Kael Lucien Raventhorne dikenal sebagai bos mafia paling berkuasa, tampan, dan dingin. Di balik reputasinya yang membuat semua orang segan, ia menyimpan luka yang tak pernah diketahui siapa pun. Sebuah kecelakaan tragis merenggut harapan terbesarnya setelah dokter memvonisnya mandul. Kehancuran itu mengubah cara pandangnya terhadap hidup. Ia berhenti memercayai cinta dan memilih menjalani kehidupan tanpa ikatan, berganti pasangan dari waktu ke waktu demi mengisi kekosongan yang terus menghantuinya.
Namun takdir mempermainkannya.
Suatu malam, takdir mempertemukannya dengan seorang gadis berusia dua puluh tahun yang polos dan cantik. Kesalahpahaman dan rangkaian kejadian di luar dugaan membuat gadis itu kehilangan sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya. Kael menganggap peristiwa itu hanya akan menjadi satu bab yang terlupakan, sementara sang gadis berusaha bangkit dari kenyataan yang mengubah hidupnya.
Sebulan kemudian, gadis itu kembali hadir di hadapan Kael dengan kabar yang musta
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yudi Chandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Kael melangkah menyusuri lorong menuju laboratorium pribadinya. Udara malam terasa jauh lebih dingin daripada biasanya. Angin yang berembus dari halaman mansion menyapu tubuhnya, membuat langkahnya sempat melambat.
Ia mengusap lengannya sekilas.
“Dingin sekali… ada apa dengan malam ini?”
Namun Kael tidak berhenti. Ia terus berjalan, sementara hembusan angin semakin kuat, seolah malam sedang menyimpan sesuatu yang tidak ingin diperlihatkan.
Dari kejauhan, suara gemuruh mulai terdengar.
Kael mengangkat wajahnya.
Kilatan cahaya sesekali membelah langit yang gelap. Awan tebal tampak menggantung rendah, pertanda hujan deras mungkin akan segera turun.
“Sepertinya hujan akan datang.”
Tatapannya kemudian mengarah ke kejauhan, mengingat kejadian yang baru saja berlangsung. Kebakaran dan ledakan yang terjadi di kawasan rumah Aurora masih terbayang dalam pikirannya.
“Mungkin hujan ini memang datang pada waktunya,” gumamnya pelan. “Setidaknya bisa membantu meredakan sisa-sisa kebakaran tadi. Tuhan selalu punya cara sendiri.”
Kael kembali melangkah.
Namun baru beberapa langkah—
Tebb!
Seluruh lampu tiba-tiba padam.
Lampu-lampu di sepanjang lorong, penerangan mansion, bahkan lampu taman di luar yang sebelumnya menerangi malam kini ikut mati bersamaan.
Kegelapan seketika menelan seluruh tempat itu.
Kael berhenti.
Matanya menyipit, mencoba menyesuaikan diri dengan gelap.
Lalu, dari arah mansion, terdengar suara teriakan yang memecah keheningan.
“AAAAAA!”
Teriakan terdengar dari lantai atas.
Kael langsung menoleh.
Jendela kamar Aurora memang menghadap tepat ke arah laboratorium pribadinya. Karena itu, suara tersebut terdengar cukup jelas hingga ke tempatnya berada.
Jantung Kael seketika berpacu.
Dalam kepanikan, tangannya tanpa sengaja menjatuhkan botol kaca yang sejak tadi ia bawa. Cairan di dalamnya tumpah ke lantai.
Kael menatapnya sekilas.
Tak ada waktu untuk memikirkan percobaan itu.
Pecah!
Dengan sengaja ia menginjak botol tersebut hingga hancur, memastikan tak ada seorang pun yang dapat menggunakannya.
Kemudian Kael berbalik dan berlari menuju sumber teriakan.
Satu hal memenuhi pikirannya.
Jangan sampai ada orang yang masuk ke mansion.
Terlebih jika orang itu adalah musuh yang mengetahui keberadaan Aurora.
Kael tahu, dalam situasi seperti ini, Aurora bisa saja menjadi sasaran.
Sementara itu, hasil pemeriksaan yang selama ini ia lakukan kembali terlintas dalam benaknya. Berkali-kali ia mencoba mencari jawaban atas pertanyaan yang sama, tetapi hasilnya selalu tidak memberikan kepastian yang ia harapkan.
Kini hanya tersisa satu cara untuk mendapatkan jawaban yang benar-benar pasti.
Kael harus menunggu sampai bayi itu lahir.
Setelah itu, tes DNA akan memberikan jawaban yang tidak mungkin lagi disangkal.
Namun untuk saat ini, semua itu tidak penting.
Yang terpenting adalah memastikan Aurora baik-baik saja.
Kael mempercepat langkahnya menuju mansion yang masih diselimuti kegelapan. Teriakan tadi terus terngiang di kepalanya, membuat firasat buruk semakin kuat.
Kael sebenarnya sudah beberapa kali menjalani pemeriksaan terhadap dirinya sendiri. Berbagai hasil laboratorium telah ia kumpulkan, tetapi tidak satu pun mampu memberikan jawaban yang benar-benar memuaskannya.
Selama bertahun-tahun, ia selalu bertanya-tanya mengapa dirinya begitu sulit memiliki keturunan.
Keinginan untuk mempunyai seorang anak sebenarnya bukan sesuatu yang baru. Jauh sebelum semua persoalan ini muncul, Kael telah membayangkan suatu hari nanti memiliki darah dagingnya sendiri—seseorang yang dapat meneruskan nama dan kehidupannya.
Namun kenyataan yang ia hadapi justru berbeda.
Beberapa pemeriksaan sebelumnya bahkan menunjukkan hasil yang membuatnya harus menerima kemungkinan bahwa dirinya mungkin mengalami masalah kesuburan.
Kael tidak pernah mudah menerima kenyataan itu.
Sebagai pria yang terbiasa mendapatkan apa pun yang diinginkannya, mendapati satu hal yang berada di luar kendalinya terasa seperti sebuah kekalahan.
Bukan sekali ia melakukan pemeriksaan. Sudah berkali-kali.
Namun hasilnya tetap tidak banyak berubah.
Meski begitu, Kael belum mau menyerah.
Kehamilan Aurora telah membuka kembali sebuah kemungkinan yang selama ini hampir ia anggap mustahil.
Jika bayi itu benar-benar darah dagingku...
Kael menarik napas panjang.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ada secercah harapan di balik tatapan dinginnya.
Tetapi bersama harapan itu muncul pula satu pertanyaan besar yang terus menghantuinya.
Apakah bayi yang sedang dikandung Aurora benar-benar anaknya?
Hanya satu hal yang dapat memberikan jawaban pasti.
Dan Kael bersedia menunggu sampai waktunya tiba.
“AAAAAA!”
Teriakan Aurora kembali menggema dari lantai atas.
Mendengarnya, Kael langsung mempercepat langkah. Dalam keadaan gelap seperti ini, ia tetap mampu bergerak dengan cukup cepat karena sudah begitu mengenal setiap sudut mansion tersebut.
Matanya perlahan menyesuaikan diri dengan minimnya cahaya. Ia segera menuju tangga karena lift otomatis berhenti beroperasi ketika aliran listrik utama terputus.
Sepertinya badai benar-benar akan datang.
Kael mengernyit.
Namun ada sesuatu yang membuatnya semakin tidak tenang.
Kalau listrik utama padam, mengapa sistem cadangan juga tidak menyala?
Belum sempat ia menemukan jawabannya, seberkas cahaya tiba-tiba menyinari wajahnya.
Kael berhenti.
Seorang pekerja mansion berdiri beberapa langkah di depannya sambil memegang senter.
“Tuan, maaf. Kami sedang mengalami masalah. Persediaan bahan bakar untuk generator cadangan ternyata sudah habis.”
Tatapan Kael langsung mengeras.
“Bagaimana bisa kalian sampai kecolongan seperti ini?”
Pekerja itu menundukkan kepala, tidak berani menjawab banyak.
Kael mengembuskan napas kesal. Dalam situasi seperti ini, ia justru tidak memiliki lampu darurat yang bisa segera digunakan. Tangannya masuk ke saku, mencari ponsel.
Kosong.
Ia berpindah ke saku lainnya.
Tetap tidak ada.
“Ponselku…”
Kael baru menyadari benda itu tidak berada bersamanya.
Namun pikirannya kembali tertuju pada satu hal ketika suara Aurora terdengar sekali lagi.
“AAAAAA!”
Tanpa membuang waktu, Kael langsung mengambil senter dari tangan pekerja tersebut.
“Berikan padaku.”
Ia bahkan tidak menunggu jawaban.
Dengan senter di tangan, Kael segera berlari menaiki tangga menuju lantai atas.
Setiap langkahnya semakin cepat.
Teriakan Aurora masih terdengar samar dari kejauhan, membuat firasat buruk yang sejak tadi mengusik pikirannya berubah menjadi kecemasan nyata.
Apa pun yang sedang terjadi di kamar Aurora, Kael harus sampai di sana secepat mungkin.
Pintu kamar terbuka perlahan, dan Kael langsung terpaku.
Di dalam ruangan yang gelap, Aurora duduk meringkuk di sudut kamar. Wajahnya basah oleh air mata, napasnya tidak beraturan, sementara kedua tangannya memeluk dirinya sendiri seolah berusaha mencari sedikit rasa aman.
Kegelapan dan ketakutan membuat sosoknya tampak semakin rapuh.
“Aurora.”
Suara Kael terdengar rendah, tetapi kali ini tidak setajam biasanya.
Ia segera melangkah masuk dan menutup pintu di belakangnya. Ada sesuatu yang membuat dadanya terasa sesak ketika menyadari bahwa Aurora berada sendirian dalam keadaan seperti itu.
Pikiran Kael langsung dipenuhi kemungkinan buruk.
Bagaimana kalau bukan dirinya yang datang? Bagaimana jika salah satu anak buahnya yang menemukan Aurora lebih dulu?
Ia tidak ingin membayangkan apa yang mungkin terjadi.
Tatapan Kael mengeras. Aurora adalah istrinya, dan sebagai suaminya, ia merasa bertanggung jawab memastikan perempuan itu aman.
Ia mendekat dengan langkah perlahan, berusaha tidak membuat Aurora semakin ketakutan.
“Aurora.” panggilnya sekali lagi, kali ini lebih lembut.
Aurora yang semula menunduk akhirnya mengangkat wajah. Begitu menyadari siapa yang datang, pertahanannya seolah runtuh.
“Kael…”
Suaranya bergetar.
Tanpa banyak berpikir, Aurora bangkit dan menghampirinya. Ia langsung memeluk Kael, seakan lelaki itu adalah satu-satunya tempat berlindung yang tersisa.
Kael sempat terdiam.
Kemudian kedua tangannya terangkat, membalas pelukan itu dengan hati-hati.
“Tenang,” bisiknya. “Aku di sini.”
Aurora memejamkan mata. Isak tangisnya perlahan terdengar lebih pelan, meskipun tubuhnya masih gemetar.
Untuk sesaat, Kael tidak mengatakan apa-apa.
Ia hanya membiarkan Aurora berada dalam pelukannya, sementara pikirannya dipenuhi satu kesadaran yang tidak bisa lagi ia abaikan:
perempuan yang selama ini berusaha ia lindungi ternyata sudah menjadi bagian yang begitu penting dalam hidupnya.
Dan malam itu, di tengah gelapnya mansion serta suara badai yang mulai terdengar dari kejauhan, keduanya hanya berdiri dalam diam—mencoba menemukan kembali rasa aman di antara satu sama lain.
...****************...
tapi aku yakin walau adrian memilih seorang lelaki yg baik pun pasti kael tetap akan menggalkan pernikahan aurora😁
dan sekarang kamu memperlakukan aura seperti itu 🤬
dasar kael ... awas ya kamu kalo sampe bucin pada aurora
maap,unfollow dan unsubscribe