Selama tiga tahun, Anisa menjadi istri pengganti Galang Gondokusumo—menggantikan posisi cinta pertamanya yang menghilang. Tiga tahun melayani, tiga tahun diabaikan, tiga tahun diperlakukan seperti bayangan orang lain.
Sampai akhirnya, Galang melemparkan surat cerai ke wajahnya.
"Tanda tangani. Sherly sudah kembali."
Malam itu, Anisa ditabrak mobil yang dikirim oleh Sherly Permata—perempuan yang merebut suaminya. Darah membasahi aspal. Galang melintas di lokasi kecelakaan tanpa menoleh.
Dia pikir Anisa sudah mati.
Tapi yang mati malam itu bukan Anisa.
Yang mati adalah **kebohongan**.
Karena benturan itu mengembalikan seluruh ingatannya. Nama aslinya bukan Anisa.
**Namanya Keira Hartono.**
Pewaris tunggal Hartono Group—konglomerat terbesar di Indonesia. Nona besar yang diculik empat tahun lalu dan dianggap hilang selamanya. Perempuan yang dicari oleh sepuluh kakak laki-laki, kakek yang menguasai setengah Jakarta, dan seorang pria misterius yang sudah menunggunya sejak dia berusia satu tahun.
Pria itu bukan Galang.
Pria itu adalah **Rayhan Tanuwijaya**—kepala keluarga Tanuwijaya, penguasa empat keluarga besar Jakarta. Dingin kepada semua orang. Kecuali kepada Keira.
Sekarang Keira kembali. Dengan ingatan yang utuh, identitas yang sesungguhnya, dan daftar panjang orang-orang yang harus membayar.
Sherly Permata? Akan kehilangan segalanya.
Galang Gondokusumo? Akan berlutut memohon.
Dan dunia yang pernah menginjak-injaknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larasati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22
Bab 22: Yumi
Pagi setelah Sherly membuka daftar kontak media gosip, Phoenix mengirim satu folder baru ke tablet Keira.
Keira sedang duduk di ruang kerja kecil Hartono Surabaya. Tirai belum sepenuhnya dibuka. Di luar, suara gunting rumput dari halaman terdengar teratur, terlalu tenang untuk isi layar di depannya.
Nama folder itu pendek.
`Permata: Yumi.`
Aqil berdiri dua langkah di belakangnya. Sejak Sepuluh Bersaudara kembali, ia tidak lagi sendirian menjaga Keira, tetapi kebiasaannya tetap sama. Diam, dekat, siap bergerak.
"Ini dari jalur Sherly?" tanya Keira.
"Ya, Nona," jawab Aqil. "Data yang Nona minta menunjukkan pembayaran rutin ke satu rumah servis lama milik keluarga Permata. Lokasinya di pinggiran Surabaya. Tidak terdaftar sebagai tempat tinggal utama."
Keira membuka file pertama.
Foto seorang perempuan muda muncul di layar. Wajahnya kecil, terlalu kurus, dengan rambut hitam yang diikat seadanya. Matanya menatap kamera CCTV seperti orang yang sudah terbiasa menunduk sebelum ditampar.
Di bawah foto itu tertulis nama lengkap.
Yumi Permata.
Adik tiri Sherly.
Keira menggeser layar. Bukti bergerak cepat, tetapi setiap potongannya meninggalkan rasa dingin di ujung jari.
Percakapan WhatsApp dari nomor Sherly kepada penjaga rumah.
`Jangan biarkan dia keluar tanpa izin.`
`Kalau dia menangis, kunci saja kamar belakang.`
`Besok sore dia harus rapi. Tamu Papa datang. Jangan sampai dia membuat malu.`
Keira berhenti di pesan terakhir.
Tamu Papa.
Di file lain, ada foto Yumi berdiri di ruang tamu mewah, memakai gaun krem yang kebesaran di tubuh kurusnya. Di sampingnya, seorang pria paruh baya tertawa sambil memegang pundaknya terlalu lama. Wajah Yumi kaku. Jari-jarinya meremas ujung gaun sampai kusut.
Keira tidak perlu membaca keterangan panjang untuk mengerti.
Sherly tidak hanya menyakiti Anisa.
Sherly juga memelihara neraka kecil di rumahnya sendiri.
"Dia masih di lokasi itu?" Suara Keira turun.
"Menurut sinyal ponselnya, ya." Aqil meletakkan satu map tipis di meja. "Ada dua orang penjaga. Bukan pengawal profesional. Lebih seperti orang bayaran keluarga."
"Kita ke sana."
Aqil tidak bertanya apakah Keira yakin. Ia hanya menunduk. "Mobil siap dalam lima menit."
Perjalanan ke pinggiran Surabaya memakan waktu hampir empat puluh menit. Rumah itu berdiri di ujung jalan kecil yang sepi, terlindung pagar tinggi berlumut dan pohon mangga tua. Tidak ada papan nama. Dari luar, tempat itu seperti gudang keluarga yang lupa dirawat.
Namun kamera kecil di sudut pagar menyala.
Keira turun dari mobil dengan kemeja putih sederhana dan celana hitam. Tidak ada perhiasan mencolok. Tidak ada rombongan besar yang menarik perhatian. Hanya Aqil dan dua orang dari Sepuluh Bersaudara yang menyebar ke sisi jalan.
Penjaga di pos kecil langsung berdiri ketika melihat mobil hitam berhenti.
"Ada perlu apa?" tanyanya kasar.
Aqil maju setengah langkah. "Kami mencari Yumi Permata."
Wajah penjaga itu berubah cepat. Terlalu cepat.
"Tidak ada orang begitu di sini."
Keira menatap kamera di pagar, lalu kembali ke penjaga. "Kalau begitu, kenapa kalian menerima transfer bulanan atas nama perawatan Yumi Permata?"
Penjaga itu menelan ludah.
Sebelum ia sempat menjawab, dari dalam rumah terdengar suara benda jatuh. Pecah. Lalu suara perempuan menahan tangis.
Mata Keira mengeras.
Aqil sudah bergerak. Ia tidak mendorong penjaga dengan kasar, hanya memegang pergelangan tangan pria itu dan menekannya ke meja pos. Gerakannya cepat, bersih, tanpa membuat keributan berlebihan.
"Pintu," kata Keira.
Penjaga kedua keluar dari dalam dengan wajah panik. Melihat rekannya tertahan, ia langsung mengangkat tangan. Salah satu orang Aqil mengambil kunci dari pinggangnya.
Rumah itu berbau lembap dan obat gosok murah.
Keira melewati ruang depan yang gelap. Sofa tua ditutup kain cokelat. Di meja, ada piring berisi nasi dingin dan telur yang hampir tidak disentuh. Di lantai dekat lorong, pecahan gelas berserakan.
Di ujung lorong, seorang perempuan muda berdiri memunggungi tembok.
Yumi.
Lebih kurus daripada foto.
Lengan kirinya memeluk perut, seolah tubuhnya sendiri adalah satu-satunya benda yang bisa ia lindungi. Ada bekas biru pudar di dekat pergelangan tangan. Bukan luka baru, tetapi cukup jelas untuk membuat dada Keira terasa seperti ditarik ke masa lalu.
Anisa pernah berdiri seperti itu di dapur keluarga Gondokusumo, ketika piring jatuh dari tangannya karena demam dan semua orang hanya menganggapnya ceroboh.
Yumi mengangkat wajah.
Begitu melihat orang asing, ia mundur sampai punggungnya menempel pada dinding.
"Maaf," katanya cepat. "Aku tidak sengaja memecahkan gelas. Aku akan bersihkan. Jangan panggil Ci Sherly."
Kalimat itu keluar terlalu lancar, seperti sudah sering diucapkan.
Keira tidak mendekat.
Ia berhenti tiga langkah dari Yumi, cukup jauh agar perempuan itu bisa bernapas.
"Aku bukan musuhmu."
Yumi berkedip. Matanya bergerak dari wajah Keira ke Aqil yang berdiri di belakang, lalu ke pintu yang terbuka.
"Kalian dari siapa?"
"Dari orang yang ingin memastikan kamu aman."
"Aman?" Yumi tertawa kecil. Bukan tawa lucu, lebih mirip suara yang pecah sebelum menjadi tangis. "Tidak ada yang datang ke sini untuk membuat aku aman."
Keira menahan napas pelan.
Ia tahu rasa itu.
Rasa ketika bantuan terdengar lebih menakutkan daripada ancaman, karena setiap orang yang datang selalu membawa harga yang harus dibayar.
"Namamu Yumi Permata," kata Keira lembut. "Kamu adik tiri Sherly."
Wajah Yumi langsung pucat. "Aku tidak bicara apa-apa. Kalau Ci Sherly tanya, aku tidak bicara apa-apa."
"Aku tidak datang karena Sherly."
"Tapi semua orang datang karena dia."
Keira menatap bekas biru di tangan Yumi. "Apa dia yang melakukan itu?"
Yumi otomatis menarik lengan ke belakang.
Jawaban itu cukup.
Aqil di belakang Keira mengencangkan rahang, tetapi tidak bicara. Keira mengangkat sedikit tangan, memberi tanda agar semua orang tetap diam.
"Yumi," panggil Keira.
Perempuan itu menatapnya dengan takut.
"Aku tidak akan memaksamu cerita sekarang. Aku juga tidak akan menyeretmu keluar kalau kamu belum siap." Keira melepas tas kecil dari bahunya, mengambil sebotol air mineral yang masih tersegel, lalu meletakkannya di meja dekat Yumi. "Minum dulu. Segelnya belum dibuka."
Yumi menatap botol itu lama sekali.
Lalu ia mengambilnya dengan dua tangan.
Jari-jarinya gemetar saat memutar tutup botol. Ia minum sedikit, hanya seteguk, seolah takut air itu juga bisa menjadi kesalahan.
"Kenapa..." Suaranya hampir hilang. "Kenapa kamu menolong aku?"
Keira melihat wajahnya.
Di sana ada Yumi, bukan Anisa. Namun luka yang membuat seseorang mengecilkan diri memiliki bahasa yang sama.
"Karena aku pernah tahu rasanya tidak dipercaya siapa-siapa."
Yumi memegang botol itu lebih erat.
"Kamu... siapa?"
Keira belum menjawab. Dari pintu belakang, penjaga yang tadi panik tiba-tiba berteriak, "Jangan percaya dia! Kalau Bu Sherly tahu, kalian semua habis!"
Yumi tersentak keras. Botol di tangannya hampir jatuh.
Keira menoleh perlahan.
Aqil sudah menahan pria itu sebelum ia melangkah lebih jauh.
"Bu Sherly tidak ada di sini," kata Keira dingin.
Pria itu membeku.
"Dan mulai hari ini, dia tidak boleh menyentuh Yumi tanpa melewati aku."
Yumi menatap Keira seperti mendengar kalimat yang tidak mungkin ada di dunia nyata.
"Tapi..." Bibirnya bergetar. "Ci Sherly bilang, kalau aku kabur, dia akan membuatku menghilang, seperti perempuan bernama Anisa itu."
Udara di lorong sempit itu mendadak diam.
Keira menurunkan pandangan ke tangan Yumi yang gemetar, lalu perlahan mengangkat matanya lagi.
Kali ini, dinginnya tidak lagi disembunyikan.