Bahagia. Satu kata, sarat makna yang belum pernah dikecap oleh seorang Anastasya. Berkubang dalam lara, hingga gadis itu lupa akan arti bahagia.
Kisah ini bagian dari Terjerat Dua Cincin Sang CEO
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adzana Raisha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menolak Kerjasama
Teriknya mentari kini berganti dengan gelapnya malam. Sebuah gedung beberapa lantai masih dipenuhi canda tawa dari puluhan orang yang tengah bejimbaku dengan pekerjaan.
Sorot kamera kini begitu ajrab dengan sosok Anastasya. Pakaian mahal melekat di tubuh, juga make up mahal yang kian menyempurnakan penampilan disetiap aktifitas.
Wajahnya kini mulai dikenal publik. Berkat kepiawaiannya dalam berpose di depan kamera dan berlenggak lenggok di atas catwalk.
Entah beberapa ratus kali kilatan kamera membidik wajahnya. Semua kru dan para model bahu membahu merampungkan rutinitas mengingat sang malam kian merangkak naik.
Tepuk tangan riuh mengiring tuntasnya sesi pemotretan cover majalah. Anastasya mengucap syukur dalam rasa lelah.
Ia pun lekas menuju ruang ganti guna melepas pakaian juga membersihkan riasan wajah. Hari ini, ia benar-benar lelah. Selepas menghabiskan beberapa jam waktunya dalam sesi pemotretan.
Beberapa rekan juga manager dan asisten pribadi masih setia mendampingi. Rangga yang disibukkan dengan urusan pekerjaan, memilih absen untuk tidak menemani. Akan tetapi, ponsel milik Anastasya tak henti bergetar yang dipenuhi dengan panggilan juga pesan singkat darinya.
Gadis itu tersenyum tipis. Rangga benar-benar membuat berharga. Kehilangan kedua orang tua, nyatanya tak membuatnya kehilangan kasih sayang, setelah bertemu dengan seorang Rangga.
Pria itu tergolong dewasa dan begitu menyayangi Anastasya selama ini. Tak sekali pun ia berbuat kasar dan menghujani sang pujaan hati dengan cinta.
Ponsel pintarnya kembali bergetar, namun kali ini bukan panggilan dari Rangga, melainkan Sarah.
Kak Sarah? Ada perlu apa dia?
💜💜💜💜💜
"Kita ke kafe Casablanka paman," titah Anastasya pada Rio. Sopir pribadi sekaligus pengawal yang ditugaskan Rangga untuk melindungi Anastasya.
"Baik, nona."
Mobil pun melesat cepat kearah tujuan. Anastasya yang merasakan lelah, mengistirahatkan tubuhnya pada kursi penumpang yang terasa nyaman.
"Paman, apa jadwal Tuan Rangga hari ini cukup padat?" Gadis itu bertanya tanpa menatap sang lawan bicara.
"Benar Nona. Tuan Rangga mengatakan jika akan menghadiri beberapa rapat dan kemungkinan akan usia pada larut malam nanti."
Gadis itu menghela nafas berat. Meski ia pun sudah mendengarnya langsung dari bibir Rangga, akan tetapi perasaan cemas itu tetap saja ada.
"Apa paman pernah mendengar jika Tuan Rangga akan segera dijodohkan?" Gadis bernama Amara, kembali terngiang di benaknya.
Pria itu spontan menggeleng.
"Untuk sekarang, saya belum mendengarnya nona."
Sejenak senyap. Keduanya memilih diam. Sibuk dengan fikiran masing-masing.
"Apa paman sudah memiliki kekasih? Atau mungkin istri?"
Roy tersenyum tipis.
"Sudah Nona, saya sudah memiliki istri dan satu putra."
Meski Roy terkesan irit bicara, tetapi setelah beberapa bulan kerap bersama, Anastasya tau jika pria dewasa tersebut memiliki pribadi yang cukup hangat.
"Lalu, apa paman pernah mencintai perempuan lain selain istri paman?"
Roy terkesiap. Meski tetap tenang tetapi sepasang netranya menyorot tajam kearah Anastasya dari kaca.
"Apa maksud pertanyaan nona?" Roy terlihat tak menyukai pertanyaan yang terlontar dari bibir kekasih sang tuan. Balik bertanya, namun engan menjawab tanya.
"Maaf paman. Bukan maksudku bertanya demikian, hanya aku ingin tau saja apakah seorang pria masih bisa merasakan jatuh cinta pada saat dirinya sudah tak lagi sendiri?"
Roy terdiam dengan pandangan fokus kedepan, mengatur kemudi. Sejujurnya ia engan menjawab. Takut jika jawaban menurut versinya tak sesuai dengan pemikiran Anastasya. Sungguh, selepas menikah ia teramat menyayangi seorang gadis, yaitu istrinya.
Sementara itu Anastasya kembali terbelenggu dengan isi kepalanya. Amara nyatanya mampu membangkitkan rasa cemburu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya pada Rangga.
Meski gadis itu sadar jika sosok Rangga bukanlah pria berengsek yang gemar mengumbar kata cinta. Akan tetapi tak mustahil jika tuntutan kedua orang tua, membuat pria itu tak berdaya dan memilih meninggalkannya.
Gadis cantik itu mengusap wajahnya kasar. Jujur ia tak siap jika harus berpisah dari Rangga. Memang ia membebaskan kekasihnya untuk memilih, akan tetapi dari lubuk hati terdalam ia pun tak rela jika hubungan vintanya kandas begitu saja.
💜💜💜💜💜
Anastasya melangkahkan kaki menuju ruang VVIP kafe. Seorang pramusaji membimbing langkah, kemudian membuka pintu perlahan selepas di hadapan ruangan.
Gadis itu mengulas senyum saat pandangannya bertemu dengan sepasang netra milik Sarah. Rupanya perempuan itu tak sendiri, ada dua pria yang menemani.
"Ana, kemarilah." Sarah spontan bangkit. Membimbing Anastasya untuk duduk di kursi sebelahnya.
"Bagaimana kabarmu?" Sarah membuka obrolan.
"Baik, kak. Kak Sarah sendiri bagaimana?"
Sarah tergelak.
"Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja. Oh ya perkenalkan, beliau-beliau ini rekan kerjaku." Sarah mengeser pandang kearah dua pria yang datang bersamanya.
"Dia Tuan Broto dan Tuan Seno. Beliau ini produser dan juga memiliki agensi model yang cukup terkenal di ibukota."
Anastasya menundukan kepala dan tersenyum ramah kearah keduanya.
Dari ekor mata Anastasya menangkap pemandangan yang membuatnya tak nyaman. Kedua pria yang tak lagi muda itu menatapnya tanpa kedip.
Gadis itu risih saat ditatap sedemikian rupa oleh lawan jenisnya. Bahkan sepanjang pembicaraan, Anastasya tak fokus dan lebih menundukan pandangan atau membuang pandangan pada objek lain.
"Bagaimana Ana. Apa kau berminat? Ingat, karirmu bahkan akan melesat cepat mensejajari model terkenal lainnya." Sarah menatap Anastasya lekat. Berharap jika gadis tersebut mau menandatangani kontrak yang ditawarkan.
Anastasya menelan ludah kasar. Sarah memang memiliki peran besar dalam membangun karirnya, akan tetapi kontrak yang ditawarkan, sungguh membuatnya terbelalak taj percaya.
Menjadi cover majalah dewasa. Apa ia akan menerimanya begitu saja?
"Em, maaf Kak. Sepertinya, aku menolak tawaran kerja ini."
Kedua pria paruh baya itu terdiam, begitu pun dengan sarah. Akan tetapi wajah perempuan itu sebisa mungkin terlihat tenang.
"Ana, kontrak kerja ini bernilai puluhan bahkan ratusan juta, kau yakin untuk menolaknya?" Sarah tak lelah memberi penawaran.
Berbagai ucapan yang tujuannya menggoyahkan iman Anastasya, juga ikut dilontarkan kedua pria paruh baya itu dengan penuh semangat. Iming-iming uang besar dan popularitas, justru membuat Anastasya pusing kepala.
"Sekali lagi maaf. Saya tidak berminat. Bukan bermaksud lancang, hanya saja saya merasa malu jika harus berfoto dengan pakaian sangat terbuka. Mungkin tuan bisa menawarkannya pada model lain yang lebih berpengalaman."
Kedua pria itu pun terdiam seketika. Wajah yang semula berpura-pura ramah, memerah seketika. Akan tetapi, Sarah menunjukan hal berbeda. Ia masih memasang senyum memawan, menutupi emosi diri yang nyaris membludak, jika tidak pintar-pintar menutupnya.
"Baiklah, Ana. Aku terima keputusanmu. Saya harap Tuan Broto dan Tuan Seno memahaminya."
Kedua pria itu tersenyum canggung. Tak berapa lama, pelayan datang dengan membawa beberapa menu sesuai pesanan.
"Nona Ana, silahkan menikmati hidangan. Walau anda menolak bekerjasama, namun hubungan baik harus tetap dijaga, bukan?" Broto menatap wajah cantik Anastasya lekat. Tak lupa mengulas senyum tipis di sana.
Anastasya mengangguk lemah. Entah mengapa ucapan Broto, mengingatkannya pada satu hal. 'Menjaga hubungan baik' Kenapa ucapan itu mengingatkannya pada semua kebaikan Sarah.
Ya Tuhan.
Anastasya memejamkan netra. Semoga hubungannya dengan Sarah tetap berjalan seperti sedia kala walau dirinya menolak untuk bekerjasama.
Bersambung
tetap semangat utk terus berkarya 💪💪😍😍😍
ditunggu kelanjutan kisah mereka 😍😍😍
lanjut kak 🙏💖💖💖
semangat 💪💪
makasih up nya kak...tetep semangat 💪💪💪