Pangeran Mahkota Arjuna terbangun dari mimpi buruk tergelap dalam hidupnya — hanya untuk menyadari bahwa ia telah kembali ke tiga tahun yang lalu.
Di kehidupan sebelumnya, ia terlalu dingin, terlalu bodoh, dan terlalu terlambat. Ia kehilangan wanita yang seharusnya ia lindungi, dikhianati oleh saudara yang ia percayai, dan mati di tangan mereka yang seharusnya ia waspadai.
Kali ini, segalanya akan berbeda.
Kali ini, ia akan menikahi Anindya — gadis yang dulu ia abaikan — dan menjadikannya permata yang paling ia jaga di seluruh kerajaan. Ia akan membongkar setiap kebohongan, menjatuhkan setiap pengkhianat, dan memastikan semua yang pernah menyakiti mereka... menyaksikan dunia mereka runtuh tepat di saat mereka merasa paling tak terkalahkan.
Tapi takdir tidak mudah diubah. Musuh-musuhnya lebih licik dari yang ia ingat, rahasia kerajaan lebih gelap dari yang ia bayangkan, dan cinta yang tumbuh antara dirinya dan Anindya... mungkin menjadi senjata paling berbahaya yang pernah ia miliki.
"Aku sudah pernah mati sekali. Kali ini, aku bersumpah — tidak akan ada yang menyentuhmu selama jantungku masih berdetak."
Genre: Kerajaan · Romansa · Reinkarnasi · Balas Dendam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah Pramana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 5
Bab 5 Wanita Berbisa
Raden Ayu Anggraini datang ke Puri Timur membawa senyum yang sangat lembut.
Ia tidak datang sendirian. Di belakangnya, dua dayang membawa kotak kayu berisi kain halus dan sebotol minyak kenanga. Alasan yang ia sampaikan kepada penjaga sangat pantas: ia ingin memberi salam kepada Putri Mahkota baru, sekaligus mengantarkan hadiah kecil dari beberapa putri bangsawan yang hadir di sayembara.
Wulan menerima kabar itu dengan wajah hati-hati.
"Gusti Putri," katanya setelah masuk ke kamar, "Raden Ayu Anggraini menunggu di pendopo kecil. Ia berkata ingin memberi selamat."
Anindya yang sedang menata buku catatan di meja berhenti. Nama itu ia ingat. Gadis berkebaya putih yang maju sebelum dirinya di Balai Agung. Cantik, lembut, dan disukai Permaisuri Ratih.
"Apakah Yang Mulia sudah kembali?"
"Belum, Gusti."
Anindya menutup buku. Sejak pagi, ia berusaha memahami aturan Puri Timur yang terasa asing. Terlalu banyak orang memperlakukannya dengan hormat, tetapi setiap tatapan seperti menyimpan pertanyaan. Menolak tamu perempuan pada hari-hari pertama pernikahan bisa menjadi bahan bisik-bisik.
"Kita terima di pendopo kecil. Jangan bawa ia masuk ke kamar dalam."
"Baik, Gusti Putri."
Pendopo kecil di sisi taman dipenuhi cahaya sore. Anggraini berdiri ketika Anindya datang, lalu berlutut dengan gerakan yang indah.
"Hamba memberi hormat kepada Putri Mahkota."
"Berdirilah, Raden Ayu." Anindya duduk di kursi utama. "Terima kasih sudah datang."
Anggraini mengangkat wajah. Matanya basah seolah mudah tersentuh oleh kebaikan kecil. "Hamba hanya ingin menyampaikan rasa bahagia. Saat sayembara, semua orang melihat betapa Yang Mulia Pangeran Mahkota menghormati Gusti Putri."
Kata menghormati terdengar aman. Namun Anindya menangkap sesuatu di baliknya, seperti ujung jarum yang disembunyikan dalam lipatan kain.
"Yang Mulia memperlakukan semua orang sesuai aturan," jawab Anindya.
Senyum Anggraini tidak goyah. "Tentu. Hanya saja, tidak semua wanita seberuntung Gusti Putri. Ada yang sejak kecil diajari untuk menerima takdir, walau takdir itu akhirnya diberikan kepada orang lain."
Wulan menunduk, tetapi jari-jarinya menegang.
Anindya menatap cangkir teh di depannya. Uapnya berputar tipis. Ia baru dua hari menjadi istri Arjuna, tetapi ia sudah memahami satu hal: di keraton, orang jarang datang hanya untuk memberi selamat.
"Raden Ayu masih muda dan berasal dari keluarga baik," kata Anindya tenang. "Takdir baik tidak selalu datang dari pintu yang sama."
Mata Anggraini berkilat. Hanya sesaat.
Sebelum ia bisa menjawab, suara langkah terdengar dari koridor taman. Seorang abdi dalem menunduk di pintu.
"Yang Mulia Pangeran Mahkota kembali."
Anggraini langsung menunduk lebih dalam, tetapi Anindya melihat perubahan halus di wajahnya. Semburat malu yang muncul terlalu tepat waktu. Napas yang sedikit ditahan. Jari yang merapikan ujung kebaya.
Arjuna masuk beberapa saat kemudian.
Tatapannya pertama kali jatuh pada Anindya. Ia memastikan wajah istrinya tidak pucat, memastikan cangkir teh di meja belum tersentuh terlalu banyak. Baru setelah itu ia melihat Anggraini.
Wajahnya langsung dingin.
"Raden Ayu Anggraini," katanya.
Anggraini berlutut. "Hamba tidak menyangka dapat bertemu Yang Mulia di sini. Hamba hanya datang memberi salam kepada Gusti Putri."
"Puri Timur sudah menerima salam itu. Kamu boleh pulang."
Kalimat itu terlalu cepat.
Anindya mengangkat mata, terkejut. Wulan bahkan hampir lupa menunduk. Anggraini sendiri tampak seperti tertampar, tetapi ia segera menundukkan wajah lebih rendah.
"Apakah hamba melakukan kesalahan, Yang Mulia?"
"Belum."
Satu kata itu membuat udara pendopo berubah.
Anggraini menggigit bibir pelan. Matanya mulai berkaca-kaca. Bila orang lain melihatnya, mungkin mereka akan mengira Pangeran Mahkota terlalu kejam pada seorang gadis yang hanya ingin memberi selamat.
"Hamba benar-benar tidak berniat mengganggu," katanya. "Permaisuri selalu mengajarkan bahwa wanita di keraton harus saling mendukung. Hamba pikir, bila Gusti Putri membutuhkan teman untuk memahami adat..."
"Istriku punya Wulan, Adi, dan seluruh Puri Timur untuk membantunya."
"Tentu, Yang Mulia. Namun kadang sesama wanita bisa memahami hal yang tidak dipahami para abdi."
Arjuna melangkah satu langkah lebih dekat. Tidak cukup dekat untuk melanggar tata krama, tetapi cukup untuk membuat Anggraini menahan napas.
"Kamu sangat ingin membantu istriku?"
"Bila diizinkan."
"Kalau begitu, jauhi orang-orang yang ingin memakai namamu untuk mendekati Puri Timur."
Wajah Anggraini memucat.
Anindya menatap Arjuna. Kalimat itu bukan hanya penolakan. Itu peringatan.
Anggraini cepat menunduk. "Hamba tidak mengerti maksud Yang Mulia."
"Kamu akan mengerti nanti."
Untuk beberapa saat, tidak ada yang berbicara. Suara air kolam terdengar lebih jelas dari biasanya.
Lalu Anggraini bangkit dengan mata yang benar-benar basah. "Jika kehadiran hamba membuat Yang Mulia dan Gusti Putri tidak nyaman, hamba mohon pamit."
Anindya hendak menjawab sesuai sopan santun, tetapi Arjuna lebih dulu berkata, "Wulan, antar Raden Ayu sampai gerbang luar. Pastikan ia tidak tersesat ke halaman lain."
Perintah itu halus, tetapi artinya jelas. Anggraini tidak dipercaya berjalan bebas di Puri Timur.
Wulan menunduk. "Baik, Yang Mulia."
Anggraini memberi hormat kepada Anindya, lalu kepada Arjuna. Saat ia berbalik, air matanya jatuh satu titik. Tidak banyak, cukup untuk dilihat siapa pun yang ingin melihat.
Anindya memperhatikan punggungnya sampai hilang di balik koridor.
"Yang Mulia," katanya setelah pendopo kembali sepi, "Raden Ayu Anggraini adalah putri bangsawan. Memperlakukannya terlalu keras bisa menimbulkan kabar buruk."
"Kabar buruk lebih mudah dihadapi daripada ular yang dibiarkan masuk ke tempat tidur."
Anindya terdiam.
Arjuna baru sadar ucapannya terlalu tajam. Ia menoleh pada istrinya. "Maaf. Aku tidak bermaksud membuatmu takut."
"Hamba hanya tidak mengerti."
"Kamu tidak perlu mengerti semuanya hari ini."
"Tapi hamba perlu tahu apakah Puri Timur sedang berada dalam bahaya."
Ada ketegasan dalam suaranya. Bukan rengekan, bukan ketakutan. Arjuna melihat sekilas Anindya yang kelak akan berdiri di sisinya saat badai paling besar datang.
Ia melunak.
"Selama aku masih berdiri, bahaya itu tidak akan menyentuhmu."
Anindya ingin mengatakan bahwa janji seperti itu terlalu berat. Namun sebelum ia sempat bicara, suara Wulan terdengar dari koridor luar. Gadis itu belum kembali, tetapi langkah orang lain terdengar lebih cepat, lebih ringan.
Anggraini.
Rupanya ia belum keluar jauh. Ia berdiri di balik tirai bambu samping pendopo, mungkin hendak kembali mengambil saputangan yang sengaja ia jatuhkan di meja kecil. Matanya basah, wajahnya tampak terluka.
"Yang Mulia," ucapnya lirih, seolah tidak sengaja mendengar. "Apakah hamba begitu hina hingga tidak boleh berharap menjadi bagian kecil dari Puri Timur?"
Anindya membeku.
Wulan yang baru menyusul dari belakang juga berhenti dengan wajah pucat.
Arjuna menatap Anggraini tanpa sedikit pun kelembutan.
"Dengarkan baik-baik, Raden Ayu Anggraini. Puri Timur bukan tempat untuk harapan yang sengaja dilemparkan ke kaki pria yang sudah beristri."
Air mata Anggraini menggantung di bulu matanya.
"Istriku hanya satu."
Kata-kata itu jatuh bersih, dingin, dan tidak memberi ruang tafsir.
"Namanya Dewi Anindya."
Anindya berdiri di tempatnya, tetapi dadanya seperti baru saja diketuk dari dalam. Ia tahu seharusnya ia tetap waspada. Ia tahu seorang pangeran bisa mengucapkan kalimat indah demi wibawa. Namun melihat cara Arjuna menutup semua jalan bagi wanita lain, sesuatu yang tipis dan keras di hatinya retak untuk pertama kali.