Pradina Hartono seorang gadis sederhana. Yang berjuang untuk kehidupan keluarganya agar lebih baik. Bekerja paruh waktu sambil berkuliah di perguruan tinggi swasta di Kota Y. Dina begitu dia disapa selalu berpenampilan sederhana.
Dina hanya memiliki ibu dan seorang adik. Ibunya hanya seorang pedagang kecil-kecilan di rumahnya. Sementara Ayahnya telah berpulang ke pangkuan yang maha Pencipta saat Dina duduk di bangku SD kelas 5. Setelah itu Dina terus berjuang mencari beasiswa agar dirinya bisa bersekolah.
Rionaldo Wijaya seorang pengusaha muda sukses. Namun kesuksesannya tak semulus kisah cintanya. Aldo begitu dia disapa harus kehilangan istri dan calon anaknya karena kecelakaan. Semenjak kejadian itu Aldo selalu menghindari wanita dan bersikap dingin kepada setiap wanita yang ingin mendekatinya.
Seperti apa ceritanya??? Kita lanjut ya... Jangan lupa Like, komen dan kasih tips nya ya bagi yang punya. 🙏🙏🙏🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Meitania, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ga Ada Jatah
"Sayang, Mami sama Mba.Anggun pamit dulu ya. Kamu hati-hati dirumah ya."
"Iya Mih. Tenang aja kan ada Bibik. Makasih ya Mih." Jawab Dina lalu memeluk ibu mertuanya.
"Mba, Kami pun pamit ya. Nurut sama suami." Pesan Ibu.
"Iya Bu." Jawab Dina lalu memeluk ibunya.
"Kalo Aldo nakal bilang sama Ayah. Nanti Ayah bawa kamu biar Aldo ga bisa ketemu kamu lagi."
"Iya Ayah." Jawab Dina singkat lalu memeluk Ayahnya.
"Sekolah yang betul Dek. Kasian Ayah yang membiayai kamu. Jangan mikirin Mas.Rehan terus kalo jodoh ga kemana."
"Dih,,, Apaan sih Mba."
Mereka pun pulang dengan kendaraan masing-masing. Setelah mobil kedua keluarga tak terlihat lagi Dina dan Aldo pun masuk kedalam.
"Sepi ya Yang." Keluh Dina.
"Nanti juga rame yang. Kita usaha dulu yuk biar rumah jadi rame." Goda Aldo. Dina mengerti maksud suaminya.
"Mas, ih.." Jawab Dina malu-malu.
Mereka berdua pun masuk kedalam kamar. Dina merebahkan badannya di sofa. Aldo masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan badannya yang sudah merasa lengket.
Selang tiga puluh menit Aldo keluar dari kamar mandi dan mendapati istrinya tertidur di sofa. Aldo yang masih mengenakan handuk yang dia lilitkan di pinggangnya pun mendekati Dina untuk membangunkannya.
"Sayang.." Ucap Aldo lembut sambil mengelus pipi mulus Dina.
"Hmmm..." Jawab Dina singkat.
"Bangun dulu yuk. Mandi terus di lanjut lagi tidurnya."
"Hmm.. Bentar lagi Mas." Ucap Dina masih dengan mata terpejam.
"Bangun dulu sayang sebentar aja kok." Bujuk Aldo.
Dina pun membuka matanya. Dengan malas dia melangkahkan kakinya kedalam kamar mandi. Setelah ritual mandinya selesai dia lupa tidak membawa handuknya.
"Mas,," Panggil Dina sambil meyembulkan kepalanya.
"Ya, Kenapa?" Tanya Angga yang tengah duduk di atas ranjang.
"Minta tolong.." Jawab Dina sedikit dimanja-manjakan suaranya.
"Tolong apa? Hmm.." Masih dengan posisi duduknya.
"Aku lupa bawa handuk Mas." Rengek Dina.
"Ya sudah keluar saja ambil handuknya." Jawab Aldo dengan santainya.
"Mas, Dina malu. Lagian nanti lantainya basah dong."
"Ngga apa-apa nanti bisa di lap lantainya." Jawab Aldo lagi dengan santainya.
"Mas,,, ih."
"Kenapa?"
"Bener nih ga mau tolongin Dina?"
Aldo hanya diam tak menjawab. Dia sengaja mengerjai istrinya. Dan ingin tau apa reaksinya.
"Ya udah Dina tetep di sini aja sampai Dina mati kedinginan. Nanti kalo Dina mati kan bisa gentayangan sama Mas tiap hari." Gerutu Dina dan kembali menutup pintu kamar mandinya.
Aldo pun tersentak mendengar jawaban istrinya. Aldo pun segera mengambilkan handuk untuk istrinya. Dia takut Dina marah bisa kacau semuanya.
"Sayang, jangan marah dong. Ini handuknya sayang." Bujuk Aldo di balik pintu kamar mandi.
"Ga usah Dina mau disini aja."Jawab Dina dari balik pintu.
"Sayang, Maafin Mas dong. Mas cuma becanda barusan. Ayolah sayang nanti kamu masuk angin sayang."
"Biar aja." Jawab Dina singkat.
Aldo pun menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Sayang, Mas minta maaf dong. Ayo dong sayang."
Tak lama Dina pun membuka pintu kamar mandi dan berjalan ke arah Aldo tanpa sehelai benang pun melekat di tubuhnya. Aldo merasa heran dan sedikit kaget.
"Begini kan yang Mas mau? Hmm... Iya kan?" Goda Dina sambil berjalan mendekati suaminya. Setelah tak ada jarak diantara keduanya Dina menyambar handuk yang di pegang oleh suaminya.
"Malam ini ga ada JATAH." Bisik Dina di telinga Aldo. Lalu berlalu menuju lemari bajunya.
Aldo masih mematung di tempatnya. Setelah tersadar barulah dia mendekati Dina. Dan Dina pun sudah menggunakan piyama panjangnya. Membalikkan kepalanya kearah Aldo dan mengangkat jari telunjuknya keatas lalu menggoyangkannya seolah berkata "Tidak."
Tbc...