Bianca Sabian adalah seorang siswi yang sering bermasalah di sekolahnya. Banyak kenakalan yang sudah ia lakukan. Mulai dari bolos sekolah, mengecat rambut, hingga membuat rusuh satu kelas saat guru mengajar.
Tapi hidupnya berubah saat ia harus menerima nasib dipaksa menikah dengan gurunya sendiri. Yang lebih menyebalkannya lagi ternyata sang guru adalah seorang duda beranak satu.
Bagaimanakah kelanjutan hidup Bianca setelah terpaksa menikah dengan gurunya sendiri??? Apakah sang guru mampu menerima Bianca sebagai istrinya???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ian_Zimanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 34
Rava menaikkan sebelah alisnya. Tidur dimana? Jelas dia tidur disini. Rava kemudian duduk di samping Bianca dan mengusap air mata yang membasahi wajah cantik itu, "Tentu saja aku tidur disini"
"K-kapan kamu ke kamar? Kok aku nggak lihat?"
Rava memandang Bianca takjub. Masa Bianca tidak lihat Rava kemarin malam? Jadi apa yang dilihat Bianca waktu mereka bermesraan semalam?
"Masa' kamu nggak ingat, tadi malam aku kesini jam sebelas malam" ujar Rava, "Tunggu, jangan - jangan kejadian kemarin malam kamu juga nggak ingat?"
Bianca mengerjapkan matanya polos. Sedetik kemudian dia memiringkan kepalanya, "Kejadian apa?"
"E-emm, nggak bukan apa-apa…"
Analisis Rava mengatakan kalau kemungkinan semalam itu Bianca tidak sadar karena berada di bawah pengaruh minuman-minuman itu. Kalau begitu itu artinya Bianca tidak ingat waktu dia menyatakan cinta pada Rava. Tiba - tiba Rava merasa sedikit kecewa.
"M-mas… maaf, nggak ada apa-apa diantara aku dan Alex" gumam Bianca dengan suara parau, "K-kami hanya…"
"Sst, sudahlah. Nggak usah bahas itu lagi. Lagian aku sudah tahu kok kalau bukan Alex yang kamu sukai" balas Rava lembut sambil mengusap rambut Bianca, 'karena yang kamu sukai itu aku' sambung Rava dalam hati.
"Benarkah?"
"Eum, aku juga minta maaf ya sudah berburuk sangka padamu. Bahkan aku sampai memukulmu. Aku benar-benar tidak bermaksud seperti itu. Aku hanya -" Rava tidak bisa melanjutkan kata- katanya. Ia juga bingung harus bilang apa. Apakah ia harus bilang kalau dirinya merasa cemburu? Tapi apa alasannya? Bukankah dia 'belum' mencintai istri kecilnya itu?
Rava membelai pipi Bianca, dimana ia melayangkan telapak tangannya kemarin. Terlihat pipi itu tampak biasa saja, tidak ada merah apalagi bengkak.
Sepertinya Rava kemarin tidak sepenuh hati menampar Bianca. Walaupun begitu, ia tetap merasa amat sangat bersalah. Apapun alasannya, main tangan dalam suatu hubungan tetaplah tidak dibenarkan. Baik dalam hukum maupun agama.
Bianca ikut menyentuh telapak tangan Rava yang singgah di pipinya.
"Iya Mas, aku maafkan. Aku tahu Mas kemarin tidak sengaja."
Rava semakin merasa bersalah. Semudah itu Bianca memaafkannya. Ia merasa tidak pantas dimaafkan.
"Aku berjanji bagaimanapun hubungan kita kedepannya, apapun masalah yang akan kita hadapi, aku tidak akan melakukan itu lagi padamu. Aku akan belajar mengontrol diriku sendiri."
Bianca bisa merasakan bagaimana tulusnya permintaan maaf serta betapa besarnya rasa bersalah sang suami.
Bianca tersenyum sambil mengangguk. Sejenak mata mereka saling bertatapan penuh dengan makna, dimana hanya masing - masing dari mereka yang tahu arti tatapan itu.
" Ya sudah, sekarang pergilah mandi. Setelah itu kita sarapan. Kamu pasti belum makan kan dari semalam?" Bianca mengangguk mengiyakan sambil mencebilkan bibirnya.
Ia jadi ingat bagaimana ia kelaparan kemarin malam. Tidak ada stok makanan di kamar, mau keluar pun ia tidak mood gara- gara pertengakaran mereka kemarin. Akhirnya ia hanya meminum, minuman yang ia temukan di dalam lemari es. Tanpa tahu itu minuman apa.
Gadis cantik itu kemudian turun dan terlihat sudah memakai piyamanya, tentu saja Rava yang pakaikan tadi malam. Ia tidak mau Bianca sampai masuk angin.
Andaikan Bianca tahu bagaimana perjuangan sang suami memakaikan piyama ke tubuhnya yang polos, sementara sang suami sudah 'tegang' setengah mati. Syukur Rava masih bisa menahan dirinya agar tidak memperkosa sang istri yang tergeletak tak berdaya. Bisa berabe urusannya nanti. Hahaha..
Namun baru beberapa langkah Bianca berjalan, tiba-tiba saja Rava menarik tangannya. Membuat tubuh Bianca terhempas ke tempat tidur.
"Keberatan kalau mandinya sedikit ditunda, hm?" bisik Rava yang berpindah ke atas Bianca. Tanpa menunggu jawabannya, Rava langsung merendahkan tubuhnya dan meraup bibir pink itu.
Bianca pun langsung membalas ciuman itu sepenuh hati. Tangannya terjulur dan merengkuh leher Rava. Agak bergidik ketika pria diatasnya hanya mengenakan handuk. Ia bisa merasakan kulitnya menyentuh kulit Rava yang terasa dingin dan kekar.
Kemarin ia benar-benar khawatir kalau Rava sampai membencinya dan tidak mau bertemu dengannya lagi. Namun semua pemikiran itu sirna begitu ia mendapat sentuhan demikian lembut dari pangerannya.
Perlahan Rava menyusupkan tangannya ke balik piyama Bianca. Mungkin sekarang bukan saat yang tepat untuk melakukan 'itu'. Tapi bagi Rava yang ditinggal tidur semalam, inilah saatnya.
Rava memindahkan ciumannya dan menggigit leher Bianca lembut. Tangannya yang tadi bermain sebentar di perut rata Bianca kini beralih melepas kancing piyama Bianca. Satu kancing, dua kancing, lalu…
'Gruyuuuuukk~' sebuah suara yang sangat tidak elit terdengar dari perut Bianca.
Rava mengangkat kepalanya, ia tersenyum tipis ketika dilihatnya wajah Bianca memerah seperti kepiting rebus, "Maaf, aku lupa kalau kamu pasti lapar sekarang."
Bianca meringis malu.
"Maafkan aku, Bi. Sekarang ayo kita sarapan, sana mandi dulu" perintah Rava yang langsung dikerjakan Bianca. Agak menyesal juga karena sudah melepaskan mangsanya.
Di kamar mandi Bianca melepas pakaiannya. Dalam hati ia mengutuki perutnya yang malah berbunyi di saat yang benar-benar tidak tepat.
Tidak sengaja mata besar Bianca melirik kaca yang berada di kamar mandi. Ia agak terkejut ketika mendapati begitu banyak tanda kemerahan di leher dan dadanya.
"Astaga~ kok merah-merah begini" gumam Bianca pelan sambil tangannya menyentuh setiap tanda kemerahan itu. "Ckckck… pasti bekas digigit nyamuk nih" dengan polosnya Bianca berpikir demikian.
Yah, memang digigit nyamuk. Tepatnya nyamuk raksasa bernama Rava Pratama.
(Terima kasih sekali lagi untuk vote serta dukungannya yah..🙏🙏 sya buat cerita grtis untuk menghibur kalian semua..kalau suka crta saya.. silahkan tinggalkan jejak yah..🥰🥰 Don't be silence readers.. )
Part berikutnya sdg dlam proses pembuatan.. sore nti mungkin sudah up.. dtgu saja yah..
Lope banyak banyak buat klian smua..😘😘
kalian semua emang da best..👍👍🤗🤗
kalau kau Terima berarti novel tidak masalah
tapi kalau kau tidak Terima berarti pemikitan mu ada masalah saat kau tidak suka suamimu baik, sok manis, dan perhatian pada pria lai tapi novel malah Bianca seorang istri sok manis, dan sok perhatian pada pria lain dan kau benarkan kelakuan Bianca ini
renungkan lah, pakai otak untuk berfikir mana salah mana benar, salah ya salah benar ya benar
jangan jadi wanita egois kalau suami yang lakukan selalu salah tapi kalau istri (kalian) yang lakukan kalian benarkan
sadarlah