Ada apa dengan istriku?
Tak seperti biasanya istriku terlihat diam tak banyak bicara lagi, seolah bukan orang yang kukenal selama ini.
Diam bukan berarti tak mengerti apapun - Luna.
Maafkan, sungguh diriku menyesali semua itu - Akbar
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MS.Tika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Wanita paruh baya menyusuri lorong rumah sakit mencari ruang inap yang ditempati Dita, lalu ia melihat anaknya berdiri didepan salah satu ruang inap langsung menghampirinya dengan nafas memburu dan sedikit amarah.
"Apa informasi yang kamu berikan itu beneran Akbar?"tanya bu Hana yang sudah berada tepat didepan anaknya berdiri.
"Ibu kapan sampai, bikin Akbar terkejut ibu sudah berada disini."ucap Akbar melihat ibunya udah didepannya.
"Sudah jawab pertanyaan ibu nak, apa itu benar Dita keguguran?"desak bu Hana
"Iya bu itu benar, kandungan Dita lemah dan tak bisa dipertahankan lagi."kata datar Akbar.
"Ya allah Akbar, ibu sudah senang kamu akan mendapatkan keturunan meski bukan dari istri sahmu tapi ini apa kenyataannya gagal sudah harapan ibu."ucap bu Hana duduk lesu di tempat duduk yang berada didepan ruangan.
Bu Hana terlihat sangat kecewa dengan berita yang didapatkannya rasanya dia berpikir dosa apa yang sudah ia lakukan hingga kejadian seperti ini.
"Tenang bu, sudah jangan terlalu dibuat beban bu. Akbar pasti bisa mewujudkan keinginan ibu untuk memiliki cucu."kata santai Akbar.
Bu Hana melihat anaknya yang terlihat seperti masalah ini tidak membuat dirinya kacau malah sebaliknya tenang-tenang saja tidak merasa kehilangan sama sekali.
"Kamu masih bisa berkata seperti itu, apa kamu tidak merasa kehilangan?"tanya bu Hana
"A..aku bu, aku tentu merasa kehilangan bu tapi apa mau di kata sudah kejadian seperti ini."kata Akbar yang menutupi rasa senangnya sebenarnya.
Keluarlah suster yang habis memeriksa kondisi Dita didalam.
"Permisi pak, nona didalam sudah baik-baik saja sudah bisa dijenguk kembali."ucap suster pada Akbar.
"Baik sus, terimakasih banyak."jawab Akbar.
Suster itu hanya mengangguk dan pergi meninggalkan dua orang dewasa yang berada didepan ruangan, Akbar lalu masuk kembali kedalam ruangan Dita.
"Ibu apa mau masuk kedalam melihat Dita?"tanya Akbar.
"Ibu mau melihat kondisi wanita itu." kata bu Hana.
Ibu dan anak itu lalu masuk kedalam dan melihat Dita yang sudah bangun dari tidurnya.
"Gimana nak keadaanmu apa yang dirasakan sekarang?"tanya bu Hana yang mendekat ke arah tempat tidur Dita.
"Maaf... tante maaf kandunganku sudah tak ada lagi sekarang."jawab Dita dengan tetesan air mata yang keluar dari matanya Dita yang sambil memegang perutnya.
"Sudah tante tidak apa-apa terpenting kondisimu sudah terlihat baik-baik saja."ucap bu Hana sambil mengelus rambut Dita.
"Untung wanita ini cantik, kondisinya baik-baik saja masih bisa buat memiliki anak kembali."gumam bu Hana dalam hati melihat kearah Dita.
- -
Pesawat yang ditumpangi Luna dan Edward tiba di bandara London, Edward sudah menyuruh anak buahnya untuk mempersiapkan jemputan untuknya dan Luna.
"Lun..luna bangun, ayo ini sudah sampai dek bangun dek."kata Edward yang menggoyang-goyangkan badan Luna pelan.
"Hooamm, sudah sampai kak?"ucap Luna yang membuka matanya perlahan melihat ke arah luar jendela.
"Sudah, jemputan kakak sudah tiba di lobby bandara ayo bangun."kata Edward.
Luna dan Edward pun bersiap keluar dari pesawat dan menuju ke arah lobby bandara dimana jemputan mereka sudah berada disana sejak tadi.
Mereka berdua sudah dalam perjalanan menuju rumah Edward yang berada di dipinggiran kota London, kurang lebih tiga puluh menit tibalah disalah bangunan megah bergaya eropa klasik Luna yang melihat bangunan itu sungguh dibuat takjub dengan model bangunannya.
"Apa benar ini rumah kakak? sangat megah sekali ini."tanya Luna melihat kearah luar mobil.
"Iya dek, disanalah kakak selama ini tinggal saat tak berada di Indonesia. Ada kakek disana yang menemani kakak."kata Edward dengan santai.
Mobil pun berhenti dan mereka berdua keluar dari mobil.
"Kak, rumah ini sangat bagus gaya bangunannya kayak istana kerajaan."ucap kagum Luna yang sudah berdiri dipintu.
"Permisi tuan muda, anda dan nona Luna sudah ditunggu oleh tuan besar di ruang tamu."ucap salah satu pelayan yang menghampiri Edward.
"Baik, habis gini saya kesana."jawab Edward.
Pelayan itu hanya mengangguk dan masuk kembali ke dalam rumah.
"Ayo Luna, kakek sudah menunggu kita didalam."ajak Edward yang menggandeng tangan Luna masuk kedalam.
Luna berjalan mengikuti Edward disampingnya dia memandangi ruangan dalam rumah itu terkagum-kagum sangat indah, lalu dirinya tiba-tiba diam melihat sosok laki-laki paruh baya yang sedang duduk dikursi roda.
"Kak, apa itu kakek?"tanya Luna yang memegang lengan Edward.
"Iya dek, benar itu kakek."ucap Edward.
Luna merasa sangat senang sudah melihat kakek yang dirindukannya, lalu ia pun langsung berlari menghampiri kakek dan memeluknya.
"Kek.. Luna sangat merindukan kakek."ucap sendu Luna pada kakeknya.
"Anak nakal, kemana saja kamu selama ini kakek mencari dirumahmu dulu itu tapi kamu tidak ada disana akhirnya kehilangan jejakmu sampai kamu sudah dewasa begini."ucap pedas kakeknya sambil membalas pelukan Luna.
"Kakek.. Luna sangat merindukan kakek, maafkan Luna kalau kakek tidak bisa menemukan Luna selama ini maafkan kek."ujar Luna sambil menangis didalam pelukan kakeknya.
Suasana haru menyambut pagi dalam rumah megah Edward, dan Edward yang melihat cucu dan kakek saling melepaskan rindu satu sama lain ikut terharu setitik air mata turun dari pelupuk mata kiri Edward.
"Sudah..sudah ayo kita semua sarapan pagi bersama, aku sudah lapar pagi ini. Kita teruskan lagi nanti setelah sarapan."ucap Edward pada kakeknya dan Luna.
Luna pun mendorong kursi roda kakeknya menuju ke arah meja makan yang tak jauh berada dari tempatnya tadi, diikuti Edward dibelakangnya.
"Makanlah yang banyak kalian sudah melakukan perjalanan jauh."ujar kakeknya kepada dua cucunya yang berada didepannya.
"Baik kek.."jawab bersamaan Luna dan Edward.
Akhirnya mereka bertiga sarapan dengan tenang.
"Nanti kamu dirumah dengan kakek, kakak akan ke kantor untuk mengecek kondisi perusahaan selama kakak pergi.kata Edward di sela-sela makan.
"Baik kak, lagian aku sepertinya masih jet lag mau istirahat saja setelah ini. Omong-omong kamarku berada dimana?"tanya Luna.
"Nanti bibi pelayan yang akan mengantarmu ke kamar yang berada dilantai 2."ucap Edward.
Luna pun mengangguk dan melanjutkan kembali sarapannya hingga habis. Setelah dua puluh menit mereka bertiga selesai dan Edward berjalan menuju kamarnya untuk bersiap untuk ke kantor pagi ini.
Luna yang masih jet lag pun diantar oleh bibi pelayan menuju ke salah satu kamar berada di lantai 2.
"Ini non Luna kamarnya yang sudah disiapkan oleh tuan muda untuk nona selama berada disini."kata bibi pelayan.
"Terima kasih bi, bibi sudah boleh kembali."ucap Luna.
Bibi pelayan itu kembali dan Luna membuka kamarnya, ia sekali merasa takjub dengan isi dalam kamar tersebut sangat mewah dan besar.
"Ini sungguh sangat indah jauh dari kamarku yang berada di rumah apalagi ini lebih besar dari kamar yang ada dirumah kak Edward di jakarta."gumam Luna melihat seluruh isi kamarnya.
Luna akhirnya memilih berendam dipagi hari untuk merilekskan pikirannya.
"Sepertinya berendam pagi ini enak juga, setelah itu aku bisa lanjut tidur."gumam Luna yang masuk kedalam kamar mandi yang ada didalam kamar.
se BADAS apa kamu luna
apa mau berbagi lendir dengan mereka lun OMG
biar kamu ga sama Kaya yg lain cuma mewek doang 🤦