Disarankan untuk membaca novel sebelumnya "Jodoh Sang Dokter Duda" karena disana ada silsilah seluruh keluarga ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon harsupi fakihudin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Malam ini, semua keluarga besar yang mengantar Hanan, semuanya pulang ke Jakarta semua, termasuk bibik.
Bik Surti harus pulang ke Jakarta, karena harus mengurus rumah Hanan yang ada disana
Tinggallah Hanan, Alana, Imran, Rasti, dan pak sholeh
"Mbak Rasti, disini kan tidak ada bibik, ntar bantu bareng bareng ya mbak. Pak Sholeh juga, meskipun pak Sholeh seorang sopir, tapi disini kan belum ada juru masak, jadi saling bantu ya pak"
"Iya tuan"
-
"Bunda, Imlan ngan tuk" Ucap Imran sambil menguap
"Sayang, Imran kan sudah besar. Jadi daddy buatkan Imran kamar sendiri" Hanan membuka pintu kamar Imran "Tarraaaa"
"Wah... Cakep" Ucap Alana menurunkan Imran dari gendongan
Semuanya tepuk tangan termasuk Rasti
"Bunda.. Imlan kamalnya bagus" Imran sudah naik dikasurnya
"Pilihan daddy... Imran suka?"
"Suka dad"
"Baiklah, sekarang tidur. Sudah malam" Hanan menyelimuti Imran
"Mbak Lasti tidul dah malam"
Ahaha
-
Alana masuk kekamar utama, diikuti oleh Hanan
Hanan langsung memeluk Alana dari belakang "Perasaan bunda sudah lama nggak mens ya?" Ucap Hanan dibarengi Alana yang panik
Alana mengurai pelukan dari Hanan
"Kalender mana kak, kalender" Alana byak byakkan (mondar mandir panik) mencari kalender "Kalenderku nggak dibawa ya"
"Ngapain bawa kalendermu. Tuh kalender" Tunjuk Hanan pada kalender yang nempel ditembok yang ada dikamar
"Bukan itu, kalenderku. Yang sudah kubulet buletin kak"
Hanan berdiri, namun netranya mengikuti kemana Alana mencari sesuatu
"Dibuletin itu karena apa? ada apa?"
"Kalau haid, aku buletin. Biar ingat, aku pelupa" Alana frustasi ingin menangis
Hanan menghampiri Alana "Siklusmu tepat sayang. Kau haid itu setiap tanggal 15. Sekarang sudah tanggal berapa?" Hanan mencoba bertanya tanggal pada Alana
"31. Kelewat ya... " Alana melotot "Bener nggak sih kak"
"Ya bener. Seharusnya bulan ini kamu datang bulan, tapi nggak"
"Kok kakak tau" Ucapnya sedikit eror
"Kamu kenapa hah"
"Aku tanya, kenapa kakak tau. Kan aku nggak pernah ngomong"
"Nggak pernah ngomong soal gituan juga aku faham sayang, kan aku yang selalu memeriksa. Betul nggak?" Ucapnya sambil tersenyum lebar
"Iya betul. Eh, tapi kapan kakak memeriksaku. Nggak pernah"
"Lama lama tak periksa sekarang ini. Disuntik pakai jarum ajaib ya" Hanan ingin menyerang sekarang, tapi ditepis oleh Alana
"Ih, aku masih bingung. Jangan suntik suntik"
"Dengar. Bingungnya sebelah mana hmm"
"Kak, Imran kan masih kecil. Kalau aku telat nggak haid berarti aku hamil. Kalau hamil Imran gimana..." Teriak nya
"Lha ya nggak apa apa. Kan ada suaminya" Tunjuk Hanan pada dirinya sendiri
"Aku tau. Tapi, apa kata orang. Anaknya masih kecil kok sudah dibikinkan adik.. Sudah dapat pesenan dari China ya"
"Siapa yang berani ngomong begitu"
"Biasanya kakak" Alana berdiri didepan Hanan, mata mereka beradu "Kakak, dari mana kakak tau jadwal aku menstruasi"
"Ck, ya taulah. Setiap pertengahan bulan, kamu pasti ada pembalut ditunjuk tunjukin"
"Lalu, apa bulan ini aku tidak pamer?"
"Tidak"
"Yang bener"
"Yaelah. Memang kamu lupa, tiap dua hari sekali kita bercinta hmm. Dan sekarang jadwalnya kita berlayar" Hanan sudah menubruk Alana, sampai terkapar dikasur
"Ih minggir minggir. Kakiku pegel semua " Alana mendorong Hanan sekuat mungkin
Alana terduduk, Hananpun ikut duduk, sambil peluk peluk tak jelas
"Kakak"
"Hmm"
"Kalau begitu, periksa aku sekarang juga. Ada tespack kan?"
"Ada"
"Mana"
"Ini" Hanan menunjuk kepunyaannya yang sudah sesak didalam celana
"Kakak bukan itu" Alana berdiri
Hanan langsung memeluknya dari belakang "Kau tau, ini alat dari segala alat"
Tangan Hanan sudah melepas kancing piyama yang dipakai oleh Alana "Tespack oke, suntikan juga oke, bikin kamu hamil juga oke" Sambungnya sambil memutar Alana hingga mereka berhadapan
"Ih kakak kebangetan... Mesumnya kelewatan" Alana mengurai tangan Hanan. Dan berjalan menuju kekamar mandi
"Mau kemana? "
"Pipis. Mau ikut"
Hanan berdiri dan mengikuti Alana sampai kekamar mandi
"Eh eh eh, ngapain ikut sampai kesini"
"Katanya disuruh ikut, ya ikutlah"
Plok plok plok
"Kakak kayak anak kecil, kakak kayak Imran" Alana menaruh CD diranjang laundry karena basah. Ia berjalan kearah lemari
"Kamu cari apa?"
"CD. Dimana lemari daleman"
"Tidak usah pakai"
"Ih, kakak. Ntar masuk angin. Minggir"
Hanan sudah kalap, tangannya sudah menggerayangi perkakas milik Alana
Alana yang sudah kesetrum, dan tergoda karena Hanan ahli sekali urusan menggoda, lama lama Alana tergoda dan meliuk liuk lupa segalanya
Pergulatan mereka mengawali kehidupan dikampung nang asri ini
Akhirnya banjir bandang ditengah keringnya tandus
"Tissunya mana"
"Nggak tau"
"Halla..."
-
Pagi hari saatnya mereka sarapan
Alana mulai belajar memasak, bersama Rasti
Rasti bisa memasak, tapi lebih pinteran bibi. Yah, lumayan daripada Alana
"Bu, sini bu saya bantuin"
"Eh mbak. mbak, masak yang muda itu masak apa?"
"Telur dadar aja bu, ibu belum masak nasi kan?" Tanya Rasti
"Belum. Aku bingung semua mbak"
Rasti mencari sesuatu
"Cari apa mbak"
"Cari beras bu"
"Beras?"
"Iya"
"Kulkas kulkas mbak. Siapa tau ditaruh dikulkas mbak"
"Ahaha mana ada beras taruhnya dikulkas" Rasti sudah nemu "Ini bu"
"Nah tu kan, taruhnya disitu"
"Kan belum dibelikan tempat bu" Rasti membuka kulkas "Wah, isinya penuh bu"
"Penuh ya" Alana ikut ngintip isi kulkas "Ini bawang bawangan, kenapa nggak dimasukkan kedalam, masukin mbak"
"Eh jangan, ntar hancur malah bu"
"Kok, kan biar awet"
"Tapi tidak semua, beginian ditaruh dikulkas" Rasti mengambil bawang " Ini harus taruh ditempat terbuka biar kering dan awet"
"Oh, kirain boleh biar awet"
"Nggak bisa, lembab ntar busuk"
"Oh"
"Beras juga nggak bisa. Ntar malah jamuran lembab terkena embun dari dalam kulkas"
"Oh iya. Dulu nggak ada pelajarannya sih" Ucap Alana menggoda
-
Hanan sudah rapih, menggunakan kemeja putih pres body, dengan rambut klimisnya, ditambah habis kramas. Tambah gantenglah suami Alana
Hanan melepas handuk yang Alana pakai dikepalanya "Kenapa belum dilepas"
"Hehe lupa" Ucapnya sambil sibuk menuangkan nasi kedalam piring mereka berdua
"Imran belum bangun?"
"Belum. Kakak"
"Hmm"
"Lauknya telur dadar doang, itupun rusak. Ini yang bagus gosong" Ucapnya sudah berkaca kaca
Hanan ngakak dalam hati "Siapa yang masak?"
"Aku"
"Ya sudah, makannya satu piring aja. Kita makan satu piring berdua" Hanan berdiri dan mendekati wastafel, lalu cuci tangan disana "Kita makan sepiring berdua, dengan tangan ini" Hanan mengangkat tangan kanannya sendiri "Yang gosong jangan, kita makan yang rusak aja nggak papa. Anggap saja kita makan nasi goreng, akkk" Hanan menyuapi Alana dengan tangannya, tanpa sendok
"Kita mau suap suapan kan?"
"Tidak. Kau yang aku suapi"
Alana menerima suapan dari Hanan "Nanti kakak kesiangan" Ucap Alana dengan mulut yang masih penuh makanan
Hanan juga sarapan, sambil menyuapi dirinya dengan rasa yang gonta ganti. Mungkin caranya ngaduk telur kurang rata, tapi Hanan berusaha menelan sarapan cinta bikinan sang istri
Alana merasakan yang sama "Kakak, makanan ini rasanya aneh" Alana merebut piring dari tangan Hanan
"Jangan, kata siapa aneh, enak kok. Buktinya, sudah kakak telan"
"***Dengan terpaksa uweek "
BERSAMBUNG***....
saya suka saya suka saya suka