NovelToon NovelToon
Begin Again

Begin Again

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Mantan / Cintapertama
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Lunes_

📍Update 🚥 16 : 16 WIB


Duabelas tahun lalu, Elfiana Putri (Elle) dikhianati oleh taruhan konyol cinta pertamanya, William Adinata (Liam). Kini, takdir membawa mereka kembali dalam sebuah pernikahan pura-pura demi sang Papa.
Di antara luka masa lalu yang belum sembuh dan kebenaran yang perlahan terkuak, bisakah Elle menjaga hatinya agar tidak hancur untuk kedua kalinya?


❣️ I write what I want to write. ❣️

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunes_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

21 - Take Care

Aku dan Liam akhirnya sampai di depan apartemenku. Awalnya aku mengira Liam hanya akan menurunkanku, lalu pergi. Namun ternyata tidak.

“Pak, Bapak pulang saja. Saya mau menginap di sini. Besok Bapak ke sini lagi untuk menjemput saya. Oh iya, sekalian tolong bawakan baju kerja untuk saya besok,” ucap Liam.

“Baik, Mas,” jawab sopir.

Liam kemudian keluar dari mobil dan membantuku turun.

Begitu mobil pergi, aku langsung menatapnya.

“Ngapain kamu menginap di sini? Kamu mau macam-macam sama aku, ya?” tanyaku.

“Astaga, Elle. Bisa nggak sehari aja kamu nggak berpikir negatif sama aku?” ucap Liam.

“Ya, kamu sendiri yang ngelakuin hal-hal yang bikin aku berpikir kayak gitu.”

“Aku nggak akan ngapa-ngapain kamu. Aku cuma mau jagain kamu.”

“Jagain aku? Aku bukan anak kecil lagi, ya.”

“Iya, tapi kamu lagi sakit. Udah, ayo masuk. Jangan banyak ngomong.”

Liam kemudian menuntunku masuk ke gedung apartemen hingga kami sampai di depan lift.

Di dalam lift, kami hanya diam. Meskipun begitu, pikiranku masih dipenuhi satu hal. Aku benar-benar tidak bisa menerima kenyataan bahwa Liam akan menginap lagi di tempatku.

Tak lama kemudian, lift terbuka di lantai unitku.

Ting!

Aku dan Liam keluar dari lift, lalu masuk ke unit apartemenku.

Begitu masuk, Liam mendudukkanku di sofa dan meletakkan kantong plastik yang dibawanya di atas meja.

Setelah itu, dia pergi ke dapur dan mengambil segelas air.

Liam kembali dan duduk di sampingku. Dia membuka kantong plastik tersebut.

Aku melihat dua kotak lunch box di dalamnya. Sepertinya satu untukku dan satu lagi untuk Liam.

Liam mengeluarkan kedua lunch box itu dan meletakkannya di atas meja. Kemudian, dia mengambil salah satunya.

Aku mengira dia akan memberikan kotak makanan itu kepadaku.

Ternyata tidak.

Liam mengambil makanan dari dalam lunch box tersebut, lalu mengarahkan sendoknya tepat di depan mulutku.

“Kamu mau nyuapin aku?” tanyaku.

“Iya,” jawab Liam.

“Aku bisa makan sendiri. Lagian yang sakit perutku, bukan tanganku.”

“Aku pengin nyuapin kamu. Sekarang buka mulut. Aaa...” ucap Liam.

“Kamu bertingkah seolah-olah kamu itu suamiku.”

“Aku kan memang mau jadi suami kamu.”

Aku hanya bisa menghela napas.

“Udah, ayo buka mulut kamu. Aaa...” ucap Liam.

Aku pun membuka mulut dan memakan makanan yang ada di sendok itu.

“Pintar,” ucap Liam.

“Hei! Kamu pikir aku anak kecil?” protesku.

“Soalnya kamu nggak mau makan.”

“Aku bukannya nggak mau makan. Aku nggak mau disuapi sama kamu,” ucapku.

“Tapi aku maunya nyuapin kamu.”

Aku mendecakkan lidah.

“Ayo, udah. Sini, biar aku makan sendiri. Kamu makan aja tuh makanan kamu,” ucapku.

“Nanti kalau kamu udah selesai makan,” jawab Liam.

Aku menghela napas.

“Ini, makan lagi,” ucap Liam.

Aku pun kembali membuka mulut dan memakan suapan berikutnya.

Begitu terus sampai makanan di dalam lunch box-ku habis.

“Ini, minum dulu,” ucap Liam sambil menyodorkan gelas.

Aku pun mengambilnya dan meminum air tersebut.

“Ya udah, sekarang kamu istirahat di kamar,” ucap Liam setelah aku selesai minum.

Aku mengangguk.

Liam membantuku berjalan menuju kamar, lalu mendudukkanku di atas tempat tidur.

“Udah, sekarang kamu istirahat,” ucap Liam.

“Bentar, aku mau ganti baju dulu,” ucapku.

“Oh, ya udah.”

Namun, beberapa detik kemudian, Liam masih tetap berdiri di sampingku.

“Liam, aku mau ganti baju. Kenapa kamu masih di sini? Kamu mau lihat aku ganti baju?” tanyaku.

“Eh, nggak. Nggak,” jawab Liam cepat.

“Ya udah, sana keluar.”

“Setelah ganti baju, kamu istirahat, ya.”

“Iya. Bawel.”

Liam lalu keluar dan menutup pintu.

Aku langsung mengunci pintu. Aku tidak mau saat sedang tidur, Liam tiba-tiba masuk ke kamarku dan melakukan sesuatu terhadapku.

Setelah itu, aku menghapus riasanku dan mengganti pakaian dengan baju rumahan yang nyaman.

Aku kemudian berbaring di tempat tidur.

Aku memejamkan mata, mencoba melupakan hari itu.

Malam harinya, Liam masih berada di apartemenku. Dia benar-benar akan menginap lagi di tempatku.

Meskipun sebenarnya aku keberatan dengan hal itu, Liam keras kepala dan tidak mau pergi. Aku akhirnya memilih menyerah.

Dan malam itu, Liam menunjukkan sesuatu yang sebelumnya tidak pernah aku ketahui.

Dia bisa memasak.

Meskipun katanya dia hanya bisa memasak makanan yang simpel, malam ini Liam membuat nasi goreng untuk makan malam kami.

Sekarang kami sedang duduk di lantai sambil makan nasi goreng tersebut dan menonton film favoritku, A Walk to Remember.

Entah kenapa Liam ingin menonton film itu.

“Aku masih nggak ngerti kenapa kamu suka film ini, sih? Padahal kamu pernah bilang kalau kamu ketemu cowok kayak Landon, kamu nggak mau,” ucap Liam.

“Yang aku suka dari film ini itu karena ceweknya yang menang. Jamie, yang cuma cewek biasa dan bahkan sering dibully, malah bisa mengubah Landon,” ucapku.

“Tapi pada akhirnya Jamie meninggal,” ucap Liam.

“Nah, itu dia yang paling nyebelin. Padahal Jamie itu baik, malah dia yang meninggal duluan.”

“Mungkin memang orang yang baik harus pergi duluan biar nggak terpapar sama orang yang nggak baik terlalu lama. Kayak... Mama dan Nenek,” ucap Liam.

Aku terkejut.

Aku langsung mengambil remote.

“Eh, udah, udah. Kita jangan nonton film ini. Kita nonton film yang lain,” ucapku sambil mengarahkan kursor ke beranda aplikasi streaming.

Aku kemudian mencari film lain.

“Kita nonton film ini aja. Kamu suka film ini, kan?” ucapku sambil menunjuk sebuah film superhero.

Liam mengangguk.

Aku langsung memutar film tersebut.

“Elle, tapi kan kamu nggak suka film kayak gini,” ucap Liam.

“Nggak apa-apa. Aku mau coba nonton.”

Kami pun menonton film itu sambil menghabiskan makan malam.

“Kita kalau kayak gini malah udah kayak suami-istri, ya?” ucap Liam.

“Ya, kamu sih nggak mau pulang.”

“Aku pengin jagain kamu, Elle. Kalau kamu kenapa-kenapa gimana? Kamu kan tinggal sendiri.”

“Lebay deh kamu. Orang aku cuma kram haid doang.”

“Tapi kamu sampai pingsan.”

“Itu karena aku berdiri lama dan kena panas lama.”

“Tetap aja aku khawatir.”

“Liam, cukup! Hubungan kita udah nggak kayak dulu lagi.”

Liam diam.

“Dan kamu nggak usah khawatirin aku atau terlalu baik sama aku kalau yang kamu lakuin hanya pura-pura.”

“Elle, aku...” ucap Liam.

“Udah, stop! Makan aja. Makan.”

Liam terdiam, lalu kembali melanjutkan makannya.

Tiba-tiba aku teringat Ayah.

“Kalau Ayahku tahu aku ngajak cowok ke tempat tinggalku, aku bisa dicoret dari KK, nih,” ucapku.

“Ya nggak apa-apa. Setelah kita nikah nanti, kamu kan memang harus keluar dari KK Ayah kamu dan masuk KK-ku.”

Aku langsung menoleh ke Liam.

Kalimat itu.

Kalimat yang dua belas tahun lalu Liam ucapkan dan terdengar seperti lelucon, sekarang akan menjadi kenyataan.

“Liam...” ucapku.

“Hm?” Liam menoleh.

“Apa kamu inget dulu kamu pernah ngomong kayak gitu?”

“Yang mana?”

“Aku masuk ke KK kamu.”

“Ah... iya.” Liam tersenyum kecil. “Wah, omonganku dulu sebentar lagi jadi nyata. Berarti benar kata orang, ucapan adalah doa. Dan Tuhan mengabulkan doa itu.”

Aku diam.

Kenapa Tuhan membuat ucapan Liam menjadi nyata?

Apa yang sebenarnya Tuhan rencanakan untuk kami?

Untukku?

![](contribute/fiction/13025190/markdown/56803801/179103313113.png)

1
Srie Wahyuni
nezt thor , like this 👍
사기타
Tidak akan? 😄 lihat aja nanti gimana. 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!