Ayu Lestari tidak pernah bermimpi menjadi miliarder. Sebagai chef muda di hotel bintang lima Jakarta, hidupnya sudah cukup sibuk — memasak rendang untuk tamu-tamu kaya sambil merindukan kampung halaman di Sumatera Barat yang sudah lama ia tinggalkan.
Tapi takdir punya rencana lain. Undian berhadiah dari sebuah bank nasional menghadiahkannya 50 miliar rupiah. Jumlah yang bisa membeli apartemen mewah, mobil sport, dan kehidupan glamor seumur hidup.
Ayu memilih pulang kampung.
Di Nagari Sungai Tanang, ia merenovasi rumah gadang peninggalan keluarga, membuka Restoran Padang dengan resep warisan ibunya, dan memulai channel TikTok yang tak disangka-sangka viral. Nenek Sari yang gila belanja online dan Datuk Harun yang pendiam menyambutnya dengan tangan terbuka — bersama seekor Golden Retriever, dua anjing lain, dan tujuh ekor kucing.
Lalu datanglah Raka Pratama.
Pria Jawa berkacamata ini memesan homestay Ayu untuk "mencari inspirasi menulis." Kenyataannya? Ia sedang melarikan diri dari keluarga yang berantakan — ayah yang menikah lagi, ibu tiri yang manipulatif, dan luka masa kecil yang tak pernah sembuh. Di NovelMe, ia dikenal sebagai KentangGila, penulis novel romantis dengan jutaan pembaca. Di dunia nyata, ia bahkan tidak berani memesan makanan sendiri.
Ayu yang blak-blakan bertemu Raka yang pemalu. Chef yang jago masak bertemu pria yang bisa membakar air. Pewaris tradisi Minangkabau bertemu anak Jakarta yang tidak tahu cara makan dengan tangan.
Tapi di balik perbedaan mereka, ada kesamaan yang lebih dalam: dua orang yang kehilangan orang tua terlalu cepat, dan sedang belajar bahwa "rumah" bukan soal alamat — tapi soal siapa yang menunggumu di depan pintu.
Antara sawah hijau, aroma rendang, dan pertengkaran soal siapa yang cuci piring malam ini — cinta tumbuh pelan-pelan. Dan kali ini, Ayu tidak perlu undian untuk tahu bahwa ia sudah menang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29
Bab 29
Fajar Datang Makan
Raka memang mendengar.
Ayu mengetahuinya dari cara laki-laki itu keluar dari ruang belajar sepuluh menit kemudian dengan wajah terlalu tenang. Tangannya membawa buku soal, tapi buku itu terbalik. Ia berjalan ke dapur, mengambil air, lalu bertanya dengan suara biasa.
"Besok malam ada tamu, ya?"
Nenek Sari menjawab sebelum Ayu sempat membuka mulut. "Iya. Fajar. Anak kenalan Nenek."
"Oh."
Satu kata.
Tidak lebih.
Ayu menunggu Raka bertanya siapa Fajar, kenapa datang, atau untuk apa. Raka tidak bertanya. Ia hanya mengangguk, lalu kembali ke ruang belajar. Punggungnya tetap tegak. Langkahnya tetap pelan.
Tapi Ayu melihat buku soalnya masih terbalik.
Malam berikutnya, Fajar datang tepat waktu.
Ia datang dengan kemeja batik rapi, membawa buah tangan berupa kue bika dan sekotak jeruk. Usianya sekitar akhir dua puluhan, wajahnya bersih, senyumnya mudah, dan caranya menyalami Nenek Sari menunjukkan ia terbiasa berhadapan dengan orang tua.
"Assalamu'alaikum, Nek. Maaf merepotkan."
"Wa'alaikumussalam. Tidak merepotkan. Masuk, Nak Fajar."
Ayu berdiri di samping meja makan, merasa seperti berada di acara yang tidak sepenuhnya ia setujui tapi telanjur disiapkan. Ia memakai baju kurung sederhana karena Nenek memintanya `rapi sedikit`. Kata sedikit ternyata berarti Nenek menyisir ulang ujung hijabnya tiga kali.
"Ayu," sapa Fajar.
"Fajar," jawab Ayu sopan. "Terima kasih buahnya."
"Saya dengar Ayu suka jeruk."
Ayu berhenti sepersekian detik.
Dari arah ruang tengah, suara halaman buku dibalik terdengar terlalu keras.
Raka duduk di meja pojok dengan laptop dan buku CPNS, posisi yang cukup jauh untuk disebut tidak ikut campur, tapi cukup dekat untuk mendengar semuanya.
Jeruk.
Raka menatap buku di depannya, tapi deret angka yang sedang ia kerjakan mendadak kehilangan bentuk. Ia ingat kotak jeruk yang ia bawa dari Jakarta, cara Ayu pura-pura biasa saat menerimanya, dan bagaimana ia merasa bodoh karena senang hanya karena Ayu tidak menolak hadiah kecil itu.
Ternyata Fajar juga tahu.
Bahkan mungkin lebih dulu tahu.
Raka memaksa dirinya menulis angka berikutnya. Salah. Ia menghapusnya terlalu keras sampai kertasnya hampir robek.
Nenek Sari tentu sengaja menaruh meja belajarnya di sana sejak sore.
Saat Ayu tadi bertanya kenapa meja belajar Raka tidak dipindah ke ruang timur, Nenek hanya menjawab, "Biar dia belajar fokus." Jawaban itu sekarang jelas bukan tentang CPNS. Nenek sedang membuka dua pintu sekaligus dan menunggu siapa yang berani melangkah.
Ayu baru menyadarinya terlalu terlambat.
Dan terlalu dekat.
Makan malam dimulai dengan suasana yang terlalu rapi.
Nenek banyak bertanya kepada Fajar. Kerja di mana? Keluarga di Bukittinggi sehat? Masih sering ikut kegiatan nagari? Fajar menjawab semua dengan lancar. Ia bekerja di sebuah kantor pembiayaan di Bukittinggi, membantu usaha keluarga kecil, dan masih sering pulang ke kampung orang tuanya. Ia juga memuji restoran Ayu dengan cara yang sopan.
"Saya sering lihat video restoran ini lewat di Instagram. Tapi ternyata aslinya lebih bagus."
"Terima kasih," kata Ayu.
"Ayu memang hebat sejak kecil," kata Nenek.
"Nek," Ayu memperingatkan.
Fajar tersenyum. "Saya ingat dulu Ayu juara lomba masak waktu SMP."
Ayu terkejut. "Kamu ingat?"
"Ingat. Saya ikut lomba pidato waktu itu. Kalah."
"Aku juga hampir lupa."
"Saya tidak." Fajar menatapnya sedikit lebih lama. "Ada beberapa hal yang susah dilupakan."
Sendok Raka menyentuh piring.
Suara kecil.
Tapi Ayu mendengarnya.
Raka tidak punya kenangan masa kecil dengan Ayu. Ia tidak tahu Ayu SMP seperti apa, tidak tahu suara tawanya sebelum kehilangan orang tua, tidak tahu lomba apa saja yang pernah ia ikuti. Semua yang ia punya dimulai dari video TikTok, kamar nomor tiga, rendang, dan jadwal di kulkas.
Biasanya itu terasa cukup.
Malam itu, untuk pertama kalinya, terasa terlambat.
Ia menoleh otomatis. Raka menunduk ke buku soal, ekspresinya tenang. Terlalu tenang. Di depannya, sepiring makan malam yang tadi Nenek paksa ambil masih hampir utuh.
Ayu mendadak sulit menelan.
Setelah makan, Fajar membantu membawa piring ke dapur. Raka berdiri bersamaan.
"Saya bantu cuci," katanya.
Fajar tersenyum. "Saya juga bisa bantu."
"Tamu tidak perlu," jawab Raka.
Kata itu keluar sopan.
Tapi di telinga Ayu, ada batas yang tiba-tiba digambar.
Fajar tetap tersenyum. "Saya juga tamu, kan?"
Raka memandangnya sebentar, lalu mengangguk. "Silakan."
Dapur belakang yang biasanya terasa luas mendadak sempit. Ayu berdiri di tengah, memegang dua piring. Raka di sisi wastafel. Fajar di dekat meja bilas. Nenek Sari lewat sekali, melihat formasi itu, lalu pergi dengan wajah yang sulit dibaca.
"Kak Raka sudah lama tinggal di sini?" tanya Fajar.
"Lumayan."
"Untuk kerja?"
"Menulis dan belajar CPNS."
"Oh, CPNS." Fajar mengangguk. "Bagus. Kalau lolos, penempatannya di mana?"
"Saya memilih Pengadilan Negeri Bukittinggi."
"Dekat. Enak kalau bisa tetap di sini."
Raka mengangkat piring, membilasnya lebih lama dari perlu. "Iya."
Ayu buru-buru mengambil piring dari tangannya. "Sudah bersih, Kak."
Jari mereka hampir bersentuhan. Raka menarik tangannya lebih cepat.
Fajar melihat. Tidak berkomentar.
Malam itu, setelah piring selesai, mereka kembali ke teras. Fajar berbicara dengan Nenek dan Datuk, lalu bercerita tentang beberapa tempat makan baru di Bukittinggi. Ia mudah bicara. Tidak sekeras Bayu, tidak seformal Raka. Ia jenis orang yang bisa disukai keluarga karena tahu kapan tertawa dan kapan mendengar.
Itu yang membuat Ayu semakin tidak nyaman.
Fajar bukan orang buruk.
Justru karena itu, situasinya terasa lebih sulit.
Menjelang pulang, Fajar berdiri di halaman bersama Ayu. Raka berada di teras, pura-pura mengecek ponsel. Nenek Sari mengantar sampai pintu dengan senyum puas.
"Terima kasih makan malamnya," kata Fajar.
"Sama-sama. Hati-hati di jalan."
"Kalau Ayu ada waktu, kapan-kapan saya bisa ajak ke Bukittinggi. Ada kedai kopi baru, tempatnya tenang. Mungkin cocok untuk ngobrol."
Ayu terdiam.
Di teras, layar ponsel Raka padam karena tidak disentuh.
Fajar tersenyum, tidak memaksa. "Pikirkan saja. Saya pamit dulu."
Ia menyalami Nenek dan Datuk, lalu pergi.
Suara motornya menjauh pelan di jalan.
Ayu masih berdiri di halaman ketika Raka turun dari teras untuk mengambil gelas yang tertinggal. Wajahnya tetap tenang.
Terlalu tenang.
"Kak Raka," panggil Ayu.
Ia berhenti. "Iya?"
Ayu ingin bertanya apakah ia mendengar ajakan Fajar. Ingin menjelaskan bahwa ia belum menjawab. Ingin mengatakan bahwa makan malam tadi bukan idenya.
Tapi semua kalimat terasa terlalu jelas.
"Belajar malam ini masih lanjut?"
Raka tersenyum kecil, sopan seperti tamu.
"Iya. Masih."
Lalu ia masuk ke rumah, membawa gelas kosong, sementara Ayu berdiri di halaman dengan rasa tidak enak yang sulit diberi nama.