NovelToon NovelToon
Mnemosynes Blood Mate

Mnemosynes Blood Mate

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi / Misteri
Popularitas:528
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

[SEASON 3]

"Aku sudah menandai lehernya. Dia milikku!" — Jonah (Vampir Dingin)

"Jangan membual! Dia adalah Mate sejatiku!" — Josiah (Vampir Playboy)

"Mustahil kami bertiga memiliki satu Mate yang sama!" — Jonas (Demon Sulung)

"Lepaskan dia, atau klanmu akan kuhancurkan." — Cedric (Bangsawan Elf)

Elisa mengira dia hanya gadis panti miskin dengan kekuatan aneh memanipulasi ingatan. Namun dalam semalam, dunianya runtuh saat ia dikepung oleh tiga pangeran kegelapan Salvatore yang tampan namun mematikan. Mereka semua mengklaim Elisa sebagai belahan jiwa (Blood Mate) yang tertulis di takdir kuno.

Saat berusaha kabur, Elisa justru tak sengaja membuka gerbang menuju Alfheim—dunia Elf Hutan—di rumah Cedric, bos restorannya yang misterius.

Siapa sebenarnya Elisa? Mengapa para makhluk abadi ini begitu terobsesi pada darahnya? Di tengah ingatan masa lalunya yang perlahan terhapus, permainan berburu di antara mereka baru saja d

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34.

"Syukurlah jika kondisimu aman kalau begitu. Padahal hari ini aku sudah memberikanmu hari libur khusus, El. Tetapi kenapa kau justru malah keras kepala masuk bekerja dan memaksakan kondisi fisikmu? Lihat, cobaan buruk apa lagi yang baru saja menimpa sepasang kakimu?"

Tatapan sepasang manik mata hijau zamrud milik Cedric bergerak turun ke bawah, terkunci lekat, terpaku pada sepasang kaki telanjang Elisa yang kini tampak dibalut oleh lilitan perban putih medis dan hanya beralaskan sepasang sandal jepit usang.

Penampilan fisik tersebut terasa sangat tidak biasa dan ganjil bagi sosok Elisa yang selama tiga tahun ini selalu dikenal teramat disiplin mengenakan sepatu kerja rapi, apalagi kini penampilan lusuhnya dipadukan dengan sepotong gaun biru tua mewah yang tampak teramat kontras dengan sandal jepit karetnya.

Di balik ekspresi wajah tenangnya yang memikat, Cedric sebenarnya sedang menahan diri setengah mati. Sebagai seorang keturunan berdarah murni ras Elf Hutan, indra supranaturalnya mengetahui dengan sangat pasti bahwa Elisa sedang berbohong.

Ia tahu persis bahwa gadis itu baru saja menginjakkan kaki menembus dimensi Alfheim tempat tinggal para Elf dan Dryad, karena beberapa jam lalu ia sempat melompat menyusul garis terbang sayap Demon Jonas di angkasa raya demi mengejarnya.

Namun, Cedric lebih memilih opsi untuk membisu seribu bahasa. Membongkar rahasia kebenaran dunia Immortal di depan wajah Elisa saat ini hanya akan membahayakan keselamatan jiwa mereka berdua, sekaligus akan mengupas habis identitas rahasia klan Elf-nya yang selama ini bersusah payah ia sembunyikan di bawah hukum Kota Luminara.

"Ah, hal ini... mungkin terjadi murni karena tadi aku bergerak terlalu terburu-buru saat melangkahkan kaki meninggalkan rumah pribadi Anda, Tuan Cedric, hingga aku tidak sengaja melupakan keberadaan sepatu kerjaku," ucap Elisa, terpaksa menumpuk untaian kebohongan baru di atas kebohongan sebelumnya demi menyelamatkan harga diri manusianya.

Butiran keringat dingin sebesar biji jagung mulai menetes lambat dari pelipis dahi Elisa. Ia merutuki kebodohan otaknya sendiri di dalam hati; ia baru menyadari sebuah realita bahwa sepasang sepatu kerja miliknya memang saat ini masih tertinggal aman di dalam kamar tamu kediaman pria pirang tersebut.

"Mohon maaf, Tuan, aku harus segera bergegas masuk ke dapur untuk menyelesaikan tanggung jawab pekerjaanku," lanjut Elisa buru-buru sembari membungkukkan tubuhnya memberi penghormatan formal.

Ia mencoba melangkah pincang melewati bodi tegap Cedric, berusaha melarikan diri dari atmosfer udara restoran yang dirasanya kian mengintimidasi kesadaran fananya.

Namun, baru dua langkah sepasang kakinya yang lecet bergesekan dengan permukaan lantai ubin, sepasang tangan kekar milik Cedric sudah bergerak secepat kilat, menangkap lingkar lengan Elisa secara protektif, lalu tanpa permisi mengalungkannya ke atas permukaan pundak tegap sang bos restoran.

"Kau benar-benar merupakan seorang gadis fana yang teramat keras kepala, Elisa," desis Cedric dengan nada suara bariton yang mendadak memberat seksi, berbisik tepat di dekat daun telinga Elisa.

"Bagaimana bisa kau bertindak seteledor itu melupakan sepatu kerjamu sendiri? Dan bukankah sejak awal aku sudah menegaskan kepadamu bahwa hari ini kau tidak usah memikirkan urusan pekerjaan di tempat ini?! Istirahat saja menenangkan diri di panti barumu. Kenapa kau selalu saja memaksakan batas kapasitas fisik manusiamu? Aku tahu dengan pasti bahwa kondisimu saat ini sedang tidak baik-baik saja! Cara berjalan pincangmu itu sudah menjadi bukti absolut bahwa kau tidak akan pernah sanggup berdiri tegap berjam-jam di depan wastafel dapur dengan kondisi kaki terluka seperti itu."

Tanpa memedulikan sisa kalimat protes dari belahan bibir Elisa, Cedric memapah tubuh mungil gadis itu dengan seulas pergerakan yang teramat lembut namun dipenuhi ketegasan mutlak, menuntun langkahnya menuju ke arah sebuah kursi kosong yang terletak di pojok sudut area restoran.

Pria pirang itu memilih abai total, membiarkan tatapan mata heran dan bisik-bisik gunjingan dari beberapa pengunjung restoran yang menatap takjub ke arah aksi sang pemilik restoran mewah yang merangkul mesra seorang gadis pelayan bergaun navy indah namun berjalan pincang.

Bagi batin seorang Cedric Valerius, tidak peduli apa pun status pelapisan sosial fana di antara dirinya sebagai pemilik modal dengan Elisa yang hanya seorang pelayan cuci piring; melihat sosok gadis yang selama tiga tahun ini diam-diam ia kagumi dan cintai terluka fisik adalah sebuah siksaan supranatural tersendiri bagi inti jiwanya.

Elisa yang kini sudah berhasil didudukkan di atas kursi beludru hanya bisa menggaruk tengkuk kepalanya yang tidak gatal sambil menyunggingkan seulas senyuman kikuk yang canggung.

"Iya, mohon maaf, Tuan Cedric. Lain kali aku berjanji akan bersikap jauh lebih hati-hati lagi dalam melangkah. Lagi pula, posisi keberadaanku di dalam tempat ini hanyalah seorang pegawai rendahan biasa. Sangat tidak sepantasnya jika Anda bersikap terlalu berlebihan dan memberikan perhatian protektif seperti ini di depan publik."

Jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, sebenarnya ada sebaris hawa kehangatan magis yang mendesir indah saat menerima perlakuan protektif dari Cedric.

Namun, Elisa buru-buru menampar keras logikanya sendiri. Ia sadar betul bahwa dirinya hanyalah seorang gadis panti asuhan miskin yang tidak memiliki apa-apa di dunia ini, sangat tidak pantas bersanding atau membiarkan pegawai restoran lainnya menaruh rasa iri dan dengki atas kebaikan berlebih sang bos restoran.

"Aku tidak mau mendengar alasan atau untaian bantahan apa pun lagi dari mulutmu, Elisa," potong Cedric mutlak tanpa bisa diganggu gugat, sepasang manik mata hijau zamrudnya menatap tajam mengunci kornea mata cokelat Elisa.

"Ayo bangkit, aku sendiri yang akan mengantarmu pulang kembali ke kompleks panti asuhan barumu menggunakan mobilku sekarang juga."

"Tidak, Tuan Cedric! Aku memohon dengan sangat, biarkan aku tetap tinggal bekerja di dapur saja hari ini. Sungguh, aku bersumpah sepasang kakiku masih bisa diajak berkompromi untuk berjalan," tolak Elisa keras kepala, jemarinya bergerak menahan pergelangan tangan Cedric yang hendak membantunya bangkit berdiri dari kursi.

"Lagi pula, seluruh beban tanggung jawab tugas harian saya di tempat ini hanyalah mencuci tumpukan piring kotor di area belakang. Yang mengalami luka lecet saat ini hanyalah sepasang kakiku, sementara kedua belah tanganku masih berada dalam kondisi yang sangat sehat walafiat [⚡]. Aku sudah menghabiskan energi berjalan kaki datang ke tempat ini dari jarak yang jauh, Tuan [⚡]. Tolonglah... aku hanya memiliki keinginan sederhana untuk bisa bekerja mencari uang seperti hari-hari biasanya [⚡]."

Elisa menyatukan kedua belah telapak tangan manusianya di depan dada, memasang posisi memohon. Sepasang mata cokelat kegelapannya mendadak meredup, memancarkan sebaris binar tatapan memohon yang begitu tulus, layaknya wujud seekor anak kucing malang yang sedang meminta perlindungan penuh dari pemiliknya [⚡].

Melihat binar ketulusan tersebut, seluruh dinding pertahanan emosi di dalam dada Cedric Valerius seketika runtuh total tanpa sisa [⚡]. Ia mengembuskan sebaris napas panjang yang sarat akan rasa pasrah yang mendalam, menyadari secara absolut bahwa ia tidak akan pernah mungkin bisa menang melawan keteguhan ego keras kepala milik gadis di hadapannya saat ini [⚡]. Cedric tahu betul bagaimana watak kepribadian Elisa; di balik postur tubuh mungil manusianya, gadis itu menyimpan harga diri yang teramat tinggi dan dedikasi luar biasa terhadap tanggung jawab hidup [⚡]. Bahkan di hari-hari kelam saat tubuh Elisa terserang demam tinggi di masa lalu, ia tercatat tidak pernah sekalipun nekat bolos dari sif kerjanya [⚡]. Kegigihan watak itulah yang lambat laun menumbuhkan rasa kagum yang mendalam dan benih-benih cinta sejati di dalam lubuk hati sang ksatria Elf Hutan [⚡].

"Baiklah, aku mengalah padamu kali ini," putus Cedric akhirnya [⚡]. "Tetapi aku memberikan satu syarat mutlak; jika di tengah-tengah pekerjaan nanti sepasang kakimu mulai merasakan rasa perih yang menyengat, jangan pernah berani memaksakan dirimu kembali, oke? Segera beristirahat duduk di kursi pojok dapur [⚡]. Dan nanti, tepat saat jam operasional restoran selesai dan waktu pulang kerja tiba, aku sendiri yang memiliki hak absolut untuk mengantarmu pulang kembali menuju ke panti asuhan barumu [⚡]. Khusus untuk urusan kepulangan malam nanti, kau tidak akan pernah boleh lagi melayangkan penolakan [⚡]. Aku... aku hanya merasa teramat takut jika fisik manusiamu kembali tidak sengaja berpapasan dengan ketiga pemuda kembar Salvatore itu di sepanjang jalanan distrik sepi kota [⚡]."

Elisa sempat tertegun diam selama beberapa detik mendengar untaian peringatan serius perihal eksistensi si kembar tiga Salvatore keluar dari mulut bosnya [⚡], namun ia segera menganggukkan kepalanya pelan demi menenangkan gejolak kecemasan di wajah tampan Cedric [⚡].

"Ayo, kuantarkan langkah kakimu menuju ke area dapur belakang [⚡]."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!