkata semua sudah diatur. Saat makan malam, Tante Chen tidak lagi bertanya apakah kamar belakang nyaman.

Dingin yang sopan lebih melelahkan daripada marah.

"Kakak dimusuhi lagi?" Darren bertanya suatu malam, sambil menyampul buku Bahasa Inggris barunya.

"Tidak."

"Kalau Tante Chen senyum begitu, artinya iya."

Seline menatap adiknya. "Kamu terlalu cepat belajar hal yang tidak perlu."

"Rumah ini yang ngajarin."

Ia tidak bisa membantah.

Karena tidak bisa terus menunggu serangan berikutnya, Seline memilih bergerak. Ia mulai bangun lebih pagi, membantu Bi Zheng di pantry, mengantar teh ke ruang utama, dan menemani Oma Mei membaca koran setelah sarapan. Bukan menjilat. Ia tahu bedanya. Menjilat berarti memuji tanpa hati. Yang ia lakukan adalah mencari tempat di mana keberadaannya punya fungsi.

Oma Mei menyadarinya sejak hari ketiga.

"Kamu sengaja membuat diri berguna?" tanya Oma, tanpa melihat dari koran.

Seline yang sedang menuang teh hampir menumpahkan sedikit. "Saya hanya ingin membantu, Oma."

"Jawaban aman."

Seline menunduk. "Kalau saya tidak membantu, saya takut hanya menjadi beban."

Oma Mei menurunkan koran. Matanya tidak lembut seperti kasihan, tetapi hangat seperti lampu tua yang tetap menyala.

"Anak yang takut menjadi beban biasanya sudah terlalu lama memikul beban orang lain."

Seline tidak tahu harus menjawab apa.

Oma tidak memaksanya. Ia hanya menunjuk piring kecil di meja. "Kue lapis ini terlalu manis. Besok coba buat yang tidak terlalu berat."

Seline berkedip. "Saya, Oma?"

"Kamu bilang ingin membantu."

Maka keesokan paginya, Seline berada di dapur belakang dengan celemek pinjaman Bi Zheng, berdiri di depan kukusan besar seperti menghadapi ujian penting.

Bi Zheng mengajarinya sabar.

"Kue lapis tidak bisa dipaksa, Nona. Satu lapis matang dulu, baru tambah lapis berikutnya."

"Kalau terlalu cepat?"

"Hancur."

Seline melihat adonan warna hijau pandan dan putih santan di dua mangkuk besar. Ia hampir tertawa kecil. Bahkan kue pun punya aturan yang sama dengan rumah ini. Salah waktu sedikit, bentuknya rusak.

Jessica muncul di pintu dapur saat lapisan ketiga mulai matang.

"Wah. Kamu serius mengambil hati Oma."

Seline mengaduk adonan. "Oma yang menyuruh."

"Itu tandanya Oma suka kamu. Kalau Oma tidak suka, kamu bahkan tidak akan diberi kesempatan gagal."

Ucapan itu anehnya membuat Seline lebih gugup.

Percobaan pertama terlalu lembek. Percobaan kedua bagian pinggirnya retak. Percobaan ketiga baru cukup rapi untuk dipotong kecil-kecil. Seline membawa piring itu ke ruang utama dengan tangan sedikit pegal dan rambut yang lepas dari ikatan.

Di koridor, ia berpapasan dengan Kevin.

Pria itu baru keluar dari arah ruang kerja, berbicara lewat ponsel. Seline otomatis menepi dan menunduk.

Kevin berhenti sejenak. Matanya turun pada piring kue lapis di tangan Seline, lalu pada noda santan kecil di ujung jarinya.

Seline cepat menyembunyikan jarinya di balik piring. "Permisi, Ko Kevin."

Kevin tidak bertanya. Tidak juga menyinggung Tao atau Surabaya. Ia hanya berkata pada ponselnya, "Nanti saya hubungi lagi," lalu memberi ruang agar Seline lewat lebih dulu.

Seline berjalan melewatinya dengan jantung yang tiba-tiba tidak teratur.

Di ruang utama, Oma Mei sudah menunggu. Tante Chen juga ada di sana, duduk dengan ekspresi yang tidak berubah ketika melihat piring di tangan Seline. Vivian berdiri di belakang sofa, matanya langsung menyapu celemek dan rambut Seline.

"Oma minta Seline membuat kue?" tanya Tante Chen.

"Oma ingin mencoba tangannya," jawab Oma Mei.

Seline meletakkan piring di meja. "Masih belum sempurna, Oma."

Oma mengambil sepotong. Semua orang menunggu, bahkan Vivian yang pura-pura melihat ponsel.

Oma Mei menggigit pelan.

Seline menahan napas.

Beberapa detik kemudian, wanita tua itu tersenyum.

"Teksturnya belum rata," kata Oma. "Tapi rasanya bersih. Tidak terlalu manis."

Seline baru berani bernapas. "Terima kasih, Oma. Saya akan coba lagi."

Vivian tersenyum kecil. "Seline memang rajin sekali membantu di dapur. Jarang ada anak muda sekarang yang betah seperti itu."

Kata dapur ia ucapkan terlalu halus, sehingga semua orang mengerti maksudnya. Tante Chen tidak menegur. Ia hanya mengangkat cangkir, membiarkan kalimat itu bekerja sendiri.

Seline belum sempat menjawab ketika Oma Mei meletakkan kue kembali ke piring kecil.

"Orang yang tidak pernah masuk dapur biasanya tidak tahu bagaimana keluarga dijaga," kata Oma. "Meja makan besar bukan hanya soal siapa yang duduk di kepala meja. Ada tangan-tangan yang membuat semua orang tetap bisa makan dengan tenang."

Vivian menunduk. "Saya hanya memuji, Oma."

"Kalau memuji, buat yang dipuji merasa dihargai."

Ruangan kembali sunyi. Kali ini Seline tidak merasa sendirian di dalam sunyi itu.

Oma Mei mengambil sepotong lagi, kali ini lebih kecil. Matanya menatap jari Seline yang masih sedikit merah karena uap kukusan.

"Kamu dan Oma waktu muda sama," katanya lembut. "Tangannya terampil."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!