Di usia pernikahan yang baru dua bulan seharusnya pasangan suami sedang hangat-hangatnya memadu kasih. Namun tidak begitu dengan pernikahan Rana dan Jax. Meskipun mereka adalah pengantin baru, tapi tidak ada api cinta diantara keduanya, dingin, kaku, tanpa suara. Apakah ada cinta diantara mereka? atau mungkin semua hanyalah rumah tangga kosong?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ginevra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Apakah Orang Bisa Berubah?
Dengan cemas yang memuncak, tangan yang penuh keringat, dan kaki yang gemetar, Jax menginjak pedal gas mobilnya sedalam mungkin, membelah jalanan kota yang sepi demi membawa istrinya yang sudah tidak sadarkan diri ke rumah sakit.
Sesekali ia menoleh ke kaca depan, menatap wajah kekasihnya yang sangat pucat dengan kepala yang terkulai lemas, sambil terus memegang kemudi. Bibirnya komat kamit, memanjatkan segala doa yang terlintas di kepalanya, berharap dirinya tidak terlambat dan Dania selamat.
"Dania, kumohon bertahanlah."
Begitu mobilnya berhenti darurat di depan lobi IGD, Jax langsung melompat keluar dan berteriak histeris memanggil perawat agar segera membawa tandu untuk menyelamatkan kekasihnya.
Para petugas Rumah Sakit yang berlari sambil membawa tandu, dengan sigap mengangkat tubuh Dania keluar dari mobil. Sementara Jax ikut berlari di sampingnya sambil mengenggam tangan istrinya dengan wajah penuh keringat, pucat, dan berantakan.
"Kami akan melakukan pemeriksaan dan penanganan, mohon Bapak untuk menunggu di luar," seru salah satu perawat kepada Jax.
"Baiklah."
Meski ia menyetujui untuk menyingkir, Jax tak bisa tenang begitu saja. Di kursi tunggu depan IGD, ia mondar-mandir gelisah. Kakinya tak bisa diam sedangkan tangannya sibuk meraup wajah kuyunya.
"Dania..." Ketakutan akan kehilangan kembali menjelma menjadi monster pelahap yang siap membawa Jax ke gelapan. Memori akan kematian orang tuanya yang tidak terlalu jelas itu menjadi momok yang menghantam kepalanya. Lalu, satu-satunya orang yang peduli kepadanya kini juga berada di ambang itu.
"Bagaimana ini?"
Tubuhnya bergetar hebat, dadanya tiba-tiba menjadi sesak, dan kepalanya mendadak terasa teramat sakit.
Perasaan itu kembali muncul setelah tiga bulan membaik. Trauma akan ditinggalkan kini terlihat jelas di matanya. Tak hanya orang tuanya, Nenek yang selalu ada untuknya juga meninggalkannya begitu saja dan malah menitipkannya pada gadis yang sama sekali tidak ia kenal.
Lalu sekarang, Jax harus kehilangan gadis itu juga?
"Tidak, itu tidak mungkin."
"Dania pasti selamat. Kalau tidak, aku akan ikut bersamanya."
Gredek gredek gredek
Suara roda ranjang pasien memecah lamunan Jax.
"Dania mau dibawa kemana, Dok?"
"Kami akan melakukan pemeriksaan dengan MRI."
Tak sempat memproses apa yang dikatakan Dokter, Jax langsung mengikuti mereka kemana-pun itu.
"Nah, sekarang Bapak tidak boleh masuk."
Lagi-lagi ia diminta untuk menunggu, menunggu, menunggu dan menunggu.
"Baiklah."
Tapi Jax tidak bisa protes karena semua itu demi keselamatan Dania.
"Ini hanya pemeriksaan, jangan khawatir," ucap Dokter.
Jax hanya mengangguk dan mengikuti arahannya, duduk mencoba untuk tenang, walau itu tidak mungkin.
Setelah menungu hampir satu jam, akhirnya Dokter yang memintanya untuk bersabar keluar dari ruangan.
"Pasien akan segera dipindahkan ke ruang rawat inap dan Bapak silahkan ikut ke ruangan saya."
Dada Jax mencelos.
"Rawat inap? Separah itu kah sakitnya Dania sampai harus dirawat inap?"
"Baik Dok," ucapnya mengikuti dari belakang.
Dalam perjalanannya yang tidak terlalu jauh, Jax berulang kali merapalkan semua permohonannya. "Semoga ini bukan sesuatu yang parah."
"Silahkan duduk," ucap Pak Dokter.
"Kalau boleh tahu, apa hubungan Anda dengan pasien?"
"Saya suaminya, Dok," jawab Jax tanpa ragu.
"Begini Pak, setelah melakukan pemeriksaan MRI, ternyata ada tumor di lambung pasien."
Deg,
Bagai mendengar eksekusi mati, tubuh Jax kaku seketika. Wajahnya yang semula sudah pucat, bertambah pucat seperti tidak ada darah yang mengalir di kepalanya.
Melihat reaksi Jax yang terbelalak dan tampak cemas, Dokter melanjutkan," tenang saja Pak, tumornya tidak ganas dan bisa langsung dioperasi."
"Benarkah? Dania bisa sembuh kan Dok?"
"Tentu saja, nanti Bapak akan diarahkan untuk mengisi formulir dan administrasi lain."
"Terimakasih Dok, terimakasih."
"Iya, sama-sama. Lain kali perhatikan pola makan istri Anda. Lalu waktu istirahat juga penting. Ajak liburan atau bagaimana gitu, biar tidak ada stress yang menumpuk."
"Ba-baik Pak."
Semua wejangan itu seolah menampar pipi Jax berkali-kali. Selama ini ia tidak pernah memperhatikan istrinya sama sekali. Malah dirinya lah yang selalu menjadi pusat stress. Dania terlalu fokus mengurusnya hingga tidak memperhatikan kesehatannya sendiri.
Jax berjalan ke kamar Dania dengan gontai. Pandangan matanya kabur karena renungan singkat hidupnya. Selama ini dia disibukkan dengan mencari cara agar istrinya memperhatikannya tanpa tahu bahwa itu malah menyakitinya.
Di sudut Kamar, Jax melihat istrinya yang tertidur usai menelan obat pereda nyeri.
"Sejak kapan kamu sekurus ini?"
Penyesalan itu merutukinya. Dania yang selalu sempurna di matanya kini malah terkulai tak berdaya, menunjukkan bahwa dirinya manusia biasa bukan Dewi yang terlihat kuat dan tak tertandingi.
Perlahan Jax mengusap pipi yang pucat itu, menandakan bahwa dirinya sudah terlalu kejam. Semua tindakannya sudah melampaui batas, sampai istrinya yang kuat dan mandiri itu menyimpan begitu banyak tekanan dalam hatinya.
"Dania..." Lirihnya seraya menggenggam erat tangan Dania. Tak ada lagi kata yang terucap sore itu. Semua ketakutan, kekhawatiran, dan penyesalan melambung jauh ke atap kamar. Yang tersisa hanya tatapan sendu dan sentuhan-sentuhan kecil untuk memastikan Dania masih bersamanya.
.
.
.
Waktu terus berlalu, efek obat semakin kehilangan kemujarabannya. Setelah malam menjelang, Dania akhirnya membuka matanya.
Perlahan-lahan, ia menggerakkan kelopak matanya. Sedikit demi sedikit kedua matanya bisa melihat dengan jelas.
Atap putih namun berbeda dengan atap kamarnya. Lalu ia juga bisa membau aroma yang langsung bisa membuatnya menebak dimana ia berada.
Namun, yang membuat dirinya seketika mendongak adalah sosok yang tertidur dalam posisi duduk di sampingnya. Rambut hitam acak-acakannya dan hidung mancung yang bisa ia lihat dari samping, jelas itu Jax.
"Jax? Bangun..." Ucap Dania sedikit menggeser tangannya yang tertindih bibir mungil Jax.
"Mmmmh... Lima menit lagi...."
Dia terdengar seperti sedang dibangunkan untuk berangkat kuliah.
"Tanganku basah kena iler kamu!"
Secepat kilat, Jax membuka matanya.
"Aduh, maaf...."
Jax tampak belingsatan mencari sesuatu yang bisa menyeka ilernya.
"Wkwkwk..."
Ledakan tawa menghangatkan suasana. Padahal beberapa jam lalu, hati Jax dipenuhi kecemasan yang berlebih. Kini semua hanyut terbawa gelak tawa.
"Masih sakit?" Tanyanya.
"Sedikit."
"Besok kamu dapat jadwal operasi, maaf tidak menanyakan pendapatmu dulu. Sebenarnya aku minta operasi langsung, tapi dokternya bilang kondisinya tidak terlalu gawat. Jadi didahulukan pasien yang lebih butuh penanganan."
Dania diam menatap suaminya yang entah kenapa berbeda dari sebelumnya. Mata lirihnya dan genggaman tangan yang belum juga dilepas, cukup mengejutkannya.
"Tidak masa--"
"Setelah ini, kamu harus jaga pola makan. Terus jangan terlalu stress. Oh ya, tadi aku sempet lihat-lihat tempat liburan. Enaknya kita kemana ya nanti setelah kamu operasi?"
Sorot mata Jax terpaku pada layar HP, asyik men-scroll dan memilah-memilah destinasi liburan. Sementara mata Dania masih tak bisa lepas dari genggaman tangan Jax.
"Jax.... Aku baik-baik saja."
"Baik-baik? Apanya yang baik-baik saja? Kamu pingsan saat aku nggak ada." Jax berhenti menggulir layarnya. "Mulai sekarang aku nggak akan ninggalin kamu lagi. Jadi kamu harus bersiap-siap," lanjutnya.
Dania termenung seolah dibuat terlena dengan kata-kata manis berbahaya.
"Sampai kapan kamu akan melakukannya? Apakah setelah aku sehat kamu akan kembali ke pacarmu?"
.
.
.
udah teruji gitu. jgn mudah kena rayuannya yak,