Sisi lain dari Pesantren.
Cinta itu ada di Pesantren, cinta yang tak melulu soal manusia.
Terinspirasi dari kisah seorang santri, saya coba angkat ke dalam novel ini.
Semoga banyak hikmah yang bisa dipetik.
17+
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rifa Rivianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bayanganmu
Hari-hari di lewati Nimas lebih banyak di lingkungan pesantren, dia hanya pulang ketika malam dan mandi saja.
Malam itu, Nimas beberapa kali mengecek notifikasi pesan di ponselnya.
Sudah sejak tadi dia dan Ustadz Zamzam berkirim pesan. Tiap ponselnya berbunyi senyum Nimas selalu berkembang.
Pegel-pegel tuh pipi Nim.
""*Sepi gak ada Aa.""
""Neng ko gombal.""
""Terserah aa deh. Ga jadi yang tadi aku ngomong ga jadi.""
""Emot ketawa""
""Mana emotnya?""
""Emotnya pindah di bibir neng.""
""Aissh gombal*.""
Lalu sang Ustadz tergelak beneran.
Setelah itu, Nimas mengakhiri kegiatannya dan bersiap tidur. Di tatapnya bantal itu, bantal tempat suaminya biasa tidur.
Bayangannya begitu nyata di indera penglihatannya.
Senyum kembali berkembang di sudut bibirnya.
Hingga Nimas terlelap dengan sunggingan senyum yang menentramkan jiwa.
--------------------------------------
Semua manusia pasti akan mengalami ujian yang berbeda-beda. Bagaimana caranya kita sebagai manusia bisa lulus dari ujian tersebut.
Ambil nafas dalam dulu deh mau nyeritain pengalaman kelam Nimas nih.
Ekhem..
Pagi yang begitu cerah cahaya matahari menembus jendela kaca dan menyilaukan mata.
Nimas bersiap untuk mengajar, dia begitu bersemangat hari ini. Dalam pesannya semalam, Ustadz Zamzam mengabari akan pulang besok.
Saat dirinya berjalan kaki menuju Pesantren, tiba-tiba langkahnya terhenti karena seseorang menghalangi jalannya.
Terpaksa Nimas melihat orang itu, untuk sekedar meminta tolong supaya orang tersebut minggir dari jalannya.
Nimas menatap seorang pria yang kini tengah tersenyum, lesung pipit di kedua pipinya menjadi daya tarik di wajah pria itu.
"Assalamualaikum, Nimas."
"Waalaikumussalam, permisi."
Tanpa menghiraukan lagi Nimas berjalan cepat meninggalkan sosok pria yang dikenal dengan nama Farrel itu.
Kenapa sii Rel ganggu Nimas? Ckck.
Selama mengajar, entah mengapa Nimas jadi gelisah. Hatinya tak tenang, fikirannya terbendung rasa yang sulit diartikan.
Kenapa ada apa?
Setelah pelajaran usai, Nimas seperti di buru waktu. Tapi kenapa?
Cepat-cepat Nimas pulang ke rumah, tujuannya untuk menenangkan diri, berwudhu.
Selesai berwudhu, Nimas bermaksud mengusap uap air di jendela kaca berukuran kecil yang letaknya lumayan tinggi. Nimas berpijak pada pinggiran pembatas bak air, Nimas kehilangan keseimbangan.
Brukkkk....
Di kamar mandi itulah Nimas terpeleset dan jatuh. Nimas merasakan nyeri di bagian bawah perutnya padahal jatuhnya tidak keras kok, tapi kenapa sakit begini?
Untuk bangkit kembali Nimas tidak kuat, meringis kesakitan dan sendirian.
Dering ponselnya berbunyi..
Dengan kekuatan yang tersisa Nimas berusaha menyeret tubuhnya ala-ala suster ngesot.
Untungnya, tadi dia menyimpan tasnya di atas kursi yang letaknya tak jauh dari kamar mandi.
Sambil menahan rasa sakit Nimas mengangkat telpon itu tanpa melihat siapa yang menelponnya. Yang ada di benaknya kini hanyalah meminta pertolongan dari siapa saja.
Heii siapa saja tolongin Nimas !!
"To-tolong sa-ya."
Suara Nimas tertahan menahan kesakitan.
Tak lama kemudian, seseorang nampak masuk tergesa-gesa masuk ke rumah itu.
Dilihatnya Nimas yang tak berdaya di bawah sana membuat seorang itu panik tanpa fikir panjang menggendong tubuh Nimas.
Nimas tak bisa berontak kala tahu siapa orang yang masuk rumah dan menggendongnya saat ini adalah Farrel.
Tadinya Farrel memang berniat mengembalikan pin milik Nimas, dia menelpon bermaksud untuk menemuinya di luar rumah dan Farrel sudah berada di depan rumah Nimas, untuk itu ketika dirinya mendengar permintaan tolong Nimas di telpon itu, dia bisa buru-buru masuk.
Sambil meringis Nimas, mencoba menjaga jarak dengan seorang bukan muhrimnya tersebut. Perasaan bersalah serta bayang-bayang sang suami melintas di fikirannya, Nimas gagal menjaga amanat suaminya yang menitipkan kehormatannya. Nimas makin menangis membuat Farrel makin bingung.
"Aku antar ke rumah sakit !!"
"Tidak, bawa saya ke sana."
Nimas menunjuk kursi panjang di ruang tamunya. Farrel mengikuti kemauannya dan menurunkan Nimas di kursi itu.
"Terimakasih, anda sebaiknya pulang."
Tapi Farrel tidak menuruti apa kata Nimas, dirinya malah berlalu mencari letak dapur di rumah itu.
Lalu Farrel membawa baskom berisi air hangat dan dengan sigap mengompres perut Nimas.
"Biar saya sendiri, tolong anda pulang."
Lagi-lagi Farrel tak mengindahkan perkataan Nimas. Dan mengompres perut Nimas, sungguh Nimas tak bisa berbuat apa pun kali ini. Tubuh Nimas kaku dan kesakitan.
Namun dalam hati dia menjerit, " maafkan aku A."
"Tolong pergi saya mohon !! Saya akan menghubungi suami saya."
Namun Farrel seperti tak mendengarnya dia terus saja mengompres.
"Assala........ Astagfirulloh !!"
Nimas dan Farrel menengok ke arah suara, dengan kesakitan Nimas tersenyum bahagia melihat suaminya.
Namun tidak dengan Ustadz Zamzam dunianya mendadak gelap. Dia menarik Farrel mendorongnya keras memukulinya tanpa ampun.
Nimas yang melihat itu berusaha bangkit untuk menghentikan aksi suaminya itu.
"A, berhenti Aa. Aaaaww."
Nimas kesakitan lagi dan ambruk, sang Ustadz berhenti dengan aksinya dan menghampiri istrinya, aura dingin di wajahnya tak dapat di sembunyikan.
Ih serem Ustadz ternyata jago tinju.
Ustadz meraih tubuh Nimas dan membawanya ke dalam mobil, segera melajukannya ke rumah sakit.
Sementara Farrel keluar dari sana dengan wajah yang babak belur.
Kesian, ini nih yang dinamakan katempuhan buntut maung. Eh kok bahasaku keluar haha.
Nimas terus meringis kesakitan, sang Ustadz sesekali melirik ke arahnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
Sesampainya di rumah sakit, Nimas langsung dibawa ke ruangan IGD dan langsung di tangani.
Ustadz Zamzam menunggu di luar, dia sedang kalut saat ini, saat dia pulang dengan letihnya dan memajukkan jadwal pulangnya demi untuk segera bertemu dengan sang istri. Namun dirinya justru disuguhkan adegan yang membuatnya khilaf dan dirasuki syetan dengan begitu mudahnya.
Beberapa menit menunggu, akhirnya Ustadz Zamzam di persilahkan masuk. Dilihatnya Nimas yang masih dan memegangi perutnya.
Nimas tersenyum melihat Ustadz Zamzam masuk ke sana, namun sang Ustadz tak menampakkan ekspresi.
Melihat suaminya seperti itu, Nimas tahu pasti akan ada salah paham.
"Istri saya kenapa dok?"
"Istri anda hanya kram perut, tadi waktu jatuh untungnya tidak terlalu berpengaruh pada kehamilannya."
"Ha-hamil?"
Biasa aja dong Stadz mukanya, syok begitu.
"Iya, usia kandungannya masih berusia 9 minggu. Jadi harus dijaga baik-baik. Saya akan memberikan obat penguat kandungan, tolong berikan satu hari sekali. Jika ada keluhan kembali, mohon segera konsultasi. Kalau begitu saya permisi."
Dokter pun keluar ruangan itu di ikuti suster di belakangnya.
Ustadz Zamzam masih terpaku di kursi itu, rasanya dia tak tahu harus menentukan sikap selanjutnya.
"Aa .. "
Nimas takut-takut memanggil suaminya, menerka-nerka perasaan Ustadz Zamzam, sesungguhnya dia bahagia akan kenyataan bahwa dirinya tengah mengandung. Namun entah mengapa dirinya kini takut baaimana ekspresi suaminya.
Sang Ustadz berjalan menghampirinya, mungkin jika keadaannya tidak seperti ini dia pasti akan langsung berlari memeluk Nimas namun kini, perasaannya kalut dan hampa.
"A, aku hamil A."
Nimas berkaca-kaca.
"Entahlah neng, aku ragu."
#Nah loh (author)
#Entah apa yang merasukimu thooor (Nimas)