Bagaimana jika tiba-tiba kehidupanmu berubah saat ditinggalkan orang terkasihmu?
Hancur? sudah pasti
Apakah sama dengan yang Aurora alami saat tiba-tiba papa yang begitu ia sayangi dan kekasih yang ia cinta pergi?
sudah pasti iya
Akankah ia bisa bangkit? kembali menata hati dan membuka untuk cinta yang baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amma Nada, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ara ketemu
"Aaarrggggg"teriak seseorang yang tengah disekap oleh beberapa orang disana.Ia terus mengerang kesakitan karna luka pada tubuhnya.Bahkan matanya tengah ditutup oleh kain hitam membuat dirinya tak dapat melihat siapa yang tengah menyekapnya.
"Buat mereka seperti orang gila mencari gadis ini"ucap seseorang yang dapat Ara dengar suaranya.Tapi anehnya ia sama sekali tak mengenali suara itu.
"Siap bos"sahut beberapa lelaki yang bisa dipastikan mereka bawahan dari lelaki bersuara berat tadi.
"Jangan membuat dia mati,cukup menyiksanya.Karna takkan asik jika dia mati sia-sia seperti orang tuanya"suara seseorang yang entah dari mana mendekat ke tempat Ara.
Degh!
"Papi"batin Ara kembali menangis,mendengar ucapan orang itu.Ara mengenali suara itu,ia familiar dengan suara serak itu.Matanya membelalak dalam kain hitam itu,mencoba mengingat suara serak yang semakin mendekat.
"Tak mungkin"rapalnya dalam hati,tak mungkin orang yang Ara kenal batinnya terus menolak pemikirannya.
Ia merasakan tangan seseorang merayap di pipinya,lalu membelainya.
"Cantik"bisiknya membuat tubuh Ara bergetar hebat,ia ketakutan. "Kekasihmu yang tua itu begitu bodoh mudah sekali dialihkan perhatiannya"lanjutnya berbisik lalu terkekeh.
Degh!
"Om, apa yang terjadi sama om"batin Ara meratap.
"Papi,Rafa,mami,Om tolong Ara"batinnya dengan linangan air matanya.
"Oh cantik.."panggilnya pelan "Apa ini sakit??"tanyanya sambil menekan luka di pergelangan kaki Ara membuat Ara mengerang kesakitan.
"Aaaarrrrggggg"teriak Ara kesakitan.
"Uh.. sakit ya, maafkan aku.Aku akan berbaik hati tak membuatmu mati konyol seperti papimu.Karena hanya melihatmu kesakitan seperti ini sangat menyenangkan"ucap lelaki itu terkekeh,tapi ia malah meremat luka itu membuat kembali jeritan kesakitan Ara menggema di seluruh ruangan.Mengetahui kenyataan yang sebenarnya.
"Papi"panggilnya terus-terusan dalam hatinya.Hatinya hancur,melebihi saat mengetahui kematian papinya waktu itu.Untuk kesekian kalinya ia kembali berteriak menangis karna ancaman yang dibisikkan oleh seseorang itu.
Dan tawa lelaki itu pun ikut terdengar nyaring bersahutan dengan tangis Ara.
…..
Tak berbeda jauh dari Ara,Perasaan kalut semua orang yang berada didalam mobil semakin terasa setelah mereka menyambangi teman se akademi Ara sekaligus anak pemilik akademi balet itu.Vania bahkan menangis mengetahui junior kesayangannya diculik.Ia menuturkan jika sempat mengajak Ara untuk kembali bersama tapi Ara menolak karena tak ingin pergi tanpa pengawalan.
"Aarrgg.."Rafa tiba-tiba meremat dadanya yang terasa sakit membuat ketiga orang lainnya terkejut sampai daddy menepikan mobil.
"Kak,ada apa?"tanya mami khawatir pada putranya yang tengah kesakitan.
"Aahh.. sakit sekali mami"sahut Rafa bahkan air matanya tiba-tiba meleleh.
"Kita ke dokter.. Elang cepat kita ke dokter"panik mami melihat putranya tiba-tiba mengerang kesakitan.
Rafa menggeleng "Perasaan Rafa tak enak,semoga Ara baik-baik saja"
Mami Rain berhambur ke pelukan sang putra,Rafa mendekap erat tubuh maminya.Ia tau sedari tadi mami menahan dirinya agar tak terlihat lemah dihadapannya.
Daddy pun terlihat hancur melihat wanita yang ia cinta menangis dengan memeluk sang putra,ia meremat tangannya.Bersumpah akan menghabisi siapa saja yang berani membuat keluarganya bersedih.
Ia pun melakukan panggilan pada seseorang.
"Apa ada kabar tentang putriku?"ucap daddy.
"......."
"Bodoh… sebenarnya apa kerjaan kalian sialan"teriak Daddy menakutkan sambil memukul setir mobil.
"......"
"Cari sampai dapat,retas cctv di sekitar akademi balet itu.Aku tak mau ada kesalahan, putriku harus ada malam ini juga dihadapanku.Kau mengerti!!!!"tekan daddy dengan berteriak pada lawan bicaranya.
Rendy mengusap wajah kasar,ia begitu khawatir dengan keadaan sang kekasih.
Degh!
Ia teringat sesuatu.
"Bodoh..bodoh..bodoh"rapalnya dalam hati merutuki kebodohannya.
Rendy merogoh sakunya untuk meambil ponsel.Ia baru ingat tentang kalung yang ia berikan pada sang kekasih waktu itu tanpa Ara ketahui jika ada alat pelacak di dalam liontin kalung yang ia berikan.
Saat kejadian seseorang yang akan mencelakai Ara waktu itu,Rendy berinisiatif untuk memberikan kalung itu pada sang kekasih.Ia meminta tolong pada sepupunya yang tak lain seorang peretas hebat.
Ia melakukan panggilan pada sang sepupu.
"Hallo"
"Darren,tolong aku"ucap Rendy to the poin.
"Katakan"
"Lacak kalung milik kekasihku waktu itu,dia diculik"
"Baik,sebentar"
Tanpa mematikan panggilan,terdengar suara berisik dari seberang telfon.
Ketiga manusia yang lain pun menyimak panggilan yang tengah dilakukan Rendy.
"Sudah ku kirimkan lokasinya"
"Terimakasih Ren, aku berhutang banyak padamu" sahut Rendy dan panggilan itu pun terputus.
Rendy membuka pesan yang telah dikirimkan oleh sepupunya,lokasi yang lumayan jauh dari tempat mereka sekarang.
"Aku menemukan lokasinya"ucap Rendy membuat mami yang masih dalam pelukan putranya itu menegakkan badannya.
"Sungguh chef?"sahut mami.
"Ya bu,saya mendapatkan lokasi Ara.. Saya baru mengingat jika meletakkan alat pelacak pada kalung yang saya berikan pada Ara"
"Dasar bodoh"ucap sarkas daddy melihat kebodohan lelaki ini"Katakan lokasinya" ucapnya Daddy lagi dingin,ia masih sangat murka dengan lelaki yang duduk disebelahnya ini.Jika tak dilerai Rain,mungkin ia sudah melempar Rendy ke kandang Zenna.
Rendy pun menyerahkan ponsel miliknya pada daddy.Setelah daddy melihat lokasi yang ada diponsel itu,Ia pun melakukan panggilan pada salah satu bawahannya agar menuju lokasi yang berada di pinggir kota.
……
Butuh 3 jam perjalanan hingga sampai ke lokasi,jalanan lereng gunung di pinggiran kota pun mereka lalui dengan pencahayaan yang lumayan.Beberapa kali daddy menghubungi tangan kanannya yang juga lebih dulu meluncur ke lokasi dengan anak buahnya.
Klek klek klek
Bunyi nyaring terdengar dari arah belakang dan samping Rafa membuat Rafa,daddy dan Rendy melihat kearah suara.
Mata mereka membulat sempurna dengan apa yang mereka lihat.Mami tengah memegang pistol ditangannya.
"Mih,untuk apa itu?"tanya Rafa yang masih membelalakkan matanya.
Daddy melihat dari spion tanpa mau ikut berbicara.
"Jaga-jaga"sahut mami enteng dengan mata lurus ke depan.
"Mih,ini terlalu menakutkan.. Jangan mih, Rafa gak mau mami kenapa-napa"ucap Rafa mencoba menenangkan maminya.
"Mami gak akan kenapa-napa"sahut mami.
"Mih"panggil Rafa lagi mencoba mencegah.
"Biarkan Rafa,mamimu tau bagaimana cara menggunakan itu"timpal daddy dengan senyum menyeringai yang terlihat di spion membuat Rafa mengrenyitkan keningnya.
Rendy terdiam karna dia pun terkejut melihat calon mertuanya yang ternyata menyeramkan juga jika tengah serius seperti ini.
……
Saat melewati pepohonan jati yang menjulang tinggi di pinggir jalan,salah seorang lelaki tengah menggunakan kode dari tangannya agar lampu mobil dimatikan.Seketika lampu mobil mati.
Daddy tau jika itu salah satu anak buahnya.Tak lama setelah itu mobil pun ditepikan dan langsung dimatikan.
Lelaki yang diperkirakan berumur 30 tahunan itu tengah membungkuk hormat pada daddy.Daddy langsung berjalan mengikuti lelaki itu.
Srek.. srek…
Suara langkah kaki mereka saat melewati dedaunan di sepanjang jalan.
"Mami,mami serius gapapa?"tanya Rafa masih mencemaskan maminya. "Mami nanti tunggu sama orang-orang daddy, biar aku,daddy sama Om Rendy yang masuk"lanjut Rafa.
"Ck.. tenang sayang, mami gapapa"sahut mami mencoba meyakinkan.Tiba-tiba saja ia mengingat masa-masa bersama sang suaminya dulu.Saat ia menembak seekor ayam yang membuat sang suami syok berat.
Mami Rain terkekeh mengingat masa itu, ketiga lelaki didepannya sampai menoleh kearahnya.
"Menunduk"perintah daddy membuat semua yang tengah berjalan menyusuri hutan itu menunduk.
Dan ternyata sebuah mobil Jeep tengah melaju di gelapnya malam itu.
"Sepertinya mereka meninggalkan tempat.."ucap Daddy pada bawahannya itu. "Roy,semua sudah menempati tempat mereka masing-masing?"lanjutnya bertanya.
"Semua siap tuan"
"Baik.. Kita kepung mereka, dan jangan ada yang berhasil lolos kau mengerti!!"ucap daddy dengan nada tegasnya.
"Siap tuan"sahut Roy itu dan mereka kembali melanjutkan langkahnya.
……
"Aaarrrggg… huhuhuhu…."tangis Ara terdengar nyaring,bukan hanya badannya tapi juga hatinya sangat sakit. Hanya suara tangisannya yang mengisi suasana didalam ruangan sepi itu.
Brak
Brak
Dorr
Dorr
Tiba-tiba saja telinga Ara mendengar suara-suara jauh dari tempatnya saat ini.Ia semakin berteriak ketakutan saat mendengar suara tembakan yang begitu memekakkan telinganya.
Ara menyeret badanya mundur dengan keadaan tangan dan kaki terikat,bahkan matanya masih tertutup oleh kain.
Ia meraba-raba lantai, mencoba mencari benda yang bisa ia gunakan untuk melepas tali-tali dibadannya.
Brak
Sebelum ia selesai dengan usahanya,tiba-tiba saja terdengar suara dobrakan dari depan ruangannya.Ia dengan kuat kembali berteriak sampai ia merasakan seseorang tengah menyeretnya berdiri.
"Diamlah.. atau ku bunuh kau"bisik seseorang itu membuat badan Ara kembali bergetar ketakutan.
Ia diseret mengikuti langkah lelaki yang berada disebelahnya.Langkahnya tertatih-tatih karna luka parah dipergelangan kakinya.
Dorr..
"Aaarrrggg…"teriak Ara lagi karna suara tembakan itu terdengar sangat dekat di sebelah telinganya.Bahkan ia terjatuh karna tiba-tiba lelaki disebelahnya melepaskan pegangannya..
"Hiks...hiks.. om,Rafa tolong aku"rapalnya dalam hati.
Greb
Degh..degh...degh...degh…
Wangi parfurm yang ia sangat kenali begitu terasa pada penciumannya.
"Om"panggilnya lirih dalam pelukan seseorang.Tangisnya kembali pecah mengingat ia merindukan lelaki yang beberapa waktu lalu pamit untuk menyelesaikan masalah di Restoran dan sekarang ia malah berakhir dalam sekapan seseorang.
"Sayang"panggil orang yang sangat Ara kenal.
"Om… hiks...hiks.."Ara semakin menangis pilu dan perlahan ikatan di matanya terbuka,sinar sebuah lampu di dalam ruangan itu menyilaukan matanya dan
Bruk
Ara tak sadarkan diri.
……...