NovelToon NovelToon
BENANG SUTRA DI JEMARI LOGAM

BENANG SUTRA DI JEMARI LOGAM

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Cinta Seiring Waktu / Identitas Tersembunyi / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:646
Nilai: 5
Nama Author: Imron Tohari

Maya Kirana, perancang busana berjiwa halus, berselisih dengan Rendra, konsultan teknis yang dingin dan kaku di ajang Indonesian Fashion Week. Sentuhan tak sengaja pada relief candi kuno melempar kesadaran mereka ke masa lalu, mengungkap takdir reinkarnasi sebagai sepasang kekasih kerajaan, Raden Jayendra dan Putri Kirana.

Saat persaingan memanas, studio Maya disabotase dan lisensinya dibekukan akibat fitnah plagiarisme dari rival mereka, Victor dan Clarissa. Di tengah krisis, Maya dan Rendra bersatu memadukan kelembutan sutra dengan kriya logam presisi. Didukung Rian, kakak Maya, mereka menggelar uji materi terbuka untuk membersihkan nama baik.

Jelang panggung Grand Final, Rendra mengorbankan material karya rahasianya dan mengundurkan diri sebagai desainer misterius berinisial REN demi menyelamatkan gaun Maya sekaligus menjebak Victor ke jalur hukum. Mahakarya kolaborasi sutra dan logam tersebut akhirnya meraih Juara Utama IFW, menyatukan kembali cinta serta takdir masa lalu Maya dan Rendra.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Imron Tohari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BENANG SUTRA DI JEMARI LOGAM BAB 34

BAB 34

Aroma tembaga hangat yang baru disepuh beradu dengan bau minyak pelumas mesin dan wangi asam khas serat sutra mentah. Di bawah pendar kuning lampu gantung yang terpantul pada bilah-bilah pelat tembaga di atas meja kayu tebal, sisa-sisa peleburan ornamen logam masih menyisakan hawa hangat di udara. Draf sketsa yang bergetar akibat embusan angin malam melengkapi kekhusyukan ruang kerja Rendra yang senyap.

Maya berdiri kaku beberapa senti dari tepi meja. Matanya tertuju pada titik temu tempat kelim kain sutra putihnya bertaut dengan klem tembaga tempaan Rendra. Pada tatanan itu, sutra yang biasanya jatuh mengalir tanpa bentuk mendadak menemukan kontur; ia tidak tampak dipaksa, melainkan disangga oleh konstruksi logam yang melengkung mengikuti anatomi tubuh manusia.

Desir aneh yang sempat menghantam dada Maya saat pembentukan ornamen tempa tadi masih menyisakan getaran halus di jemarinya. Tembok gengsi dan ego profesionalisme yang bertahun-tahun dibangun Maya—keyakinan absolut bahwa kelembutan sutra tidak butuh kekakuan logam—kini terkelupas lapisan demi lapisannya.

"Rangka penyangga bagian bahu ini..." Maya memecah keheningan. Suaranya rendah, tidak lagi menyisakan nada tinggi yang tajam atau intonasi defensif yang biasa ia pasang setiap kali berhadapan dengan Rendra. "Jika klem tembaga ini ditautkan tepat di atas tulang selangka, apakah kelenturan draping bagian dada tidak akan terkunci?"

Rendra tidak langsung menjawab. Pria itu menyandarkan tang presisinya di atas tatakan kayu, lalu mengusap pelipisnya yang basah oleh keringat tipis. Ia menatap Maya tanpa sisa-sisa tatapan dingin yang biasanya menghiasi wajahnya.

"Sutra milikmu itu hidup, Maya. Ia bergerak mengikuti napas dan gravitasi," ujar Rendra pelan, suaranya terdengar serak oleh kelelahan malam. "Tapi kain tanpa struktur tumpuan hanya akan menjadi selembar pembungkus yang kehilangan arah saat diterpa gerakan cepat di panggung. Logam yang kuselipkan ini tidak bertugas mengekang atau memenjarakan sutramu. Ia hadir sebagai poros—sebuah pusat gravitasi agar kelembutan kainmu punya tempat untuk pulang."

Maya mengernyitkan dahi pelan, pandangannya tertahan pada lekuk tembaga yang memeluk kelim sutra di manekin. "Pusat gravitasi untuk pulang? Maksudmu... tumpuan fisik, atau ada hal lain?"

Rendra tertawa tipis, sebuah tawa kecil yang terdengar amat lelah namun lepas. Ia mengambil sepotong pelat tembaga sisa potongan, memutarnya di antara jemarinya.

"Sederhana, Maya. Sutra itu indah justru karena ia selalu mengalah pada angin. Ia terbang, meliuk, ngambang. Tapi kalau tidak ada yang menahannya di satu titik bumi, keindahan itu cuma jadi kibasan yang lewat sekilas lalu hilang," jelas Rendra pelan, matanya menatap lurus jemari Maya di atas meja. "Logam ini tidak mengubah sifat sutramu. Ia cuma jadi patok. Seperti rumah. Sejauh apa pun kainmu melayang diterpa sorot lampu panggung, ia selalu tahu ke mana harus kembali jatuh dengan presisi. Itu bukan soal mengekang, tapi memberi kepastian."

Maya mengecap bibirnya yang terasa kering. Kata-kata Rendra tidak mengandung nada menggurui, melainkan sebuah pemahaman mendalam atas material yang selama ini disangkanya asing dari jiwa Rendra. Maya menunduk, menatap jemari Rendra yang memar tipis di bagian ibu jari akibat gesekan amplas tembaga.

"Maaf Rendra... aku terlalu picik menilai cara kerjamu selama ini," bisik Maya pelan. Gengsi yang membatu di dadanya perlahan cair. "Oh ya Rendra, terima kasih untuk bantuan finansial yang kausalurkan lewat jaringan studio kemarin... dan untuk presisi logam ini. Tanpa tumpuanmu, gaun ini tidak akan pernah lengkap."

Rendra mengamati wajah Maya yang diterpa pendar lampu hangat. Hening merayap di antara mereka, cukup panjang hingga detak jarum jam dinding tua di sudut bengkel terdengar ritmis. Pria itu menarik napas dalam-dalam, menaruh seluruh kehati-hatian yang biasa memagari dirinya.

"Nggak perlu merasa utang budi," sahut Rendra datar, namun nada suaranya tertahan di tenggorokan. Ia memindahkan tang presisi ke kotak perkakas dengan dentang logam yang pelan. "Soal bantuan finansial itu murni soal menjaga agar karya yang potensial nggak mati konyol sebelum panggung. Tapi kalau soal keberadaanku di sini..." Rendra menghentikan gerakannya, lalu menatap Maya tanpa jarak pertahanan lagi.

"Aku bukan orang yang pintar merangkai kata puitis kayak anak-anak literatur, Maya. Kamu tahu persis gimana aku dari zaman kampus," lanjut Rendra murni, jujur, tanpa dibuat-buat. "Kita berantem melulu soal bahan, soal ego, soal cara pandang. Tapi jujur aja... kepala dan mataku nggak pernah benar-benar bisa lepas dari caramu kerja. Aku respek sama kamu. Dan lebih dari sekadar respek, aku pengin ada di sampingmu. Bukan cuma sebagai sesama perancang."

Dada Maya berdesir hebat. Pengakuan yang dituturkan tanpa embel-embel kalimat romansa klise itu justru menghantam benteng pertahanannya secara jauh lebih telak. Ada kehangatan dan rasa hormat yang mendadak mekar di hatinya untuk pria di hadapannya ini.

Rendra menggeser posisinya sedikit lebih dekat, menyandarkan pinggulnya ke tepi meja kayu seraya menatap Maya dengan senyum tipis yang amat langka.

"Aku nggak lagi nodong jawaban sekarang, Maya," lanjut Rendra santai. Kekehan tipis kembali keluar dari bibirnya. "Aku cuma mau transparan. Lagian, capek juga pura-pura cuma peduli sama ketebalan pelat kuningan tiap kali dekat kamu."

Maya tertawa pelan, usahanya menahan napas agar tetap tenang seketika pecah. "Rendra... kamu sadar nggak, ini pertama kalinya kamu ngomong panjang lebar tanpa ada nada sinisnya?" tanya Maya heran seraya menggelengkan kepala.

"Ya mau gimana lagi? Momennya udah kelewat jujur," sahut Rendra santai sambil mengangkat kedua bahunya. "Selama ini kamu mikir aku cuma kurator galak yang hobinya nyari celah kesalahanmu, kan?"

"Memang iya," balas Maya cepat. Ia melipat kedua tangannya di dada, tetapi binar matanya perlahan melunak. "Setiap kali kamu datang bawa alat ukur atau kacamata pelindung itu, aku udah siap-siap pasang benteng."

"Tapi bentengmu bocor malam ini," gumam Rendra pelan seraya menatap lurus ke dalam manik mata Maya. "Dan aku bersyukur untuk itu."

Maya mengembuskan napas panjang. Ada rasa hangat yang merambat di dadanya, namun naluri realistisnya langsung menarik rem darurat.

Maya berdiri tegak. Ia tidak berpaling, tidak pula menunjukkan gestur canggung. Pandangannya menatap lurus ke dalam manik mata Rendra dengan kedewasaan utuh.

Maya berdiri tegak. Ia tidak berpaling, tidak pula menunjukkan gestur canggung. Pandangannya menatap lurus ke dalam manik mata Rendra dengan kedewasaan utuh.

"Rendra... aku menghargai kejujuranmu malam ini. Dan aku menghormatimu jauh lebih besar dari yang bisa kubayangkan sebelumnya," kata Maya tenang, nada suaranya mantap tanpa riak drama. "Tapi kepalaku sedang dipenuhi pertarungan besar. Hatiku belum ada di sana, dan aku tidak akan berpura-pura siap hanya karena rasa berutang budi atas bantuanmu."

Maya menarik napas pendek, merapikan letak gulungan draf di tangannya. "Kita masih berdiri di garis kompetisi yang sama. Aku butuh fokus penuh pada panggung final, dan aku rasa kamu juga butuh hal yang sama," tambah Maya tegas. "Jangan acak konsentrasi kita sekarang."

Rendra menatap Maya sejenak, lalu mengangguk tipis—sebuah anggukan kecil yang menandakan pemahaman dan rasa hormat atas batas tegas yang ditarik wanita itu. "Sesuai keinginanmu, Maya. Ambil gaunmu, dan selesaikan bagianmu," sahut Rendra singkat.

Maya menata rangka manekin kayu berbalut gaun eksperimennya ke jok belakang mobil sedan miliknya dengan ekstra hati-hati. Begitu pintu mobil tertutup rapat, hawa dingin malam pinggiran kota langsung terhalang dinding kabin. Maya duduk di balik kemudi, membiarkan mesin bergetar halus beberapa saat sebelum menekan pedal gas.

Sepanjang perjalanan, pengakuan Rendra masih memenuhi pikirannya. Maya menyadari bahwa garis pertahanannya telah berubah total.

Pukul dua dini hari. Studio kerja sekaligus kantor milik Maya akhirnya sunyi senyap begitu pintu besi ia kunci dari dalam. Maya memasang klem tembaga buatan Rendra ke struktur utama kain sutra putihnya. Setiap kali pasak logam itu terkunci pada kelim kain, Maya tertegun. Bentuk gaun itu tidak lagi condong pada estetika mengalir yang mengawang, tetapi mendadak memiliki bobot—sebuah karakter berani yang mengawinkan kelenturan dan ketegasan secara bersamaan.

Tiba-tiba, suara dering telepon seluler di meja memecah keheningan studio. Maya menoleh. Nama Rian tertera di layar.

Maya menggeser tombol hijau dan menempelkan gawai ke telinganya.

"Maya, kamu masih di studio?" suara Rian di seberang telepon terdengar berat dan tanpa basa-basi.

"Masih, Mas. Aku baru menyelesaikan perakitan draping utama," jawab Maya. "Kenapa menelepon jam segini?"

"Dengar baik-baik," kata Rian dingin. "Pemasok sutra utama tempat kamu memesan kain cadangan untuk final baru saja membatalkan pengiriman secara sepihak. Katanya pasokan dialihkan karena ada pembeli borongan yang membayar penalti kontrak."

Maya memegang tepi meja, matanya menajam. "Siapa?"

"Siapa lagi kalau bukan konsorsium Victor," sahut Rian. "Dia mulai main kotor dari lini pasokan material untuk menjepit pergerakanmu menjelang H-5. Jangan kontak vendor itu lagi, biarkan Mas yang urus permainan bisnisnya dari luar. Kamu fokus tuntaskan gaun di manekinmu."

Maya mengepalkan tangannya di samping paha, matanya menyala menatap gaun berpenyangga tembaga di hadapannya.

"Victor pikir dia bisa mematikan studioku hanya dengan menahan lembaran kain?" bisik Maya dengan nada dingin menantang. "Dia lupa kalau gaun ini tidak lagi cuma mengandalkan kain."

"Bagus. Tahan emosimu dan simpan tenaga," sambung Rian dari seberang saluran. "Besok siang kosongkan jadwalmu sebentar. Kita makan siang jam satu di Rumah Makan Seafood 99. Ada beberapa strategi arus kas dan perlindungan legal yang mau Mas matangkan langsung sama kamu."

"Jam satu? Bawa Nia juga boleh, Mas? Dia yang megang rekap operasional studio," tanya Maya.

"Bawa saja. Lebih ramai lebih bagus biar kamu nggak stres ngadepin kain sendirian," jawab Rian pendek. "Tidur sekarang, Maya. Jangan sampai pingsan sebelum naik panggung."

Namun, begitu panggilan terputus, bayangan misterius seorang pria berjaket kulit terlihat mengintip lewat celah ventilasi atas studio Maya, dengan gerak-gerik yang mencurigakan, sebelum akhirnya pergi sambil terlihat sedang menelpon seseorang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!