Ardi Pratama pernah menjadi dokter bedah yang menjanjikan — sampai ia dijebak masuk penjara, diceraikan istrinya, dan kehilangan hak asuh kedua anaknya. Keluar dari balik jeruji dengan tangan kosong, yang tersisa hanyalah foto lusuh Gatra dan Sari yang selalu ia genggam.
Tapi di malam paling gelap dalam hidupnya, di tengah operasi transplantasi jantung yang nyaris gagal, sesuatu yang mustahil terjadi — sebuah panel virtual muncul di hadapannya.
[Sistem Modifier Aktif]
[Poin Modifikasi: 100 PM]
[Upgrade skill tersedia. Pilih sekarang.]
Satu klik. Skill bedahnya melonjak dari Pemula ke Lanjutan. Jantung pasien yang sekarat kembali berdetak.
Sejak malam itu, Ardi bukan lagi dokter biasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 4
Bab 4: Misi Perak — Wajah Sang Bintang
Itu terasa seperti awal.
Panel biru masih melayang di depan Ardi ketika ponselnya ikut bergetar di atas kasur.
Nama Dokter Fajar muncul.
Ardi menatap layar, lalu menatap panel Sistem Modifier. Tubuhnya meminta tidur. Kelopak matanya berat, punggungnya seperti diisi pasir, dan tangannya masih menyimpan sisa dingin ruang operasi Livi.
Tapi tulisan di panel tidak peduli pada rasa lelah.
Batas waktu: 6 jam.
Ia mengangkat telepon. “Pak Fajar?”
“Kamu masih di kost?”
“Iya.”
“Balik ke IGD. Ada pasien VIP masuk. Artis sinetron, Rania Ayu. Cedera wajah di lokasi syuting. Pihak produksi ribut minta dokter terbaik untuk jahitan kosmetik.”
Ardi berdiri.
“Saya berangkat.”
Di ujung telepon, Fajar menghela napas. “Ardi, kamu baru selesai operasi besar.”
“Kalau saya tidak datang, siapa yang pegang?”
Hening sebentar.
“Hendro sudah menawarkan diri.”
Kalimat itu cukup.
Ardi mengambil jaket. Foto Gatra dan Sari di meja ia masukkan kembali ke dompet, lalu ia keluar dari kamar sempit itu sebelum tubuhnya sempat mengeluh lebih keras.
Surabaya sudah mulai terang ketika motor tuanya membelah jalan. Warung kopi membuka terpal, pekerja kantoran mulai mengejar waktu, dan kota bergerak seperti tidak tahu bahwa semalam seorang anak hampir mati di meja operasi.
Di IGD RSUD Soetomo, suasananya lebih berisik dari biasanya.
Dua orang kru produksi berdiri di dekat pintu, masih memakai headset. Seorang perempuan berblazer hitam berbicara cepat dengan petugas administrasi. Di depan ruang tindakan, beberapa perawat menahan orang-orang yang ingin masuk.
“Tidak boleh mengambil foto di area rumah sakit,” kata seorang satpam.
“Kami dari tim produksi, Mas. Kami cuma perlu memastikan Mbak Rania aman.”
“Justru karena aman, jangan direkam.”
Ardi menyelip di antara keributan. Fajar melihatnya lebih dulu.
“Kamu cepat.”
“Kondisinya?”
Fajar menyerahkan foto luka di tablet. “Robekan memanjang dari pipi kiri dekat tulang zygoma ke arah bawah. Tidak sampai merusak saraf utama, tapi kalau jahitannya buruk, bekasnya jelas di kamera.”
Di ruang tindakan, Rania Ayu duduk dengan wajah ditutup kasa. Meski separuh wajahnya tertutup darah kering, Ardi masih mengenalinya. Wajah itu sering muncul di billboard, iklan sampo, dan potongan sinetron di televisi ruang tunggu rumah sakit.
Sekarang bahunya gemetar.
Di sampingnya, Yuni Rahayu menatap semua dokter seperti orang yang siap menggugat satu gedung.
“Saya tidak mau jawaban ‘cukup baik’,” kata Yuni. “Wajah dia adalah kontrak, jadwal syuting, dan reputasi. Kalau ada bekas jahitan kasar, kami semua hancur.”
Hendro berdiri tidak jauh, sudah memakai sarung tangan. “Bu Yuni, saya paham. Pasien seperti ini harus ditangani dokter senior. Bukan orang yang baru kembali bekerja.”
Matanya melirik Ardi.
Yuni mengikuti arah pandang itu. “Dia siapa?”
Hendro tersenyum tipis. “Tenaga kontrak.”
Kata itu dijatuhkan seperti sampah di lantai steril.
Fajar menegang. “Dokter Ardi adalah dokter bedah.”
“Tapi SIP-nya belum aktif,” potong Hendro. “Untuk pasien dengan profil publik seperti ini, rumah sakit tidak boleh mengambil risiko.”
Rania mengangkat wajah sedikit. Suaranya pecah. “Dokter, saya... saya masih bisa syuting, kan?”
Tidak ada yang langsung menjawab.
Ardi mendekat, menjaga suaranya rendah. “Mbak Rania, saya akan periksa dulu lukanya. Boleh?”
Rania menatapnya dari balik mata basah. “Kalau bekasnya kelihatan?”
“Maka kita pastikan itu tidak terjadi.”
Hendro tertawa pelan. “Percaya diri sekali.”
Ardi tidak menoleh. Ia membuka kasa perlahan.
Lukanya lebih buruk daripada foto. Robekan kulit tidak rata, ada sedikit jaringan hancur di tepi, dan darah kering membuat garisnya tampak makin mengerikan. Untuk aktor laga, bekas luka mungkin bisa jadi karakter. Untuk wajah utama sinetron romantis prime time, satu garis permanen bisa menjadi berita utama.
Panel biru muncul.
```
╔══════════════════════════════════════╗
║ 【SISTEM MODIFIER】 ║
║ ║
║ Skill baru terdeteksi! ║
║ ▸ Jahitan Kosmetik Kulit - Level: ║
║ Pemula ║
║ ║
║ Poin Modifikasi tersedia: 10 PM ║
║ Upgrade ke Lanjutan? (Biaya: 10 PM)║
║ ║
║ [YA] [TIDAK] ║
╚══════════════════════════════════════╝
```
Ardi sudah tidak membeku seperti semalam.
Kali ini, ia tahu harga pilihan itu.
Semua PM yang ia miliki.
Tapi di depan matanya ada luka, ada waktu enam jam, ada Hendro yang menunggu ia ragu, dan ada satu pola yang mulai ia pahami: Sistem memberi tugas bukan untuk disimpan. Setiap PM yang keluar harus kembali dengan hasil.
Ia memilih [YA].
Cahaya biru masuk ke ujung jarinya.
Pengetahuan tentang garis kulit, arah tegangan wajah, lapisan dermis, teknik intradermal, dan cara menyembunyikan simpul di bawah permukaan mengalir deras. Luka di wajah Rania tidak lagi tampak sebagai robekan kacau. Ia menjadi peta.
```
╔══════════════════════════════════════╗
║ 【Upgrade Berhasil!】 ║
║ Skill Jahitan Kosmetik Kulit telah ║
║ ditingkatkan ke level Lanjutan. ║
║ ║
║ Saldo PM: 0 ║
╚══════════════════════════════════════╝
```
“Pak Fajar,” kata Ardi, “saya butuh ruang tindakan steril kecil, benang 6-0 dan 7-0, loupes, pencahayaan samping, serta waktu tiga puluh menit tanpa gangguan.”
Yuni menatap Fajar. “Dia yang akan menjahit?”
Hendro langsung menyela, “Bu Yuni, saya sarankan jangan. Untuk kasus seperti ini, saya—”
“Dokter Hendro,” potong Ardi, kali ini baru menoleh. “Robekan melewati garis tegangan pipi. Kalau Anda jahit dengan pendekatan biasa, tepi luka akan tertarik ke bawah. Kamera close-up akan menangkap bayangannya.”
Wajah Hendro mengeras. “Kamu pikir saya tidak tahu garis tegangan kulit?”
“Saya pikir Anda tahu.” Ardi mengambil sarung tangan steril. “Karena itu saya heran Anda masih mau pakai benang 5-0 yang sudah disiapkan di tray.”
Perawat yang memegang tray tanpa sadar menunduk melihat benang.
Yuni juga melihat.
Keheningan pendek itu cukup membuat posisi Hendro retak.
Fajar mengambil keputusan. “Ruang tindakan dua. Saya sebagai DPJP mengawasi. Dokter Ardi menjahit.”
Yuni menatap Ardi tajam. “Dokter, kalau wajah Rania rusak—”
“Saya tidak menjahit reputasi,” kata Ardi. “Saya menjahit luka. Tapi kalau lukanya rapi, reputasi Anda punya kesempatan selamat.”
Rania menahan napas, lalu mengangguk kecil. “Tolong, Dok.”
Tiga puluh menit berikutnya mengubah udara ruangan.
Tidak ada gerakan besar. Tidak ada dramatisasi. Hanya ujung jarum yang masuk dan keluar dengan ritme nyaris tak terlihat. Ardi membersihkan tepi luka, membuang jaringan yang sudah tidak hidup secukupnya, lalu menyatukan lapisan dalam lebih dulu agar kulit luar tidak tertarik.
Hendro berdiri di sudut.
Awalnya ia menyilangkan tangan.
Lima menit kemudian, tangannya turun.
Sepuluh menit kemudian, ia maju setengah langkah.
Lima belas menit kemudian, wajahnya kehilangan warna.
Karena ia melihat apa yang tidak bisa dibantah oleh mulutnya: garis luka itu menghilang sedikit demi sedikit, bukan karena ditutup paksa, tapi karena setiap lapisan dikembalikan ke tempatnya seolah wajah Rania sedang mengingat bentuk aslinya.
Fajar tidak bicara. Matanya mengikuti setiap jahitan.
Yuni yang biasanya tidak bisa diam kini berdiri kaku di belakang kaca.
“Gunting.”
Perawat menyerahkan gunting mikro.
Ardi memotong benang terakhir, membersihkan sisa darah, lalu menempelkan dressing tipis transparan.
“Selesai.”
Rania membuka mata. “Boleh saya lihat?”
Fajar menatap Ardi, memberi isyarat agar hati-hati.
Ardi mengambil cermin kecil dari meja perawat, lalu memposisikannya di depan Rania.
Untuk beberapa detik, Rania hanya menatap.
Matanya mencari bekas luka yang tadi ia bayangkan akan menghancurkan hidupnya.
Yang ia lihat hanya garis sangat halus di bawah dressing, begitu rapi sampai tampak seperti goresan tipis yang akan memudar.
Bibirnya bergetar.
“Ini...” Suaranya nyaris hilang. “Ini wajah saya?”
Yuni masuk tanpa menunggu izin, lalu berhenti di samping Rania.
Perempuan itu mencondongkan tubuh, memeriksa dari dekat. Tatapan tajamnya berubah menjadi tidak percaya.
“Ini... seperti tidak pernah terluka.”
Kalimat itu membuat beberapa perawat saling pandang.
Hendro tidak berkata apa-apa.
Untuk pertama kalinya, diamnya bukan strategi. Diamnya adalah kekalahan.
Panel biru muncul lagi.
```
╔══════════════════════════════════════╗
║ 【Misi Selesai!】 ║
║ Misi Perak: Luka Wajah Sang Bintang║
║ ║
║ Hadiah: +20 PM ║
║ Saldo: 20 PM ║
║ ║
║ 【Bakat Pasif Aktif!】 ║
║ Kecepatan Jahitan +50% ║
╚══════════════════════════════════════╝
```
Jari Ardi terasa hangat.
Bukan ledakan seperti operasi Livi. Kali ini lebih halus, seperti otot-otot kecil di telapak tangannya tiba-tiba menemukan ritme baru. Ia mengepalkan tangan pelan, lalu melepasnya.
Kecepatan jahitan.
Permanen.
Yuni mengeluarkan kartu nama dari tasnya dan memberikannya langsung kepada Ardi dengan dua tangan.
“Dokter Ardi, saya Yuni Rahayu dari PT Citra Gemilang Media. Kalau suatu hari Anda membutuhkan akses media, bantuan komunikasi, atau sekadar ingin sebuah berita tidak dipelintir orang, hubungi saya.”
Ardi menerima kartu itu.
Ia tahu nilai kalimat tersebut.
Di dunia yang pernah menghukumnya lewat opini, media bisa menjadi pisau. Atau perisai.
“Terima kasih, Mbak Yuni. Untuk sementara, pastikan Rania tidak membuka dressing sendiri dan kontrol sesuai jadwal.”
Rania mengusap air matanya hati-hati agar tidak menyentuh luka. “Terima kasih, Dokter.”
“Istirahat. Jangan syuting dulu.”
“Kalau produser marah?”
Yuni menjawab sebelum Ardi. “Biar saya yang marah balik.”
Beberapa perawat tertawa kecil. Ketegangan akhirnya pecah.
Ardi keluar dari ruang tindakan bersama Fajar. Di koridor, tubuhnya kembali terasa berat, tapi di sudut pandangnya angka 20 PM bersinar pelan. Ia teringat Buku Skill Kosong di inventaris sistem.
Jika satu skill saja bisa mengubah hasil seperti ini, apa yang bisa ia lakukan jika punya lebih banyak skill?
Ponselnya bergetar.
Nomor tak dikenal.
Ardi mengangkat. “Halo?”
Suara di ujung sana berat, formal, dan langsung ia kenali.
“Dokter Ardi, ini Hartono Harahap. Saya ingin berterima kasih secara pribadi. Bisakah kita bertemu?”
seperti menonton langsung teganggg brooo🤣🤣🤭🤭🤭