Jourrel Alvaro, pembunuh bayaran yang selalu melakukan pekerjaannya dengan sangat bersih tanpa kendala berarti. Banyak para pejabat atau pengusaha yang menyewanya untuk menghabisi musuh-musuh mereka.
Cheryl Anastasia, gadis 24 tahun yang berbakat menjadi seorang arsitek. Darah seni mengalir dari ibunya, sedang jiwa kepemimpinan merupakan turunan dari sang ayah.
Suatu hari, Jourrel dibayar untuk menghabisi nyawa Cheryl. Namun seolah memiliki nyawa seribu, gadis cantik itu selalu lolos dari kematian.
Hingga akhirnya, kekaguman Jourrel meluluhkan hatinya. Ia kalah dan justru jatuh cinta dengan Cheryl karena gadis itu ternyata bukan gadis lemah. Memiliki banyak talenta luar biasa.
Akankah Cheryl membalas cintanya? Lalu bagaimana jika ayah Cheryl yang seorang ketua mafia dapat mengendus pria bayaran itu mengincar putrinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sensen_se., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34 : BUKAN PUNYA BAPAK KAU!
"Oke! Aku pegang ucapan kamu! Berani macam-macam kamu habis saat itu juga. Kamu tidak akan pernah bisa lari kemanapun. Bahkan hingga ke ujung dunia sekalipun, kamu pasti tertangkap. Kamu belum tahu 'kan ayah dia itu ... Aaarrgh!" teriak Rainer ketika tulang keringnya ditendang oleh Cheryl saat ucapannya belum selesai.
Rain mendelik sembari mengangkat satu kakinya dan digenggam kuat. Ia meringis menahan sakit dari hantaman tak terduga itu. Tanpa rasa bersalah, Cheryl justru melotot tajam.
"Iya, maaf!" gumam Rainer yang mengerti maksud gadis itu.
"Oh ya, Rain. Besok senin tolong siapin meeting dengan Perusahaan Agra. Dan siapin juga surat pemutusan kerja sama, cabut semua saham yang sudah tertanam di sana!" perintah Cheryl mengalihkan pembicaraan.
Rain menurunkan kakinya ketika rasa ngilu sudah mulai memudar. Keningnya mengerut dalam, "Kenapa? Perasaan masih baik-baik aja. Nggak ada kerugian," tanya pria itu serius.
Cheryl mengembuskan napas kasar. Ia menyandarkan punggungnya kembali. "Kualitas perusahaan tergantung bagaimana sikap pemimpinnya. Dan aku paling benci pemimpin yang tidak bisa menghargai orang lain, tidak beretika, attitude buruk, terutama sikapnya pada orang tua. Tidak bisa ditolerir lagi," papar Cheryl dengan wajah menyeringai. Ia mengingat jelas betapa arogant CEO perusahaan tersebut.
"Oke! Ada lagi?" Rain meraih ipadnya dan segera mencatat tugas barunya. Ia selalu percaya dan yakin dengan keputusan boss nya itu.
"Belum! Sementara itu aja. Nanti kabari aja di mana kalian meeting. Aku nyusul," ucap Cheryl.
"Siap! Aku balik dulu kalau gitu." Rain kembali memyimpan ipadnya, lalu menoleh pada Jourrel. "Kamu! Jaga dia baik-baik kalau mau selamat!" tunjuk Rain pada Jourrel. Jourrel hanya mengangguk kecil.
Setelah kepergian Rain, Jourrel beranjak mendekati sepeda motor baru yang masih double standar, di depan. Ia segera melepas semua plastik yang membungkus, lalu menyalakannya.
Cheryl bingung harus bagaimana. Namun tidak ada cara lain. Mau tidak mau, ia harus menerima Jourrel untuk mengantarnya. Ia turut beranjak dan menyusul pria itu.
"Bisa langsung dipakai 'kan?" tanya Cheryl saat sudah berdiri di belakang Jourrel.
Jourrel menoleh, ia mengangguk, "Heem, nih pakai helmnya," ucapnya menyerahkan sebuah helm bawaan.
"Lucu ya, bulet gini," gumam Cheryl memutar-mutar helm tersebut.
"Itu buat lindungi kepala, bukan tangan," cetus Jourrel mulai menaiki motor dan bersiap melajukannya. Ia menoleh pada Cheryl yang masih kagum dengan benda bulat itu. "Ayo, naik!" ajaknya.
Cheryl pun meletakkan helm di kepala, berpegangan pada kedua bahu Jourrel agar memudahkannya naik di jok belakang. Cheryl duduk di ujung paling belakang. Menyisakan banyak tempat di antara mereka.
"Maju dikit, Cher. Terlalu berat kalau kamu naiknya di pucuk gitu," protes Jourrel.
"Iih nggak! Kamu pasti modus ya!" tuduh Cheryl menatap curiga.
"Astaga! Terserah deh. Nanti kalau ada lubang atau polisi tidur terus kamu jatuh bukan salahku!" ucap Jourrel mulai menarik tuas gasnya.
Hampir saja terjengkang karena Jourrel cukup kuat menariknya. Dengan gerakan cepat tangannya meraih kedua sisi jaket yang dikenakan Jourrel.
"Iihh rese!" sembur Cheryl menghantam kepala Jourrel yang tanpa pelindung itu dengan tasnya.
"Aduuh!" teriak Jourrel mengusap puncak kepala dengan satu tangan. "Kan udah diperingatkan tadi. Bukan modus, Nona!" desisnya menguasai kendaraan dengan satu tangan.
"Hati-hati dong!" cebik Cheryl kesal.
Jourrel tak membalas lagi, ia yakin akan selalu kalah berdebat dengan perempuan itu. Tak berapa lama, Jourrel membelokkan motor tersebut ke pom bensin.
"Kok ke sini sih?" protes Cheryl.
"Mau dorong motor kalau kehabisan di jalan?" ucap Jourrel mengantri pada antrian yang mengular.
"Ya enggaklah! Masa nggak dikasih full sama dealernya," sanggah gadis itu.
Jourrel menghela napas panjang, menggaruk dahinya yang berkeringat sekaligus terasa gatal. "Nona Cheryl, dealer bukan punya bapak kau ya. Nggak ada dealer yang mau rugi. Lagian pas dikirim nanti tumpah-tumpah!" geramnya menahan emosi.
"Oh," sahutnya masih duduk tenang di sana.
Sampai giliran, Jourrel segera turun. Cheryl pun ikut turun karena melihat di depannya, semua orang turun ketika pengisian. Seketika Cheryl menjadi pusat perhatian. Wajah khas eropa yang dimilikinya, memang membuat kagum orang-orang di sana.
Tak di sangka, saat berjalan mengekori Jourrel usai dilakukan pengisian, sebuah mobil berhenti tepat di samping Cheryl. Ia masih ingat jelas mobil yang dilempar telur olehnya.
Kaca jendel depan terbuka dan tampak sosok pria dengan wajah angkuhnya tengah tertawa sinis pada Cheryl.
"Kita bertemu lagi, Nona bar-bar. Ckckck! Ngatain Mercedes butut, ternyata karena nggak punya ya!" ledek pria itu tersenyum miring.
Cheryl melesatkan tatapan tajam dan kedua tangan yang mencengkeram dengan kuat. Jourrel yang sudah siap melaju kini menoleh, karena tak merasakan pergerakan Cheryl naik di belakangnya.
Bersambung~