Afkar Giovani Nararya si ketua kedisiplinan Sekolah SMA N TUNAS BANGSA, di nikahkan dengan Hanindya Kayesa si Ratunya terlambat, dan mereka terkenal tidak akur satu sama lain
Di tambah keseruan teman sekelas yang gila gila mewarnai
Seperti Tom and Jerry bagaimana mereka menjalani bahtera pernikahan mereka?
bagaimana mereka menyikapi situasi yang memaksa mereka menjadi orang dewasa di usia mereka yang masih remaja?
Bagaimana mereka menyembunyikan status pernikahan mereka dari pihak sekolah agar tidak di keluarkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon P TututhPern, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35
Hanin berlari masuk ke dalam rumah sakit meninggalkan Sabrina dan Hana
" Nin pelan pelan " Sabrina berujar tapi tidak diindahkan Hanin dia tetap berlari masuk.
Aryan dan Zain yang berada di luar dengan beberapa anggota osis yang lainnya, mereka berdua spontan berdiri melihat Hanin datang.
" Nin " Aryan mencegah Hanin " mana orang tua Afkar m-"
" Afa bagaimana dia? " Hanin memotong pertanyaan Aryan dengan pertanyaan " Aryan "
" dia istira- Hanin jangan masuk dulu "
brak, Aryan menepuk keningnya karena belum sempat menahan Hanin.
" Nin? "
Afkar yang di bantu duduk Baim kaget begitu ruangan dibuka cukup keras.
" lah Ma? kenapa malah nangis di situ? " tanya Baim begitu melihat Hanin yang malah berjongkok menangis.
Kaki Hanin lemas, sepanjang perjalanan dia terus menangis takut terjadi sesuatu pada Afkar, tapi lihat cowok itu? dia terlihat baik baik saja tidak begitu parah tapi kenapa Zain menelfonnya seperti itu?
" kaki gue lemes " isak Hanin membuat yang ada di ruangan itu melongo. Sabrina yang memang berada di belakangnya membantu Hanin berdiri dan berjalan ke arah bankar Afkar
Afkar menarik pelan tangan Hanin agar mendekat padanya tidak peduli dengan siswa yang masih ada di sana. Afkar menghapus air mata Hanin bahkan tidak jijik dengan cairan yang keluar yang keluar dari hidung Hanin meski harus tetap berakhir dengan mengelapnya di ujung pakaian Hanin, dia melirik Sabrina meminta penjelasan.
" dia menangis sepanjang jalan. " jawab Sabrina.
Hanin makin menangis, dia malu. Dengan cepat Afkar menariknya ke pelukannya dan meminta yang lain keluar. Hanin bahkan tidak sungkan melingkarkan tangannya ke Afkar.
" gue malu " bisik Hanin, Afkar terkikik kecil
" mereka sudah keluar "Afkar berucap sedikit melonggarkan pelukannya tapi Hanin menolak dia malah mempererat pelukannya " gue ngak masalah Nin dipeluk semalaman, tapi badanku masih nyeri semua "
Hanin melepaskan pelukannya dan duduk di tepi bankar Afkar masih sedikit terisak.
" siapa yang kasih tau gue disini? " tanya Afkar dia meraih air mineral dari atas nakas samping bankarnya dan menyodorkan ke Hanin " gue gak apa apa "
Hanin menggelengkan kepalanya menolak air yang di sodorkan Afkar.
" hei, kenapa makin nangis sih? " panik Afkar " Hanin "
" gue gak mau lo tinggalin gue kayak Hanan " tangis Hanin " gue takut "
Hanan, Mamanya pernah cerita kalau Hanin punya kembaran tapi meninggal karena kecelakaan saat mereka masih SD kelas empat, Hanan kecil pergi kerja kelompok tapi di perjalanan pulang dia ditabrak motor.
Afkar meraih tangan Hanin, dia sedikit kaget karena tangan Hanin sangat dingin. menangkup wajah Hanin dengan tangan lainnya.
" gue gak bisa janji bisa terus hidup di samping lo, karena hidup mati seseorang sudah ada yang atur Nin. tapi, selama gue masih punya nafas gue bakal berusaha terus di samping lo. "
Hanin hanya mengangguk, Afkar mengacak rambut Hanin gemas
" dengan siapa lo kesini? "
" Hana, Bina sama kakaknya Hana " jawab Hanin, Afkar mengangguk mengerti.
Afkar dan Hanin menoleh saat pintu terbuka dan menampakkan tiga perusuh IPS masuk sambil nyengir, dibelakang mereka ada beberapa anggota osi
" dih si Mama, kayak bocah aja nangis bombay " ledek Zain
" diam lo " kesal Afkar menatap mereka tajam " guekan gak usah kasih tau siapa siapa "
" idenya Zain, Pa " ucap Aryan
" lah kenapa gue dah, baim no "
" hah? gue gak tau, gue juga kaget liat Mama muncul " ucap Baim dengan watados alias wajah tanpa dosa.
" Nin, lo masih disini atau mau pulang bareng? " tanya Sabrina melerai jarak Baim dan Zain " kakaknya Hana mau kerja besok "
" lo pulang ya " ucap Afkar menatap Hanin tapi gadis itu menggelengkan kepalanya " Nin? "
" Mama bakal ke sini, nanti pulang bareng Mama " jawab Hanin.
" Mama ke sini? "
" tadi gue telfon di jalan " jawab Hanin.
" tumben Mama kalem, biasanya kayak singa betina " cetuk Zain melihat Hanin
" cieee.... Papa mau di datangin CaMer " ledek Aryan " udah manggil Mama pula tuh "
" dia Mama gue. " kata Afkar, Aryan melongo
" makanya jangan Sotoy " Sabrina menyampirkan rambutnya ke belakang telinga " ya udah, Gi, Nin gue balik ya. telfon aja kalau lo ada perlu nanti gue minta Alvin nganterin "
" gak usahlah "
" atau Vanya mungkin " Sabrina memainkan keningnya
" anjir balik lo sana " sungut Hanin masih dengan suara seraknya, Afkar meraih tangan Hanin dan menggenggamnya.
Trio rusuh langsung memutar bola matanya
" bubar bubar, pawangnya Afkar sudah datang " ucap Aryan berbalik badan mendorong punggung orang yang ada di belakangnya.
Aryan meraih pundak seorang gadis menariknya keluar
" lo sudah liatkan? menyerah saja. " bisik Aryan " satu lagi, kalau sampai lo berani macam macam ke Hanin, 11 IPS 1 tidak bakal ngelepasin lo. " Aryan menatap tajam gadis itu dan kembali masuk bergabung dengan Zain dan Baim yang sudah mulai beraksi, mereka lupa kalau mereka berada di rumah sakit.
Afkar melirik Hanin yang sudah tidur di sampingnya, karena tubuh Hanin ramping jadi tidak masalah mereka baring di bankar yang sama, sedangkan teman temannya sudah kembali ke tempat acara untuk berkemas siap pulang, barang Afkar akan di antarkan Aryan.
Afkar langsung memberi isyarat pada Mamanya agar jangan berisik begitu Mamanya datang.
" ini kenapa bisa ada di sini sih? tadi Hanin telfon Mama, dia panik " ucap Elsa, Afkar menoleh ke Hanin yang lelap, mata gadis itu bengkak
" tidak sengaja jatuh dari tebing, untungnya tidak tingggi " jawab Afkar, Elsa menggeleng dia mendekati putranya itu menatap dari atas. " Gio gak apa apa, Ma " ucap Afkar
" selain kaki apa lagi yang sakit? " tanya Elsa, Afkar menggelengkan kepalanya. " kepala kamu? "
" tidak kenapa " jawab Afkar, dia mengusap punggung tangan Mamanya " lain kali aku akan hati hati "
Elsa menghela nafas, dia melirik Hanin yang kebetulan mengobah posisi, Afkar dengan sigap mengangkat tangannya yang terpasang infus agar tidak terkena tangan Hanin yang memeluknya.
#
Hanin mengucek matanya, berlahan dia membuka matanya dan langsung melihat ekspresi bodoh Aryan, Hanin mengkerutkan keningnya kenapa dengan Arya- Hanin langsung bangun begitu menyadari sesuatu tapi badannya tertahan dengan tangan Afkar yang melingkar di pinggangnya.
" gu..gue gak liat apa-apa " panik Aryan linglung sendiri, Hanin menepuk keningnya
" Yan, Papa sudah bang- " kalimat Zain tergantung melihat posisi Hanin masih berbaring dengan Afkar memeluknya
" woi, masuk sana jangan halangi pintu. gue mau ma- ASTAGFIRULLAH HAL ADZIM " pekik Baim melihat Afkar dan Hanin, dia dengan sigap mendorong Zain masuk dan menutup pintu agar orang luar tidak melihat.
" Ma...a..eng.. " Zain kehilangan kata kata.
Hanin melepaskan tangan Afkar dan berusaha duduk tapi Afkar malah kembali melingkarkan tangannya.
" Fa... bangun " Hanin menepuk lengan Afkar " Fa.. "
" gak sekolahkan, sini tidur lagi " Afkar hendak meraih Hanin tapi di tepis Hanin dan malah langsung mendapat pukulan ketas di tangannya. " ck, gue bilangin mama kalo lo suka nyiksa gue suami lo " rutuk Afkar tanpa berniat membuka mata dia malah menenggelamkan wajahnya di bantal
" SUAMI? "
Afkar langsung membuka matanya begitu mendengar seruan cowok, dia langsung bangun dan mendapati Aryan, Zain dan Baim melongo.
" ngapain kalian di sini? " tanya Afkar, dia mengusap wajahnya dengan sebelah tangannya.
Hanin langsung turun dan berlari ke kamar mandi, mereka sangat ceroboh sampai harus ke-gep begitu. Hanin rasanya mau menangis saja, bagaimana kalau sampai satu sekolah tau? dia tidak mau dikeluarkan dari sekolah.. dia masih kelas sebelas.
" ka....kalian? " Aryan bertanya mewakili Zain dan Baim
Afkar menghela nafas dan mengangguk
" kapan? "
" seminggu setelah masuk kelas sebelas " jawab Afkar, mereka makin melongo sudah selama itu?
" Im, lo pikir apa yang gue pikirin gak? " tanya Zain, Baim menganggukkan kepalanya
" MAKAN GRATISSS " seru mereka berdua sambil bertos ria
" upin ipin dasar " cibir Aryan, Zain tidak peduli dia malah berjalan mendekati kamar mandi
" MA, GAK USAH NGUMPET LO, SOK CANTIK BANGET " serunya.
" MA... DEDEK LAPER MA " timpal Baim dan mulai berjogat gila, giliran Afkar yang melongo.
Hanin keluar dengan wajah basah karena baru saja membasuh wajahnya. Dia melangkah mendekati tiga cowok itu
" kalau sampai lo bertiga bocor, gue botakin lo pada " ancam Hanin, membuat mereka meringis
" lah Ma, mana bisa kami bocor kami kan cowok " ucap Baim cengir
Hanin mendengus kesal dan berbalik naik kembali ke bankar karena kursi di kuasai Aryan.
" jadi... siapa saja yang tau? " tanya Aryan
" Sabrina, Hana IPA 1, Alvin, Satrio IPA 1 dan Ke- "
" Alvin tau? " pekik Hanin " Fa? "
" dia tidak bakal bocor " jawab Afkar, Hanin memicingkan matanya " gue kenal Alvin dari SMP, seperti Sabrina dia teman gue "
Mereka menatap Afkar tidak percaya, siapa yang menyangka Alvin-Afkar berteman
" siapa lagi? "
" Kennan IPA 1 " jawab Afkat yang membuat tiga cowok itu tertawa dan meledek Hanin yang kalau modus ke Kennan tidak akan mempan.
tbc
dan 2024 anakku lahir ta kasih nama hanindya😍
kangen sama karya baru nya mak 😂