Alzena Jasmin Syakayla seorang ibu tunggal yang gagal membangun rumah tangganya dua tahun lalu, namun ia kembali memilih menikah dengan seorang pengusaha sekaligus politikus namun sayangnya ia hanya menjadi istri kedua sang pengusaha.
"Saya menikahi mu hanya demi istri saya, jadi jangan berharap kita bisa jadi layaknya suami istri beneran"
Bagas fernando Alkatiri, seorang pengusaha kaya raya sekaligus pejabat pemerintahan. Istrinya mengidap kanker stadium akhir yang waktu hidupnya sudah di vonis oleh dokter.
Vileni Barren Alkatiri, istri yang begitu mencintai suaminya hingga di waktu yang tersisa sedikit ia meminta sang suami agar menikahi Jasmin.
Namun itu hanya topeng, Vileni bukanlah seorang istri yang mencintai suaminya melainkan malaikat maut yang telah membunuh Bagas tanpa di sadari nya.
"Aku akan membalas semua perbuatan yang kamu lakukan terhadap ku dan orang tuaku...."
Bagaimana kelanjutan polemik konflik diantara mereka, yuk ikuti kisahnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bundaAma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
-34
Dengan langkah lebar Bagas menyusul Jasmin ke dalam kamar utama mereka, dengan rasa tidak terima yang memuncak menjadi amarah Bagas menarik pergelangan tangan sang istri dengan kasar hingga menabrak dada bidangnya.
Awwhhh
"Apa?!" tanya Jasmin yang tiba tiba melembut dengan wajah centilnya
"Gak jadi berangkat kerja? Ini udah siang loh mas, masa masih mau nambah?" tanyanya lagi seraya mengalungkan kedua tangannya ke leher sang suami.
Sontak saja sikap nya yang berubah drastis membuat Bagas kebingungan setengah mati, alis Bagas mengernyit heran, namun wajahnya memerah merasakan betapa malunya dirinya telah menuduh sang istri yang kini malah bersikap lembut padanya.
"Maaf..." kata pertama yang keluar dari bibir Bagas dengan suara lirih yang hampir tidak terdengar.
"Sayang,.. Aku mau gelang yang sama kayak kalung nya, Rani bilang emang kalung berlian bisa ada set modelnya nya yah say???" tanya Jasmin manja dengan suara mendayu.
"Mau..." pinta Jasmin dengan bibir monyong dan mata gemasnya.
Cuppp
Sedikit mengesampingkan rasa malunya Bagas mengecup bibir monyong sang istri dengan lembut lalu tersenyum lebar saat Jasmin memukul pelan dada bidang nya seraya melepaskan tangan melingkar nya.
"Kebiasaan deh mas mah, kecup kecup lama kelamaan bikin Neneng keramas lagi...." ucap Jasmin dengan ekspresi cemberut dan suara yang menyaring.
Bagas hanya tersenyum lebar merasa lucu dengan sikap sang istri yang menggemaskan meski di tengah suasana lautan badai.
"Kapan emmmphh----
Suara Bagas menghilang karena bekapan tangan Jasmin yang menutup mulutnya, dengan langkah ringan Jasmin menarik tangan Bagas menuju sisi ranjang dekat nakas yang mengarah ke jendela.
Dengan tatapan mengkode, Jasmin menunjuk sebuah penyadap kecil yang terpasang di sisi ranjang, Bagas yang langsung mengerti dengan kode sang istri memeriksakan kebenaran nya dan menemukan sebuah alat sadap yang terpasang di sisi ranjang mereka.
"Kerja dulu, nanti aku kasih 5 ronde, atau mas mau lebih dari lima ronde, kemaren lima sekarang enam, atau sampai pinggang Neneng patah?!" tanya Jasmin dengan suara yang sengaja di besarkan berharap seseorang yang tengah menguping mereka mendengar percakapan nya.
Awhhhh
Bagas yang langsung tahu arah pembicaraan Jasmin membanting kasar tubuh sang istri ke ranjang lembut yang tidak membuatnya kesakitan.
"Mas gak tahan..." ucap Bagas dengan suara beratnya yang malah terdengar manja.
Jasmin melotot saat Bagas mengukung nya di bawah tubuhnya, apalagi menurut nya Bagas terlalu berlebihan mengikuti alur dramanya.
"Sayang!!! Kalo gak nurut, gak aku kasih dua bulannn!!!" Jasmin membentak seraya mendorong kasar tubuh sang suami yang berada tepat di atasnya.
"Cepat pergi sana!!!! Mentang mentang kantor Deket rumah seenaknya ajah tiap hari lelet leletan di sini..." ujarnya.
"Maaf sayang... Aku berangkat sekarang assalamualaikum...." ucap Bagas pamitan seraya melesat dengan cepat keluar dari dalam kamar mereka.
Jantung nya berdetak lebih cepat dari biasanya, di tambah wajahnya memerah sempurna saat menyadari jika Jasmin bukan tidak marah atas tuduhan nya melainkan tengah berdrama demi mengungkap siapa penyadap sebenarnya.
Sedangkan di sana, di sebuah rumah milik Bagas fernando Alkatiri, seorang wanita yang sudah berumur hampir setengah abad, tengah menahan amarahnya dengan tangan yang mengepal dan nafas yang memburu.
Ia membanting semua barang yang bisa di jangkau oleh nya dengan kasar. Pecahan kaca dan vas bunga berceceran di atas lantai marmer yang mengkilap.
Arghhhhhhhh
Leni berteriak keras berharap kekesalannya bisa sedikit berkurang, ia tidak terima dengan perlakuan suaminya yang begitu menginginkan madunya, padahal akhir akhir ini sang suami tidak menanggapi dirinya seperti biasanya.
Melepas Earphone yang dikenakan nya ia melangkah keluar dari dalam kamar yang biasa di tempati oleh pak Barren dengan menginjak pecahan kaca dengan kaki telanjang tanpa alas kaki dan tidak memedulikan rasa sakit di telapak kakinya sama sekali.
Ia berjalan menuju kamarnya untuk mengambil ponsel miliknya yang tertinggal, semua pelayan di rumahnya berteriak histeris saat melihat majikan berjalan dengan bercucuran darah di telapak kakinya.
"Ibu!!!!!" teriak para pelayan seraya berlari ke arahnya saat melihat kakinya terluka dengan darah yang mengucur dengan deras.
"Kita obati dulu..." ujar para pelayan menahan langkah kaki Leni yang tengah naik ke lantai atas.
"Kaki ibu berdarah...." ujar pelayan lagi seraya menunjuk kaki sang majikan dengan tatapan iba.
Mendapat tatapan kasihan dari para pelayan nya, Leni mendorong kasar salah satu pelayan nya hingga terjatuh menggelinding dengan keras ke bawah lantai.
Brughhhhh awhhhhhhh
Ahhhhhh
Suasana langsung panas saat salah satu pelayan jatuh dengan keras ke tangga pertama di bawah, mereka menatap tak percaya dengan tindakan majikan nya yang berbeda dari biasanya.
"Jangan menatapku dengan tatapan menjijikan itu sialannnn!!!!!!" teriak Leni menggila saat berbagai tatapan ia dapatkan dari para pelayan nya.
"Pergi!!! Enyah dari hadapanku jalanggg!!!!!"
Semua orang berlari menjauh dari Bu Leni yang tengah berteriak teriak histeris di tengah tangga, salah satu pelayan yang jatuh di boyong bersama oleh mereka untuk menjauh dari sana.
Melihat semua orang pergi meninggalkan nya, Leni meraung menangis menjerit seraya memukul mukul dadanya yang terasa sesak.
Saat para pelayan berlari meninggalkan nya, dalam bayangan nya, itu adalah Bagas yang berlari meninggalkan nya seraya memboyong Jasmin madunya.
Kepalanya berdenyut hebat hingga penglihatan nya buram, sedetik kemudian ia kehilangan kesadarannya terhuyung lalu jatuh menggelinding dari tangga ke lantai bawah.
Melihat itu Pak Yanto berlari menghampiri sang majikan dan menggendong nya untuk di bawa ke rumah sakit.
Tak lupa, ia pun mengabari Bagas jika istrinya tengah di bawa ke rumah sakit olehnya.
Sedangkan Bagas saat mendapat kabar kecelakaan istri pertama nya di rumah respon nya tak seperti biasanya, ia hanya menatap layar ponselnya dengan dingin tanpa membalas chat yang dikirimkan oleh bawahan nya.
Ia malah kembali melanjutkan pekerjaannya dengan fokus tanpa kehilangan kefokusan nya, setelah selesai bekerja pun ia malah berangkat ke rumah sakit saat mengetahui jika Bu Jemi telah menanda tangani surat untuk autopsi pak Jamok.
Dengan kecepatan penuh Andreas mengantar majikan nya ke rumah sakit tempat pak Jamok akan di autopsi, ia cukup penasaran dengan hasilnya, sekaligus ia pun ingin mengucapkan belasungkawanya ke pada keluarga yang ditinggal kan.
Sampai di rumah sakit, ia menemui Bu Jemi langsung meski yang ia dapatkan hanya tatapan tajam dan ucapan dingin yang keluar dari mulut lawan bicara nya.
"Tidak perlu pura pura berbelasungkawa, saya yakin kamu tengah kesenangan atas kematian salah satu musuh anda...." jawab Bu Jemi saat Bagas menyampaikan belasungkawa nya dengan ikhlas.
Andreas langsung menyerobot menimbali ucapan dingin yang di ucapkan Bu Jemi.
"Saya bisa menuntut kata kata anda karena mencemari nama baik atasan saya..." ujar Andreas dengan nada mengancam yang langsung di jawab deheman oleh Bagas, dan tatapan melengos dari Bu Jemi
saya siap membacanya kembali