Cecil si wanita lemah ditemukan meninggal di sebuah gudang yang terbakar. Ternyata sebelum gudang dibakar, Cecil sudah diperkosa oleh seorang pemuda tak dikenal. Siapa sangka, Cecil malah terlahir kembali. Cecil memiliki semua ingatan di masa depan dan tubuhnya jauh lebih kuat dari sebelumnya. Cecil pun merencanakan membalas semua teman-teman yang membullynya sampai membuatnya harus meregang nyawa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mizzly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah Kontrakan Kecil
Cecil
Aku menatap tanda yang ada pergelangan tanganku. Tanda yang menurut Pak Sandy adalah bukti kalau aku melakukan reinkarnasi sekaligus tanda kalau sebenarnya di dunia ini aku sudah tiada. Tanda tersebut masih tetap terlihat jelas. Artinya masa depanku belum berubah.
Aku belum tahu apa yang direncanakan oleh Egi. Egi bilang, aku cukup berpura-pura tidak tahu saja dan ia yang akan meledakkan bom tersebut. Aku percaya dengan ucapannya. Itulah yang aneh, sudah jelas Egi di masa depan adalah orang yang sudah mengambil kesucianku dan membuatku meninggal dunia namun aku justru lebih mempercayai ucapannya hanya karena beberapa kali kata-katanya benar. Egi juga begitu perhatian padaku, dia bahkan rela menahan lapar hanya demi memastikan aku selamat saat berada di dekat Leon.
Perlahan rasa benciku terhadap Egi mulai hilang. Kami bahkan sangat dekat layaknya seorang sahabat yang memiliki penderitaan yang sama, yakni sama-sama berumur pendek. Miris sekali.
Aku tetap menjalani hari-hariku seperti biasa meski kutahu waktuku yang tersisa tak lama lagi. Aku harus berpura-pura seakan semua baik-baik saja padahal sesungguhnya aku takut, takut menghadapi hari kematianku.
Kutatap bangunan sekolah yang dulu sempat membuatku memimpikan banyak hal. Aku berharap masa depan keluargaku akan lebih baik kalau aku bersekolah di sekolah populer namun ternyata justru hidupku berakhir karena teman-teman di sekolah ini huft ....
Aku masuk ke dalam kelasku. Kulihat Lisa sudah masuk sekolah. Wajahnya terlihat murung dan sedikit agak tirus. Lingkaran hitam di bawah matanya menunjukkan kalau ia sudah beberapa hari tidak tidur nyenyak. Untuk mendalami peran sebagai teman yang baik, aku tentu harus perhatian padanya. "Hai, Lis. Kamu sudah masuk? Sudah dua hari loh kamu tidak masuk sekolah, katanya kamu sakit ya? Baru sore ini aku dan Lucy mau ke rumahmu untuk menjenguk."
Lisa hanya terdiam. Ia mengangkat wajahnya sebentar dan menatapku dengan tatapan yang sedih dan tertekan. Jelas saja Lisa terlihat tertekan, ia dan Leon baru saja membunuh orang dan menyembunyikan jasadnya. Ia pasti tertekan oleh rasa bersalah yang terus menghantuinya. Aku jadi bertanya-tanya, apakah ia merasa tertekan juga setelah membunuhku di masa depan? Apakah ia justru sudah merasa terbiasa karena membunuhku adalah pembunuhan kedua kali yang ia lakukan?
"Kamu kenapa sih, Lis? Cerita dong kalau ada sesuatu, kita berdua masih teman kamu bukan? Kalau kamu diam saja, bagaimana kita bisa bantu kamu? Sepi tahu enggak ada kamu!" Lucy ikut berkomentar dan berusaha membujuk Lisa agar mau cerita.
Lisa menggelengkan kepalanya pelan. "Aku tidak apa-apa. Hanya sedang banyak masalah saja. Kalian sudah bertemu Leon belum? Kemarin dia masuk?"
Kenapa Lisa menanyakan tentang Leon pada kami? Jangan katakan kalau Lisa dan Leon bertengkar hebat. Seru nih. Pantas saja Leon kemarin menjadikanku pelampiasan dan mengajakku check-in di hotel. Rupanya karena dia sedang bertengkar dengan Lisa toh.
Kalau kemarin aku mencari kesempatan dengan mendekati Leon, kini saatnya aku mendekati Lisa. Aku harus membuat dua pasangan itu terpecah agar niat mereka untuk menyiapkanku hilang sehingga aku dan Egi bisa selamat.
"Leon sempat tidak masuk sehari, aku pikir kalian bolos bersama. Kemarin sih Leon masuk. Kenapa kamu bertanya sama kita berdua? Ayo, kalian bertengkar ya?"
"Iya, kami memang sempat bertengkar. Itulah kenapa aku dan Leon tidak masuk sekolah." Apa yang dikatakan oleh Lisa tidak aku percaya sepenuhnya. Bukan karena mereka bertengkar tapi karena mereka habis berbuat dosa yang sangat berat, karena itu mereka tidak masuk sekolah. Sayangnya Bu Guru sudah datang, aku harus kembali ke tempatku dan tak lagi bertanya pada Lisa.
Aku menatap Anita yang duduk di sebelahku dengan tatapan yang murung. Kalau aku tidak salah, waktu itu kami butuh uang karena Mama sakit. Papa terpaksa harus meminjam uang pada Pak Anggada. Apakah Anita mengalami hal yang sama juga? Jika memang benar, bagaimana ya kalau aku merubah takdir Anita? Biar aku yang meminjamkannya uang sehingga Papa Anita tidak terlalu tergantung pada Pak Anggada. Aku akan mencoba merubah takdir ini sedikit. Tak apa toh?
Setelah memastikan Lisa dan Lucy pulang, aku janjian dengan Anita yang sudah kukirimi pesan sebelumnya. "Ada apa, Cil? Kenapa kamu mengajakku bertemu?"
"Kamu kenapa sejak tadi murung terus? Kangen Leon?" godaku.
Anita menggelengkan kepalanya pelan. "Sejak tahu dari kamu kalau Leon baik padaku karena punya maksud tersembunyi, aku sudah tak peduli lagi padanya."
"Bagus. Jangan mudah jatuh hati pada lelaki seperti itu. Jadi, kenapa kamu murung?" tanyaku. "Kamu ada masalah? Apa yang bisa aku bantu?"
"Mamaku sakit, Cil. Sejak kemarin belum ke dokter. Papa tidak punya uang untuk membawa Mama ke rumah sakit." Anita tertunduk sedih menatap seragam miliknya yang agak lusuh.
Aku menghela nafas dalam. Anita adalah diriku di masa lalu. Terlihat menyedihkan. Kenapa orang-orang seperti Lisa, Lucy dan Leon tega menjahati orang yang hidupnya sudah menyedihkan?
"Kita bawa Mama-mu ke rumah sakit yuk! Kebetulan aku dijemput supir," ajakku.
Mata Anita langsung berbinar mendengar ajakanku. "Yang benar, Cil? Aku ... aku tak punya uang untuk membayar rumah sakit."
"Tak usah kamu pikirkan, ada aku yang akan membayar pengobatan Mama kamu. Ayo, kita pergi sekarang!"
Dengan diantar supir, aku dan Anita pergi ke rumahnya. Aku kembali terkejut saat mendapati kalau Anita ternyata menempati rumahku dulu. Ternyata takdir kami benar tertukar.
"Ayo, Cil, masuk. Maaf ya kalau rumahku jelek," ajak Anita.
Aku masuk ke dalam rumah yang sudah lebih dari 3 tahun kutempati. Rumah kontrakan kecil yang terkadang keluargaku masih menunggak pembayarannya. Tak ada yang berbeda dari rumah ini, semua sama persis. Hanya foto saja yang berbeda, dulu figura di dinding itu berisi fotoku sekeluarga, kini berganti foto Anita sekeluarga.
"Mama kamu mana? Kita langsung ke rumah sakit saja agar Mama-mu langsung diperiksa dokter," kataku. Aku ingin cepat-cepat pergi dari rumah ini. Terlalu banyak air mata yang kukenang dari rumah ini. Bagaimana keluargaku hidup ketakutan karena selalu ditagih oleh debt collector. Rumah ini juga jadi saksi kalau kami harus makan dengan irit agar bisa tetap hidup.
Anita memanggil Mamanya. Kami langsung ke rumah sakit dan mengobati penyakit Mama-nya Anita. Berkali-kali Mama dan Papa Anita mengucapkan terima kasih padaku. Rasanya hatiku menghangat, beriringan dengan rasa bersalah. Mereka hanya peran pengganti, mengganti aku dan keluargaku yang kini hidup bergelimang harta.
Aku pulang ke rumah dengan perasaan yang lebih baik. Mungkin seharusnya sejak awal aku mengubah takdirku. Membantu Anita mungkin bisa meringankan sedikit bebanku, itu yang kupikir namun kenyataannya tidak.
Aku terkejut mendapati ada orang lain di sebelahku saat aku sedang bercermin. Lelaki dengan hoodie hitam dan pakaian serba hitam. "Si-siapa kamu? Kenapa kamu bisa masuk ke dalam kamarku?"
****