"Ya Allah ... tolong izinkan abah lebaran sekali lagi."
Doa seorang anak di tengah kesunyian malam. Tak banyak yang dia inginkan untuk lebaran kali ini, hanya kebersamaan dengan Abah saja yang dipintanya.
Nur, seorang anak kecil dari keluarga sederhana yang tak banyak mengeluh. Kehidupan yang sulit tak menjadikan Nur menjadi anak yang murung. Ia tetap percaya diri pergi ke sekolah meksipun sepatunya telah rusak.
Kisah sebuah keluarga sederhana di era 90-an. Selamat membaca!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aisy hilyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Seonggok Daging
Tok!
Tok!
Tok!
Suara ketukan pintu tak menghentikan laju tangisku. Aku masih saja sesenggukan di dalam kamar bersandar pada pintu sembari mendekap Al-Qur'an pemberian abah.
"Nur ... buka pintunya, Nak!" Suara bibi terdengar di luar kamar. Aku masih bergeming tak ingin membuka.
"Nur, Abah lagi dimandiin, Nur gak mau mandiin Abah untuk yang terakhir kali?" katanya lagi membuatku seketika terdiam sembari terus sesenggukan.
Benar, ini untuk yang terakhir kali sebagai bakti anak pada orang tuanya. Aku beranjak berdiri, meletakkan Al-Qur'an di atas ranjang dan berdiri mematung di depan pintu.
Kuhapus jejak air mata di pipi, perlahan kubuka pintu dan segera mendapat pelukan dari wanita paruh baya itu. Aku bergeming, tak berucap, tidak pula terisak.
"Sabar, Nur. Ikhlasin Abah, ya?" katanya mencoba membuatku kuat. Ia melepas pelukannya dan menuntunku keluar kamar. Kulihat juga Aceng yang baru saja dari dapur dengan matanya yang sembab. Ada teteh dan juga mak yang duduk di kamarnya.
Bapak penghulu menyambutku dan membawaku mendekati seonggok jasad tak bernyawa di atas sebuah bale-bale ditutupi sehelai kain.
Aku menahan diri agar tidak menangis di hadapan jasadnya. Lihatlah!
Baru saja kemarin abah berbincang denganku, bercanda dan tertawa bersamaku. Mengajakku bermain dan bercerita. Menuntunku dalam berjalan, menikmati masakan mak bersama-sama.
Sekarang, ia terbujur kaku. Tiada daya tiada upaya, bahkan untuk membersihkan tubuhnya sendiri pun harus orang lain yang melakukannya.
Perlahan bapak penghulu yang bertugas memandikan jenazah menuntun tanganku mengambil gayung dan membantu menyiramkannya pada tubuh abah. Dari ujung rambut hingga ujung kaki.
Tanganku yang kiri pun ia pegang untuk menggosok-gosok tubuh abah dengan lembut. Katanya, lakukan secara lembut agar tidak menyakiti jasadnya.
"Pakaikan sabun, Nur!" titahnya seraya menyodorkan sabun kesehatan berwarna putih dengan bau yang khas. Akan kuingat sepanjang hidupku bau sabun ini.
Aku meraih sabun itu dan menggosokkan tanganku hingga berbusa, lalu mulai menyabuni Abah dengan hati-hati. Usai menyabuni, kusiram kembali tubuh abah menggunakan air bersih.
Apa yang membuat kita berlaku sombong di dunia ini? Jika saat nyawa lepas dari badan kita sangat membutuhkan orang lain untuk membersihkan diri.
"Udah," katanya lagi. Dimintanya aku untuk kembali ke rumah karena ia yang akan menyelesaikannya hingga akhir. Kulihat dua anak lelaki abah ada di luar. Tidak menyapa atau pun sekedar bertanya kabar.
Aku duduk bersama Aceng di dekat sebuah tikar yang akan digunakan untuk membungkus abah setelah dikafani.
Jasad abah dibawa beberapa orang laki-laki ke ruang tengah. Jasad itu diletakkan di atas kain kafan yang dibentangkan di atas tikar tadi.
Kain kafan itu mulai dipakaikan pada abah. Itu adalah pakaian terakhir manusia yang akan dibawa pulang. Begitu kata abah saat menceritakan tentang kematian.
Untuk apa berbangga diri dengan semua yang melekat pada tubuh kita, jika saat pulang nanti hanya helaian kain bewarna putih polos itu saja yang akan dikenakan.
Satu per satu lubang di tubuh abah ditutup menggunakan kapas. Di sela-sela jari tangan dan kaki juga pada lipatan tubuh, tak lupa di pakaikan kapas. Benda ringan putih itulah perhiasan kita saat pulang ke tempat peristirahatan. Bukan itu yang berwarna kuning atau lainnya.
"Nur ... sini, Nak!" bapak penghulu memanggilku. Aku beringsut mendekat. Ia memberiku kapas selebar kedua telapak tanganku.
"Pakaikan pada Abah!" katanya. Kupandangi kapas itu sejenak sebelum beralih memandang wajah Abah yang damai. Senyum yang diukir bibirnya masih terlihat meski samar.
Kudekatkan tangan yang membawa kapas itu pada wajah abah. Kututupkan padanya dan merapikannya. Sejenak aku tertegun melihat wajah abah yang samar dari balik kapas.
Apakah itu menjadi riasan wajah kita yang terakhir? Bukan make up dengan merk terkenal dan mahal.
Kupandangi wajah abah yang tetap terpejam meski aku mandikan. Aku tidak dapat menguasai diriku lagi, aku tidak dapat berpura-pura tidak sedih lagi.
Aku meraung histeris, menjatuhkan tubuhku pada tubuh abah.
"Abah!" jeritku meremas kain kapan yang dikenakan abah.
"Nur, tenang, ya. Abah udah pergi, ikhlaskan." Suara bapak penghulu terdengar menenangkan. Aku mentulikan telingaku. Tak ingin dipisahkan dari abah dan terus menangis.
"Nur, udah ... biarin Abah pergi." Suara bibi ikut menenangkan aku. Tangisku masih kuat terdengar. Aku masih terlalu kecil untuk ditinggal abah.
"Nur, ayo!" ajak bibi mencoba menjauhkan tubuhku dari abah. Aku menggeleng sambil terus menangis.
"Kemaren, Abah masih ngobrol sama Nur. Kemaren Abah masih bercanda dan tertawa sama Nur. Kemarin Abah udah sehat, Abah udah baik-baik aja, Abah udah gak sakit! Kenapa Abah sekarang pergi?" raungku semakin histeris.
"Nur, umur itu gak ada yang tahu. Kapan ajal datang menjemput tidak dapat diketahui siapa pun, ikhlaskan, Nak!" Suara bapak penghulu kembali terdengar. Ikut kurasakan dua buah tangan besar melingkari tubuh kecilku. Ingin memisahkan aku dengan abah.
Aku tidak mau melepaskan pelukanku pada abah. Sakit? Biarlah sakit, aku tak apa.
"Nur ... anak abah. Nur sayang, 'kan, sama abah? Nur gak mau, 'kan, abah merasa berat meninggalkan kita? Bukannya Nur anak sholehah abah?" Suara lembut mak menghentikan tangisku.
Sentuhan lembut mak membuatku secara perlahan melepaskan diri dari tubuh kaku abah. Aku menoleh, dengan mata yang sembab dan basah juga wajah yang memerah.
Sesenggukan yang tak dapat kuhentikan, aku kembali menangis saat melihat mata mak yang juga membengkak dan merah. Aku berhambur dalam pelukannya dan kembali meraung pilu.
"Kenapa abah pergi gitu aja, Mak? Kenapa abah gak pamit dulu sama kita? Kenapa, Mak?" jeritku dalam pelukan mak.
Mak ikut menangis, bukan hanya mak bahkan semua orang yang ada di rumah pun mungkin saja ikut menangis.
"Semua itu kuasa Allah, Nur," lirih mak dalam pelukan.
"Tapi, harusnya abah sekarang sehat, 'kan, Mak? Main sama Nur, bukan tidur kaya gini!" Aku masih tidak bisa menerima kepergian abah yang mendadak dan tanpa pesan ini.
Mak melepas pelukan, menangkup wajahku dengan kedua tangan kasarnya.
"Dengerin, Mak! Semua itu kuasa Allah. Kita sebagai manusia harus bisa menerima takdir yang sudah digariskan oleh-Nya. Kita harus ikhlas, Nur. Supaya abah bisa tenang di alam sana," ucap mak.
Aku meredakan tangisku pelan-pelan, lalu mengangguk mengerti meski masih sesenggukan.
Jasad abah dimasukkan dalam keranda yang akan membawanya ke mushola dan tempat terakhirnya.
Lalu, apa yang membuat kita angkuh saat hidup di dunia yang melangkah saja menggunakan mobil mewah, jika saat mati nanti kerandalah yang akan membawa jasad kita menuju rumah abadi.
Di dalam sana, di sebuah bangunan kecil tempat abah beribadah menghabiskan waktu untuk berdzikir, ia dibaringkan. Benar kata abah, jika shalat tak lagi mampu walau berbaring ... maka ia akan dishalatkan. Seperti abah sekarang.
Tidak ada rukuk tidak ada sujud, hanya empat kali takbir untuk menyempurnakan haknya yang terakhir sebelum jasadnya meninggalkan dunia ini.
Usai dishalatkan, abah kembali dimasukkan ke dalam keranda. Dua anak abah yang menggotongnya dibantu oleh warga.
Aku, Aceng dan teteh juga keluarga yang lain ikut mengantar abah ke kuburnya. Tidak dengan mak. Ia berdiam diri di rumah bersama nenek.
Lubang kubur sudah disiapkan oleh warga, itulah yang akan menjadi rumah abah selamanya. Lantas, apa yang membuat kita menyombongkan diri dengan rumah megah yang kita miliki saat hanya lubang di tanah yang akan menjadi tempat tinggal kita untuk selamanya.
Jasad abah dikeluarkan dari keranda, dua anak abah turun bersama satu orang warga untuk menerima jasad itu.
Tak ada lagi dia yang gagah, tak ada lagi yang berjalan menengadah, tak ada lagi dia yang hebat saat masuk ke rumah abadi pun membutuhkan tangan orang lain.
Diletakannya abah di dalam sana, dibuka setiap tali yang mengikatnya, dibuka pula kain yang menutupi wajahnya dihadapkan abah pada kiblat. Lalu diberi gumpalan tanah sebagai penopang agar jasadnya tak jatuh.
Aku berjalan mendekat ke kubur saat papan-papan mulai ditutupkan.
"Nur? Mau ke mana?" cegah teteh mencekal tanganku.
"Mau nemenin abah, kasian abah sendirian di dalam sana, Teh," kataku gemetar dengan air mata yang kembali jatuh.
Teteh menarikku dalam pelukan. Ia ikut menangis. Kumandang adzan dan Iqamah sudah terdengar. Itu artinya sebentar lagi abah akan benar-benar ditimbun.
"Kita memang akan sendirian di dalam sana, Nur. Bukan hanya abah, tapi semua orang," ucap teteh. Aku memeluknya sambil terisak.
Benar, kita akan sendirian di dalam sana. Hanya bertemankan amal dan ibadah kita selama di dunia ini.
Aku ikut mengubur abah dengan tanah merah yang akan menutupinya. Tanah itu diinjak-injak agar padat. Taburan bunga dan air menjadi ritual akhir sebelum doa dan talqin mayit dilantunkan.
Allaahumma laa tahrimnaa ajrohu wa laa taftina ba'dahu waghfir lanaa wa lagi
Allaahummaghfir lahu warhamhu wa'aafihi wa'fu'anhu
Aamiin ... untuk mereka yang tersayang yang telah berpulang lebih dulu ...
Semoga segala amal dan ibadah diterima oleh Allah. Diampuni dosa-dosanya, dan kembali dalam ke adaan husnul khatimah.
Aamiin ...
Rela tidak beli baju baru mendahulukan keinginan anak2nya.
Ah,sungguh indah masa dulu ya author.
Dan aq skrg ngalamin ngedahulukan keinginan anak dan aku mengerti skrg gmn perasaan orgtua hanya utk melihat anaknya tersenyum tulus ketika ngucapkan kata2 "Terimakasih" dan memeluk kita.
Baru tau setelah punya anak itu namanya celana mambo.. hehehe
dan sangat bermanfaat sekali
untuk saya Thor
👍👍🤩🤩🤩🤩🤩
malahan kebalik beliau yang sering kasih uang ke aku kalau datang ke rumah
katanya, ini buat jajan cucu2nya
Alhamdulillah saya juga masih belajar pakai hijab
padahal anak udah 3😥