Cerita ini menceritakan tentang Alfa yang di jadikan sasaran balas dendam seseorang, karena perbuatan Faris Papanya di masa lalu. Tanpa di sadari, Alfa masuk di dalam jebakan yang membuat dia pada akhirnya harus terlibat, dengan seorang wanita yang tak berdosa. Wanita malang yang hanya di jadikan Alat, untuk merusak nama baik Alfa juga keluarganya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riska, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33. Prosesi Foto Prewedding.
Di dalam kamar ganti Alfa terlihat begitu tidak tenang karena akan melakukan foto prewedding hari itu juga. Dia tidak bisa melawan apa yang di inginkan keluarganya. Terutama ketiga wanita yang sedang menunggunya di luar bersama Shelina. Selain ancaman Opa juga Papanya, Alfa juga tidak pernah mau mengecewakan Oma, Tante, juga Mamanya yang begitu menyayanginya. Jadi dia tidak ingin membantah apapun yang di perintahkan. Walaupun dia tidak menginginkan semua yang berkaitan dengan Shelina.
"Sudah selesai Pak." Ujar salah seorang laki-laki yang membantu Alfa untuk bersiap-siap.
"Iya,, makasih." Jawab Alfa tanpa ekspresi dan langsung bergegas keluar dari ruang ganti.
Sampainya di luar Alfa seketika bingung di saat melihat Oma dan Tantenya, sedang bersantai di sofa yang ada di luar ruang ganti, sambil mengobrol tentang acara pernikahannya dengan Shelina. Dengan kening yang berkerut, dia melangkah dan langsung duduk di samping Omanya tanpa bersuara.
"Kamu ganteng banget sayang.. Tapi ada satu kekuranganmu. Kamu mau tahu itu apa..?" Ujar Mama Alira sambil menatap Alfa.
"Sudah Oma..! Lagian ini kan cuman mau melakukan foto prewedding. Bukan mau fesyen show." Sambut Alfa dengan tampang datarnya.
"Tapi setidaknya kamu tu bisa sedikit merubah ekspresi wajahmu itu. Nanti orang-orang pada curiga kalau kamu itu di paksa untuk menikah. Dan akan jadi berita yang sangat heboh." Mama Alira berkata-kata dengan tatapan sinis nya, ke arah cucunya yang terlihat sudah seperti jalan tol datarnya.
"Mama di mana sih Tante..?" Tanya Alfa sambil menatap ke sana ke mari mencari keberadaan Aleta.
"Mama kamu lagi antar Shelina untuk bersiap-siap." Jawab Almira sambil mengotak-atik ponselnya.
Alfa yang sangat tidak suka menunggu sudah merasa sangat bosan, karena Shelina dan Mamanya belum juga keluar dari ruang ganti. Dia begitu gelisah walau menunggu baru beberapa menit. Dan karena merasa risi dengan sikap Alfa yang tidak bisa tenang di sampingnya, Mama Alira langsung meliriknya sambil bertanya.
"Kamu kenapa sih Alfa..? Kamu tu sudah seperti cacing kepanasan tahu ngga..?" Ketus Mama Alira.
"Malas saya nunggunya. Ngapain saja mereka di dalam sampai selama ini..?" Ujar Alfa dan langsung berdiri dari tempat duduknya dengan tampang kesalnya.
Selain dingin dan kaku, Alfa juga adalah orang yang tidak suka menunggu. Tapi dia pun tidak pernah membuat orang menunggu. Dia selalu melakukan semuanya tepat pada waktunya. Terutama dalam urusan pekerjaan. Sikapnya itu yang membuat dia meraih kesuksesan di usia yang masih terbilang muda.
"Dia cantik banget Ma.." Ujar Almira setelah melihat Shelina keluar dari dalam ruang ganti bersama Aleta.
"Astaga... Kamu tu cantik banget sayang.." Sambung Mama Alira sambil menatap Shelina dengan tatapan penuh kekaguman.
Sedangkan Alfa yang tetap dengan tampang khasnya, juga ikut kaget melihat penampilan Shelina yang luar biasa cantik. Namun dia sama sekali tidak bergeming. Dalam diam Alfa sedikit terkesima dengan penampilan Shelina yang begitu menarik. Tapi kebencian yang sudah menguasai dirinya, telah menutup hatinya sebagai seorang laki-laki di saat melihat wanita sesempurna itu.
"Ayo Ma..! Saya tu tidak bisa lama-lama di sini. Saya harus kembali ke kantor secepatnya." Alfa berujar dan langsung memalingkan pandangannya dari arah Shelina, yang hanya menatapnya tanpa bersuara.
"Ya sudah ayo." Sambung Mama Alira sambil melangkah duluan menuju ruangan, yang akan di gunakan untuk foto prewedding.
Butik yang di miliki Aleta lengkap dengan tempat pemotretan untuk para calon pengantin, yang mau melakukan foto prewedding. Dan itulah yang membuat butiknya berbeda dari yang lainnya. Dengan raut wajah yang begitu murung, Shelina melangkah di samping calon Mama mertuanya sambil bergumam di dalam hatinya.
"Apakah ini takdir hidupku? Aku harus menjalani hidup dengan laki-laki yang sama sekali tidak mengingikanku. Kalau saja ada pilihan, aku akan memilih untuk tidak menikah. Tapi bagaimana masa depanku setelah semua yang sudah terjadi di antara aku dan dia?"
Shelina yang menyadari situasi antara dia dan Alfa merasa semakin tertekan, dan serba salah dengan langkah yang telah dia pilih. Tapi diapun takut akan masa depannya yang suram apabila menolak pernikahan itu. Sedangkan Alfa yang merasa menjadi korban kemunafikan Shelina, tidak ingin memikirkan apapun. Karena dia sudah punya rencana untuk membalas kebohongan yang telah Shelina lakukan.
"Ayo sayang! Sekarang kalian harus melakukan foto prewedding. Kamu ngga usah tegang. Santai saja seperti di pantai." Ujar Mama Alira yang membuat orang-orang yang ada di sekelilingnya jadi tersenyum. Yang tidak berekspresi hanyalah Alfa si manusia tembok.
Dengan perlahan-lahan Shelina melangkah mendekati Alfa yang sudah berdiri tepat di tempat pengambilan gambar. Dia semakin gugup di saat menyadari tatapan Alfa tertuju padanya dengan tampang yang begitu datar.
"Mas,, Mba,, tolong lebih dekat lagi! Biar gambarnya semakin sempurna." Ujar salah seorang laki-laki, yang sudah bersiap-siap di depan kamera untuk mengambil gambar mereka.
Dengan tampang yang terlihat begitu gugup, Shelina mendekat ke arah Alfa yang sudah memalingkan muka darinya. Melihat ekspresi Alfa yang seperti patung tak bernyawa, Mama Alira yang kembali merasa kesal dengan sikap beku cucunya langsung bersuara.
"Alfa.. Apa kamu pernah lihat ada orang yang melakukan foto prewedding seperti kamu..?" Tanya Mama Alira kesal.
"Kamu tu harus tatap calon istrimu. Dan raut wajah kamu itu bisa ngga di rubah..? Mau foto prewedding, ekspresinya sudah seperti orang yang mau berantem." Omelan Mama Alira yang membuat Alfa langsung menarik nafas panjang, kemudian menarik lengan Shelina untuk menempel padanya.
Tanpa berujar satu katapun, Alfa langsung melingkarkan tangannya di pinggang Shelina yang terlihat semakin menegang. Sentuhan tangan Alfa itu seketika membuat Shelina membayangi apa yang terjadi di antara mereka berdua malam itu. Dan ingatan itu semakin membuatnya gugup dan tidak berani menatap wajah Alfa.
"Shelina,, kamu jangan tegang ya sayang! Alfa itu akan segera menjadi suami kamu. Jadi kamu ngga usah gugup seperti itu!" Ujar Almira karena menyadari keadaan Shelina.
"Ayo tatap suami kamu! Jangan malu-malu!" Sambung Mama Alira.
Di saat Mama Alira dan Almira sedang sibuk memperhatikan Alfa juga Shelina, Aleta malah merasa kasihan melihat keadaan Shelina yang begitu gugup atas sikap putranya. Namun Aleta memilih untuk tetap terdiam karena mengingat pesan suaminya. Kalau Alfa tidak perlu di paksa untuk berbuat manis kepada Shelina. Dia harus di berikan waktu untuk menerima takdir hidupnya bersama Shelina.
Alfa dan Shelina melakukan semua seperti yang di arahkan fotografer juga Oma dan Tantenya. Tapi semua itu Alfa lakukan dengan sangat terpaksa agar bisa cepat pergi dari situ. Dia sudah tidak sudi berlama-lama bersama Shelina, melakukan sesuatu yang menurutnya tidak pantas untuk dia lakukan.
plis tor WA ny dh di undang emng si udh lama tapi saya mau baca tor plis jwab ya tor saya mohon sya ska skli cerita ny