NovelToon NovelToon
CROSSLINE

CROSSLINE

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sci-Fi / Iblis
Popularitas:466
Nilai: 5
Nama Author: Niskala Cakrabuana

Dunia tidak pernah benar-benar dikuasai manusia. Jauh sebelum manusia mengenal sihir, teknologi, atau kekuatan supernatural, dunia telah dihuni oleh Primordial, entitas purba yang merupakan manifestasi dari kekuatan alam dan dunia itu sendiri. Manusia pernah berperang melawan mereka. Untuk bertahan hidup, manusia menciptakan berbagai cara untuk melawan. Sebagian terlahir dengan kekuatan. Sebagian mempelajari sihir. Sebagian mengembangkan alkimia dan teknologi. Dan sebagian lainnya memilih jalan yang seharusnya tidak pernah ditempuh. Dari sejarah panjang itu, lahirlah delapan kekuatan besar: Esper. Magic. Alchemy. Science. Artificial Esper. Mutant. Mafia. Primordial. Mereka tidak saling percaya. Mereka tidak saling menyukai. Dan beberapa bahkan saling membenci. Namun ketika ancaman Primordial kembali meningkat, para Alchemist memaksa berbagai pihak untuk membentuk sebuah gencatan senjata bernama Peace Faction. Lima orang kemudian dipertemukan. Dafa, Artificial Esper dengan kemampuan Nullification yang tidak dapat dipahami. Alicia, Pure Esper tingkat Infinity yang kekuatannya berasal dari rasi bintang. Sirhan, Magician pengguna Dark Magic yang bahkan ditakuti oleh kaumnya sendiri. Raga, Mutant tingkat Rare dengan tubuh yang mampu berevolusi hingga menjadi sekeras berlian. Dan Nerissa, seorang Alchemist yang menjadi penghubung di antara mereka. Mereka seharusnya bekerja sama. Masalahnya, tidak ada seorang pun yang benar-benar datang untuk berdamai. Ada yang ingin membuktikan bahwa kaumnya adalah yang paling unggul. Ada yang ingin membalas dendam. Ada yang menyembunyikan tujuan sebenarnya. Dan ada manusia yang sejak awal memanfaatkan kekacauan ini untuk sesuatu yang jauh lebih besar. Karena perang melawan Primordial mungkin bukan satu-satunya perang yang sedang berlangsung. Di CROSSLINE, musuh tidak selalu berada di seberang garis. Kadang, mereka berdiri tepat di sampingmu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Niskala Cakrabuana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

THE THREE PILLARS

Pagi itu, kabut masih menyelimuti jalan setapak yang membelah hutan. Cahaya matahari menembus sela-sela dedaunan, menyinari tanah yang basah oleh embun.

Rangga Vance berdiri di depan gerbang desa dengan sebuah tas di bahunya. Usianya baru menginjak dua puluh tahun, tetapi ia telah menghabiskan separuh hidupnya mempelajari sesuatu yang belum dipahami oleh manusia.

Magic.

Selama sepuluh tahun terakhir, desa itu telah menjadi tempatnya belajar. Ia mempelajari cara memahami Aether, mengendalikan alirannya, serta menggunakan Magic melalui pengetahuan dan latihan. Kini, setelah merasa cukup untuk memulai perjalanannya sendiri, Rangga memutuskan meninggalkan desa tersebut.

Ia baru saja melangkah ketika mendengar suara seseorang memanggil dari belakang.

“Rangga, tunggu sebentar.”

Rangga menoleh. Pemimpin desa berjalan menghampirinya bersama seorang perempuan yang menggendong bayi dalam balutan kain putih.

Rangga mengurungkan niatnya untuk melanjutkan perjalanan. “Ada apa? Bukankah kita sudah berpamitan kemarin?”

“Kami tidak akan menahanmu lebih lama,” jawab pemimpin desa. “Namun, sebelum kamu pergi, ada sesuatu yang perlu kami bicarakan.”

Perempuan di sampingnya menunduk, menatap bayi dalam pelukannya. Ekspresinya memperlihatkan kasih sayang sekaligus kesedihan yang berusaha ia tahan.

Pemimpin desa memberikan kesempatan kepadanya untuk berbicara.

“Rangga,” ucap perempuan itu, “aku ingin meminta bantuanmu.”

Rangga memperhatikan bayi tersebut sebelum kembali menatap wajah sang ibu. “Bantuan seperti apa?”

Perempuan itu menarik napas perlahan. “Aku ingin kamu membawa anakku bersamamu.”

Rangga terdiam.

Ia sempat mengira perempuan itu hanya membutuhkan bantuan untuk suatu keperluan di luar desa. Namun, permintaan tersebut jelas berada di luar dugaannya.

“Membawanya? Ke mana?”

“Ke mana pun perjalananmu membawamu.”

Rangga mengernyit. “Kamu ingin menitipkan bayi ini padaku, sementara aku sendiri bahkan belum tahu akan tinggal di mana?”

“Aku tahu ini permintaan yang tidak mudah.” Perempuan itu mengusap kepala bayinya dengan lembut. “Namun, aku percaya kepadamu.”

“Kenapa aku?”

“Kamu akan membawanya ke dunia yang lebih luas daripada tempat ini. Suatu hari nanti, dia harus mengenal dunia di luar desa.”

Rangga tidak langsung menjawab. Ia memandang pemimpin desa, berharap pria itu akan memberikan penjelasan tambahan.

“Keputusan ini sudah dipertimbangkan dengan matang,” ujar pemimpin desa. “Ibunya telah memikirkan hal ini sejak lama. Kami tidak akan memaksamu menerimanya, tetapi kami berharap kamu bersedia, Rangga.”

Rangga mengembuskan napas. Ia telah merencanakan perjalanan panjang. Membawa seorang bayi tentu akan mengubah banyak hal, mulai dari tempat beristirahat hingga cara menentukan arah perjalanan.

Namun, ketika melihat perempuan itu kembali menunduk untuk mencium kening anaknya, Rangga tidak tega menolak begitu saja.

“Baiklah,” katanya akhirnya. “Aku akan membawanya.”

Perempuan itu mengangkat wajah. Ada kelegaan dalam sorot matanya. “Terima kasih, Rangga.”

Ia menyerahkan bayinya dengan hati-hati. Rangga menerima anak itu dalam pelukannya, sedikit canggung ketika menyesuaikan posisi tubuh mungil tersebut agar tetap nyaman.

Bayi itu membuka mata.

Rangga menatapnya. Sepasang mata kecil berwarna biru itu memandang balik tanpa memahami apa yang sedang terjadi.

“Jadi, siapa namanya?” tanya Rangga.

Perempuan itu menggeleng pelan. “Aku belum memberinya nama.”

Rangga mengangkat alis. “Belum?”

“Aku ingin dia mendapatkan nama yang akan dibawanya sepanjang hidup. Aku sudah memikirkannya, tetapi belum menemukan nama yang terasa tepat.”

Rangga kembali menatap bayi tersebut.

Anak itu menggerakkan jemarinya, menggenggam salah satu jari Rangga dengan tangan mungilnya.

Rangga tersenyum tipis. “Kalau begitu, bagaimana kalau aku yang memberinya nama?”

Perempuan itu menatapnya, lalu mengangguk.

Rangga berpikir sejenak. Pandangannya beralih ke langit pagi yang mulai cerah di atas pepohonan.

“Hwang Deus,” ia mengucapkan nama itu perlahan, seolah ingin memastikan bunyinya sebelum mengulanginya.

“Hwang Deus,” katanya sekali lagi. “Bagaimana menurutmu?”

Perempuan itu tersenyum. Matanya berkaca-kaca ketika mendengar nama yang dipilih Rangga untuk anaknya. “Nama yang cocok.”

“Kalau begitu, mulai sekarang namanya Hwang Deus,” Rangga mengalihkan perhatian kepada bayi dalam pelukannya. “Baiklah, Hwang Deus. Sepertinya perjalanan kita akan lebih panjang dari yang telah kurencanakan.”

Bayi itu hanya menggenggam jarinya tanpa memberikan jawaban.

Pemimpin desa tersenyum melihat keduanya. “Jaga dia baik-baik, Rangga.”

“Akan kuusahakan sebaik mungkin.”

Perempuan itu mendekat, mengecup kening putranya sekali lagi sebelum mundur beberapa langkah. Ia tidak meminta Rangga berjanji tentang hal-hal yang belum bisa dipastikan. Ia hanya memandang anaknya dengan penuh kasih sayang, kemudian mengangguk kecil sebagai tanda bahwa ia siap melepas kepergiannya.

Rangga membalas anggukan itu.

Setelah berpamitan kepada pemimpin desa dan ibu Hwang Deus, ia kembali menghadap jalan setapak di hadapannya.

Perjalanannya kini tidak lagi sama dengan rencana awal. Ia meninggalkan desa bukan hanya sebagai seorang pengembara yang telah mempelajari Magic selama sepuluh tahun, melainkan juga sebagai seseorang yang bertanggung jawab atas seorang anak.

Rangga memperbaiki posisi bungkusan di lengannya, memastikan Hwang Deus terlindungi dari udara pagi, lalu mulai berjalan.

Di belakangnya, ibu Hwang Deus dan pemimpin desa tetap berdiri di dekat gerbang, mengawasi mereka hingga sosok Rangga menghilang di antara pepohonan.

Tak lama kemudian, keduanya berbalik dan kembali memasuki desa.

Sementara itu, Rangga melanjutkan perjalanan menuju dunia yang belum banyak ia kenal. Ia belum tahu apa yang akan dihadapinya, tetapi ia tidak lagi berjalan sendirian.

Pagi itu, perjalanan baru dimulai bagi mereka berdua.

Sepuluh tahun telah berlalu sejak Rangga Vance meninggalkan desa tempatnya mempelajari Magic.

Selama perjalanan panjangnya, ia telah melewati berbagai wilayah, mengunjungi permukiman manusia, dan menyaksikan bagaimana peradaban berkembang. Namun dunia belum sepenuhnya memahami ancaman yang mengintai di balik langitnya.

Rangga kini berusia tiga puluh tahun. Penampilannya hampir tidak berubah sejak terakhir kali meninggalkan desa. Di sampingnya, Hwang Deus berjalan dengan langkah kecil, sesekali tertinggal ketika Rangga mempercepat langkah.

Anak yang dahulu hanya bisa digendong itu kini berusia sepuluh tahun. “Rangga, kita sudah dekat?”

Rangga melirik jalan di depan mereka. “Kalau kamu berhenti bertanya setiap lima menit, mungkin kita akan sampai lebih cepat.”

Hwang mengerutkan kening, lalu kembali berjalan di sampingnya. “Aku hanya bertanya karena kita sudah berjalan sejak pagi.”

“Dan kita akan terus berjalan sampai kita tiba di tujuan.”

Hwang menghela napas, tetapi tidak membantah lagi.

Mereka sedang menuju Nexoria, salah satu kota manusia yang cukup besar di wilayah tersebut. Rangga pernah melewatinya bertahun-tahun lalu, tetapi kali ini ia berniat tinggal lebih lama. Ia ingin mengetahui perkembangan dunia sekaligus memberikan Hwang kesempatan untuk mengenal kehidupan manusia di luar tempat-tempat yang selama ini mereka singgahi.

Ketika keduanya akhirnya tiba di gerbang, suasana ramai langsung menyambut mereka.

Pedagang menawarkan barang dagangan, kereta kuda dan mobil model klasik berlalu-lalang di jalan utama, dan penduduk memenuhi pasar yang membentang di antara bangunan-bangunan batu. Beberapa penjaga berdiri di dekat gerbang, memeriksa kereta yang memasuki kota tanpa menghentikan arus penduduk yang berjalan kaki.

Hwang memandang sekeliling dengan penuh rasa ingin tahu. “Tempat ini jauh lebih ramai daripada desa sebelumnya.”

“Karena ini adalah sebuah kota.”

“Di desa sebelumnya juga ada banyak orang.”

“Dan di sini ada lebih banyak lagi.”

Hwang menoleh kepada Rangga, tampak tidak puas dengan jawaban singkat tersebut. Namun, perhatiannya segera teralihkan oleh sebuah kios yang menjual berbagai benda dari logam.

Rangga menyadarinya. “Jangan pergi terlalu jauh.”

“Aku hanya melihat.”

“Kalimat itu biasanya diucapkan sebelum seseorang membuat masalah.”

Hwang menahan senyum, lalu mengikuti Rangga melewati pasar.

Mereka berhenti di sebuah penginapan tidak jauh dari pusat kota. Setelah menyimpan barang bawaan, Rangga memutuskan untuk mencari informasi mengenai keadaan Nexoria, sementara Hwang menunggu di dalam.

Namun, rasa ingin tahu anak itu akhirnya membawanya keluar.

Menjelang sore, Rangga kembali ke penginapan dan mendapati Hwang duduk di dekat jendela.

Di atas meja terdapat beberapa potong roti yang dibungkus kain.

Rangga meletakkan tasnya. “Kamu membeli makanan?”

Hwang mengangguk. “Pemilik penginapan bilang toko roti di ujung jalan menjualnya lebih murah.”

“Dan kamu pergi sendirian?”

“Aku tidak tersesat.”

“Bukan itu yang kutanyakan.”

Hwang terdiam sesaat, lalu mengalihkan pandangan ke jendela.

Rangga menghela napas. Ia tidak marah, tetapi anak itu perlu memahami bahwa kota yang ramai juga memiliki risiko tersendiri. “Lain kali, beri tahu aku sebelum kamu pergi.”

“Baik.”

Rangga duduk di seberangnya dan mengambil sepotong roti. “Bagaimana menurutmu tentang kota ini?”

Hwang berpikir sejenak.

“Orang-orangnya sibuk. Semua orang sepertinya sedang mengejar sesuatu.”

“Begitulah kehidupan manusia.”

“Kalau begitu, apa yang sedang kamu kejar?”

Pertanyaan itu membuat Rangga berhenti mengunyah. Ia memandang Hwang beberapa saat sebelum menjawab.

“Pengetahuan.”

“Bukankah kamu sudah mempelajari banyak hal?”

“Banyak hal bukan berarti semuanya.”

Hwang mengangguk pelan, seolah menyimpan jawaban itu dalam pikirannya.

Rangga kemudian mengalihkan pembicaraan kepada hasil pengamatannya selama berada di kota.

Saat ini Nexoria berkembang seperti kota-kota manusia pada umumnya. Perdagangan berjalan, pemerintahan mengatur kehidupan penduduk, dan para penjaga bertugas melindungi wilayahnya. Orang-orang belum mengetahui keberadaan Primordial, dan belum memiliki pemahaman mengenai kekuatan yang dapat digunakan manusia untuk menghadapi mereka.

Belum ada Esper.

Belum ada kelompok Wizard.

Belum ada sistem klasifikasi kekuatan atau organisasi yang dibentuk untuk mengendalikan pengguna kemampuan supernatural.

Bagi penduduk Nexoria, kekuatan manusia masih bergantung pada hal-hal yang telah mereka kenal: latihan fisik, senjata, strategi, dan teknologi sederhana yang berkembang sesuai zaman.

Rangga tidak berniat mengubah keadaan itu secara terburu-buru.

Ia mengetahui bahwa manusia memiliki potensi untuk mempelajari Magic. Namun, potensi bukan berarti setiap orang bisa langsung menguasainya. Dibutuhkan pemahaman, latihan, dan kesediaan untuk mempelajari sesuatu yang belum pernah mereka kenal sebelumnya.

Untuk saat ini, ia hanya ingin mengamati.

Malam tiba di Nexoria.

Dari jendela penginapan, Rangga memandang cahaya lampu yang menerangi jalan-jalan kota. Hwang telah tertidur di ranjang sebelah, kelelahan setelah seharian berjalan dan menjelajahi lingkungan baru.

Rangga mengambil sebuah buku dari tasnya, membuka halaman terakhir yang berisi catatan mengenai Aether dan formula Magic yang telah ia pelajari dan modifikasi.

Ia menambahkan beberapa baris, mencatat pengamatannya tentang kota dan masyarakat yang ditemuinya.

Setelah selesai, ia menutup buku tersebut.

Dunia manusia masih berada pada tahap ketika kekuatan mereka bergantung pada apa yang dapat mereka pelajari melalui pengalaman biasa. Pengetahuan tentang Aether belum menjadi bagian dari kehidupan mereka, dan Magic masih merupakan sesuatu yang belum dipahami oleh peradaban manusia.

Rangga menyimpan buku itu kembali.

Di ranjang sebelah, Hwang bergerak dalam tidurnya, lalu kembali diam.

Rangga memandang anak itu sebentar sebelum memadamkan lampu.

Besok, mereka akan kembali menjelajahi Nexoria.

Untuk sementara, tidak ada yang perlu mereka lakukan selain menjalani kehidupan sebagaimana manusia lainnya, di dunia yang belum mengenal Esper, belum mengenal Magic, dan belum menyadari perubahan besar yang suatu hari akan mengubah peradaban mereka.

[Nexoria, empat tahun sebelum kemunculan Esper pertama]

Sinar matahari pagi menyinari kawasan kediaman bangsawan di pusat Nexoria. Jalan-jalan batu yang membentang di antara bangunan megah mulai dipenuhi kereta kuda, sementara para pelayan sibuk mempersiapkan kediaman keluarga mereka masing-masing.

Di antara kediaman tersebut, sebuah bangunan besar dengan lambang keluarga Veyne berdiri di balik pagar besi yang dihiasi ukiran elegan.

Keluarga Veyne merupakan salah satu keluarga bangsawan yang memiliki kedudukan tinggi di Nexoria. Kepala keluarganya menyandang gelar Duke, menjadikannya bagian dari kalangan aristokrat yang memiliki pengaruh dalam urusan pemerintahan.

Di taman belakang kediaman itu, seorang gadis sedang duduk di bangku marmer sambil membaca buku.

Namanya Elara Veyne.

Pada usia lima belas tahun, Elara dikenal sebagai gadis yang anggun dengan tutur kata terjaga dan pembawaan tenang. Rambutnya tertata rapi, sementara gaun yang dikenakannya menunjukkan status keluarganya tanpa terlihat berlebihan.

Ia membalik halaman buku yang berada di tangannya, sesekali mengangkat pandangan untuk menikmati suasana taman.

Ketenangan itu berlangsung hingga seorang pelayan perempuan menghampirinya. “Nona Elara, Duke meminta Anda datang ke ruang kerjanya setelah sarapan.”

Elara menutup bukunya. “Ayah sudah kembali dari pusat pemerintahan?”

“Beliau kembali tadi malam, Nona.”

“Kalau begitu, aku akan menemuinya setelah berganti pakaian.”

Pelayan itu membungkuk sebelum meninggalkan taman.

Elara berdiri dan berjalan menuju kediaman utama. Sebelum masuk, ia sempat menoleh ke arah taman yang baru saja ditinggalkannya. Ia sebenarnya ingin menghabiskan lebih banyak waktu membaca, tetapi ayahnya jarang memintanya datang ke ruang kerja tanpa alasan.

Ada sesuatu yang ingin dibicarakan.

Ruang kerja Duke Veyne dipenuhi rak buku dan sejumlah dokumen pemerintahan. Di dekat jendela, seorang pria berusia paruh baya sedang membaca laporan ketika Elara mengetuk pintu.

“Masuk.”

Elara membuka pintu dan berjalan mendekati meja ayahnya. “Ayah memanggilku?”

Duke Veyne meletakkan dokumen yang sedang dibacanya. “Duduklah, Elara.”

Elara mengambil tempat duduk di hadapannya.

“Ayah dengar kamu selalu menghabiskan sebagian besar waktu di perpustakaan akhir-akhir ini,” ujar sang Duke.

“Aku sedang membaca buku tentang sejarah kerajaan dan wilayah-wilayah di luar Nexoria.”

“Apakah kamu menemukan sesuatu yang menarik?”

“Banyak. Namun, beberapa catatan sejarah memiliki informasi yang berbeda mengenai peristiwa yang sama. Aku belum tahu mana yang lebih dapat dipercaya.”

Duke Veyne tersenyum tipis. “Itulah alasan kamu tidak boleh menerima semua yang tertulis di dalam buku sebagai kebenaran mutlak. Sejarah sering kali ditulis dari sudut pandang orang yang mengalaminya.”

Elara mengangguk, menyimpan perkataan ayahnya dalam ingatan.

Sang Duke kemudian mengambil sebuah dokumen dari meja. “Dalam beberapa bulan mendatang, kamu akan mulai menghadiri sejumlah pertemuan keluarga bangsawan bersamaku. Kamu perlu memahami bagaimana keluarga kita berhubungan dengan keluarga lain dan bagaimana keputusan di pusat pemerintahan memengaruhi kehidupan masyarakat.”

Elara memandang dokumen tersebut, lalu kembali menatap ayahnya. “Apakah aku akan dilibatkan dalam urusan pemerintahan?”

“Belum. Kamu masih terlalu muda untuk memikul tanggung jawab semacam itu. Namun, memahami keadaan di sekitarmu tidak pernah terlalu dini.”

“Aku mengerti, Ayah.”

Duke Veyne menyandarkan punggungnya. “Ada satu hal lagi. Jangan menganggap kedudukan keluarga kita membuat kita lebih memahami dunia daripada orang-orang di luar sana. Gelar bangsawan memberimu kesempatan untuk melihat banyak hal, tetapi kesempatan itu tidak ada artinya jika kamu tidak mau mendengarkan orang lain.”

Elara tersenyum kecil. “Aku akan mengingatnya.”

“Bagus. Sekarang pergilah. Kamu masih punya waktu untuk membaca sebelum makan siang.”

Elara berdiri, memberi hormat kecil kepada ayahnya, lalu meninggalkan ruangan.

Menjelang siang, Elara memutuskan mengunjungi perpustakaan umum di pusat kota.

Ia tidak datang sendirian. Dua pengawal keluarga Veyne mengikutinya dari jarak yang cukup untuk memberinya ruang, tetapi tetap dapat menjaganya jika diperlukan.

Perpustakaan itu jauh lebih ramai daripada yang ia bayangkan. Beberapa pelajar membaca di dekat jendela, sementara para penulis dan cendekiawan berdiskusi di antara rak-rak buku.

Elara menyerahkan surat pengenal keluarganya kepada petugas, kemudian menuju bagian sejarah.

Ia mencari sebuah buku yang membahas wilayah-wilayah di luar Nexoria. Setelah menemukannya, ia duduk di meja dekat jendela dan mulai membaca.

Beberapa halaman membahas laporan mengenai makhluk-makhluk misterius yang pernah terlihat di wilayah terpencil. Catatan tersebut tidak menjelaskan apa sebenarnya makhluk tersebut, makhluk yang asal-usulnya belum dipahami manusia.

Elara membaca bagian itu dengan saksama.

Informasinya sangat terbatas. Sebagian besar laporan berasal dari kesaksian para pengelana, sedangkan beberapa lainnya tidak memiliki sumber yang dapat diverifikasi.

Ia menutup buku sejenak, berpikir.

Keberadaan makhluk itu bukanlah hal baru baginya. Ia pernah mendengar para bangsawan membicarakannya, terutama ketika laporan dari wilayah perbatasan menjadi bahan diskusi. Namun, tidak banyak orang yang benar-benar memahami makhluk-makhluk tersebut.

Sejauh yang ia ketahui, manusia masih mengandalkan pasukan, persenjataan, dan strategi untuk menghadapi berbagai ancaman.

Tidak ada kemampuan khusus yang dimiliki manusia untuk menandingi kekuatan makhluk-makhluk itu.

Elara kembali membuka bukunya dan melanjutkan membaca. Ia tidak memiliki alasan untuk menganggap kehidupannya akan berubah dalam waktu dekat. Baginya, keberadaan makhluk itu adalah persoalan yang perlu dipahami oleh para pemimpin dan mereka yang bertugas menjaga keamanan wilayah.

Sementara itu, ia masih memiliki banyak hal untuk dipelajari.

Sore harinya, Elara kembali ke kediaman keluarganya.

Setelah berganti pakaian, ia berjalan menuju taman belakang dan duduk di bangku yang sama seperti pagi tadi. Buku sejarah yang dipinjamnya terletak di samping, tetapi kali ini ia tidak langsung membukanya.

Ia memandang langit yang mulai berubah warna.

Pada usianya yang sekarang, kehidupannya masih berada dalam batas-batas yang telah dikenalinya. Ia adalah putri seorang Duke, dibesarkan dalam lingkungan bangsawan, dan perlahan dipersiapkan untuk memahami tanggung jawab keluarganya.

Ia belum mengetahui apa yang menantinya di kemudian hari.

Hari itu berakhir dengan tenang.

Elara kembali ke dalam kediaman ketika para pelayan mulai menyalakan lampu-lampu taman. Ia menyimpan buku yang dipinjamnya, kemudian bergabung dengan keluarganya untuk makan malam.

Bagi Elara Veyne, itu hanyalah hari biasa dalam kehidupannya sebagai putri seorang Duke di Nexoria.

Pagi berikutnya, jalanan Nexoria dipenuhi kesibukan. Mobil-mobil dengan bodi logam dan desain klasik melintasi jalan utama, sebagian mengeluarkan suara mesin yang cukup keras ketika melewati jalan berbatu. Kendaraan tersebut belum secanggih mobil pada masa mendatang, tetapi sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat kota.

Di depan sebuah toko buku, sebuah mobil hitam berhenti di tepi jalan.

Elara Veyne membuka pintu dan turun dengan hati-hati. Gadis berusia lima belas tahun itu mengenakan gaun berwarna krem dengan mantel tipis. Setelah merapikan pakaiannya, ia menoleh kepada pria yang duduk di balik kemudi.

“Tunggu di sini, Thomas. Aku tidak akan lama.”

Sopir keluarga Veyne itu mengangguk. “Baik, Nona. Apakah Anda ingin saya menjemput Anda di depan toko?”

“Tidak perlu. Aku akan kembali sendiri setelah selesai.”

Thomas melirik keramaian di sekitar mereka sebelum menjawab, “Kalau begitu, jangan berjalan terlalu jauh. Jalan utama cukup ramai pagi ini.”

Elara tersenyum tipis. “Aku hanya ingin membeli beberapa buku. Aku juga tahu jalan pulang.”

“Justru karena Nona sering berhenti di toko lain, saya harus mengingatkan.”

Elara menatapnya sejenak, kemudian tertawa kecil. “Kali ini aku akan langsung kembali.”

Ia menutup pintu mobil, lalu berjalan menuju toko buku. Namun, ketika melihat beberapa orang memenuhi pintu masuk, Elara memutuskan untuk menyusuri trotoar terlebih dahulu dan melewati persimpangan di dekat alun-alun.

Thomas memperhatikannya dari balik kemudi sebelum kembali memeriksa keadaan jalan.

Di sisi lain persimpangan, Rangga Vance berjalan bersama Hwang Deus.

Rangga membawa sebuah tas berisi perlengkapan perjalanan yang baru dibelinya. Ia berencana meninggalkan Nexoria dalam beberapa hari, setelah menyelesaikan urusannya di kota tersebut.

Hwang berjalan di sampingnya, memandangi mobil-mobil yang berlalu-lalang. “Rangga, kenapa bentuk mobil di sini berbeda-beda?”

“Karena setiap pembuat memiliki rancangan mereka sendiri.”

“Kalau begitu, apa ada mobil yang lebih cepat daripada yang lain?”

“Tentu saja. Namun, cepat bukan berarti selalu lebih baik.”

Hwang menoleh kepadanya. “Kenapa?”

“Karena kamu juga harus mempertimbangkan kondisi jalan, ketahanan mesin, dan kemampuan pengemudinya.”

Hwang memandang sebuah mobil yang melaju melewati mereka, kemudian mengangguk kecil. “Berarti kendaraan juga bergantung pada orang yang menggunakannya.”

“Kurang lebih begitu.”

Percakapan mereka berakhir ketika Rangga mengarahkan langkah menuju persimpangan.

Pada saat yang sama, Elara muncul dari arah berlawanan.

Gadis itu sedikit memperlambat langkah untuk menghindari seorang pejalan kaki yang membawa beberapa kotak. Rangga dan Hwang pun bergerak ke sisi jalan untuk memberi ruang kepada orang-orang yang melintas.

Ketiganya berpapasan.

Untuk sesaat, Elara melihat sekilas dua orang di hadapannya. Ia memperhatikan pria muda yang membawa tas perjalanan, kemudian anak laki-laki di sampingnya.

Hwang sedang memandang sebuah mobil yang berhenti di dekat trotoar. Rangga sendiri tetap berjalan dengan pandangan tertuju ke depan.

Elara tidak mengenali mereka. Ia juga tidak memiliki alasan untuk menghentikan langkah atau memikirkan siapa kedua orang asing itu.

Mereka melewati satu sama lain tanpa sapaan maupun percakapan.

Namun, tepat ketika Hwang berada di dekat Elara, sesuatu yang tidak kasatmata mulai terjadi.

Aether di dalam diri Hwang Deus beresonansi.

Tidak ada cahaya yang menyelimuti tubuhnya. Tidak ada gelombang energi yang mengguncang jalanan, dan tidak ada perubahan yang dapat diamati oleh orang-orang di sekitar mereka.

Resonansi itu berlangsung begitu halus, seolah tidak pernah terjadi apa-apa.

Namun, Aether Hwang memengaruhi lingkungan di sekitarnya, menyentuh keberadaan Elara ketika keduanya berpapasan.

Di dalam diri gadis itu, sebuah benih mulai terbentuk.

Elara tidak merasakan apa pun. Langkahnya tetap teratur, pikirannya kembali tertuju pada buku-buku yang hendak dibelinya. Ia tidak mengetahui bahwa sesuatu yang belum pernah dimiliki manusia sebelumnya telah mulai tumbuh di dalam dirinya.

Namun benih itu akan berkembang seiring waktu.

Elara akhirnya tiba di depan toko buku. Ia mendorong pintu kayu dan memasuki bangunan tersebut, disambut aroma kertas dan rak-rak yang dipenuhi buku.

Sementara itu, Rangga dan Hwang telah melanjutkan perjalanan menuju kawasan perdagangan.

“Setelah ini, kita kembali ke penginapan?” tanya Hwang.

“Ya. Kita perlu mempersiapkan barang-barang sebelum meninggalkan kota.”

“Ke mana kita akan pergi setelah Nexoria?”

Rangga melirik anak itu. “Kita belum menentukan tujuan berikutnya.”

Hwang menghela napas kecil, tetapi tetap mengikuti langkahnya.

Di jalan yang sama, mobil-mobil terus melintas dan penduduk Nexoria menjalani aktivitas mereka seperti biasa.

Tidak ada yang menyadari peristiwa kecil di persimpangan tadi. Bahkan Elara sendiri tidak akan mengingat wajah kedua orang asing yang berpapasan dengannya pagi itu.

Namun, pertemuan singkat tersebut telah menjadi awal dari sesuatu yang kelak mengubah sejarah umat manusia.

Pagi itu, Elara Veyne hanya membeli beberapa buku dan kembali ke kediamannya.

1
Niskala Cakrabuana
Gasssd
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!