Menjadi artis terkenal tidak selalu membuat bahagia, Ivy Brown harus menyaksikan adiknya diperkosa dan dibunuh, dia melarikan diri dan mengalami kecelakaan hebat. Mobilnya hancur sedangkan kondisinya mengenaskan, ia tidak sadarkan diri dan mengalami koma.
Saat dia tersadar, Ivy tidak mengenali dirinya sendiri dan yang lebih membuatnya kaget,seorang pria tampan berada disisinya dan mengaku sebagai suaminya. Ivy mencoba bertahan di samping pria itu dan pada saat ingatannya kembali, sebuah konspirasi yang dia dapat.
Pengkhianatan, cinta, persahatan dan dendam menjadi satu saat dia tahu siapa dalang atas kematian dan orang yang memperkosa adiknya.
Akankah dia mampu bertahan dengan pria yang mengaku sebagai suaminya? Sedangkan sebuah bukti dikirimkan untuknya yang membuktikan jika pria itu ikut terlibat atas pemerkosaan dan pembunuhan adiknya.
Bisakah dia membalas dendam? Sedangkan cinta mulai tumbuh di hatinya untuk pria yang telah terlibat menghabisi keluarganya.
Antara cinta dan dendam, yang mana harus dia pilih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reni Juli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 34. MFH: sebuah petunjuk
"Cutt!" terdengar suara teriakan seorang sutradara mengakhiri adegan yang dimainkan oleh dua orang artis.
Saat itu, lokasi tempat syuting langsung jadi ramai dan orang-orang yang ada disana mulai sibuk begitu juga dengan Chloe, dia menghampiri artisnya sambil membawa segelas minuman hangat.
"Minumanmu." ucapnya.
"Cih, belikan aku minuman lain! Aku tidak suka minuman yang disediakan dilokasi syuting!" ucap artis itu sambil melenggang pergi.
Chloe diam saja dan mengikuti langkah artis itu menuju tempat peristirahatan. Sejak tidak bekerja bersama dengan Ivy lagi, sudah tiga kali dia bekerja dengan artis lain karena dia merasa tidak nyaman, tidak ada seperti Ivy yang memperlakukannya seperti sahabat baik tanpa membedakan profesi mereka.
Dia benar-benar rindu dengan Ivy dan dia berharap Ivy benar-benar masih hidup seperti yang diucapkan oleh George.
Dia memang berharap begitu tapi mereka sudah mencari hampir diseluruh rumah sakit yang ada dikota itu tapi keberadaan Ivy benar-benar tidak ada.
George sendiri bahkan putus asa begitu juga dengan dirinya, apalagi saat mendengar cerita dari Clara jika dia pergi menemui Ibu Ivy untuk menanyakan keberadaan Ivy dan mereka mengiyakan jika Ivy memang sudah tiada.
Mereka mengambil kesimpulan jika Ivy memang sudah tiada walaupun kesimpulan itu menentang hati kecil mereka karena mereka merasa Ivy benar-benar masih hidup.
Chloe masuk kedalam ruang istirahat untuk artis dan meletakkan minuman yang dia bawa kehadapan artis tadi dengan kasar.
"Minumanmu!" ucapnya dengan kasar.
"Hei, apa kau tuli! Aku memintamu membeli minuman lain!" bentak artis itu dengan kasar.
"Beli sendiri!" jawab Chloe dengan sinis.
"Kau sudah tidak mau bekerja lagi ya, Chloe?" artis itu tidak terima.
"Memang tidak! Aku bukan budakmu dan aku sudah selesai denganmu! Aku akan segera menemui atasan dan meminta mereka menggantimu!" ucap Chloe sambil berjalan keluar.
"Hei Chloe, kau tidak bisa pergi begitu saja! Kau masih di kontrak untuk membantuku!" artis itu mengejarnya.
"Kontrak? Heh, asal kau tahu saja aku tidak terikat kontrak dengan siapapun! Silahkan cari manager baru!"
Chloe keluar dari ruangan itu dan berjalan pergi dengan kekesalan dihatinya, sudah cukup karena dia bukan budak yang bisa diperlakukan seenaknya oleh artis itu.
Saat dia melangkah mendekati lift, George melihatnya dan menghampirinya.
"Chloe, ada apa denganmu?" tanyanya.
"Oh George, aku ingin mencari atasan dan meminta ganti artis sialan itu!" ucapnya dengan kekesalan dihatinya.
"Sudahlah, tidak perlu marah seperti itu. Ayo kita pergi minum sebentar." ajak George dan Chloe mengiyakan ajakan George.
Mereka pergi menuju Bar yang ada didekat lokasi syuting dan memesan beberapa minuman, wajah mereka berdua tampak murung dan mereka menikmati minuman mereka tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
George menarik nafasnya dengan berat dan meneguk minumannya begitu juga dengan Chloe.
"George, aku rasa Ivy memang sudah tiada." ucap Chloe putus asa.
"Tapi aku merasa dia masih hidup." jawab George.
"Sudahlah, kita sudah mencarinya kemana-mana tapi tidak ada. Ibunya juga sudah mengatakan dimana dia dimakamkan jadi sebaiknya kita menghentikan pencarian kita."
"Tapi Chloe?" George menggoyang minumannya sedangkan Chloe melihat kearahnya.
"Aku tidak percaya sama sakali!" ucapnya lagi sambil meneguk minumannya.
"Lalu apa yang akan kau lakukan?" tanya Chloe.
"Aku tidak akan menyerah Chloe, aku akan mencarinya sampai dapat!"
"Ck, terserah kau saja tapi maaf, aku sampai disini saja!"
"Tidak apa-apa, aku akan terus mencarinya."
"Baiklah jika begitu, aku sudah harus pergi George, aku ingin keagensi bertemu dengan Direktur." ucap Chloe.
"Baiklah, pergilah! Minuman ini aku yang traktir."
"Terima kasih George."
Chloe bangkit berdiri dan berjalan pergi sedangkan George masih disana menikmati minumannya.
"Ivy, aku percaya kau masih hidup." gumamnya.
George meneguk minumannya kembali dan melihat gelasnya yang sudah kosong.
"Dimana Ivy, dimana kau berada? Siapa yang menyembunyikanmu Ivy?"
George mengusap wajahnya dengan kasar, seandainya ada sedikit pentunjuk mungkin dia bisa menemukan Ivy tapi sampai sekarang tidak ada petunjuk sama sekali bahkan agensi yang menaungi mereka tutup mulut.
George kembali meneguk minumannya dan kembali berpikir, agensi? Benar, agensi yang menaungi mereka selama ini tutup mulut dan mengiyakan kematian Ivy begitu saja tanpa memeriksa kebenaranya.
Ivy adalah artis mereka yang sedang naik daun dan terkenal, tidak mungkin mereka mengiyakan kematian Ivy begitu mudah karena itu sangat merugikan pihak mereka.
Banyak kontrak yang sudah ditandatangani oleh Ivy dan beberapa film yang dibintanginya terpaksa diganti dengan artis lain. Bahkan mereka dituntut oleh beberapa bintang iklan yang harus Ivy mainkan untuk ganti rugi karena kematian Ivy yang sangat menjanggal, hal ini jelas merugikan pihak agensi dan mereka tidak mengklarifikasi sama sekali bahkan mereka rela mengganti semua kerugian yang seharusnya tidak mereka tanggung tanpa banyak bicara.
Jangan-jangan mereka tahu apa yang terjadi dan diancam oleh seseorang sehingga mereka tutup mulut, entah kenapa George jadi curiga dan sepertinya mereka harus pergi ke agensi untuk menanyakan hal ini.
George meneguk minumannya kembali dengan cepat dan segera mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang.
"Chloe, kau dimana?" tanyanya karena orang yang dia hubungi adalah Chloe.
"Aku sedang menuju parkiran, kenapa?" jawab Chloe.
"Kau ingin pergi ke agensi bukan?"
"Ya, memangnya kenapa?" Chloe kembali bertanya dan jadi heran.
"Tunggu aku, kita pergi bersama!" George sudah berjalan kearah kasir untuk membayar minumannya.
"Untuk apa George?"
"Chloe, aku yakin agensi pasti tahu keberadaan Ivy."
"Maksudmu?" Chloe jadi semakin penasaran.
Selama berjalan menuju parkiran, George mulai menjelaskan kecurigaanya kepada Chloe, dia semakin yakin jika agensi tempat mereka bekerja memang tahu keberadaan Ivy dan mereka akan menanyakan hal ini secara rinci.
Mendengar penjelasan dari George membuat Chloe jadi yakin kembali jika Ivy memang masih hidup, dia dan George berharap dapat menemukan petunjuk.
Saat mereka tiba, mereka tidak membuang waktu dan segera menuju ruangan direktur. Mereka diantar oleh seorang sekertaris menuju ruangan direktur dan dipersilahkan untuk masuk.
Didepan jendela yang ada diruangan itu, seorang pria tua dengan badan sedikit gemuk sedang berdiri membelakangi mereka dan menikmati segelas Wine ditangannya.
Tanpa melihat lagi, pria tua itu berkata, "Bagaimana? Apa kau menerima tawaran dariku? Jika kau menerimanya maka aku akan mengatakan keadaan Ivy Brown padamu!" ucap pria tua itu.
Chloe dan George sangat kaget mendengarnya dan saling pandang.
"Apa maksudnya?" tanya George dan pada saat mendengar suara George, pria tua itu memutar tubuhnya dan sangat kaget melihat George dan Chloe ada disana. Mana wanita tadi yang baru saja menemuinya?
"Kenapa kalian ada disini?" tanyanya.
"Sir, bisa jelaskan apa maksud ucapan anda tadi? Coba katakan pada kami bagaimana keadaan Ivy?!" tanya Chloe.
"Tidak, kalian salah dengar!" elak pria tua itu tapi George dan Chloe tidak percaya begitu saja karna ini adalah sebuah petunjuk.
"Jangan mengelak! Katakan pada kami dimana Ivy Brown berada?" George mendekati pria tua tadi dengan tatapan tajamnya sedangkan pria tua itu mengumpat dalam hati. Dimana wanita yang baru saja menemuinya dan menanyakan keberadaan Ivy Brown?
Kl Bella cuma bilang dikenalkan dgn semua..... blm titik, Bella usah seneng duluan😄