NovelToon NovelToon
Pengantin 1,2 Triliun.

Pengantin 1,2 Triliun.

Status: sedang berlangsung
Genre:Roman-Angst Mafia / Romansa / Nikahmuda
Popularitas:707
Nilai: 5
Nama Author: Rinnaya

Apa yang terjadi saat seorang putri kaya yang jahat akhirnya jatuh miskin? Adakah yang akan menolongnya dari jeratan? Dialah Prisha.
Di titik paling kelam saat ia hampir menyerah pada hidup, sebuah uluran tangan asing datang menawarkan pelampung darurat. Sebuah kesepakatan rahasia bernilai triliunan rupiah disodorkan ke hadapannya.
​Demi bertahan hidup dan merebut kembali apa yang menjadi haknya, Prisha terpaksa melangkah masuk ke dalam sangkar emas milik keluarga Tanubrata. Ia harus berhadapan dengan Saka Tanubrata, pria yang memegang kunci keselamatan sekaligus kehancurannya.
​Ini adalah kisah tentang harga diri yang dipertaruhkan, rahasia di balik kemewahan, dan sebuah takdir bersyarat. Mampukah Prisha bertahan di dunia barunya, atau justru ia akan hancur dalam permainan yang ia mulai sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rinnaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

16. Badai tak kesat mata.

Dinding bilik toilet yang sempit itu bergetar pelan, disusul oleh suara derap langkah kaki yang terburu-buru dan tawa cekikikan yang sengaja ditahan. Prisha, yang tengah berdiri di dalam bilik terkunci, sama sekali tidak menunjukkan riak kepanikan di wajah cantiknya. Sepasang matanya hanya menatap lurus ke atas bumbung bilik yang terbuka.

Detik berikutnya, tebakannya terbukti benar. Dari balik celah atas, seember air sisa pel yang keruh dan berbau pembersih lantai kimia murah disiramkan dengan kasar, terjun bebas berniat membasahi seluruh tubuhnya.

Srakkk!

Apakah tubuh Prisha basah kuyup dan penampilannya hancur berantakan? Tidak. Sayangnya bagi para pelaku di luar sana, mangsa mereka kali ini bukanlah gadis lemah yang bisa ditindas begitu saja.

Prisha sudah menduga dengan sangat matang bahwa hari pertamanya kembali ke kampus akan dipenuhi oleh berbagai macam penyerangan balasan. Oleh karena itu, ia sengaja membawa sebuah payung lipat hitam di dalam tasnya sejak dari rumah.

Sebelum air itu sempat menyentuh sehelai pun rambutnya, payung tersebut sudah terkembang sempurna di atas kepalanya. Air pel yang kotor itu mengalir menetes dari permukaan payung lipatnya, jatuh menghantam lantai ubin toilet dengan suara berisik.

Tatapan mata Prisha tetap acuh tak acuh, sama sekali tidak terusik oleh bau anyir air tersebut. Dari balik dinding, suara tawa puas beberapa gadis seketika pecah, menggema di dalam ruangan toilet yang sepi.

"Bagaimana rasanya, huh? Kau pernah melakukan hal seperti ini juga kepada orang lain dulu, Prisha Kaelen!" seru salah satu suara dari luar, terdengar penuh dengan nada dendam yang membara.

"Sekarang rasakan sendiri bagaimana rasanya menjadi sampah kampus!" sahut suara gadis lain, disusul oleh derap langkah kaki yang menjauh dengan cepat, melarikan diri sebelum ada orang lain yang melihat aksi mereka.

Prisha hanya diam di tempatnya berdiri. Sembari menunggu suasana benar-benar aman, ia memicingkan mata, berusaha keras mengenali warna suara dari gadis-gadis yang baru saja menyerangnya. Namun, setelah beberapa detik berpikir, ia menyadari bahwa satu pun dari suara itu tidak ada yang familier di telinganya.

Prisha menghela napas pendek, lalu menggumam pelan di dalam batinnya. ‘Siapa mereka? Sial, aku sama sekali tidak tahu.’

Yah, lagipula sejak dulu ia memang tidak begitu memperhatikan orang lain di sekitarnya. Sebagai seorang Kaelen, Prisha lebih terbiasa diperhatikan, dipuja, dan menjadi pusat semesta ke mana pun ia melangkah, daripada harus membuang waktu untuk memperhatikan detail wajah atau nama manusia-manusia jelata di kampusnya. Baginya, mereka semua hanyalah karakter figuran yang lewat di latar belakang hidupnya.

Setelah memastikan para pelaku telah sepenuhnya pergi, Prisha menekan tombol lipat pada payungnya, mengibaskan sisa air kotor itu ke dalam lubang kloset, lalu melangkah keluar dari bilik toilet dengan dagu yang tetap terangkat angkuh. Ia merapikan sedikit blus polkadotnya, memastikan tidak ada satu pun bercak air yang mengotori setelannya pagi ini.

Namun, keluar dari toilet bukan berarti teror telah berakhir. Kampus ini tampaknya telah berubah menjadi medan perang tak kasatmata yang dipenuhi jebakan batangan untuknya. Prisha memperketat kewaspadaannya. Ia diam-diam memperhatikan setiap langkah kakinya dan mengamati pergerakan di sekitarnya dengan sangat jeli menggunakan sudut matanya.

Dua bulan terperangkap di mansion Saka dan menghadapi dinginnya pria itu ternyata telah mengasah insting bertahannya ke tingkat yang jauh lebih tinggi.

Saat ia baru saja melintasi koridor dekat loker mahasiswa, sebuah bola basket mendadak melesat kencang dari arah kanan, sengaja diarahkan tepat ke arah kepalanya. Bola itu berputar cepat di udara, berniat untuk menghantam wajah Prisha. Namun, dengan gerakan refleks yang sangat anggun, Prisha menekuk sedikit tubuhnya ke bawah, membiarkan bola basket itu melayang bebas di atas kepalanya dan menghantam loker besi di belakangnya dengan dentuman keras.

Brak!

Prisha kembali menegakkan tubuhnya, menoleh sekilas ke arah lapangan, namun area itu sudah sepi. Ia hanya mendengus geli. ‘Cuma segini kemampuan kalian? Serangan yang sama tidak berefek sama dua kali,’ ejeknya dalam hati.

Teror tidak berhenti di sana. Ketika ia hendak menaiki tangga menuju lantai dua tempat kelasnya berada, Prisha mendadak menghentikan langkah kakinya tepat di anak tangga ketiga. Sepasang mata julinya menangkap pantulan cahaya yang tidak wajar di atas permukaan marmer tangga.

Ada genangan minyak bening yang sengaja dicipratkan di sana, sangat tipis dan hampir tak terlihat jika seseorang sedang berjalan terburu-buru. Jika ia masih mengenakan gips atau tidak berhati-hati, heels merah gelap yang dipakainya pasti akan membuatnya tergelincir maut dan patah tulang untuk kedua kalinya.

"Trik murahan," cibir Prisha pelan dengan nada suara yang teramat dingin. Dengan gerakan santai yang penuh penekanan, Prisha dengan mudah melangkahi genangan minyak itu, memastikan sol sepatunya tetap kering dan aman saat menapak ke anak tangga berikutnya.

Tepat saat ia baru saja keluar dari tangga dan berjalan di selasar lantai dua, sebuah suara retakan keras terdengar dari arah balkon lantai atas.

Prakkk!

Sebuah pot tanaman tanah liat berukuran sedang jatuh meluncur bebas dari lantai tiga, hancur berkeping-keping tepat dua jengkal di samping tubuh Prisha. Serpihan tanah dan pecahan pot merah itu berserakan di atas lantai, mengotori ujung heels-nya yang mahal.

Serangan itu meleset lagi untuk kesekian kalinya. Prisha menghentikan langkahnya sejenak, menatap tumpukan tanah di dekat kakinya tanpa ada rasa takut sedikit pun di wajahnya. Ia bahkan tidak repot-repot mendongak ke atas untuk mencari tahu siapa pelaku pengecut yang bersembunyi di balik pagar balkon lantai tiga.

"Tidak bisakah kalian lebih kreatif?"

Ketika Prisha akhirnya sampai di depan pintu kelasnya dan melangkah masuk, atmosfer di dalam ruangan seketika berubah mencekam. Puluhan pasang mata teman sekelasnya langsung tertuju padanya dengan tatapan yang dipenuhi antisipasi dan senyuman jahat yang tertahan. Prisha berjalan mendekati barisan bangku miliknya, dan pemandangan di depannya berhasil membuat kedua alisnya bertaut rapat.

Meja dan kursi belajarnya sudah dipenuhi oleh tumpukan sampah yang menjijikkan. Mulai dari sisa kulit pisang yang sudah membusuk, remasan kertas bekas, hingga tumpahan kuah mi instan yang menggenang di atas permukaannya, meninggalkan bau busuk yang menyengat di sekitar area tersebut.

Prisha berdiri diam di depan mejanya selama beberapa detik. Keheningan di dalam kelas begitu pekat, semua orang sedang menunggu tangisan atau amukan dramatis dari seorang mantan nona muda yang telah jatuh miskin. Namun, tindakan Prisha selanjutnya justru membuat seisi kelas terperangah.

Brakkk!

Dengan satu sentakan kaki kanannya yang sudah sembuh total, Prisha menendang meja penuh sampah itu dengan sangat keras hingga bergeser kasar dan menabrak dinding kelas, menimbulkan suara kegaduhan yang memekakkan telinga. Beberapa mahasiswa spontan memekik kaget.

Tanpa membuang waktu, Prisha memutar tubuhnya ke arah laki-laki yang duduk tepat di sebelah mejanya. Tanpa meminta izin, Prisha langsung mencengkeram pinggiran meja bersih milik mahasiswa tersebut, lalu menariknya dengan paksa hingga berpindah posisi menjadi tempat duduknya sendiri.

"P-Prisha ... tapi ini mejaku," protes laki-laki itu dengan suara yang mencicit ketakutan, tidak berani melawan tatapan mata Prisha yang teramat mengintimidasi.

"Sekarang jadi mejaku. Cari meja lain di belakang kalau kau tidak terima," balas Prisha pendek, suaranya terdengar mutlak dan tidak menerima bantahan apa pun. Mahasiswa itu langsung menelan ludahnya bulat-bulat, memilih untuk segera mengemasi barang-barangnya dan pindah ke barisan belakang tanpa banyak bacot.

Prisha mendudukkan dirinya di kursi baru dengan gerakan yang teramat anggun, seolah-olah tumpukan sampah di sebelahnya tidak pernah ada. Sambil mengeluarkan buku catatannya, ia mulai merenung di dalam batinnya sendiri.

‘Siapa sebenarnya pelaku dari semua rentetan kejadian gila dari toilet sampai kelas ini?’ pikir Prisha, pandangan matanya menyapu seisi ruangan kelas. Namun, sejauh matanya memandang, ia tetap tidak bisa menemukan satu pun jawaban yang pasti. ‘Entahlah. Lagipula aku bahkan tidak ingat siapa saja orang yang pernah kusakiti atau kuhina di kampus ini dulu.’

Daftar musuhnya terlalu panjang, dan ingatan Prisha terlalu berharga untuk mengingat wajah-wajah orang yang dianggapnya tidak penting di masa lalu. Ia menyadari bahwa posisinya yang sekarang sudah kehilangan perlindungan nama besar Kaelen membuat semua orang yang dulu menaruh dendam secara diam-diam kini merasa memiliki keberanian untuk keluar dari sarang mereka.

Sebuah senyuman tipis, yang sarat akan keangkuhan yang dingin, perlahan terukir di sudut bibir ranum Prisha. Ia memutuskan untuk memilih bersikap acuh tak acuh terhadap semua serangan pengecut yang bersembunyi di balik bayangan ini.

‘Kalian boleh bermain trik bayangan sesuka hati kalian,’ batin Prisha penuh dengan rasa percaya diri yang mutlak. ‘Tapi aku hanya akan membuang energiku untuk membalas mereka yang benar-benar berani menampakkan wajahnya secara langsung di depanku. Sama seperti si ular Yunha tadi pagi.’

Dengan pemikiran itu, Prisha membuka halaman pertama buku kuliahnya, siap mengikuti kelas pertama dengan fokus penuh, mengabaikan atmosfer permusuhan yang pekat di sekelilingnya.

Bersambung....

1
Amal Syafiqah
aa novel nya bagus, cepat update nya ye. aku tunggu
Rinnaya: Ok. Up setiap hari, tapi hari ini sibuk jadi besok malam ya.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!