Hidup Kayna memang sudah hancur, ayahnya sangat membencinya karna sudah membuat ibunya meninggal saat melahirkannya.
Oleh sebab itu, di usianya yang genap 20 tahun.. ia memutuskan mengakhiri hidupnya agar bisa merasakan reinkarnasi ke keluarga yang ia harapkan akan mencintainya, namun..
"Astaga.. kenapa aku harus menjadi tokoh antagonis yang akan mati di tangan tunanganku sendiri?"
Kayna yang kesal karna terlempar ke novel memutuskan untuk bunuh diri sebelum tunangannya yang membunuhnya.
Lalu, apakah rencananya akan berjalan mulus?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
"Kenapa aku harus membantumu?" tanya Freya, suaranya parau. "Kau menang. Aku kalah. Biarkan aku busuk di sini."
"Karena Valerius tidak akan membiarkanmu hidup," potong Adrian tegas. "Kau tahu terlalu banyak. Begitu dia tahu kami mulai mendekatimu, kau akan mati. Entah diracun, entah digantung agar terlihat seperti bunuh diri karena penyesalan. Kau tahu cara kerjanya."
Freya menutup matanya. Air mata mengalir di balik kerudungnya. Bukan air mata manipulasi. Air mata seseorang yang akhirnya menyadari bahwa ia telah dibuang oleh monster yang ia layani.
"Dia... dia menjanjikan takhta padaku," bisik Freya, suaranya hampir tidak terdengar. "Katanya jika Raja mati, dia akan menjadikan aku Ratu. Tapi itu bohong. Aku hanya alat. Ketika Lord Harrow ditangkap, dia mengirim pesan ke biara ini. Pesan itu berkata: Bungkam mulutmu, atau lidahmu akan kubawa ke altar."
Freya membuka matanya, menatap Kayna dengan tatapan yang memohon. "Aku takut, Kayla. Atau... Kayna. Aku sangat takut."
Kayna merasakan sesuatu yang asing di dadanya. Bukan kemenangan. Bukan kepuasan melihat musuh jatuh. Melainkan rasa sakit yang mengenali dirinya sendiri di mata wanita lain.
"Kami bisa melindungimu," ucap Kayna, meraih tangan Freya yang dingin dan gemetar. "Tapi kau harus memberi kami sesuatu yang bisa menjatuhkannya. Sesuatu yang tidak bisa dia sangkal."
Freya menatap tangan Kayna yang menggenggamnya. Lalu, dengan napas tersengal, ia berkata: "Ada buku catatan. Buku hitam kecil. Valerius mencatat semua transaksi dengan Viper, semua nama agen, semua rencana pembunuhan. Dia menyimpannya di perpustakaan pribadinya, di balik lukisan nenek moyangnya yang ketiga dari kiri."
"Bagaimana kau tahu?" tanya Adrian.
"Karena aku yang pernah disuruh menyembunyikannya," jawab Freya pahit. "Sebelum dia memutuskan aku tidak berguna lagi."
Tiba-tiba, lonceng biara berbunyi keras dari luar. Suara langkah kaki berat terdengar mendekat ke ruang konseling. Bukan langkah kaki Ibu Superior. Langkah kaki itu terlalu berat, terlalu teratur. Langkah kaki militer.
Wajah Freya memutih total. "Mereka... mereka datang."
Adrian langsung mencabut belati tersembunyi dari balik jubahnya. "Berapa orang?"
"Tidak tahu," bisik Freya, tubuhnya gemetar tak terkendali. "Valerius punya unit bayaran pribadi. Mereka tidak memakai seragam kerajaan."
Kayna berdiri, pikirannya bekerja cepat. Jika mereka bertarung di sini, Freya akan mati. Dan bukti di perpustakaan Valerius mungkin akan dimusnahkan begitu dia tahu mereka tahu lokasinya.
"Adrian," bisik Kayna. "Kita tidak bisa melawan mereka di sini. Kita harus keluar. Sekarang."
"Lewat mana?" Adrian sudah memindai ruangan. Jendela terlalu tinggi. Pintu utama adalah satu-satunya jalan, dan itu berarti berhadapan langsung dengan musuh.
Kayna menatap Freya. "Apakah ada jalan rahasia di biara ini? Terowongan bawah tanah untuk penyelundupan barang atau pelarian saat perang?"
Freya mengangguk panik. "Di belakang lemari sakristi di kapel sebelah. Tapi... kuncinya ada pada Ibu Superior."
"Maka kita harus mengambilnya," ucap Adrian tegas. Ia menatap Kayna. "Kau dan Freya pergi ke kapel. Ambil kunci itu. Aku akan menahan mereka di sini."
"Tidak!" protes Kayna. "Kau tidak bisa melawan mereka sendirian!"
"Aku Jenderal Perang Utara, Kayna," balas Adrian, senyum tipis yang penuh kepercayaan muncul di bibirnya. "Menahan musuh di ruang sempit adalah spesialisasiku. Pergilah. Dapatkan bukti itu. Selamatkan kerajaan."
Ia mengecup kening Kayna dengan cepat, lalu mendorongnya ke arah pintu samping yang terhubung ke koridor kapel. "Pergi! Sekarang!"
Kayna ingin berteriak, ingin menolak, tapi ia tahu Adrian benar. Waktu adalah segalanya. Dengan hati yang terasa robek, ia menarik tangan Freya dan berlari keluar dari ruang konseling, meninggalkan Adrian sendirian menghadapi bayangan kematian yang mendekat.
Di belakangnya, terdengar suara pintu didobrak, diikuti bunyi benturan logam dan suara Adrian yang menggelegar memerintah.
Kembali padaku, doa Kayna dalam hati sambil berlari menyusuri koridor gelap bersama Freya. Tolong, Adrian, kembalilah padaku.
Untuk pertama kalinya, Kayna tidak berdoa untuk kematian. Ia berdoa untuk kehidupan. Kehidupan Adrian. Dan kehidupannya sendiri yang kini, akhirnya, terasa berharga untuk diperjuangkan.
..gagal terus🤣