NovelToon NovelToon
Hujan Teluh

Hujan Teluh

Status: tamat
Genre:Fantasi / Horor / Cintapertama / Supernatural / Pembunuhan / Kumpulan Cerita Horror / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:253.5k
Nilai: 5
Nama Author: Alexza Kim

Cerita ini bercerita tentang seorang anak perempuan yang harus mati berkali-kali, untuk menebus dosa-dosa di kehidupan masa lampaunya.

Melin adalah pemilik Jiwa Suci, jiwa Malaikat Penjaga yang mati ribuan tahun lalu.

Dia diberi kesempatan untuk lahir sebagai manusia sebanyak 7 kali. Dia harus bertahan hidup sampai melewati Bulan Merah pertamanya.

Bulan Merah hanya muncul selama 20 tahun sekali.

Melin adalah Jiwa Suci ke 7 yang harus melewati Bulan Merah pertamanya.

Tapi para Siluman menginginkan kematiannya agar mereka bisa hidup bebas di dunia manusia.

Akankah Melin bisa bertahan dari semua serangan Siluman yang ternyata sudah merencanakan sebuah ritual untuk menghancurkan Jiwanya tepat saat Bulan Merah terjadi, untuk merusak perbatasan antar Dunia Manusia, Dunia Ghoib dan Dunia Siluman.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alexza Kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Serangan Di Pesantren

Dengan tatapan kosong, Adrian melihat ke arah langit. Pandangan lelaki itu tak menikmati kedipan sinar bintang, atau kilauan hangat sang rebulan. Di otak Adrian saat ini hanya ada bayangan wajah Melin yang menangis ke arahnya.

Rasanya seluruh tubuh Adrian lemah tak punya daya, tulang-tulang di tubuhnya seolah menjadi rapuh hanya dalam hitungan detik. Adrian saat ini sudah berada di depan pondok, tempat dia dan Melin menghabiskan hari-hari indah mereka.

Dia duduk di sebuah batang kayu tumbang yang sudah hampir lapuk. Dia berjongkok dengan wajah mengadah ke langit, dan kedua tangannya lunglai di atas dengkul yang tertekuk. Posisi duduknya saja sudah bisa mengambarkan, betapa hancur hati dan jiwanya saat ini.

Dalam sekejap mata, kebahagian yang tiada tara itu. Menjadi derita yang menyesakkan dada, mengikis keyakinan dan menghancurkan impian yang sempat terbentuk.

Rasanya Adrian sudah tak sanggup hidup di dunia ini lagi. Berpisah dari Melin, asal gadis itu bahagia. Adrian masih bisa merelakannya, namun kenyataan lain tiba-tiba muncul dan menghancurkan harapan hidup Adrian.

Adrian lebih baik mati, dari pada dia harus membunuh Melin. Apa yang sebenarnya terjadi kenapa dia tak bisa menebak apa pun. Bahkan setelah menanyakan, hal itu ke Nyai Roro Kidul. Namun Adrian masih tak menemukan jawabannya.

Hanya bantuan penyinaran dari sang rembulan, Adrian meratapi semua nasib naasnya. Dia bahkan tak tau harus berbuat apa.

Jika ia mendekati Melin, Adrian takut melukai gadis manis yang ia cintai itu. Namun jika Adrian tak mendekati Melin, Adrian sangat khawatir akan terjadi sesuatu pada satu-satunya  keponakannya itu.

Adrian meremaskan kepalannya di telapak tangannya yang tak terluka. Karena Adrian sangat malas untuk sekedar membalut luka yang diakibatkan oleh goresan pisau Melin tadi. Meski telapak tangannya itu terasa sangat perih, tapi luka di hatinya terasa lebih pedih dari luka sayatan panjang itu.

Namun Adrian harus melakukan sesuatu, dia tak bisa diam saja begini. Dia harus bergerak, Adrian akan melindungi Melin dari jarak jauh saja. Agar gadisnya tak merasa berada dalam bahaya.

.

.

.

.

Pandangan Melin masih menyapu ruangan di depannya berkali-kali, dia ingat betul. Ruangan ini--lah yang masuk ke dalam mimpinya.

"Bun kita harus cepat pergi!" ujar Melin.

"Kenapa Mel, kamu jelasin sama Bunda dulu donk. Ada apa?" Lastri tampaknya tak tau dengan apa yang sedang mereka hadapi saat ini.

"Tetaplah di sini Nak! Kami akan melindungimu!" suara kakek tua tiba-tiba muncul dan menggema di ruangan itu.

"Enggak, Kek! Saya harus pergi dari sini. Karena jika tidak kalian semua akan mati!" ujar Melin.

"Kematian itu ditangan Allah! Tak ada yang bisa mendahului atau pun mempercepatnya!" kata Kakek tua itu.

Melin terdiam, dia ingin mempercayai kata-kata itu. Melin yang sudah ketakutan hanya bisa memandangi kakek tua yang berwajah teduh di depannya. Memang hatinya merasa sedikit tenang, namun apakah Melin bisa percaya apa kata hadis di Al-Quran di saat-saat seperti ini.

Tak ada jalan lain lagi, Melin merasa harus percaya pada kitab suci umat Islam itu. Hanya itu pilihannya saat ini.

"Sekarang kembalilah ke kamar, temangkan dirimu. Ambil air Wudhu dan dan Sholatlah!

"Agar kau akan merasa lebih tenang!" ujar Kakek tua berjengot pitih itu.

Sampai saat ini Melin tak tau nama kakek tua itu, namun ia tau dimana letak mayat Kakek tua itu berada nantinya.

"Ayo sayang!" Lastri menuntunku masuk ke dalam kamar lagi.

Lastri dan Melin melakukan apa yang diperintahkan oleh kakek berjengot putih tadi. Melin dan Lastri serta Aisyah, Muna, melakukan ibadah Sholat Magrib di rumah itu.

Suara lantunan ayat-ayat suci Al-Quran dikumandangkan lagi oleh para santri. Untuk mengisi waktu luang sebelum Sholat Isya.

Melin dan ketiga perempuan yang berada di rumah itu pun makan malam setelah menjalani Sholat Magrib. Suasana tampak sangat cangung, Lastri bukanlah ibu rumah tangga yang suka memgobrol dengan sembarang orang. Sementara Melin masih saja gelisah, karena dia memginggat mimpinya tentang mayat-mayat yang tergeletak di ruangan tengah rumah itu.

"Jangan sungkan Mbak Lastri! Makan yang kenyang!" akhirnya Muna membuka mulut untuk memecah kesunyian.

"Iya Mbak Muna!" ujar Lastri.

Tampaknya Lastri lebih suka makan di kesunyian.

Jam 11 malam, Melin masih terjaga. Gadis itu tak bisa tidur sama sekali, dia takut apa yang ada di dalam mimpinya akan terjadi. Dia memutuskan untuk tak tidur malam ini, namun entah kenapa Melin merasa sangat mengantuk hingga gadis manis itu terlelap di samping bundanya.

.

.

.

.

Jeduarrrrrrr

Pintu gerbang kayu yang amat tebal dan kokoh, roboh dalam sekali hentakan. Gerbang bertuliskan Pesantren Al-Taqwa itu roboh karena di tendang oleh satu kaki Adrian saja.

Pria itu menjejakkan langkahnya dengan sangat santai ke dalam halaman depan pesantren. Suasana masih sunyi sepi, namun suara robohnya pintu gerbang yang amat kokoh itu. Telah membangunkan beberapa santri, mereka pun berbondong-bondong keluar dari kamar mereka dan menuju halaman depan.

Mata tajam yang seksi itu mengedarkan pandangannya ke area pesantren. Mata yang terlihat sangat garang itu tampaknya sedang mencari keberadaan Melin.

Senyum menyeringai tersungging di sebelah bibir Adrian. Bisa dipastikan jika Adrian sudah menemukan keberadaan Melin kekasihnya. Dengan santainya Adrian yang mengenakan pakaian kasual serba hitam dan jaket kulit hitam itu melangkah ke arah rumah belakang. Rumah yang di tempati oleh para pemgajar di pesantren ini.

"Mas ini siapa?! Kenapa masuk kesini pake ngerusak pintu gerbang segala?" tanya seorang santri pada Adrian.

Tampak satri itu bukan dari wilayah Sumatra Selatan atau Bengkulu. Karena logat bicaranya medok, jawa sekali.

Namun bukan jawaban yang di dapatkan oleh santri muda itu, cengkeraman erat sudah mendarat di kerah kemeja batik santri muda itu.

Para santri yang melihat hal itu seketika riuh sendiri, mereka sangat takut untuk maju dan menolong temannya. Wajah Adrian mungkin memang rupawan, tapi sorot matanya. Bukanlah sorot mata manusia biasa.

Dengan sekali hentakan santri yang berada di cengkeraman Adrian, sudah melayang jauh ke angkasa. Tubuh kecil yang belum menghabiskan masa pubernya itu mendarat di tembok pagar. Tubuh santri yang mengelinding di tanah itu tak bergerak lagi. Entah sudah wafat atau hanya pingsan, beberapa santri berlari menghampiri tubuh temanya yang sudah tak berdaya itu.

Adrian dengan masih percaya diri, melangkah maju melewati jalan yang dia inginkan. Namun beberapa santri dengan kuda-kuda bela diri yang mantab, menghadang langkah Adrian.

Tak ada sepatah kata pun yang dikeluarkan dari mulut Adrian, lelaki itu langsung menangani serangan demi serangan yang di layangkan oleh santri-santri yang usainya lebih matang dari santri pertama tadi..

Empat lawan satu, namun Adrian bahkan tak tersengal napasnya. Padahal sudah hampir 10 menitan, ke empat pendekar andalan pesantren Al-Taqwa itu bergantian menyerang Adrian. Pemuda gagah yang amat seksi itu, hanya menangkis dan menghindari serangan demi serangan para santri.

Siapa yang tau jika Adrian merencanakan sesuatu, kini kilatan merah memenuhi mata Adrian. Lelaki itu tampaknya baru saja memanggil jiwa lain di dalam dirinya.

Adrian meraih tinju yang di layangkan oleh santri pertama. Tinju yang hampir mengenai pipi kirinya itu di puntirnya hingga terdengar bunyi tulang retak.

Krattaaaakkkkkk

"Akkkkkkkkkkk!" si pemilik lengan tentu saja menjerit kesakitan.

Namun Adrian belum ingin melepas puntiran kuatnya.

___________BERSAMBUNG_____________

JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤

1
Shinta Teja
kasih terjemahan ke bahasa Indonesia lah Thor. soalnya aku ga ngerti bahasa Palembang itu...
Raditya Fathir
org desa,nama metropolitan.
ga sesuai dg latar
Arra
katanya full serem min ngga ada haha hihi. 🤭 ini bikin senyum loh
Arra
Malaikat izrail apa ya kak? 🤔
Arra
arinda atau si pembunuh ya
Arra
semangat thor. keren. meskipun aku bacanya pusing kalau berbau bunuh2an tapi kok kepo. hadeh 🤭 semoga ngga kebawa mimpi
Arra
ngeri kali 😱
Arra
okay lanjut kak
Dee Adee
terkejut aku Thor 😲
autophia
Ilmu teknologi dan psikologi membuktikan melinda punya jiwa iblis? Kok agak gak make sense ya
autophia
Nyampe sini Agak bosen ya ceritanya
autophia
Kenapa kalo kerumah arinda jadi sial?
PaiZem LopeKITA💘
pertama kali baca,seremnya langsung dapet👻
autophia
Ternyata asia
Winna
Jenk kok gak up up lagi? Dah ku vote lagi loh.. biar naik ceritanya..
Winna: Siaaap🤣👍🏻
total 2 replies
Winna
Gak sabar nungguin niiih jeenk🤭
Winna
Sakit banget ya mencintai itu.. 😭
Winna
Siip jendral.. tp sayang nya aku cinta nya sm adrian😛
Winna
Wooww wooww manteeeb planing nya.. gk ngira👍🏻
Winna
Aaahhh.. sesediih ini kah cintaa? Baper deh😢😢
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!