Ada satu hal yang tidak diketahui para wartawan infotainment dari sang selebriti Elang Samudra Ginting bahwa Samudra sudah menikah. Tapi siapa sangka, sebagai salah satu pria paling digilai di penjuru tanah air, Samudra mendapatkan surat cerai dari sang istri. karena mereka telah hidup terpisah selama tiga tahun.
Sejak menjauh dari sang suami, hidup Lembar Putih Ayunda berubah sepenuhnya. Ia mendapatkan pekerjaan baru, teman-teman baru, dan kehidupan baru. Namun ketika Samudra menemuinya untuk menyelesaikan perceraian mereka, ada sesuatu yang ternyata tak pernah berubah dari Samudra, Samudra tetap menjadi satu-satunya pria yang bisa mengisi hidupnya.
Kesepakatan baru pun dibuat, mereka akan tetap bersama selama sekejap sampai urusan itu selesai, sebelum menyadari bahwa hasrat mereka sungguh tak bisa terbendung.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter - 30 SELESAI.
Alis Samudra ikut turun saat ia menyusuri cincin indah itu dengan ujung jarinya. “Maafkan aku. Atas kegilaan yang baru saja terjadi. Atas kegilaan selama beberapa minggu terakhir ini. Astaga, atas kegilaan selama tiga tahun terakhir ini.”
Ayunda menempelkan tangan di dada Samudra, berhenti tepat di atas jantungnya, yang diciptakan hanya untuk Ayunda. “Apakah kau baik-baik saja?”
Samudra menggeleng, dan tertawa singkat saat menatap mata coklat yang menatapnya. Melihat kekhawatiran. Kebingungan. “Apakah aku terlihat baik-baik saja?”
Tawa Ayunda yang tenang menjawab pertanyaannya. “Tidak.”
Samudra menatap ke bawah, baru menyadari kalau ia telah mendorong Ayunda ke meja kerjanya. Surat cerai telah berserakan di bawah kaki mereka dan bahkan sekarang kakinya telah menempel di kaki Ayunda.
Samudra melangkah mundur, sejenak menyentuh tangan Ayunda. "Kurasa aku sudah tidak merasa baik-baik saja sejak aku membiarkanmu pergi. Hari ketika aku kehilangan sebagian dari diriku, padahal aku tahu cara memperjuangkannya. Namun aku begitu dibutakan oleh rasa takut untuk mengecewakanmu, dan mengecewakan kita lagi, aku bahkan tidak berani mencoba."
"Kau tidak pernah mengecewakanku." Tangan Ayunda mengelus kemeja Samudra, membuatnya tersenyum.
“Apakah kau masih istriku, Ayunda?” ucap Samudra, kata-kata itu seolah menggarut tenggorokannya. "Apakah kau akan tinggal di rumahku, berbagi hidup denganku? Apakah kita akan memiliki anak-anak yang entah dari rahimu atau kita adopsi, serta tawa dan cinta seperti yang kujanjikan?”
Wajah Ayunda kini memucat, namun Ayunda tidak berpaling. "Akulah yang pergi meninggalkanmu, semua ini bukan salahmu."
Suara Samudra mengeras karena rasa bersalah dan rasa malu melingkupinya. "Aku yang salah, tiga tahun kau menungguku untuk menjemputmu. Tapi aku terlalu pengecut untuk melakukannya, dan terlalu egois karena membiarkanmu pergi begitu saja."
Ayunda memejamkan mata, menggeleng. “Tidak.”
“Kau bisa saja mengajukan surat gugatan perceraian tiga tahun lalu, Ayunda. Mengembalikan cincin ini kepadaku. Tapi kau selama ini menahannya. Karena aku telah berjanji kepadamu dan meskipun aku mengecewakanmu, bagaimanapun juga, kau masih memercayai janjiku.”
Kini Ayunda gemetar, bibirnya terbuka dan embusan lembut napasnya menyapu buku jemari yang memegang tangan Ayunda. Samudra ingin menciumnya, tenggelam dalam mulut Ayunda dan mengatakan kepada dirinya sendiri bahwa Ayunda miliknya.
"Ketika kau pergi, aku mencari-cari pembenaran. Aku berkata kepada diriku sendiri bahwa kau terlalu rapuh untuk kuajak berjuang. Bahwa jika aku memaksamu untuk tinggal, kau akan hancur menghadapi tekanan. Tapi kau tidak rapuh lagi dan aku berhenti mencari-cari pembenaran. Kau wanita yang sangat kuat."
Otot bergerak naik turun di tenggorokan Ayunda. Sekali, dua kali, sebelum Ayunda bisa menemukan kata-kata untuk bertanya. "Apa maksudmu?"
"Aku mencintaimu, Ayunda. Dan aku akan berjuang untukmu."
Jantung Samudra berdegup dengan kencang, saat ia menatap Ayunda tengah mencerna kata-katanya dan dengan perlahan melepaskan diri dari genggamannya. Ayunda terlihat bingung, berlutut dan mulai mengumpulkan berkas-berkas yang mengotori lantai di bawah kaki mereka.
Samudra merunduk di sampingnya, meraih tangan yang masih menggenggam berkas-berkas itu. Rasa panik naik karena respons diam Ayunda, Samudra mencoba menatap matanya, tapi Ayunda kembali mengerjapkan air mata hingga Samudra mengatakan apa yang ia ingin Ayunda dengar.
“Aku tahu aku tidak layak untuk mendapatkan satu kesempatan lagi, tapi aku menginginkannya. Karena aku tahu aku bisa membuatmu bahagia, aku akan menghabiskan sisa hidupku untuk membuktikannya kepadamu.” Samudra menelan ludah, membuang jauh harga dirinya, karena kali ini gilirannya untuk menelanjangi diri dan berani mengambil risiko. Berani mengambil risiko, karena Ayunda adalah imbalan yang bisa ia minta. "Bisa saja nanti pengadilan akan mengabulkan gugatan perceraianmu, tapi aku tetap di sini, aku tidak akan menyerah. Aku akan berjuang untukmu sampai aku memenangkanmu kembali. Aku tidak akan berhenti."
Ayunda menaruh jemarinya di atas dokumen yang ada di kakinya. "Kau akan menerima putusan sidang itu termasuk soal pembagian harta?"
Samudra mengangguk "Ya." Lalu ia mulai memunguti lembaran-lembaran itu. Ia akan melakukan apa pun untuk membuat Ayunda bahagia.
“Kalau begitu aku akan meminta cukup banyak.”
Samudra menatap dokumen di tangannya dan ada sedikit tinta biru yang mengotori setiap lembarannya. Ayunda telah mengubah kesepakatan itu dan meminta…
"Helikopter dan pilot," Samudra terbatuk, terkejut tapi tetap ingin mengabulkan permintaan itu sampai ia memperhatikan penjelasan selanjutnya. "Siap terbang kemana pun kamu mau, aku yang akan mengantarmu"
Ayunda berdiri. "Masih ada lagi."
"Apa?" tanya Samudra
Alisnya berkerut saat Ayunda berhenti di samping sofa. “Kalau begitu teruslah baca.”
Paragraf berikutnya tercantum amandemen lain. “Kantor di Jakarta?” tulisan Ayunda semakin menjadi-jadi dalam setiap catatan yang tertulis rapi. "Kapal pesiar, rumah pantai, tukang pijat… dan, tentu saja, satu untuk Nindyra juga. Dan ini baru halaman dua." Samudra berdiri, lalu mendekat dengan cepat. "Kau ternyata serakah."
"Aku ingin dimanjakan, dengan semua yang kau miliki."
Napas berpacu dari paru-paru Samudra saat ia meraih pinggang Ayunda dengan satu tangan dan menariknya, merasakan degup jantungnya. "Aku akan memanjakanmu selama sisa hidupku, Sayang. Tapi jelaskan dulu soal ini."
Samudra ingin mendengar penjelasannya, ia ingin memahami tanpa ragu bahwa mereka memiliki tujuan yang sama.
Rona merah muda lembut muncul di pipi Ayunda, dengan ragu ia membuang muka. "Kau harus mengabulkan semua permintaanku yang tertulis di situ, maka kita akan terus menjadi sepasang kekasih."
"Ayunda…" Nama itu keluar bagai kerikil tajam dari tenggorokan yang tersedak emosi. Samudra meraih dagu Ayunda dengan lekuk jarinya, menarik mata coklat yang indah itu mendekat kepadanya.
Ayunda sekali lagi mendapati dirinya mengerjap menahan tangis, tapi air mata ini lahir dari kebahagiaan, bukan kesedihan karena Samudra mencintainya, menginginkannya, dan telah kembali untuk memperjuangkan dirinya. "Semua yang ku punya adalah milikmu, dan aku sudah tidak peduli dengan popularitasku. Secepatnya aku akan mengumumkan jika kita adalah suami istri agar tidak ada lagi yang mengganggu kita, tapi sekarang kau harus… telanj*ng.”
“Telanj*ng?”
Senyum yang merekah di wajah Samudra melelehkan lutut Ayunda dan membuatnya bergelayut di dada dan bahu kokoh yang menopangnya.
"Ya. Kamu setuju?"
"Ya." Ayunda menyadari kalau ia lebih suka mempertaruhkan hatinya ketimbang melepaskan pria yang dicintainya selamanya.
Senyum riang itu beralih, mereda, saat mereka saling berpandangan. Samudra menyapu sehelai rambut ke belakang telinga Ayunda, sambil memeluk Ayunda semakin erat, Samudra melangkah mendekati sofa dan menariknya ke dalam pangkuan. Menempelkan kening mereka dan menggenggam tangannya. "Jadilah miliku selamanya…”
Mata Ayunda terpejam mendengar kata-kata yang begitu kuat itu, suara itu hampir-hampir tidak bisa ditanggungnya.
"Janji setia kita" Samudra menarik tangan Ayunda ke bibir, mencium setiap ujung jarinya, setiap buku jarinya. "Cincin pernikahan?"
Mata Ayunda terbuka saat Samudra mengacungkan cincin emas yang ramping itu di depannya.
“Samudra.” Namanya pecah dari bibir dengan isakan pelan yang mewakili rasa lega, harapan, kegembiraan, penyerahan diri, dan cinta, semua menjadi satu. Dan ada begitu banyak rasa cinta.
“Aku ingin kau memakai ini, Ayunda."
Tangan Ayunda telah merangkum wajah Samudra, kata-kata Ayunda mengalir dari bibir di antara setiap kecupan. "Aku mencintaimu… aku mencintaimu… aku mencintaimu… Selamanya. Selalu."
Samudra terharu, rona gelap menyala di matanya. "Pernah kehilanganmu rasanya hampir membunuhku, Ayunda. Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi lagi. Aku tidak bisa menjanjikanmu kisah seperti di negeri dongeng. Tapi aku bisa menjanjikan bahwa apa pun yang menghalangi jalan kita, aku akan selalu berada di sisimu untuk melewatinya."
Samudra memakaikan cincin itu di jari manis tangan kiri Ayunda, dan mengucapkan kembali kata-kata itu. Sumpah setia yang baru. "Selalu. Selama-lamanya. Aku mencintaimu."
Ayunda mengambil handphonenya,menghubungi pengacaranya dan memintanya untuk membatalkan perceraian mereka, kemudian ia menikmati malam panjang yang indah bersama Samudra.
'Relationship can be successful, there needs to be loving communication, appreciation, and understanding.'
...[Selesai]...
Semakin sukses dalam berkarya
Mungkin kehilangan Galen adalah cara membuatmu menjadi dewasa