NovelToon NovelToon
Cinta Dalam Kebencian

Cinta Dalam Kebencian

Status: tamat
Genre:Romantis / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:2.3M
Nilai: 4.8
Nama Author: La Sha

Canna adalah seorang gadis desa biasa yang di nikahi seorang pengusaha ternama secara diam-diam, setelah insiden memilukan. Bahkan tanpa sepengetahuan dirinya sendiri. Ia mulai menyadari sesuatu saat hatinya sudah mulai terbuka.

Namun, kesungguhan yang diperlihatkan Delano padanya tidaklah nyata. Lelaki tampan itu hanya menginginkan seorang bayi darinya. Setelahnya ia akan menceraikannya.

Rasa cinta yang mulai tumbuh dalam diri Canna, berbaur menjadi rasa benci.

Bagaimanakah nasib rumah tangga mereka kedepannya? Bercerai ataukah bertahan? Mampukah Canna melindungi buah hatinya dari orang-orang yang ingin mengambil keuntungan darinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon La Sha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Didalam Jet Pribadi

Canna menatap dirinya yang sedang berada didepan cermin. Mengenakan baju kaos lengan panjang dengan celana jeans membungkus kakinya yang jenjang. Mengikat rambutnya tinggi melambangkan bahwa ia wanita yang suka kebebasan. Hari ini adalah hari dimana ia akan berangkat ke Singapura untuk menjalani perawatan seperti yang sudah ditegaskan oleh Delano. Ia merasa resah, mungkinkah berita besar mengenai kehamilannya yang begitu rapat disembunyikannya bakalan terbongkar. Dan bagaimana reaksi Delano setelah mengetahuinya, mungkinkah ia akan sangat murka pada Canna dan sekaligus akan melenyapkan dirinya dan anaknya sekaligus. Ia menggigit bibirnya karena takut.

"Apa yang membuatmu berpikir lama seperti itu?"

Canna memalingkan matanya saat mendengar suara seseorang diambang pintu. Ia segera meraih kopernya dan berjalan melewati Delano yang sedang menatapnya tajam, seolah dirinya adalah seorang musuh baginya. Lelaki itu tampak bersandar di daun pintu dengan tangan yang terlipat didada.

"Tidak ada. Aku hanya takut terlalu lama meninggalkan Kezia disini sendirian. Bagaimana kalau dirinya merindukan diriku dan ingin bertemu denganku?"

Delano tertawa sinis mendengarnya. Mengikuti langkah Canna dan menatap bentuk tubuh Canna yang dirasanya sedikit lebih berisi, khususnya dibagian pantat, sedikit lebih menonjol. "Jangan mencari berbagai alasan untuk menolakku. Kamu tidak akan mampu untuk mrlakukannya. Kita juga tidak akan lama pergi keluar negri. Apakah kamu tidak berniat untuk menetap disana?"

Langkah Canna terhenti, ia memutar kepalanya. Menimbulkan kernyitan samar di wajah Delano.

"Aku pikir aku bisa menerima saran darimu. Mencari tempat tinggal baru di negara yang baru."

"Jangan berpikir kamu akan mudah berada di negara orang lain seperti berada di negara sendiri. Jangan kira kehidupan disana semudah kehidupan disini dalam menjalaninya."

"Bukankah kamu tadi yang menawariku untuk memikirkan hal seperti itu, kenapa kamu yang justru memberikan alasan yang mempersulit ku?"

Delano menggenggam tangannya erat, merasa kesal dengan ucapan Canna barusan. Seolah ia sengaja ingin menjauhi kehidupannya bersama dirinya. Wanita ini begitu pandai mempermainkannya. Tapi, sebentar lagi, ia pasti akan terpana dengan kejutan yang akan diberikan oleh Delano.

"Aku tau itu, tapi kalau kita punya teman atau koneksi disana, bukankah akan lebih mudah?" sahut Canna enteng, kembali berpaling kearah depan.

"Tidak semudah itu karena aku tidak akan pernah mempermudahmu hidup ditempat lain kalau kamu selalu berusaha untuk menjauh dariku!" Delano membatin seraya mengedikkan kedua belah bahunya acuh. Berjalan cepat mendahului Canna menuruni tangga sambil merebut koper yang berada di tangan wanita itu.

***

Mobil yang mereka tumpangi sudah berada di bandara. Beberapa mobil pengawal tampak mengikuti mobil mereka. Rencana Delano untuk pergi berduaan dengan Canna batal, karena kekhawatiran Derris pada keselamatan Tuannya dan juga kekhawatirannya pada kesehatan Canna. Sehingga ia memborong membawa pengawal dan pelayan sekalian.

Canna terpana menatap jet pribadi milik Delano. Begitu besar dan mewah, hingga ia tidak dapat berucap beberapa saat lamanya. Memandang takjub setiap ruangan yang ada didalamnya. Ada ruang bersantai dengan rak buku menggantung di dindingnya, ruang tidur dengan ranjang yang berukuran besar, serta terdapat juga ruang rapat dan ruangan lainnya yang entah untuk apa kegunaannya.

"Kenapa? Apakah kamu belum pernah menjajaki pesawat sebelumnya?" tanya Delano. Ia hanya sekedar berbasa-basi saja, padahal kenyataannya ia sudah lama tahu kalau Canna tidak pernah pergi kemanapun juga. Menggunakan kereta api saja dia belum pernah apalagi menaiki pesawat yang selalu memakan biaya mahal dan menguras kantongnya yang sempit tersebut.

"Memangnya kenapa kalau ini yang pertama untukku?" tanya Canna menantang. Matanya berkilat marah saat menatap Delano. Ia kesal merasa diremehkan oleh lelaki sombong tersebut.

"Cepatlah duduk dan jangan berdiri saja. Pesawat sebentar lagi akan lepas landas!" Delano mengalihkan pembicaraannya. Ia tahu kalau akhir-akhir ini perasaan Canna begitu sensitif. Tidak bisa salah bicara maka ia akan langsung tersinggung. Atau bahkan langsung menangis, dan hal itu turut serta membuat dirinya merasa khawatir. Mungkinkah karena penyakit yang dideritanya maka ia menjadi bersikap seperti itu. Ataukah memang benar kalau dirinya sedang hamil.

Canna masuk ke kabin pesawat, masih melongo menatap isi pesawat tersebut. Meraba kursi yang terasa empuk dan lembut yang akan akan ia duduki, kemudian berdecak kagum sambil menatap semua pelayan dan pramugari yang tersenyum melihat tingkah konyolnya.

"Duduk dan pasang sabuk pengamanmu!" perintah Delano.

Canna kebingungan mendengar perintah Delano. Ia hanya memegangnya tanpa tahu harus berbuat apa. Seorang pramugari membantunya mengenakan sabuk pengaman tersebut dibadannya.

Perjalanan yang mereka tempuh memakan waktu selama beberapa jam. Canna merasa mual tak terkira saat pesawat mulai terbang. Ia berlari kearah kamar mandi diiringi dengan langkah Fiore dibelakangnya. Delano hanya melirik padanya dengan tatapan curiga.

"Ini. Minumlah jus jeruk hangat untuk membuat tenggorokanmu lebih baik!"

Canna segera meraih gelar tersebut dan meminumnya hingga seperempat. Ia merasa lega saat perutnya sudah mulai terasa tenang. Tetapi beberapa saat kemudian perasaan bergejolak kembali menghantam dirinya. Dengan langkah yang limbung ia memaksa dirinya kembali berjalan kearah kamar mandi. Rasanya ia begitu berat mengangkat kakinya untuk mencapai kamar mandi tersebut.

Dengan cepat Delano berjalan kearahnya, memapah dirinya hingga mencapai kamar mandi. Canna tidak mampu menolaknya karena keadaannya yang benar-benar lemah. Ia membiarkan begitu saja Delano menolongnya. Perutnya luar biasa bergejolak, ia tidak mampu menahan mualnya dan memuntahkan semua jus yang baru diminumnya tadi di wastafel.

Delano tampak panik melihatnya. Tangannya terulur menggosok tengkuk Canna. Membantu Canna membersihkan mulutnya tanpa rasa jijik sekalipun. Bahkan ia juga merapikan anak rambut Canna yang terlihat sedikit berantakan.

Setelahnya, ia kembali memapah Canna menuju kearah kamar pribadi miliknya. Ingin sekali ia menggendong wanita tersebut, tetapi Canna berusaha keras menolaknya.

"Berapa lama lagi pesawat akan mendarat?"

"Sekitar 1 jam lagi," sahut Derris. Ia juga ikut bersama Delano. Urusan kantor sudah ia serahkan pada wakil presdir. Ia tidak ingin melepas tanggung jawabnya sebagai tangan kanan Delano yang selalu berada disisinya setiap waktu.

Delano tampak mendesah, menatap Canna yang sudah tertidur dikamar yang ada didalam pesawat tersebut. Ia langsung membopong Canna setelah wanita itu benar-benar lesu setelah muntah tadi, menyuruhnya untuk beristirahat. Ia merasa sangat khawatir mengenai keadaan wanita itu. Menyesal ia tidak membawa seorang dokter bersamanya.

"Berikan aku laporan berkas keuangan hotel Gerdenia yang ada di Singapura."

Derris mengangguk dan segera menyerahkan berkas yang diminta oleh Delano. Ini bukan liburan namanya kalau Delano masih saja bekerja. Tetapi Derris tau kalau liburan kali ini sekaligus mengunjungi kantor cabang yang berada di Singapura.

Canna melenguh membuka matanya dengan perlahan. Delano melirik padanya dan menutup semua berkas laporan keuangan tersebut. Berjalan menghampiri wanita itu dengan segelas air putih di tangannya.

"Minumlah, agar keadaanmu lebih baik setelah ini!"

"Terima kasih," sahut Canna sembari mengambil gelas tersebut dari tangan Delano dan meminumnya hingga separuh.

"Apa yang ingin kamu makan?"

Canna tampak berpikir sambil memberikan gelas kosong ditangannya.

Tok tok tok

"Masuk!" perintah Delano.

Fiore datang dengan nampan di tangannya. Ada beberapa sandwich dengan telur setengah matang dan keju parut di tengahnya. Terlihat sangat menggiurkan di mata Canna. Tanpa berpikir lagi, Canna langsung meraihnya. Tetapi belum sampai ke mulutnya, ia kembali mengurungkan niatnya untuk memakan sandwich tersebut karena bau telur yang terasa sangat amis di indera penciumannya.

"Kenapa? Apakah makanannya tidak sesuai seleramu?" tanya Delano heran. Ia melirik pada Fiore yang masih memperhatikan majikannya dengan seksama.

"Aku akan makan roti tawar tanpa selai apapun didalamnya dan segelas susu milikku!" pinta Canna.

"Baiklah!" sahut Fiore kembali keluar kamar yang ditempati oleh Mereka.

"Kenapa kamu tidak ingin memakannya, bukankah selama ini kamu selalu memakannya dan sangat menyukainya?" tatapan Delano terlihat begitu mengulitinya dengan rasa penuh curiga, membuat Canna berusaha memutar otaknya untuk menangkis kecurigaan tersebut.

"Aku hanya tidak minat untuk memakannya sekarang. Mungkin keadaan perutku yang belum siap untuk memakan apapun juga setelah muntah tadi," sahutnya beralasan.

"Cobalah sedikit. Aku akan menyuapiku!" Delano meraih sandwich tersebut dan memotongnya sedikit. Mengarahkannya ke mulut Canna dengan tatapan penuh perimgatan. Seolah mengatakan kalau dirinya tidak memakannya maka mulut Delano yang akan bertindak.

Canna tetap mempertahankan agar mulutnya tetap tertutup rapat dan menolak suapan Delano. Ia bahkan menutup hidungnya rapat.

"Apa yang kamu lakukan? Kenapa menutup hidung dengan sangat kuat? Apakah diriku sangat menjijikkan dan berbau?" tanya Delano tersinggung.

Canna terkejut mendengarnya, segera melepaskan tangannya yang menjepit hidungnya dengan gelengan cepat.

"Tidak. Kamu tidak bau dan tidak menjijikkan," sahutnya terbata, merasa takut dengan tatapan Delano.

"Kalau begitu, jangan tutup hidungmu seperti itu. Aku merasa tersinggung karenanya."

Dengan terpaksa Canna melakukan perintah Delano. Dan membiarkan rasa anyir telur tersebut menyeruak masuk ke indera penciumannya. Perutnya kembali bergejolak saat sandwich tersebut semakin dekat dengan mulutnya.

"Cobalah makan. Rasanya tidak seburuk yang kamu pikirkan."

Canna kembali menggeleng sambil menutup mulutnya dengan kedua belah tangannya.

"Okouuu tooodooo mouuu!" ucapnya berlari kearah wastafel. Memuntahkan isi perutnya yang hanya berisi air putih saja. Napasnya tersengal-sengal setelahnya dengan air mata yang meleleh di pipinya karena saking kerasnya ia muntah.

"Kenapa kesehatanmu semakin memburuk? Apakah kamu mabuk perjalanan?" tanya Delano menatap khawatir Canna yang masih muntah. Ia menggosok tengkuk Canna dengan perlahan.

"Aku tidak apa-apa," sahut Canna setelah berkumur-kumur.

Fiore kembali masuk ke kamar mereka, ia terkejut melihat wajah Canna yang pucat dan sedang di gendong oleh Delano. Bergegas ia menghampirinya dan menyodorkan segelas susu hangat milik Canna.

Dengan cepat Canna menenggak susu tersebut hingga habis dan memakan roti tawar dengan rakus. Bahkan ia menghabiskan cukup banyak roti hambar tersebut.

Delano sejak tadi terus-menerus memperhatikan kebiasaan Canna yang terlihat sedikit mencurigakan di matanya.

"Aku kenyang. Bisakah kamu mengambilkan obat milikku!" pintanya pada Fiore.

"Ini obatnya, Nona!"

Canna segera meminum obat mual dan vitamin tersebut. Setelahnya ia kembali merebahkan badannya karena rasa kantuk mendera.

***

1
ZrLee Darman
ceritanya bagus 👍🏻
ZrLee Darman
aahh sllu saja kmu dijebak sama orang yg sama..hedeehhh
ZrLee Darman
Lou seperti ulat Keket aja disini
Shifa Burhan
sesimple ini pertanyaan nya

kau anggap apa jika ada wanita lain kayak gini, saat kalian (author dan reader) berbuat salah pada suami kalian dan rumah tangga kalian ada masalah dan datang wanita lain yang mendekati dan selalu baik pada suami kalian, wanita itu selalu merayu dan selalu mencari cara mendekati bahkan wabita itu menyarankan suami kalian untuk bercerai dan suami kalian juga bersikap baik pada suami kalian,
jadi kalian anggap apa wanita kayak gini, setelah kalian menilai maka kalian bandingkan sikap kalian pada louis, disitu lah kalian bisa lihat sifat aslinya kalian?
epifania rendo
entalah
epifania rendo
saling terbukalaha
epifania rendo
pasti surat yang di tanda tangan buat urus surat nikah
epifania rendo
kasian canna
epifania rendo
Delano
epifania rendo
menarik
epifania rendo
bagai mana adiknya
epifania rendo
apa isi vidionya
epifania rendo
mampir
Azubair21
😁🥰🥰🥰🥰👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻
Yulia Rosmita
makanya ungkap semua thor jadi g ada egois salah paham dan kekerasan
Yulia Rosmita
lemot
Yulia Rosmita
kelamaan thor sampe sekarang canna aja masih belum tau dia udah nikah dan sekarang dia hamil delano juga masih gatau
Yulia Rosmita
apa aq kurang update ya di part delano nikah sama canna
Yulia Rosmita
maaf nikah ko g ada kata sah nya klo gitu cuma delano aja donk yg sah
Batara Zalzabil
bosan putar2 trs crtx
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!