Menjadi pengantin yang tak direstui membuat Aiza dan Akhmar harus berperang dengan perasaan masing- masing meski sebenarnya saling cinta. Bahkan Akhmar bersikap dingin pada Aiza supaya Aiza menyerah dan mundur dari pernikahan, tapi Aiza malah melakukan sesuatu yang tak diduga. Membuat Akhmar menjadi takluk
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Emma Shu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebesaran
Akhmar seperti ingin melakukan sesuatu sesuai hasratnya, namun ia menahan diri. Berusaha untuk tidak melakukannya. Ia lalu bergerak mundur. Menuruni kasur. Menjauhi Aiza.
Pria itu berjalan menuju meja, menapakkan kedua telapak tangannya ke meja. Menunduk. Menikmati irama nafasnya yang terdengar keras.
Tok tok…
Kamar diketuk dari luar.
Aiza menarik selimut dan menutupi tubuhnya itu. Saat itulah ia mengedarkan pandangan, baru tersadar bahwa ia kini berada di kamar asing.
Akhmar membuka pintu, tampak seorang pelayan muncul di balik pintu.
"Ini pesanan Anda!" ucap seorang pelayan berseragam biru.
Akhmar menyambut pakaian yang diulurkan.
"Makasih!" ucap Akhmar dan kembali menutup pintu. Ia menoleh, menatap Aiza dan menaruh baju yang diantar itu ke sisi kasur.
"Pakai itu!" titah Akhmar menunjuk baju tersebut.
Aiza menatap pakaian yang diletakkan di sisi kasur. Ia tak bergeming. Masih diam di balik selimut yang menutup sampai ke lehernya.
Akhmar meletakkan kunci mobil ke atas pakaian. "Pulanglah pakai mobilku!"
Aiza hanya menatap saja tanpa memberi jawaban. Mulutnya membungkam.
Akhmar melangkah keluar dari kamar itu.
Manik mata Aiza menatap ke arah baju yang dipastikan baju baru. Ia bergerak mendekati baju tersebut dan menariknya. Terkejut melihat benda berwarna hitam yang menggunduk dua bagian. Tak hanya itu saja, ada ****** ***** juga yang dililit di dalam pakaian itu.
Aiza mengambil beha dan mencoba untuk melilitkan ke dadanya. Eh, gede amat? Akhmar sok tau banget. Pesan bra nggak tanya- tanya dulu, ini mah jumbo.
***
“Ini wedang jahe!” Qanita menyerahkan secangkir gelas berisi wedang jahe hangat kepada Aiza.
“Makasih, Umi!” Aiza mengambil gelas itu dan meneguknya. Tenggorokkannya terasa hangat. Ia duduk bersila di gazebo belakang rumah, tepatnya di dekat kolam ikan koi dengan tubuh berbalut selimut tebal, hanya wajahnya saja yang tampak. Kepalanya mengenakan kerudung yang hanya ditempel begitu saja, bisa terlepas jika terkena angin. Rambutnya masih basah setelah tadi kehujanan. Dingin sekali.
“Kenapa bisa kehujanan?” tanya Qanita sambil mengambil kembali gelas yang sudah kosong.
“Kena air hujan, Umi.” Aiza nyengir.
“Iya badan basah memang terkena air hujan, tapi alasannya kenapa kok bisa kena air hujan? Bukankah kamu bisa naik taksi?”
“Udah kadung kehujanan dulu baru dapet taksi. he heee…” jawab Aiza.
Di pintu, tampak Akhmar berdiri, kemudian melenggang mendekat.
Qanita langsung menuruni gazebo dan masuk ke rumah, sengaja memberi waktu untuk Akhmar dan Aiza bicara. Mereka pasti butuh privasi.
Aiza hanya diam melihat Akhmar duduk di depannya. Lantai gazebo yang terbuat dari papan plitur dengan ukuran satu setengah meter itu cukup sempit. Hanya cukup untuk duduk berduaan saja.
Beberapa menit mereka diam.
Akhmar kemudian menoleh dan menatap Aiza yang sejak tadi terlihat menatap ke arah ikan koi. “Minum?” tawar Akhmar menyodorkan sebuah minuman kaleng.
Aiza menggeleng singkat.
Akhmar membuka minuman itu, lalu meneguknya.
“Aku paham, aku salah. Aku minta maaf.” Akhmar menyentuh tangan Aiza yang bersembunyi di balik selimut, tepat di pangkuan gadis itu.
Aiza sontak menatap Akhmar.
“Kalau kamu marah, ya marah aja.” Akhmar menggenggam tangan Aiza.
Wanita itu mengernyit. Di lalu sengaja mengeluarkan kedua tangannya dari balik selimut yang sejak tadi memegangi selimut supaya tidak terlepas dari lilitan di tubuhnya. Aiza mengangkat tangan dan membenarkan kerudung yang hampir terjatuh dari kepala dengan kedua tangannya.
Loh, itu kedua tangan Aiza ada di kepala. Lah yang aku remas sejak tadi ini tangan apa namanya? Akhmar melirik tangannya yang menggenggam sesuatu di balik selimut, tepatnya di pangkuan Aiza.
“Kenapa merremas kakiku?” Aiza menaikkan alis.
Jadi sejak tadi Akhmar *******- ***** kaki?
“Oh…” Akhmar salah tingkah. Maksud hati ingin menggenggam tangan, eh malah ceker yang kena remas.
Bersambung