NovelToon NovelToon
Tersandung Cinta, Sang CEO Posesif Terlalu Mencintainya

Tersandung Cinta, Sang CEO Posesif Terlalu Mencintainya

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Siti Kembang

Seraphina Lim kembali ke Jakarta dengan label yang memalukan — anak haram keluarga konglomerat Lim.

Dibuang sejak kecil, dibesarkan oleh keluarga lain, dan kini dipanggil pulang hanya untuk dijadikan bidak politik. Saudari tirinya yang menggantikan posisinya selama 20 tahun menganggapnya sampah. Ayah kandungnya ingin menjodohkannya dengan putra keluarga paling korup di Jakarta.

Tapi Seraphina bukan gadis lemah yang bisa diinjak.

Di malam pertamanya di Jakarta, takdir mempertemukannya kembali dengan Reynard Hartono — pewaris tunggal Hartono Group, pria paling berkuasa dan paling berbahaya di kota ini. Dingin, posesif, dan tak pernah tersentuh oleh wanita manapun...

...kecuali dia.

"Kau adalah hartaku yang paling berharga."

Reynard sudah menunggunya selama empat tahun. Dan kali ini, dia tidak akan melepaskannya — tidak peduli berapa banyak musuh yang harus dihancurkan.

Identitas palsu. Cinta obsesif. Balas dendam yang manis.

Ketika rahasia terbesar keluarga Lim terbongkar, seluruh Jakarta akan tahu — gadis yang mereka injak-injak selama ini, justru adalah pewaris sejati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Kembang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 21

Bab 021

Tekanan Pertama

"Tapi mulai sekarang, siapapun yang membuatmu menangis, akan berurusan denganku."

Seraphina menyimpan kalimat itu di tempat yang tidak bisa disentuh siapa pun.

Malam itu, ia tidak pulang ke Lim, tentu saja. Ia juga tidak langsung pulang ke apartemen. Reynard membawanya berkeliling sebentar di jalanan Jakarta yang basah, membiarkan lampu kota bergerak di kaca sampai napasnya benar-benar stabil. Setelah itu ia mengantarnya ke SCBD, menunggu di depan pintu sampai Seraphina masuk, lalu baru pergi.

Pagi berikutnya, dunia tidak menjadi lebih lembut.

Pukul sembilan lewat lima, staf operasional Astoria masuk ke ruang kerja Seraphina dengan wajah yang kehilangan warna.

"Bu Sera, vendor sensor menarik diri."

Seraphina mengangkat kepala dari laptop. "Vendor mana?"

"NusaTek. Yang untuk modul kamera lalu lintas."

NusaTek adalah vendor utama untuk proyek pilot DKI. Bukan satu-satunya, tetapi cukup penting untuk membuat jadwal kacau jika mereka mundur. Kontrak belum final, tetapi penawaran mereka sudah masuk ke perhitungan biaya dan timeline.

"Alasannya?"

Staf itu menyerahkan email yang baru dicetak. "Katanya kapasitas produksi penuh."

Seraphina membaca dua baris pertama, lalu meletakkan kertas itu di meja. "Bohong."

"Saya juga merasa begitu, Bu. Kemarin mereka masih minta jadwal teknis."

Belum sempat Seraphina menjawab, programmer muda mengetuk pintu yang terbuka. "Bu, ada masalah lain. Akun demo kita di server cloud kena pembatasan transaksi. Billing aman, tapi akses GPU tambahan ditahan."

Seraphina berdiri.

Satu vendor mundur bisa disebut kebetulan.

Dua gangguan dalam satu pagi bukan kebetulan.

Di ruang meeting, tim Astoria berkumpul sepuluh menit kemudian. Layar besar menampilkan timeline proyek pilot: demo integrasi pertama untuk Dinas Perhubungan tinggal enam hari lagi. Modul kamera, server komputasi, dan data simulasi harus berjalan bersama dalam empat puluh delapan jam kalau mereka ingin punya waktu testing.

"Ada yang menghubungi vendor cadangan?" tanya Seraphina.

"Dua belum membalas, satu bilang stok kosong," jawab staf operasional.

"Cloud provider?"

"Customer service standar. Mereka bilang review compliance."

Programmer muda mengangkat tangan. "Bu, ini pasti tekanan dari luar, kan?"

Ruangan sunyi.

Seraphina menatap wajah timnya satu per satu. Mereka masih muda, beberapa bahkan baru pertama kali menangani proyek pemerintah. Semalam ia menangis di mobil Reynard karena lelah menjadi kuat. Pagi ini, orang-orang ini menatapnya untuk tahu apakah mereka boleh takut.

"Ya," jawabnya. "Kemungkinan besar."

Beberapa wajah berubah lebih pucat.

"Tapi tekanan dari luar tidak otomatis membuat kita kalah," lanjut Seraphina. "Kita pecah masalahnya. Sensor, komputasi, komunikasi ke klien. Jangan campur semua jadi panik."

Ia menunjuk layar.

"Tim satu, cari vendor cadangan di luar Jakarta. Surabaya, Bandung, Batam. Jangan hanya yang biasa muncul di tender pemerintah. Tim dua, pindahkan sebagian workload ke server lokal kita. Tidak ideal, tapi cukup untuk demo. Tim tiga, siapkan laporan risiko ke Dinas. Kita beri tahu ada gangguan vendor tanpa menyebut spekulasi."

Staf operasional menatapnya. "Bu, kalau ini dari Wijaya..."

"Kita tidak menulis nama tanpa bukti."

"Tapi kita tahu."

"Tahu bukan bukti. Dan bukti bukan alasan untuk berhenti kerja."

Ponsel Seraphina bergetar di meja.

Pesan dari Reynard.

Stanley baru mendengar NusaTek mundur. Kau mau aku masuk?

Seraphina membaca pesan itu, lalu menatap timeline di layar.

Bagian paling mudah adalah mengatakan ya. Reynard bisa menelepon satu orang dan membuat vendor berbaris kembali di depan Astoria sebelum makan siang. Ia punya kuasa seperti itu. Justru karena itu, Seraphina harus berhati-hati.

Ia membalas:

Belum. Ini proyek Astoria. Aku tangani dulu.

Balasan Reynard datang setelah beberapa detik.

Aku di sini kalau kau butuh.

Tidak ada protes. Tidak ada tekanan.

Seraphina menatap kalimat itu sebentar, lalu memasukkan ponsel ke saku. "Kita mulai."

Siang itu, kantor Astoria berubah menjadi ruang perang. Kardus perangkat dibuka, kabel menjalar di lantai, papan tulis penuh daftar vendor, nomor telepon, dan risiko teknis. Michelle mengirim kontak konsultan pengadaan yang ia percaya. Jessica mengirim tangkapan layar rumor di akun bisnis anonim yang mulai menyebut Astoria menang karena kedekatan dengan Hartono. Natasha mengirim satu pesan suara penuh kata-kata yang tidak layak diputar di speaker kantor.

Seraphina hanya membalas:

Terima kasih. Aku pakai yang bisa dipakai, sisanya jangan bakar internet dulu.

Pukul dua siang, resepsionis gedung menelepon. Ada kiriman makanan untuk seluruh kantor Astoria.

Staf operasional menatap Seraphina dengan hati-hati. "Bu, dari Hartono Group."

Seraphina mengambil nota yang diselipkan di atas kotak makan. Tulisannya rapi dan singkat.

Untuk tim. Bukan intervensi.

Di bawahnya ada nama Reynard.

Ruangan mendadak terlalu sunyi.

Programmer muda berbisik, "Bu, ini termasuk bantuan yang boleh diterima?"

Seraphina menatap dua puluh kotak nasi ayam, sup hangat, buah potong, dan kopi yang jumlahnya tepat untuk seluruh tim, termasuk petugas kebersihan yang sering membantu mereka lembur.

Ia menghela napas. "Ini bukan keputusan teknis. Ini makan siang."

Sorak kecil langsung terdengar.

Seraphina membuka ponsel dan mengirim satu pesan kepada Reynard.

Terima kasih. Batasmu aman.

Balasannya datang ketika ia baru membuka kotak makan.

Aku sedang belajar.

Seraphina menatap kalimat itu sebentar, lalu kembali ke papan tulis. Untuk pertama kalinya sejak pagi, tekanan di ruang kerja tidak terasa seperti dinding, melainkan seperti beban yang bisa dipikul ramai-ramai.

Menjelang sore, gangguan ketiga datang.

Staf operasional menerima telepon dari salah satu pejabat teknis Dinas. Suaranya sopan, tetapi pesannya jelas: karena ada "isu kemampuan vendor", mereka meminta Astoria mengirim update kesiapan dalam tujuh puluh dua jam.

Tujuh puluh dua jam.

Setelah telepon ditutup, ruangan kembali sunyi.

Programmer muda berbisik, "Bu, kalau kita gagal kirim update..."

"Pilot bisa ditunda," jawab Seraphina.

"Atau dicabut?"

Seraphina tidak berbohong. "Kemungkinan itu ada."

Kali ini, bahkan ia merasakan tekanan itu masuk ke tulang.

Namun di bawah tekanan, ada kemarahan yang jauh lebih bersih.

Kevin dan Wijaya boleh mengira perusahaan kecil akan runtuh jika satu vendor ditarik. Hendrawan boleh mengira proyek ini harus diselamatkan lewat aliansi keluarga. Orang-orang boleh menunggu Astoria gagal agar narasi mereka tentang perempuan yang naik karena laki-laki terasa benar.

Seraphina mengambil spidol hitam, menulis besar di papan:

72 JAM.

Lalu di bawahnya:

KITA KIRIM DEMO.

Ia berbalik kepada tim.

"Mulai sekarang, semua orang tidur bergiliran. Kalau ada yang panik, panik lima menit, lalu kembali kerja. Mereka ingin kita terlihat kecil. Jadi kita tunjukkan ukuran sebenarnya."

Tidak ada yang bersorak kali ini. Semua orang langsung membuka laptop, dan suara keyboard memenuhi ruangan seperti jawaban.

Malam panjang benar-benar baru saja dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!