IG : Isthiizty
Disarankan untuk membaca novel PERNIKAHAN RAHASIA SEPASANG ANAK SMA dan SHE'S MINE terlebih dahulu.
Apapun yang sudah di takdirkan menjadi milikmu, tidak akan meleset sedikitpun meski semua orang menghalanginya.
Begitupula jika memang tidak di takdirkan untuk menjadi milikmu, mau seluruh makhluk di dunia ini mendukungmu, sampai kapanpun tak akan pernah menjadi milikmu.
Jadi jangan pernah menyalahkan keadaan. Karena jika dia memang ditakdirkan untukmu, pasti akan ada jalan untuk kalian bersatu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isthiizty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dugong
Floryn terus menarik Mike agar menjauh dari kerumunan. Dia tau jika saat ini emosi pria itu sedang berada di posisi yang cukup buruk, karena sejak tadi Mike terus memancarkan tatapan tajam seakan ingin menerkam Gladis saat itu juga.
"Flo, stop!" Mike menahan tangan Floryn hingga membuat langkah gadis itu terhenti.
"Kenapa sih kamu malah narik aku ngejauh dari wanita gila itu?" Mike bertanya dengan nada kesal. Bahkan dari nada bicaranya terlihat jelas jika dia sangat tak menyukai Gladis. "Seharusnya kamu biarin aku dulu buat ngasih dia pelajaran. Berani-beraninya dia berbicara omong kosong kayak tadi."
Floryn tersenyum. "Daripada kamu ngedumel mulu, mendingan sekarang anterin aku pulang aja yuk! Soalnya ini juga udah telat kalau mau masuk kelas."
"Pulang?" tanya Mike tak percaya. "Kok pulang? Gak, gak! Kamu gak boleh pulang dulu. Kita itu harus ke rumah sakit buat ngobatin luka kamu. Ini tuh bahaya banget, takut infeksi. Apalagi luka ini gara-gara si dugong sinting tadi. Kita kan gak tau dia punya penyakit rabies atau enggak."
Bukannya mengiyakan ucapan Mike, Floryn justru tertawa. Dan hal itu membuat Mike kesal sekaligus bahagia. Kesal ditertawakan, namun juga bahagia bisa melihat tawa lepas Floryn.
"Kenapa malah ketawa sih. Emang ada yang lucu?" Mike bertanya dengan berpura-pura kesal.
Floryn menganggukan kepalanya. "Iya kamu lucu. Masa iya Gladis kamu bilang punya rabie," ucapnga sembari menggelengkan kepala karena tak percaya dengan ucapan Mike yang dia anggap ngawur.
"Bisa jadi dia emang punya rabies. Ucapannya aja sembarangan gitu. Udah pasti dia kumpulnya bukan sama manusia, tapi sama hewan. Aku aja nyampek gak bisa bedain dia itu manusia atau hewan." Mike menghela nafas kasar saat kembali mengingat ucapan Gladis yang menghina Floryn dengan seenak jidatnya.
"Jadi kamu mau anter aku pulang atau enggak?" Floryn sengaja mengalihkan perhatian Mike saat melihat emosi pria itu kembali naik.
"Kan aku dah bilang, kita ke rumah sakit dulu baru abis itu aku anter kamu pulang. Aku serius, kalau luka kamu itu harus segera di obatin." Benar saja raut wajah Mike yang beberapa saat lalu terlihat menahan amarah kini berubah menjadi raut wajah khawatir. Namun bukan itu yang Floryn inginkan. Karena dia sendiri merasa dalam keadaan baik-baik saja.
"Tapi aku gak pa-pa Mike. Aku cuma pengen pulang."
"Flo..."
"Please Mike. Aku beneran gak pa-pa." Floryn memohon sembari mengatupkan kedua tangannya di depan dada.
Mike menghela nafas beratnya. Dia tak mungkin memaksa Floryn. Karena hal itu pasti membuat gadis itu tak nyaman dengannya. Ya walaupun pada akhirnya hati Mike masih belum tenang sebelum melihat sendiri luka itu di obati.
"Baiklah. Kamu tunggu sini bentar. Aku ambil motor dulu." Mike menuntun Floryn agar duduk di anak tangga yang tak jauh dari tempatnya berdiri.
Mike menggendarai motornya dengan hati yang tak tenang. Apalagi alasannya jika bukan memikirkan keadaan gadis yang duduk di jok belakang motornya.
Tapi sayangnya gadis itu justru terlihat santai atau mungkin Floryn memang berpura-pura baik-baik saja? Entahlah. Mike tak tahu, karena dia tak bisa membaca isi hati Floryn.
"Kok berhenti Mike? Kita kan belum sampai rumahku?" tanya Floryn saat motor yang di kendarai Mike berhenti di tepi taman kota.
"Kamu duduk di kursi itu dulu ya. Aku ada perlu bentar," ucap Mike sembari menunjuk sebuah kursi besi yang berada di bawah pohon.
"Kalau kamu lagi ada keperluan, lebih baik aku naik ojek online aja. Maaf ngrepotin," ujar Floryn sembari turun dari motor Mike. Dia merasa tak enak sudah menganggu waktu pria itu dengan menyuruhnya mengantar pulang.
"Udah kamu duduk dulu aja disana. Pokoknya jangan kemana-mana. Tunggu aku, aku gak lama kok." Mike langsung memutar gas setelah mewanti-wanti agar Floryn tetap menunggunya.
"Tapi Mike..." Percuma, ucapan Floryn tak akan terdengar, karena motor yang dikendarai Mike sudah menjauh. Hingga pada akhirnya Floryn memilih untuk menuruti perintah Mike dengan duduk di kursi besi sembari menunggu pria itu kembali.
Floryn melihat luka-luka yang ada di lengannya. Dia tak menyangka jika cakaran Gladis meninggalkan bekas bahkan sekarang terasa cukup perih. Padahal saat beradu dengan Gladis tadi, Floryn sama sekali tak merasakan perih di lengannya.
"Tuh bengkak kan?" Floryn tersentak kaget saat mendengar suara Mike. Terlalu fokus melihat bekas tamparan di pipi dengan ponsel, membuat Floryn tak menyadari jika Mike sudah kembali.
"Kok cepet?" tanya Floryn heran. Dia tak menyangka Mike kembali secepat ini. Bahkan dia sempat mengira jika harus menunggu Mike satu atau mungkin sampai dua jam.
"Kan aku dah bilang, aku pergi sebentar doang," jawab Mike sembari membuka botol air mineral dan memberikannya pada Floryn. "Nih minum dulu!"
Floryn menerima botol air mineral itu dan langsung meminumnya, bahkan hingga hampir habis. Dia memang sangat haus. Dan untung saja Mike pengertian dengan memberinya air minum.
"Sini tangan kamu." Mike menarik tangan Floryn dan mulai memebersihkan luka cakaran di lengan Floryn dengan alkohol. "Tahan bentar ya. Ini mungkin akan terasa perih."
Floryn hanya menganggukan kepalanya. T
Dia taak menyangka ternyata Mike pergi untuk memebelikannya minum dan obat luka.
"Sstt...." Terlalu perih membuat Floryn tanpa sadar merintih.
"Sakit?" tanya Mike dan lagi-lagi hanya di jawab dengan anggukan kepala oleh Floryn.
"Lagian kenapa kamu tadi diem aja sih waktu dugong sinting itu nyakitin kamu. Kan harusnya kamu bales. Kamu balik cakar dia, kamu jambak dan tampar juga. Kalau perlu kamu tonjok itu mulutnya biar bisa diem." Mike terus menggerutu untuk mengungkapkan kekesalannya. Bukan kesal pada Floryn. Tapi kekesalannya karena terlambat datang menyelamatkan gadisnya.
Floryn tersenyum. Dia tak menyangka jika Mike sangat memperdulikannya. "Aku gak pa-pa Mike. Ini hanya luka kecil."
"Gak pa-pa gimana?" tanya Mike sembari menatap Floryn.
"Emm.. aku kan udah bales tadi. Kamu kan liat aku nampar dia keras banget. Aku juga gak mungkinkan kan bales dia lebih dari itu. Dia lagi hamil. Aku takut kelepasan dan justru nyakitin anak dalam kandungan Gladis."
Mike menghela nafas panjang. Yang di ucapkan Floryn ada benarnya juga. Karena dia tadi juga memikirkan hal yang sama.
Floryn memang gadis yang baik. Dan Mike beruntung bisa menggenalnya.
"Lagian tadi kenapa dugong sinting itu gak percaya sih sama aku. Padahal dari kemarin-kemarin aku udah berakting sebaik mungkin buat pura-pura jadi pacar kamu. Tapi kenapa dia masih gak percaya sih?" Mike kembali menggerutu saat mengingat Gladis tak pecaya jika dia adalah pacar Mike.
"Aku juga gak tau Mike," jawab Floryn sembari mengangkat kedua bahunya.
"Apa lebih baik kita gak usah pura-pura pacaran lagi aja. Mending kita buktiin ke dia yang sebenernya."
Floryn menatap Mike dengan dahi berkerut. "Maksudnya?" tanyanya tak mengerti.
"Maksud aku, kita pacaran beneran bukan bohongan lagi," ucap Mike menjelaskan. "Kamu mau kan jadi pacar aku?"
ada2 aja tingkah mreka...