Rate 21+
Nashira membuka mata, ia begitu terkejut melihat tubuhnya yang polos tanpa terutup benang sehelai pun. Ia menganggap kalau semalam ia telah memanggil seorang gigolo dan menemaninya tidur. Nashira pun meninggalkan beberapa uang di atas meja untuk lelaki itu. Lalu ia kabur.
Takdir kembali mempertemukan mereka berdua, akan tetapi Nashira tidak mengingat lelaki itu. Nashira yang terlilit hutang besar akhirnya dibantu oleh lalaki asing itu dengan imbalan mau menjadi pengantinnya.
“Aku akan membantumu, tapi kau harus mengabulkan tiga permintaan untukku,” ucap seorang lelaki bernama Akash Orion Atkinson.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Delia Septiani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Simpanan Om-Om
Shira menaiki taksi onlen yang dipesannya untuk sampai di kampus. Masih ada waktu 5 menit untuk sampai di kelasnya. Dari gerbang kampus sampai ke ruang kelas, lagi-lagi Shira mendapat tatapan aneh dari para mahasiswa lainnya. Ia berjalan dengan perasaan tidak nyaman.
“Apakah berita kebangkrutanku masih jadi bahan perbincangan mereka?” gumamnya dalam hati.
Sepanjang melewati koridor yang menuju ke kelasnya, sebagain orang menatapnya dengan sinis dan aneh, bahkan ada yang sampai menunjuknya dengan mimik wajah seolah jijik.
Setelah masuk ke dalam kelas, situasi masih terasa tidak nyaman. Teman-temannya yang awalanya sibuk berbicara, langsung diam tak bersuara begitu ia datang.
“Ada apa sih ini?” batinnya semakin berpikir aneh.
Tidak ingin berpikir yang aneh-aneh, Shira memilih untuk duduk di bangkunya saja, mencoba untuk bersikap biasa, meski sikap dari pada teman-temannya sangat kentara.
Tiba-tiba, ada seorang teman sekelasa yang mendekati mejanya. “Eh Shira, ngomong-ngomong sekarang kamu jadi simpenan om-om ya?” tanya wanita itu.
Shira mengkerutkan kedua alisnya merasa heran. “Simpanan om-om? Maksud kamu apa?” SHira kembali bertanya dengan bingung.
Satu teman wanita yang lain datang menghampiri sambil melipat tangan di dada.
“Sudahlah Shira tidak perlu berlagak polos dan tidak tahu seperti itu. Anak-anak kampus semuanya udah tahu kok kabar tentang lo. Lo sekarang jadi simpanan om-om ‘kan?" Wanita itu menilik Shira dari atas sampai bawah.
"Secara, meski lo udah bangkrut dan enggak punya apa-apa, tapi sampai sekarang lo masih bisa ke kampus naik taksi, dan ....” Kedua netra perempuan itu kembali menilik setiap barang yang menerap di tubuh Shira, termasuk baju brandid, jam tangan dan cincin yang tersemat di jari manis Shira.
“Barang-barang yang lo gunakan, semuanya masih termasuk barang mewah loh.”
"Ya, emang apa urusannya pakaian yang aku pake, sama tuduhan yang kamu ajukan sama aku? Aku bukan simpanan om-om kok," jawabnya.
"Halah, ngeles aja!"
Tiba-tiba, si cewek rempong datang. “OMG!!! Lihat gaes!” Cewekitu menarik lengan Shira, lalu mengangkatnya ke atas, memperlihatkan cincin berlian yang melingkar di jari manis Shira kepada semua orang yang ada di kelas.
“OMG! Kalian lihat ‘kan cincin di jarinya ini?” Wanita begitu heboh.
Lalu, seorang wanita lainnnya datang dari luar kelas, berjalan bersama dua sahabtnya di belakang. Melipat tangan di dada sambil bergaya sok cantik. Siapa lagi kalau bukan Luna and the geng.
“Nah, ‘kan? Apa yang aku bilang, selain jalan sama om-om, sepertinya dia sudah menjalin hubungan lebih dengan lelaki beristri.” Luna yang kini berdiri di depan meja Shira, dia tertawa mempermalukan Shira.
“Apa kau bilang?” Shira langsung bangkit dari duduknya, melayangkan tatapan menusuk ke arah Luna.
Luna sibuk memainkan ujung rambutnya yang di curly itu oleh telunjuknya. Menatap Shira dengan rendah, saambil mengunyah permen karet di mulutnya.
“Sudahlah Shira, akui saja, kau sekarang beralih profesi ‘kan, menjadi seorang PELAKOR!” tuduh Luna, mempertegas.
Tatapan kalem Shira kini sudah berubah, ia begitu marah mendengarkan tuduhan salah dari wanita yang ada di depannya, darahnya seolah bergejolak naik, tangannya mengepal erat. Kedua netranya pun menatap Luna seolah ingin mencekik dan menerkamnya.
Luna tersenyum kecut melihat reaksi pada Shira. “Kenapa? ... Kau marah rahasiamu diketahui oleh banyak orang?” Luna mendudukan tubuhnya di atas meja lain dengan tidak sopan. Lalu mengangkat sebelah tangannya menengadah ke samping temannya.
Temannya yang bernama Kea langsung memberikan ponselnya kepada Luna. Lalu Luna pun memperlihatkan sebuah foto yang di mana, di dalam ponsel tersebut memperlihatkan cuplikan video saat Shira tengah makan dengan seorang lelaki bertubuh tinggi di restoran mewah. Kemudian ada beberapa foto lain yang menunjukkan Shira tengah mengobrol dengan seorang lelaki di pinggir jalan dan disampingnya ada mobil mewah berwarna kuning. Lalu di geser lagi oleh Luna, menunjukkan sebuah foto Shira yang memakai jas seorang lelaki di sebuah hotel, ditudungkan di bagian pundaknya.
Shira terperangah melihat video singkat dan beberapa foto dirinya dengan Akash. Akan tetapi, di foto dan video tersebut, wajah Akash tidak nampak, hanya ada wajah dirinya yang terlihat jelas.
“You see?” Luna kembali memberikan ponsel itu kepada Kea.
“Ha ha, ternyata hebat ya, dikelas kita ada mahasiswi yang jago goda om-om, guys.” Luna terbahak, diiringi gelak tawa teman-teman lainnya yang ada di kelas, menertawakan kebenaran pahit mengenai Shira.
“Eh, eh, tapi kalian mesti hati-hati girls, takutnya ... pacar kalian yang jadi sasaran berikutanya sama Shira.” Mereka langsung berbisik-bisik mencemooh Shira.
Shira bingung menjelaskannya. Ia tidak dapat mengelak dari bukti-bukti itu. Ia juga tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya bahwa lelaki yang ada di video itu adalah suaminya. Dan tidak mungkin pula ia membeberkan pernikahannya yang harus tetap menjadi rahasia pribadinya.
Shira kebingungan, ia harus menahan malu di tengah-tengah ejekan para teman-temannya. Entah apa yang harus ia lakukan. Akan tetapi jika melawan, ia sudah tertangkap basah. Jika memilih kabur, pastinya teman-temannya akan semakin mencemoohnya.
“Hey orang-orang bodoh! Cukup ya, jangan menghina Shira lagi!” Tiba-tiba Kalala datang langsung berteriak membentak mereka.
Semua mata tertuju pada gadis berkacamata itu.
“Uluh, uluh, si culun datang mau ngapain hah? ... Stop deh, gak usah buang-buang tenaga kamu buat bela temanmu yang PELAKOR ini,” ucap Luna menatap sinis kepada Kalala.
Kalala berjalan ke tengah-tengah, tepatnya berdiri di tengah mimbar yang biasa di pakai oleh dosen.
“Hey, asal kalian tahu ya, kalian semua ini hanya orang-orang gak tahu diri! Gak punya nurani! Apa kalian lupa ... saat Shira dulu masih kaya, kalian sering memanfaatkannya, meminta ini dan itu pada Shira, dan sekarang di saat Shira sedang terpuruk, kalian malah membullinya! Dasar kalian ini memang gak punya hati!” Kalala bersuara penuh emosi.
Tatapan Kalala mengarah pada salah satu mahasiswa yang ada di sana. “Kau juga! Dulu yang memberimu donasi motor dengan uang terbanyak siapa hah, kalau bukan Shira!” teriak Kalala pada seorang mahasiswi yang tadi sempat menertawakan Shira.
"Dan kau!" Kalala menunjuk kepada wanita yang paling rempong di kelasnya. "Dulu kau gak nunggak SPP dibantu bayar sama siapa hah kalau bukan sama Shira?"
Kebenaran yang Kalala ucapkan, membuat mereka yang sudah banyak dibantu oleh Shira dulu, langsung terdiam menunduk malu.
"Kalian disekolahkan tinggi-tinggi, tolong dong, otaknya di pake! Jangan karena rumor yang enggak jelas, otak kalian jadi ikutan gak jelas!"
"Dasar, Eshold!" Kalala masih diluput oleh emosi, tampak dari bahunya yang naik turun menahan gejolak amarah, pun tatapannya yang tampak semakin menyeramkan.
“Dan lo Luna! Bisa-bisanya lo ngatain Shira sebagai perebut suami orang. Lo enggak ngaca sama diri sendiri lo, hah? Ngaca Luna, ngaca! ... Lo juga yang merebut Haris dari Shira, bahkan sampai rela berkorban tubuh demi mengencaninya! Dasar bodoh!”
"Apa lo bilang!" Luna mengepal erat kedua tangannya, merengutkan wajahnya menatap benci kepada Kalala.
Shira merasa situasi sudah tidak membaik. Ia buru-buru angkat kaki dan menghampiri Kalala yang tengah ngos-ngosan menahan emosi.
“Kala ... sudah, ayo jangan buang tenagamu untuk meladeni orang-orang seperti mereka,” bisik Shira seraya memegang lengan dan bahu Kalala, mencoba menenangkannya.
Keadaan kelas semakin terasa hening, tetapi tatapan mereka seolah menyorotkan kebencian terhadap Shira dan Kalala.
“Dasar, sok pahlawan banget sih, si culun ini!” ungkap Luna kesal, seraya membenarkan rambutnya ke belakang telinga. Dengan kedua matanya yang mengerling sebal.
“Iya, sok banget sih!” timpal Kea dan Sherly.
Kriiing .... Bunyi bel yang begitu panjang, langsung membuat orang-orang itu kembali duduk di bangkunya masing-masing, karena jam pelajaran akan segera di mulai.
Kalala dan Shira pun duduk di bangku mereka masing-masing, dan tak lama dosen pun datang untuk memulai kelas.
“Dasar culun! Awas aja ya, sepulang sekolah lihat aja lo nanti!” ucap Luna pada Kalala yang duduk tak jauh dari mejanya. Wanita itu mengarahkan jempolnya ke lehernya, lalu menariknya seperti memberi kode ‘mati’.
Kalala yang melihat, ia mendelik sebal memutar kedua bola matanya, lalu mengacungkan jari tengahnnya kepada Nancy.
“Gue tunggu!” ucap Kalala yang hanya menggerakan bibir tanpa bersuara.
Bersambung...
Kesel gak sih kalian sama si Luna?
krn ssuatu hal jd bakker tk bs menceraiknny,nampak bakker tw lw istri kedua ny jahat