Bunga Qisyal wanita cantik, diusianya yang masih muda 22 tahun sudah menjadi CEO ternama di perusahaan papanya.
Mencintai teman kecilnya yang bernama Jasson Anggara Utama, keduanya begitu dekat. Suatu hari, keluarga Jasson mengalami kebangkrutan.
Bunga ingin menolongnya dengan catatan Jasson harus menikah dengannya. Tentu saja pria itu menolak dan marah besar namun keluarga Jasson memaksanya hingga membuat Jasson tidak memiliki pilihan.
Kejadian itu membuat Jasson membenci Bunga, karena Jasson sudah memiliki kekasih hati pilihannya dan berencana akan menikah.
Jasson menganggap jika Bunga adalah wanita egois yang hanya bisa mengandalkan kekuasaannya untuk mendapatkan sesuatu yang ia inginkan. Rasa sayangnya kepada Bunga sebagai teman berubah menjadi sebuah kebencian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sangrainily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lihat Aku, Jasson! Bab 35
"Bunga di kantor, ia mengambil ahli perusahaan!"
Mendengar itu membuat Laras kaget bukan main, "Bunga kembali mengendalikan perusahaan? Untuk apa mbak? Bukan kah sudah Jasson yang memegang perusahaan?"
Salvira menatap jengah besannya "Memangnya kenapa jika anak saya mengurus perusahaan itu? Itu milik almarhum papanya, Bunga berhak atas perusahaan itu!"
"Bukan begitu maksud saya mbak, bukan kah Bunga sudah memutuskan sendiri untuk menjadi ibu rumah tangga? Mengapa sekarang ia merubah pikirannya?"
"Bahkan saya senang jika anak saya mengambil keputusan yang tepat! Apa mbak merasa keberatan?"
"Tidak kok, saya senang namun saya bingung. Jika Bunga fokus dengan urusan kantor, bagaimana ia bisa segera hamil?"
"Saya, sebagai ibu kandung dari Bunga tidak pernah memaksa anak saya untuk memiliki anak walau saya sangat ingin memiliki cucu. Namun kebahagiaan dan kenyamanan anak saya itu nomer satu!"
Laras hanya tersenyum, namun pikirannya menjadi kacau. Ia memikirkan bagaimana nasib anaknya di kantor.
"Sepertinya mbak sangat keberatan dengan anak saya kembali ke kantor?"
"Saya lupa jika saya ada keperluan lain, saya pergi dulu ya mbak? Bye!" Laras berpamitan kepada besannya. Ia pun ingin ke kantor menemui anak dan menantunya.
Salvira hanya mengangguk, setelah kepergian besannya, Salvira memutuskan untuk pergi berziarah ke makan almarhum suaminya.
"Mengapa ada mertua yang begitu egois seperti besannya itu? Salvira sedih jika anaknya tertekan karena memiliki mertua seperti Laras."
Laras ke kantor, ia tidak mencari Jasson. Wanita paru baya ini justru mencari menantunya.
Terlihat Bunga yang baru keluar dari ruangan seseorang "Bunga!" Laras memanggil menantunya, Bunga yang melihat kedatangan mertuanya langsung menghampiri "Mama tidak mengerti dengan jalan pikiran kamu, seharusnya sebagai istri dan juga menantu kamu memahami batasan-batasan kamu! Jangan karena kamu yang memiliki harta kekayaan ini, kamu bisa seenaknya!"
Semua karyawan melihat bahkan ada yang saling berbisik. Laras sudah membuat keributan juga mempermalukan menantunya. Jasson bahkan tidak membela istrinya, ia tersenyum puas. Kini, rasa sakitnya terbalaskan! Kemarin, Bunga sudah mempermalukannya dan sekarang, Bunga yang di permalukan.
Ara dan Gerry menghampiri mereka "Tante enggak berhak memperlakukan menantu Tante begini!"
"Diam kamu! Kamu hanya orang luar yang menumpang di rumah anakku!"
Ara tertawa, bagaimana bisa Laras menjadi orang yang tidak tahu malu seperti itu? Awalnya Ara tidak mau mempermalukan Laras, namun perbuatan Laras sudah keterlaluan!
"Menumpang? Bukan kah Tante dan snak Tante yang menumpang hidup dengan keluarga Bunga? Tante lupa? Bahkan pakaian dan tas yang branded Tante gunakan sekarang itu uang Bunga! Sekarang, Tante mempermalukan orang yang sudah menghidupi kebutuhan keluarga Tante?"
Laras terdiam, Jasson marah kepada Ara karena ibunya telah di hina seperti itu.
"Hentikan Ara! Kau hanya orang luar, berani sekali kau mencampuri urusan keluarga kami!"
"Benarkah Jasson? Apakah kau dan mamamu akan tetap banyak bicara. Saat mami aku datang kan kesini? Jika begitu, aku akan menghubungi mami. Agar ia tahu bagaimana anak kesayangannya di permalukan seperti ini!"
Jasson terlihat takut, ia meminta kepada Ara untuk tenang. "Sebaiknya kita selesaikan masalah keluarga ini di ruanganku saja!" Ujar Jasson.
Namun Ara menolak "Untuk apa di ruangan mu yang begitu sempit? Lebih baik langsung di ruangan CEO kita!"
Lagi dan lagi, Jasson di rendahkan. Karyawan bahkan menertawakannya. Mengapa kan jika Jasson hanya lelaki yang menumpang hidup dengan istrinya.
Seperti yang Jasson lakukan sebelumnya, Bunga tidak membela suaminya. Ia diam dan membiarkan suami dan ibu mertuanya di permalukan.
"Bagaimana ada ibu mertua yang tidak tahu malu seperti itu? Bahkan kebutuhannya menantunya yang menanggung,"
"Benar sekali, dan tuan Jasson. Hanya lah suami yang bisa menumpang hidup dengan istrinya."
"Dasar manusia tidak tahu malu, masih mending nona Bunga mau menafkahi mereka."
"Kau benar, lihat lah gaya ibu mertuanya Nona Bunga. Seperti anaknya saya yang memiliki perusahaan ini!"
Begitu banyak omongan demi omongan yang merendahkan Jasson dan Ibunya Jasson.
Bunga berjalan dengan santai menuju ruangan, bahkan ia duduk dengan santai "Kau lihat! Mereka sedang mempermalukan mama ku, ibu mertuamu. Namun kau hanya diam? Kau pemimpin di sini, namun mengapa kau menikmati hal yang memalukan ini?"
Jasson protes, Bunga tidak menjawab. Bukannya ia ingin menjadi menantu yang kurang ajar, namun ibu mertuanya yang terlebih dahulu mempermalukan dirinya di depan banyak karyawan.
"Hentikan semua drama mu Jasson, sebagai anak dan sebagai suami seharusnya kau bisa menjadi penengah untuk mereka! Tapi nyatanya apa? Kau justru menikmati istrimu dipermalukan di depan umum seperti itu! Kau tidak punya perasaan!"
Ara kini membela sahabatnya, Bunga masih bungkam. Ia tidak ingin perkataannya akan menyakiti hati ibu mertuanya.
"Dan Tante, sebagaimana orang tua yang baik seharusnya Tante bisa menjaga sikap. Selama ini Bunga sangat menyayangi dan menghormati Tante!"
Laras terdiam, ia memandang menantunya yang bahkan memalingkan wajahnya dari Laras.
"Bunga, mama sangat kecewa dengan kamu! Mama mengira kamu wanita yang baik dan penuh kasih sayang. Namun hari ini, kamu menunjukkan sikap sombong dengan kekuasaan mu! Kau membiarkan mama malu, seperti wajah mama di lempar kotoran oleh orang asing. Namun kamu seakan menikmati itu semua!"
Bunga menatap ibu mertuanya "Ma, bukan Bunga yang meminta ini. Bunga juga tidak menginginkan ini semua, namun mama yang sudah mempermalukan Bunga. Apa mama tidak memikirkan perasaan Bunga? Mama tidak memikirkan bagaimana sakitnya Bunga di permalukan oleh mertua yang Bunga sayang dan Bunga hormati? Bahkan, suami Bunga juga tidak membela Bunga. Jadi tidak salah, jika sahabat Bunga membela dan jadi perisai pelindung Bunga!"
"Sudah lah, mama sudah kecewa dengan kamu! Kamu menantu yang sangat buruk! Mama salah menilai dirimu selama ini!"
Hati siapa yang tidak hancur mendengar kebencian dari mertuanya sendiri? Namun Bunga sudah tidak mau lagi mengemis atau memohon maaf.
Menurutnya, kali ini mertuanya sudah keterlaluan. Bunga bisa menerima jika mertuanya mengatakan maksudnya baik-baik tidak perlu membuat keributan bahkan didepan para karyawan.
Bunga sudah menutupi segala keburukan suami dan ibu mertuanya di hadapan semua orang termaksud maminya sendiri. Namun keduanya yang membuka perilaku mereka dihadapan semua orang.
Jasson memohon kepada istrinya, ia meminta maaf atas kelakuan ibunya. Namun Bunga hanya diam, "Sayang, jangan sampai mami tahu. Kamu tahu kan gimana cinta dan sayangnya aku sama kamu? Jika mami tahu, kasihan mama. Dan papa yang tidak tahu apa-apa. Kondisi papa sedang tidak baik-baik aja."
"Jika kau tahu itu, mengapa kau dan ibumu tidak berfikir sebelumya? Jika Bunga menutupi semua ini dari maminya. Percuma! Seluruh karyawan memiliki mata, dan juga mulut. Berita ini akan sampai di telinga mami Salvira."