NovelToon NovelToon
Terpaksa Menikah Karena Hamil (Anna Dan Logan)

Terpaksa Menikah Karena Hamil (Anna Dan Logan)

Status: tamat
Genre:Nikah Kontrak / CEO / One Night Stand / Tamat
Popularitas:243.8k
Nilai: 5
Nama Author: Miraicle Dewi

Pesta pernikahan di kapal pesiar berubah menjadi bencana. Anna dirudapaksa oleh seorang pria asing, hingga akhirnya ia mengandung. Padahal, pria itu bosnya dan juga sudah memiliki tunangan.

Meski tak cocok, kehamilan itu membuat Anna dan Logan terpaksa menikah. Mereka sering adu mulut dan bertengkar. Apakah pernikahan mereka akan berhasil? Atau justru malah bercerai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miraicle Dewi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tidur terpisah? Masa bodo!

Segar sekali setelah mandi. Anna keluar dari toilet sambil menggosok-gosokkan rambutnya dan sudah berpakaian. Namun, ia tertegun begitu melihat sosok Logan tidak ada di ruangan ini.

"Ke mana dia?" gumamnya mengernyit. Masa bodo, mau pergi ke manapun pria itu, Anna tidak peduli. Paling, dia sedang keluar sebentar, atau sekadar mengambil air minum di dapur. Jadi, untuk apa dipikirkan? Anna sudah lelah.

Dan sesudah membersihkan diri, Anna tertidur di ranjang. Benar, Logan memang pergi ke dapur untuk mengisi seteko air dan membawa gelas baru. Bukan untuknya, melainkan untuk Anna. Ia berjalan ke ranjang, menemukan Anna sudah tertidur.

Logan menghela napas, lalu meletakkan teko dan gelas di nakas yang ada di samping Anna. Barulah, ia berbaring, tetapi tidak langsung tidur. Ia membaca beberapa e-mail masuk dan pesan yang memberondongnya sejak tadi pagi di ponselnya. Tanpa sengaja, ia menoleh pada Anna, melihat wanita itu tertidur dengan mulut setengah terbuka.

Menggelikan, tapi ia menahan tawanya. "Ih, payah! Ada-ada saja tidur dengan mulut terbuka seperti itu. Nanti kalau ada benda atau yang masuk ke dalam mulut, baru tahu rasa," gerutunya.

Lantas, Logan perlahan mendekat, tangannya hendak mengarah ke mulut wanita itu. Namun, tiba-tiba Anna menggeliat, dan tanpa sengaja tangannya mengenai wajah Logan.

Spontan Logan menjauh sambil memegangi pipinya, meringis karena lumayan sakit juga pukulannya. Untung saja, matanya tidak tercolok oleh tangan Anna. Uh, kalau kayak gini, Logan tidak yakin bisa tidur dengan nyenyak malam ini. . . .

Kehamilan ini, mengubah sebuah kebiasaan baru bagi Anna. Tepat pada tengah malam, ia terbangun. Saat ia membuka matanya lebar-lebar, ia menyadari bahwa sisi ranjang di sampingnya kosong. Anna menengok ke arah kamar mandi.

"Apa dia sedang berada di kamar mandi? Ssshh, aku harap dia tidak berlama-lama di sana. Udah kebelet nih," gumamnya sambil kembali berbaring.

Entah pria itu tertidur di dalam kamar atau Logan dalam keadaan mulas, sehingga begitu lama buang airnya. Anna menunggu begitu lama, sampai tak sabar melompat turun dari ranjang, lalu menghampiri kamar mandi.

"Logan! Logan! Apa masih lama buang airnya? Aku udah kebelet pipis nih?" seru Anna, mengetuk pintu kamar mandi agak pelan karena takut pria itu akan marah jika ia menggedornya.

Hening, atau Anna yang tidak mendengarnya? Lantas, Anna mendekatkan telinganya ke pintu kamar mandi, mencoba mendengar sesuatu di dalam.

"Tidak terdengar apa pun? Apa dia benar-benar ada di dalam?" gumamnya, mengernyit. Anna melirik knop pintu, bermaksud membuka pintu untuk memastikan bahwa pria itu tidak ada di dalam kamar mandi. Namun, ia ragu: masuk ke dalam atau tidak?

Ia menggigit bibir bawahnya sambil melirik knop pintu. Akhirnya, ia mengetuk pintu lagi dan berseru, "Logan, Logan, apa kamu udah selesai pakai kamar mandinya? Gantian dong? Aku udah kebelet pipis nih," serunya dengan suara pelan dan membujuk, seakan sedang berbicara dengan anak kecil.

Tidak ada sahutan lagi. Fix, Logan tidak ada di dalam. Maka, ia membuka pintu kamar mandi. Dan memang benar, kamar mandi kosong! Anna tercengang sejenak, kemudian mendengus.

"Wah! Kalau tahu kayak gini, mending tadi nggak usah nungguin!" gerutunya jengkel. "Tapi ngomong-omong, ke mana perginya pria itu?"

...☘...

Logan melangkah pelan sambil menguap, dan kebetulan Elina dan Matthew baru keluar dari kamar dengan sudah berpakaian rapi. Mereka bertiga berpapasan, saling berhenti sejenak dan tercengang. Wajah Logan memucat, lalu gugup.

"Pagi, Pa, Ma."

"Logan? Kamu keluar dari kamar tamu ...," tanya Elina, lama-lama memandang menyelidik, lalu menuding dengan agak berseru, "Semalam, kamu tidur di sini?"

Gawat! Kalau dilihat dari raut wajah kedua orangtuanya, sepertinya mereka marah besar. Habis bagaimana? Ia enggan tidur dengan Anna. Entah mengapa, ia belum siap untuk berbagi ranjang dengan Anna. Makanya, ia pindah ke kamar khusus tamu.

"Benar itu, Logan?" tanya Matthew, nada suaranya meninggi. Logan memalingkan wajah sambil memikirkan alasan yang tepat untuk diberikan pada Matthew. Pada saat itu, Anna sedang menuruni tangga, sempat mendengar sedikit percakapan mereka.

"Pa, aku cuma belum bisa tidur seranjang dengan wanita yang aku cintai," kata Logan akhirnya, berani menatap Matthew meski masih gugup.

"Mau kondisinya seperti apa pun, dia sudah sah jadi istri kamu. Dan kamu harus bisa terbiasa seranjang dengan Anna," sahut Matthew, agak berteriak murka.

Demi kesehatan suaminya, Elina memegangi lengan Matthew sambil berbisik, "Matthew, tolong tekan amarahmu." Matthew menuruti teguran baik istrinya itu, berusaha menenangkan diri agar kemarahannya tidak lagi meledak.

Sekarang, saat Elina mengambil alih untuk menengahi masalah ini. "Pa, kita sebaiknya jangan terlalu memaksakan mereka dulu. Biarkan mereka saling beradaptasi. Kita kan tahu pernikahan ini terjadi karena kecelakaan yang tidak diinginkan," ujar Elina lembut, kemudian pandangannya teralihkan pada Logan. "Dan kamu, Logan. Meskipun kamu tidak mencintai Anna, usahakan menjadi suami dan ayah yang baik. Perlakukan Anna selayaknya seorang istri," lanjut Elina.

Hal ini cukup berat bagi Logan untuk disanggupi. Namun, ia tetap mengangguk, menerima saran Elina. "Baik, Ma," jawabnya.

Lega mendengarnya. Elina mengelus lengan Logan, lalu berkata, "Kamu mandi, lalu turun lagi ke bawah untuk sarapan. Sekalian ajak Anna, ya. Mama sama papa tunggu kalian di ruang makan."

Elina menggandeng kembali Matthew, membawanya pergi dari hadapan Logan. Setelah itu, Logan menaiki anak tangga, tetapi berhenti karena berpapasan dengan Anna. Logan tertegun sekaligus tercengang. Gadis ini sudah bangun rupanya. Tapi, sejak kapan dia berada di sini? Sejak tadi?

Kalau memang begitu, berarti dia mendengar semua percakapannya dengan kedua orangtuanya dong? Keduanya saling menatap dengan canggung. Dikira akan saling menyapa, Anna berlalu begitu saja.

Logan sendiri tidak peduli jika gadis itu berisikap begitu. Ia juga kembali melangkah dengan acuh tak acuh. Namun, ketika Anna tiba pada anak tangga paling bawah, ia berhenti. Lalu, ia menoleh pada Logan yang sudah sampai di lantai atas.

"Hah!" dengusnya sambil mengelus dadanya. "Dia tidur di tempat lain semalam? Kenapa nggak bilang? Berasa kayak orang bego, nahan kencing karena menyangka dia ada di dalam kamar mandi!"

Tapi, kenapa ia merasa sakit hati karena pria itu memutuskan untuk tidur beda kamar? Seharusnya, ia tidak peduli. Bukannya bagus jika ia tidur sendirian di kamar? Anna pun merasa enggan tidur seranjang.

Biarlah! Ia tak mau memikirkan. Kedua mertuanya sudah menunggu di ruang makan, ia bergegas menyusul ke sana. Sebelum kakinya memasuki ruang makan, ia melatih bibirnya untuk tersenyum. Barulah, Anna menghampiri mereka sambil menyapa.

"Selamat pagi, Pa, Ma." Elina dan Matthew menoleh padanya, lalu tersenyum ramah. Dengan kompak, kedunya membalas sapaannya. Kemudian, Elina kembali menyendokkan nasi goreng ke piring suaminya sambil bertanya pada Anna.

"Kamu udah bangun dari tadi? Kok cepat banget turunnya?"

"Iya, Ma," jawab Anna, membalik piringnya. "Udah terbiasa bangun pagi untuk shalat Subuh."

Menantu yang solehah. Elina dan Matthew senang sekali mendapatkan menantu seperti Anna. "Tadi, kamu berpapasan sama Logan?" tanya Elina kemudian.

Anna mengulum bibirnya rapat, berpikir keras. Ia bingung harus berkata apa. Karena, tidak mungkin ia mengatakan kalau semua percakapan mereka dengan Logan telah didengarnya. Ia juga tidak mau membuat pasangan itu merasa bersalah, sebab Logan memilih tidur di tempat lain.

"Iya. Dia masuk kamar waktu saya sedang merias wajah saya," jawab Anna, mengulum senyum polos.

Elina dan Matthew saling melirik. Apa mereka perlu mengatakan yang sebenarnya soal Logan yang memilih tidur terpisah dengannya semalam? Tapi, rasanya tidak perlu karena Anna pasti sudah menyadarinya.

"Anna, semalam Logan tidur di ruangan lain. Kamu tahu soal itu?" tanya Elina pada akhirnya. Anna mendongak. Ternyata, hal ini akhirnya dibahas juga. Ia mematung menatap ibu mertuanya sambil berpikir, lalu tersenyum.

"Iya, tahu. Sepertinya, karena saya mendengkur dan tidurnya tidak bisa diam, makanya Logan pindah ke kamar lain." Anna tahu alasan itu tidak cukup membuat mertuanya berhenti merasa bersalah, karena mereka tahu alasan yang sebenarnya.

Ia tetap bergeming pada sikap awalnya, yaitu pura-pura tidak tahu. Dengan polos dan berusaha tak melirik mertuanya, ia mengisi piringnya dengan beberap centong nasi goreng.

"Anna, itu susu hamil kamu. Kata ibumu, kamu suka susu cokelat. Makanya, Mama belikan susu hamil yang paling bagus untuk kamu dan si bayi," kata Elina sembari meletakkan segelas susu cokelat hangat di dekat Anna.

Anna jadi terenyuh. Betapa beruntungnya ia, mendapatkan mertua yang baik dan perhatian, tetapi ia malah membohongi mereka di hari pertama menjadi menantu di rumah ini. Air matanya sampai menggenang di pelupuk matanya. Namun, ia berusaha tidak memperlihatkannya di hadapan mereka.

"Terima kasih, Ma," ujarnya, agak sedikit serak di ujung kata. Mereka bertiga hampir selesai sarapan, tetapi Logan baru sampai di ruang makan. Elina yang menyadari kehadirannya, menyapa anaknya itu.

"Logan, ayo sarapan," panggilnya. Anna hendak menoleh, tapi jadi enggan karena rasa gengsinya.

Namun, ketika pria itu memilih kursi di sampingnya, tak tahan rasanya ingin melirik. Pria itu memakai kaus abu-abu muda dan celana koldoroi hitam. Rambutnya yang basah disisir seadanya. Terlihat berbeda sekali dengan penampilannya, jika dia memakai setelan kemaja dan jas. Tetap tampan, tapi manis seperti idol k-pop.

Terpana? Jelas. Akan tetapi, ia langsung sadar, dan menegur dirinya yang begitu mudah terpikat pada ketampanan pria itu. Untuk mengalihkan pikirannya, lantas ia berinisiatif mengambilkan makanan untuk suaminya itu.

Logan tertegun sesaat menatapnya. Maunya, ia menolak perlakuan Anna. Namun, karena situasinya mereka tengah di depan orangtuanya, maka dibiarkan saja Anna menyajikan sepiring nasi goreng untuknya. Tentu saja, ini juga trik agar kedua orangtuanya senang. Lihat saja, Elina dan Matthew sedang tersenyum dengan penuh harap bahwa perhatian dari Anna bisa meluluhkan Logan.

"Nah, karena Logan sudah ada di sini, ada yang mau Mama katakan pada kalian," mulai Elina, baru saja Logan akan menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.

Logan tidak terkejut lagi karena sudah menduga topik pembicaraan yang dimaksud mamanya, sementara Anna mendengarkan dengan penuh perhatian. "Karena kalian sudah menikah, apa kalian tidak berpikir untuk merencanakan—"

"Sudah," sahut Logan dengan acuh tak acuh. Mereka bertiga menoleh ke arahnya dengan heran. Maksudnya, apanya yang "sudah"?

Logan menelan makanannya, lalu menoleh pada mamanya. "Aku sudah memikirkan tempat yang akan kami kunjungi untuk honeymoon nanti."

Surprise, tapi Elina dan Matthew tersenyum senang mendengarnya. Berbeda dengan Anna, yang justru merasa kurang setuju dengan rencana itu, meskipun ia sangat ingin honeymoon jika sudah menikah.

Namun, kondisinya sekarang ini berbeda—ia menikah dengan pria yang tidak dicintainya. Bulan madu seperti itu hanya buang-buang uang saja.

"Oya? Ke mana?" tanya Matthew antusias.

"Ke Manchester." Senyum Logan, lalu menoleh pada Anna.[]

1
Shifa Burhan
kenapa aku paling benci sosok lelaki kayak kenan ya, walaupun ini rencana anna

tapi apakah pantas seorang teman, jalan dengan istri sahabatnya tampa sepengetahuan sahabatnya, dan dia andil dalam hancurnya rumah tangga sahabatnya tapi tidak merasa bersalah sama sekali

kenan, mudah2an nanti kau menikah akan ada pria lain sok baik pada istri mu, biar kau tau rasanya sok baik pada istri orang

dalam agama kami sahabat kayak kenan di laknat,
Elfin Mberanga
kenapa Anna nda jujur saja sama logan si kan kasian....
Elfin Mberanga
kenapa jg Anna lemah seperti ini Thor, terlalu polos di buat.
Elfin Mberanga
tlng jgn ada pelakor dong Thor, jgn bikin Anna JD korban LG biarkan dia bahagia sama logan.
Elfin Mberanga
katanya Nina amnesia... itu hanya di buat2 biar dekat lagi sama logan tapi kan kasian tu sama Anna Thor.
Sweet Momy
tiap ada notip pasti deg2an bacanya. Semoga logam Anna g terpisahkan lagi ....Bahagia tanpa ada orang ke 3
VINDRY
Semangat kk.
Sweet Momy
Semangat Thor....karyamu selalu ku tunggu.
Miraicle Dewi: makasih 🥰
total 1 replies
Miraicle Dewi
mbulet apa, ya? 😅
Sarifatul Izah
jgn mbulet² kak.. kasian anna .. cobaan anak mati sekarng mau ada pelakor .. hufff
Miria Kader Mira
dasar sinting pelakor semoga nina dan logan nggak betul berbuat yg engga engga ya
Andres Andriyani
lanjut thorr
Sarifatul Izah
kurasa memang kecelakan ini konpirasi dari mama x nina deh kan
Siti Amanah
takut ny kecelakaan itu disengaja.......?
Sarifatul Izah
𝒍𝒂𝒉 𝒔𝒂𝒅𝒊𝒔 𝒃𝒆𝒏𝒆𝒓 𝒈𝒎𝒏 𝒏𝒊𝒉
Sarifatul Izah
𝒔𝒚𝒖𝒌𝒖𝒓𝒍𝒂𝒉 𝒔𝒆𝒌𝒓𝒏𝒈 𝒋𝒂𝒅𝒊 𝒂𝒅𝒆𝒎 𝒂𝒚𝒆𝒎 𝒚𝒂 𝒍𝒐𝒈𝒂𝒏.. 𝒃𝒂𝒉𝒂𝒈𝒊𝒂 𝒔𝒍𝒍 𝒍𝒐𝒈𝒂𝒏 𝒂𝒏𝒏𝒂
Sarifatul Izah
𝒖𝒉𝒖𝒊𝒊 𝒂𝒌𝒉𝒊𝒓 𝒙😍
Sweet Momy
Sweet bgt Bang Logan
Sarifatul Izah
𝒌𝒂𝒑𝒂𝒏 𝒌𝒆𝒃𝒆𝒏𝒂𝒓𝒂𝒏 𝒙 𝒂𝒌𝒂𝒏 𝒕𝒆𝒓𝒖𝒏𝒈𝒌𝒂𝒑... 𝒔𝒆𝒎𝒐𝒈𝒂 𝒂𝒋𝒂 𝒎𝒆𝒎𝒂𝒏𝒈 𝒃𝒆𝒏𝒆𝒓 𝒍𝒐𝒈𝒂𝒏 𝒈𝒂𝒌 𝒕𝒆𝒓𝒋𝒂𝒅𝒊 𝒂𝒑𝒂" 𝒎𝒂𝒍𝒂𝒎 𝒊𝒕𝒖 𝒂𝒎𝒂 𝒏𝒊𝒏𝒂 𝒏𝒂𝒏𝒐
Siti Amanah
Pepet terus logan.cepetan Gery cari bukti biar kelar urusan sama ulat bulu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!