NovelToon NovelToon
Cuma Modal Cerita

Cuma Modal Cerita

Status: tamat
Genre:Teen / Solo Leveling / Menjadi NPC / Tamat
Popularitas:486
Nilai: 5
Nama Author: jiejie_IYAYA'S

Aku bukan siapa-siapa. Nggak punya prestasi, nggak punya bakat khusus.
Yang aku punya cuma kenangan.

Kenangan jadi remaja perempuan yang dulu mikir dunia selebar halaman sekolah.
Tentang tawa di jam kosong, surat cinta yang nggak pernah dikasih, persahabatan yang pecah karena sepele, dan guru yang tanpa sadar ngubah hidupku.

"Cuma Modal Cerita" adalah kumpulan kisahku.
Loncat dari sekarang ke dulu. Dari dewasa ke anak kecil yang masih percaya permen bisa nyelesaiin semua masalah.

(Gak Semuanya Real Dari Hidup Ku ,Ada Beberapa Karangan)

Ini bukan novel tentang orang hebat.
Ini novel tentang kita. Tentang kamu, aku, dan semua orang yang pernah duduk di kursi paling belakang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jiejie_IYAYA'S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ketika Batasan Berteman Dilanggar

​Halo guys, kali ini aku mau cerita tentang pengalaman waktu zaman SMP, tepatnya saat aku duduk di kelas 8. Oh iya, saat itu aku punya tiga orang teman dekat. Biar gampang, nama mereka aku samarkan aja ya: ada Nina, Rara, dan yang terakhir Lily.

​Dulu kita memang cukup dekat. Sering bolos pelajaran bareng, istirahat bareng, bahkan sampai menyontek tugas pun bareng-bareng. Tapi seiring berjalannya waktu, ada satu teman yang sikapnya makin lama makin keterlaluan, yaitu Lily. Dia ini tipe orang yang sok banget dan nekat. Hanya karena merasa dekat, dia jadi bertindak sesuka hatinya tanpa memikirkan perasaan orang lain.

​Awalnya, sebelum Rara dan Lily bergabung, aku dan Nina sudah lebih dulu berdua. Lalu Rara dan Lily mulai makin akrab dengan kita. Dari penglihatanku sejak awal, Lily ini memang tipe yang seenaknya sendiri. Bukan karena aku tidak suka dari awal ya, tapi jujur aku memang paling risih dengan sifat manusia yang begitu: seenaknya, tidak tahu batasan, dan tidak punya sopan santun.

​Semenjak kita makin sering berkumpul berempat, Lily mulai menunjukkan sikap nekatnya. Salah satunya, dia jadi berani mengambil barang-barangku tanpa izin. Ayolah, setidaknya minta izin dulu! Kalau dia izin baik-baik, pasti bakal aku pinjamkan. Tapi ini main ambil begitu saja dari dalam tas. Sifat seperti ini benar-benar tidak bisa aku maklumi.

​Suatu hari, ada kejadian yang bikin emosiku benar-benar berada di puncak. Waktu itu aku diajak oleh wali kelas kami—seorang guru perempuan—untuk pergi memeriksa mata karena tempatnya lumayan jauh. Jadi kami pergi berboncengan naik motor milik beliau.

​Sebelum berangkat meninggalkan kelas, aku sudah berpesan dan mewanti-wanti teman-temanku, "Kertas karton punya aku jangan dipakai dulu ya, soalnya mau aku pakai setengah lagi buat selesaikan tugas yang belum beres." Mereka semua mendengar pesan itu.

​Waktu berlalu cepat. Setelah selesai periksa mata, aku dan wali kelas kembali ke sekolah. Guruku langsung menuju ke kelas lain untuk mengajar, sementara aku kembali ke bangkuku. Begitu aku buka tas untuk melanjutkan tugasku, betapa kagetnya aku melihat kertas karton milikku sudah terpotong dan tinggal tersisa sedikit sekali.

​Dengan menahan sesak di dada, aku bertanya ke ketiga temanku, "Loh, ini kok tinggal sedikit sih? Bukannya tadi masih ada satu gulungan utuh?"

​Dengan santai tanpa rasa bersalah sedikit pun, Lily menjawab, "Ya aku ambil lah, kan lagi dipakai."

​Oh my God! Ternyata Lily yang mengambilnya, dan parahnya lagi dia pakai bagian yang paling banyak, sementara sisa buatku tinggal sedikit. Di situ aku benar-benar shock dan emosi berat. Mau marah-marah tapi di kelas sedang ada guru lain, jadi aku cuma bisa menahan stres dan menelan kekesalan sendirian.

​Aku berusaha mengontrol napas dan berkata pelan tapi tegas, "Ya nanti dulu dong! Masa sisa buat aku cuma segini? Mana cukup buat tugasku! Satu lagi, kok kamu ambil barangku tanpa bilang-bilang sih? Kenapa sampai buka-buka tas aku?"

​Tahu tidak apa tanggapannya? Dengan nada meremehkan dia malah bilang, "Ya kamu lama. Cuma kertas karton doang tidak usah ribet lah."

​Hah? Ribet kamu bilang?! Jelas aku ribet! Kamu buka tas orang tanpa izin itu sudah pelanggaran. Bagaimana kalau ada barangku yang hilang atau uangku yang berkurang? Nanti yang dituduh siapa? Seenaknya banget jadi manusia! Hari itu rasanya capek banget—capek mental, capek fisik, dan pusing pikiran.

​Ternyata kelakuan ajaib Lily tidak cuma berhenti di situ. Sifat seenaknya ini memang sudah jadi kebiasaannya. Suatu ketika di kelas ada ujian harian. Guru menuliskan soal di papan tulis, dan kami menjawabnya di lembar kertas buku.

​Setelah selesai dinilai dan dibagikan kembali, aku berniat menyimpan kertas ujian itu baik-baik di dalam binder. Maksudku agar nanti kalau ada ujian akhir, aku bisa pakai kertas itu untuk bahan hafalan dan belajar. Tapi apa yang dilakukan Lily? Tanpa rasa bersalah, halaman belakang kertas ujianku malah dia corat-coret tidak jelas pakai pulpen sampai kotor. Padahal itu kertas milikku!

​Kejadian lain yang tidak kalah parah adalah saat aku sedang ada di dalam kelas. Lily dengan nekatnya menyuruh temanku yang lain untuk diam, lalu dia berusaha mengambil barang dari dalam tasku secara sembunyi-sembunyi. Dia melakukan itu padahal aku ada di sana! Sungguh nekat dan tidak punya malu. Sebenarnya saat itu aku sadar dan tahu perbuatannya, tapi aku sudah terlanjur malas berantem. Mau menegur rasanya capek, mau diam tapi bikin capek hati. Pusing sekali rasanya menghadapi orang seperti dia.

​Hingga akhirnya, kejenuhan itu tidak cuma dirasakan olehku. Ternyata Nina dan Rara pun diam-diam merasakan hal yang sama. Mereka berdua juga tidak suka dengan sifat Lily yang seenaknya dan tidak mau menghargai orang lain.

​Akhirnya, kami bertiga—aku, Nina, dan Rara—memilih untuk melangkah bertiga tanpa Lily. Ingat ya, keputusan ini bukan untuk menjauhi atau memusuhi dia secara personal. Kalau dia mau bergabung atau nongkrong bareng lagi, tentu boleh-boleh saja dan kami menerima dengan terbuka. Lagipula kalau makin ramai kan makin seru.

​Kami cuma berharap Lily bisa sadar dan mengerti bahwa tidak semua orang bisa menerima atau suka dengan sikapnya yang seenaknya itu. Sekali lagi aku tegaskan: kami bertiga tidak membenci sosok Lily, kami hanya tidak menyukai sifat dan perilakunya yang tidak tahu batasan.

​Pesan untuk Kita Semua:

​Dengar ya...

Teman itu bukan cuma dipakai pas butuh doang.

Teman itu bukan buat menyalahkan kamu saat dia yang berbuat salah.

Teman itu bukan buat menghilang pas susah, tapi mendadak nongol pas senang.

​Kalau ada orang yang bertindak seenaknya ke kamu, itu bukan salah kamu.

Itu cerminan bahwa dia belum cukup dewasa dalam berteman.

​Kamu boleh jadi orang baik, tapi jangan mau dijadikan tempat sampah.

Kamu boleh menolong orang lain, tapi jangan sampai kamu yang menolong malah berakhir kecewa.

​Menjaga jarak bukan berarti benci.

Itu namanya menjaga harga diri dan kesehatan mental diri sendiri.

1
Araara
seru abis
Araara
semangat ya kakak jangan pantang menyerahnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!