Ayu Lestari tidak pernah bermimpi menjadi miliarder. Sebagai chef muda di hotel bintang lima Jakarta, hidupnya sudah cukup sibuk — memasak rendang untuk tamu-tamu kaya sambil merindukan kampung halaman di Sumatera Barat yang sudah lama ia tinggalkan.
Tapi takdir punya rencana lain. Undian berhadiah dari sebuah bank nasional menghadiahkannya 50 miliar rupiah. Jumlah yang bisa membeli apartemen mewah, mobil sport, dan kehidupan glamor seumur hidup.
Ayu memilih pulang kampung.
Di Nagari Sungai Tanang, ia merenovasi rumah gadang peninggalan keluarga, membuka Restoran Padang dengan resep warisan ibunya, dan memulai channel TikTok yang tak disangka-sangka viral. Nenek Sari yang gila belanja online dan Datuk Harun yang pendiam menyambutnya dengan tangan terbuka — bersama seekor Golden Retriever, dua anjing lain, dan tujuh ekor kucing.
Lalu datanglah Raka Pratama.
Pria Jawa berkacamata ini memesan homestay Ayu untuk "mencari inspirasi menulis." Kenyataannya? Ia sedang melarikan diri dari keluarga yang berantakan — ayah yang menikah lagi, ibu tiri yang manipulatif, dan luka masa kecil yang tak pernah sembuh. Di NovelMe, ia dikenal sebagai KentangGila, penulis novel romantis dengan jutaan pembaca. Di dunia nyata, ia bahkan tidak berani memesan makanan sendiri.
Ayu yang blak-blakan bertemu Raka yang pemalu. Chef yang jago masak bertemu pria yang bisa membakar air. Pewaris tradisi Minangkabau bertemu anak Jakarta yang tidak tahu cara makan dengan tangan.
Tapi di balik perbedaan mereka, ada kesamaan yang lebih dalam: dua orang yang kehilangan orang tua terlalu cepat, dan sedang belajar bahwa "rumah" bukan soal alamat — tapi soal siapa yang menunggumu di depan pintu.
Antara sawah hijau, aroma rendang, dan pertengkaran soal siapa yang cuci piring malam ini — cinta tumbuh pelan-pelan. Dan kali ini, Ayu tidak perlu undian untuk tahu bahwa ia sudah menang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24
Bab 24
Tamu yang Mulai Seperti Keluarga
Ayu akhirnya pergi ke ruang belajar dengan wajah yang ia usahakan biasa.
Raka sedang membungkuk mencari timer kecil di bawah meja. Buku soal terbuka, kertas coretan berserakan, dan pulpen jatuh di dekat kaki kursi. Saat Ayu masuk, ia mendongak.
"Maaf. Saya mengganggu?"
"Tidak." Ayu mengambil timer dari balik tumpukan map. "Ini. Di depan mata Kak Raka."
Raka menerima benda itu dengan malu. "Sepertinya otak saya mulai penuh."
"Dian bilang calon PNS memang butuh pengawasan."
"Mbak Dian bilang begitu?"
Ayu berhenti sepersekian detik. "Intinya begitu."
Raka tidak sempat bertanya lebih jauh karena Dian muncul di pintu, membawa dua gelas teh.
"Aku bilang calon PNS-mu memanggil."
Raka membeku.
Ayu menutup mata. "Dian."
"Apa? Aku tamu. Tamu harus jujur."
Raka menunduk ke buku soal, tapi telinganya merah. "Saya... lanjut latihan dulu."
Dian tersenyum puas. "Rajin. Nilai plus."
Sore itu, Arif duduk bersama Raka di teras depan. Ayu awalnya mengira mereka hanya membicarakan CPNS, tetapi percakapan mereka ternyata lebih serius. Arif menjelaskan cara menyimpan dokumen legal, pentingnya data kependudukan rapi, dan kebiasaan kecil yang sering membuat orang gagal administrasi meski pintar.
"Nama, NIK, tanggal lahir, format dokumen. Hal kecil bisa bikin repot," kata Arif.
Raka mendengar dengan sungguh-sungguh. "Saya sudah cek, tapi nanti boleh saya minta Mas Arif lihat sekali lagi?"
"Boleh. Kirim saja PDF-nya. Saya tidak bisa menjamin hasil, tapi bisa bantu lihat apakah ada yang janggal."
"Terima kasih."
Ayu yang lewat membawa nampan minuman memperhatikan bagaimana Raka menerima bantuan tanpa gengsi. Itu membuatnya semakin yakin: Raka tidak sedang membangun citra hebat. Ia sungguh-sungguh ingin berhasil.
Di dapur, Dian membantu Ayu menyiapkan makan malam. Membantu, dalam definisi Dian, berarti memotong bawang sambil menginterogasi.
"Jadi, sudah sejauh mana?"
"Apa?"
"Kamu dan Kak Raka."
"Tidak ada kamu dan Kak Raka."
Dian menunjuk bawang dengan pisau. "Yu, tadi dia telinganya merah karena aku bilang calon PNS-mu. Kamu juga merah. Jangan hina kemampuan observasiku."
Ayu memasukkan ayam ke wajan. "Dia sedang fokus CPNS. Aku sedang fokus restoran."
"Orang bisa fokus dua hal. Contohnya aku fokus potong bawang dan mengurusi kehidupan cintamu."
"Lebih baik fokus bawang."
Dian mendekatkan wajah. "Kamu takut apa?"
Pertanyaan itu membuat Ayu tidak langsung menjawab.
Takut? Ia bisa menyebut banyak hal. Takut salah membaca perhatian Raka. Takut membuat rumah ini jadi bahan gosip. Takut Raka hanya merasa nyaman karena sedang jauh dari Jakarta, bukan karena dirinya. Takut begitu ujian selesai, Raka menemukan jalan lain dan pergi dengan sopan seperti ia datang.
"Aku tidak tahu," kata Ayu akhirnya.
Dian tidak menggoda lagi. "Kalau tidak tahu, jangan buru-buru. Tapi jangan pura-pura tidak merasa."
Ayu menatap wajan. Minyak mendesis ketika bumbu masuk. Aroma bawang, cabai, dan kunyit naik panas ke wajahnya.
"Aku cuma tidak mau merusak yang sudah nyaman."
"Kadang yang nyaman memang berubah. Bukan selalu rusak."
Malam itu, makan bersama terasa seperti pertemuan keluarga kecil. Nenek Sari memaksa Dian tambah nasi. Arif memuji sambal Raka yang sudah sedikit naik level. Datuk Harun bertanya pada Raka soal jadwal ujian dengan kalimat pendek, dan Raka menjawab seolah sedang melapor pada orang tua sendiri.
"Tryout terakhir?" tanya Datuk.
"Naik, Datuk. Tapi belum aman."
"Latihan lagi."
"Iya."
Nenek menambahkan, "Kalau lolos, jangan lupa makan tetap di sini."
Raka tersenyum. "Kalau boleh."
Semua orang di meja mendengar dua kata itu.
Kalau boleh.
Ayu menunduk ke piring, tapi Dian menendang pelan kakinya di bawah meja.
Setelah makan, Raka membantu Arif mencuci gelas di wastafel belakang. Ayu hendak menghentikan mereka, tapi Dian menahan lengannya.
"Biarkan. Laki-laki yang bisa cuci gelas tidak akan mati."
"Aku tahu."
"Bagus. Jangan terlalu cepat mengambil semua kerja."
Ayu menoleh. "Kamu datang untuk liburan atau memberi seminar?"
"Dua-duanya."
Di belakang, Arif bertanya pada Raka tentang NovelMe. Raka menjawab singkat, tapi ketika Arif mengaku pernah membaca novel online saat dinas sepi, suasana mencair. Mereka bahkan membahas genre, komentar pembaca, dan kenapa nama KentangGila bisa lahir.
Arif tertawa. "Mas, itu nama kalau di kantor saya pasti jadi bahan sebulan."
"Sudah jadi bahan di sini juga," jawab Raka pasrah.
Nenek dari ruang tengah menyahut, "Si Kentang sudah cuci gelas?"
Dian tertawa sampai bersandar ke kursi.
Ayu melihat Raka di wastafel, dikelilingi tawa orang-orang yang ia sayangi. Ia tidak terlihat terasing. Tidak terlihat seperti tamu yang sedang menunggu hari pulang. Ia terlihat seperti seseorang yang mulai punya tempat di antara mereka.
Pikiran itu membuat dadanya hangat sekaligus takut.
Malam semakin larut ketika ponsel Raka berbunyi. Ia mengambilnya dari meja, membaca nama di layar, lalu ekspresinya berubah antara senang dan waspada.
"Siapa?" tanya Ayu.
"Bayu."
Dian langsung menoleh. "Bayu yang teman kampus itu?"
Raka mengangguk. "Iya."
Ia menyalakan speaker karena Bayu sudah mengirim voice note panjang.
Suara laki-laki yang cerah dan terlalu percaya diri memenuhi ruang makan.
`Rakaaa! Gue lihat konten rumah gadang itu lagi viral. Jangan-jangan lo betah bukan karena naskah, tapi karena pemilik homestay-nya? Besok gue ke sana. Jangan kabur.`
Ruangan hening satu detik.
Lalu Dian menatap Ayu dengan mata berbinar.
"Besok akan menarik."