Selina Saraswati, dokter muda baru lulus, tiba-tiba dijodohkan dengan Raden Adipati Wijaya — pria tampan yang terkenal sebagai pengangguran abadi dan kerap ditolak banyak perempuan.
Semua orang bertanya-tanya mengapa Selina harus dijodohkan dengannya. Namun kejutan terbesar terjadi saat akad: Raden Adipati menyerahkan mahar lima miliar rupiah.
Dari mana pria pengangguran itu mendapatkan uang sebanyak itu?
Siapa sebenarnya Raden Adipati Wijaya — lelaki misterius yang tampak biasa, tapi menyimpan rahasia besar di balik senyum santainya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Prettyies, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Noda Merah
Pagi hari. Selina terbangun dalam posisi memeluk Adipati. Kulit hangat pria itu menyentuh lengannya. Selina refleks membuka mata, lalu mengintip ke balik selimut.
“Aa—” Selina tersentak dan langsung menjauh.
“Mas! Apa yang mas lakuin?!”
Adipati mengerjap, masih setengah sadar.
“Hah?” Ia membuka mata perlahan. “Mas nggak ngapa-ngapain, Sel.”
Selina panik. Ia buru-buru menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya.
“Bohong!” suaranya bergetar. “Aku nggak pakai apa-apa! Pasti mas udah ngapa-ngapain aku!”
Adipati langsung duduk.
“Selina, dengar dulu—”
“Kamu jangan pura-pura!” Selina menunduk, tangannya mencengkeram selimut kuat-kuat. “Aku belum siap, Mas… aku belum siap.”
Wajah Adipati mengeras, bukan karena marah, tapi terluka.
“Sel…” ia menarik napas panjang. “Walaupun mas suami kamu. Tapi itu bukan alasan buat maksa kamu.”
Selina terdiam, matanya berkaca-kaca.
“Terus… kenapa aku begini?”
Adipati bangkit dari ranjang.
“Mas beliin baju dulu,” katanya tegas tapi tenang. “Baju kamu semalam basah semua. Kamu tunggu di sini.”
Tanpa menunggu jawaban, Adipati keluar kamar.
Selina berdiri perlahan dari ranjang, masih terbungkus selimut. Kepalanya berdenyut, berusaha mengingat kejadian semalam.
“Aku ingat… aku kedinginan,” gumamnya. “Mas peluk aku… terus…”
Langkahnya terhenti. Matanya membelalak saat melihat sprei.
Ada noda merah…
“Tidak…” Selina menutup mulutnya sendiri. Aku sudah kehilangan keperawananku…
Dadanya naik turun cepat.
“Tapi… kenapa aku nggak ngerasa apa-apa?” bisiknya panik. “Nggak ada rasa sakit… cuma perutku yang nggak enak.”
Dengan tangan gemetar, Selina berlari ke kamar mandi. Pintu ditutup keras. Ia bersandar di baliknya, napas terengah.
“Apa yang sebenarnya terjadi semalam…?” bisiknya pada bayangannya sendiri di cermin.
Air mata jatuh tanpa bisa ditahan.
Selina perlahan melepaskan lilitan selimut dari tubuhnya. Pandangannya tertuju ke bawah, lalu ia terdiam beberapa detik.
“Astaga…” Selina menepuk dahinya sendiri. “Ternyata aku menstruasi.”
Ia menghela napas panjang, rasa panik tadi berubah jadi lega—dan bersalah.
“Ya ampun, Selina,” gumamnya pelan. “Kamu keterlaluan.”
Potongan ingatan semalam kembali satu per satu. Tubuhnya yang lemah, perasaan aneh akibat obat perangsang, dan sikap Adipati yang justru menjaga jarak.
“Mas Adipati nggak nyentuh aku sama sekali,” bisiknya lirih. “Aku yang salah… aku malah nuduh dia yang nggak-nggak.”
Selina menutup wajahnya dengan kedua tangan.
“Aku harus minta maaf.”
Belum sempat ia keluar dari kamar mandi, suara ketukan terdengar.
“Sel,” suara Adipati terdengar dari luar. “Buka pintunya.”
Selina kaget, lalu membuka pintu sedikit. Kepalanya menyembul keluar.
“Iya, Mas?” suaranya pelan.
Adipati menyodorkan paper bag.
“Ini. Dress sama daleman buat kamu.”
Selina menerimanya, lalu mendongak dengan ekspresi curiga.
“Mas… kamu tahu dari mana ukuran daleman aku?”
Adipati terdiam sesaat, lalu menggaruk tengkuknya.
“Waktu itu… pernah ketinggalan di ranjang.”
Mata Selina membesar.
“Astaga! Mas mesum!”
Wajah Adipati langsung defensif.
“Eh, nggak! Mas nggak sengaja. Itu juga mas ambil buat dikasih ke kamu, bukan dilihatin.”
Selina menunduk, pipinya memanas.
“Ya tetap aja aku malu…”
Ia lalu mengangkat wajahnya lagi.
“Mas…”
“Iya?” Adipati menatapnya heran.
“Mas boleh minta tolong?” Selina ragu-ragu.
“Tolong apa?” Adipati mendekat setengah langkah.
Selina berdehem kecil.
“Beliin pembalut.”
Adipati mengangguk santai.
“Oh. Oke. Yang gimana?”
Selina menelan ludah, lalu berbisik cepat.
“Yang… buat bawah. Yang bersayap.”
Adipati menahan senyum.
“Ukuran?”
“Mas!” Selina memukul lengannya pelan. “Yang biasa dan panjang.”
Adipati tertawa kecil.
“Iya, iya. Mas berangkat sekarang.”
Sebelum pergi, Adipati berhenti sejenak.
“Sel…”
“Iya?”
“Maaf ya kalau tadi mas bikin kamu salah paham.”
Selina menunduk.
“Harusnya aku yang minta maaf, Mas.”
Adipati tersenyum tipis.
“Nanti kita ngobrol. Sekarang kamu ganti baju dulu.”
Selina mengangguk, menutup pintu perlahan.