Sejak usia lima tahun, Raya Amelia hidup dalam neraka buatan ayahnya, Davin, yang menyalahkannya atas kematian sang ibu. Penderitaan Raya kian sempurna saat ibu dan kakak tiri masuk ke kehidupannya, membawa siksaan fisik dan mental yang bertubi-tubi. Namun, kehancuran sesungguhnya baru saja dimulai, di tengah rasa sakit itu, Raya kini mengandung benih dari Leo, kakak tirinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Qwan in, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25
Matahari kian meninggi, menyiram kebun teh dengan panas yang menyengat. Raya menyeka keringat di dahinya menggunakan punggung tangan. Tiga keranjang daun teh telah terisi penuh, cukup untuk membuat pundaknya pegal dan napasnya berat. Ia menghela napas sejenak sebelum mengangkat keranjang terakhir, bersiap membawanya ke pengepul.
Di tempat penimbangan, beberapa ibu pemetik teh lain sudah lebih dulu mengantre. Suara obrolan kecil bercampur denting timbangan besi memenuhi udara. Satu per satu hasil petikan ditimbang. Ketika gilirannya tiba, Raya hanya tersenyum tipis saat menerima upah yang tak seberapa, cukup untuk makan hari ini, pikirnya. Tanpa banyak kata, ia melangkah pulang.
Saat mendekati rumah sederhananya, langkah Raya melambat. Di teras, ia melihat pemandangan yang tak biasa. Lili dan Leo duduk berdampingan di dipan kayu. Angin siang mengibaskan rambut bocah itu yang tengah tenggelam dalam dunianya sendiri.
Di pangkuan Lili terbuka sebuah buku gambar. Tangannya yang kecil bergerak lincah, penuh warna dan imajinasi.
“Om, coba lihat gambar Lili. Bagus, kan?” tanya Lili ceria sambil menyodorkan kertas itu.
Leo memaksakan senyum, mencoba menahan rasa nyeri di dadanya. "Bagus sekali. Lili gambar apa ini?"
"Ini gambar keluarga Lili!" jawabnya semangat.
“Ini Lili… ini Ibu…” ucapnya sambil menunjuk satu per satu. Namun jarinya berhenti di sosok seorang pria di gambar itu. Senyumnya memudar, digantikan raut bingung bercampur sedih.
“Kalau ini siapa?” tanya Leo hati-hati, mulai menyadari perubahan wajah Lili.
"Ini Ayah... tapi Lili nggak punya Ayah," bisik Lili dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Leo menelan ludah. “Ayah Lili ke mana?” tanyanya pelan.
“Ibu bilang ayah Lili sudah di surga, waktu Lili masih di dalam perut,” jawab Lili lirih.
Hati Leo terasa diremas. Dadanya sesak oleh kata-kata yang ingin keluar, namun tertahan di tenggorokan. Aku ayahmu, Lili. Kalimat itu bergema keras di kepalanya, tapi ia tak berani mengucapkannya. Ia bahkan tak yakin pantas mengklaim dirinya sebagai ayah dari bocah di hadapannya ini.
"Tapi... Lili nggak sedih, Om. Biarpun nggak punya Ayah, Lili punya Ibu yang sayang banget sama Lili," balas bocah itu, berusaha kuat.
Leo menelan ludah, tenggorokannya terasa tercekat. Dengan ragu, ia berbisik, "Lili... apa Om boleh peluk Lili?"
Lili terdiam sejenak, memandangi wajah Leo yang tampak sangat sedih. Perlahan, ia mengangguk kecil. "Boleh, Om."
Leo segera menarik tubuh mungil itu ke dalam dekapannya. Ia memeluk Lili dengan sangat erat, seolah takut bocah itu akan menghilang jika ia melepaskannya. Bahu Leo berguncang hebat. Tangis yang ia pendam selama bertahun-tahun pecah seketika di bahu kecil anaknya.
Lili sempat tertegun. Namun, dengan naluri polosnya, tangan kecilnya terangkat. Ia menepuk-nepuk punggung Leo dengan lembut, persis seperti yang sering dilakukan Raya saat menenangkan Lili yang sedang menangis.
“Sudah… sudah… jangan nangis,” Bujuk Lili menenangkan.
"Kenapa Om yang menangis? Padahal kan Lili yang nggak punya Ayah." tanyanya polos.
Kalimat itu justru membuat tangis Leo semakin tersedu-sedu. "Aku Ayahmu, Lili... Aku Ayahmu... Maafkan Ayah..." batin Leo berteriak.
Setelah perlahan menguasai diri, Leo melepaskan pelukannya. Ia menyeka air mata di pipinya yang kasar. Matanya tertuju pada kertas gambar yang tadi tergeletak di antara mereka.
"Apa gambar ini boleh Om simpan?" tanya Leo penuh harap.
Lili memberikan senyum manisnya kembali, mengangguk mantap. "Boleh! Tapi Om janji, ya, nggak boleh nangis lagi?"
Leo mengangguk, menyimpan kertas itu seolah-olah itu adalah benda paling berharga di dunia. Namun, saat ia hendak menjawab, bayangan Raya muncul di ujung jalan setapak, menatap pemandangan di teras itu dengan tatapan yang sulit diartikan.
, tp gak terlalu berharap sih soal ny sama raya aja tuh si bpk kndung rasa ayah tiri, ap sama cucu,,
lnjut yaa kk, walau pun aq bca ny sambil emosi , air mata ngalir tak trasa tetp ku baca, 👍
,, crita ny bgus kk, tp jujur klu baca eps awal smpai raya lompat dri jembtan jujur aq gak kuat,,
emg klu dulu tau raya hamil bakal sayang,